Bahtsul Masail

Solusi Bayar Utang kepada Orang yang Terlupakan

NU Online  ยท  Kamis, 4 Juli 2024 | 17:00 WIB

Solusi Bayar Utang kepada Orang yang Terlupakan

Solusi bayar utang kepada orang yang terlupakan (NU ONLINE).

Assalamu'alaikumย wr wb. Mohon bertanya, bagaimana hukum berutang tapi ketika mau bayar kita lupa kepada siapa saja kita berutang? - (Hamba Allah).
ย 

Jawaban

Masalah utang-piutang adalah masalah hak adami yang memang harus diselesaikan segera sebelum nanti kita dituntut di hadapan Allah pada hari kiamat. Rasulullah saw bersabda:
ย 

ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽุชู’ ุนูู†ุฏูŽู‡ู ู…ูŽุธู’ู„ูŽู…ูŽุฉูŒ ู„ูุฃูŽุฎููŠู‡ูุŒ ู…ูู†ู’ ุนูุฑู’ุถูู‡ู ุฃูˆ ู…ูู†ู’ ุดูŽูŠู’ุกูุŒ ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุญูŽู„ู‘ูŽู„ู’ู‡ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุงู„ูŠูˆู…ูŽ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู† ู„ุง ูŠูŽูƒููˆู†ูŽ ุฏููŠู†ูŽุงุฑูŒ ูˆู„ุง ุฏูุฑู’ู‡ูŽู…ูŒุ› ุฅูู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ู‡ ุนูŽู…ูŽู„ูŒ ุตูŽุงู„ูุญูŒ ุฃูุฎูุฐูŽ ู…ูู†ู’ู‡ู ุจูู‚ูŽุฏู’ุฑู ู…ูŽุธู’ู„ูŽู…ูŽุชูู‡ูุŒ ูˆูŽุฅูู† ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽูƒูู†ู’ ู„ูŽู‡ู ุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชูŒ ุฃูŽุฎูŽุฐูŽ ู…ูู†ู’ ุณูŽูŠู‘ูุฆูŽุงุชู ุตูŽุงุญูุจูู‡ู ููŽุญูู…ูู„ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู
ย 

Artinya, "Siapa saja yang pernah melakukan suatu kezaliman terhadap saudaranya, baik itu harga diri ataupun โ€Žperkara lain, maka hendaklah ia meminta untuk dihalalkan pada saat ini sebelum datang hari yang mana dinar dan โ€Ždirham sudah tidak berlaku.
ย 

Jika dia โ€Žmemiliki amal saleh maka akan diambil dari pahala amalan salehnya sebanyak kezalimannya, dan โ€Žjika ia tidak memiliki kebaikan, maka akan diambil dosa orang yang dizaliminya kemudian dibebankan kepadanya.โ€œ (HR Al-Bukhari).
ย 

Pertanyaannya adalah bagaimana cara kita meminta halal ketika kita tidak tau kepada siapa kita berutang?
ย 

Untuk hal ini perlu kiranya kita menyimak penjelasan Imam Al-Ghazali terkait tobat dari hak adami berupa harta benda yang ada di kitab Minhajul โ€˜Abidin dengan penjelasan Syarhnya, kitab Sirajutย Thalibin karya ulama Nusantara Syekh Ihasan Jampes. Imam Ghazali berkata
ย 

ูู…ุง ูƒุงู† ููŠ ุงู„ู…ุงู„ ููŠุฌุจ ุนู„ูŠูƒ ุฃู† ุชุฑุฏู‡ ุนู„ูŠู‡ ุฅู† ุฃู…ูƒู†ูƒ
ย 

Artinya, โ€œAdapun dosa yang berkaitan dengan harta, maka engkau harus mengembalikannya kepada pemiliknya jika mungkin dilakukan.โ€ย (Ihsan Muhammad Dahlan Jampes, Sirajutย Thalibin, [Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun], halaman 161).
ย 

Yang dimaksud dengan dosa berkaitan dengan harta tersebut menurut Syekh Ihsan mencakup mengambil harta orang dengan tanpa hak atau yang dikenal dengan istilah ghashab (termasuk pula tidak membayar utang), mengkhianati seseorang, mengambil keuntungan dengan cara menipu, menutupi aib ketika menjual barang, atau mengurangi upah seseorang dari yang seharusnya.
ย 

Hak adami berupa harta akibat beberapa praktek tersebut wajib dikembalikan kepada pemilikinya.ย 
ย 

Lalu bagaimana jika tidak mungkin dilakukan?
ย 

Imam Al-Ghazali melanjutkan:
ย 

ูุฅู† ุนุฌุฒุช ุนู† ุฐู„ูƒ ู„ุนุฏู… ูˆูู‚ุฑ ูุชุณุชุญู„ ู…ู†ู‡ ูุฅู† ุนุฌุฒุช ุนู† ุฐู„ูƒ ู„ุบูŠุจุฉ ุงู„ุฑุฌู„ ุฃูˆ ู…ูˆุชู‡ ูˆุฃู…ูƒู† ุงู„ุชุตุฏู‚ ุนู†ู‡ ูุงูุนู„
ย 

Artinya, โ€œJika engkatu tidak sanggup mengembalikan karena ketiadaan harta tersebut dan karena fakir tidak memiliki penggantinya, maka harus kamu meminta kerelaannya pada yang bersangkutan. Jika hal tersebut masih tidak sanggup kamu lakukan karena yang bersangkutan tidak diketahui keberadaannya atau karena dia sudah wafat, maka sedekahlah untuk yang bersangkutan jika mungkin.โ€ย (Ihsan,161).
ย 

Menurut Syekh Ihsan Jampes sedekah tersebut diniati mengganti harta yang menjadi tanggungan hak adami dari pemiliknya. Jadi bukan sedekah atas nama dirinya sendiri. Lebih lanjut Ibnulย Qayyim menjelaskan, mengapa perlu sedekah atas nama pemiliknya dengan mengatakan:
ย 

ููŽุฅูู†ู’ ุชูŽุนูŽุฐู‘ูŽุฑูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽุŒ ุชูŽุตูŽุฏู‘ูŽู‚ูŽ ุจูู‡ู ุนูŽู†ู’ู‡ูุŒ ููŽุฅูู†ู ุงุฎู’ุชูŽุงุฑูŽ ุตูŽุงุญูุจู ุงู„ู’ุญูŽู‚ู‘ู ุซูŽูˆูŽุงุจูŽู‡ู ูŠูŽูˆู’ู…ูŽ ุงู„ู’ู‚ููŠูŽุงู…ูŽุฉูุŒ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู. ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฃูŽุจูŽู‰ ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฃู’ุฎูุฐูŽ ู…ูู†ู’ โ€ŒุญูŽุณูŽู†ูŽุงุชู โ€Œุงู„ู’ู‚ูŽุงุจูุถูุŒ ุงุณู’ุชูŽูˆู’ููŽู‰ ู…ูู†ู’ู‡ู ู†ูŽุธููŠุฑูŽ ู…ูŽุงู„ูู‡ูุŒ ูˆูŽูƒูŽุงู†ูŽ ุซูŽูˆูŽุงุจู ุงู„ุตู‘ูŽุฏูŽู‚ูŽุฉู ู„ูู„ู’ู…ูุชูŽุตูŽุฏู‘ูู‚ู ุจูู‡ูŽุงุŒ ูƒูŽู…ูŽุง ุซูŽุจูŽุชูŽ ุนูŽู†ู ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ู…
ย 

Artinya, โ€œJika kamu kesulitan mengembalikan harta tersebut, maka sedekahlah atas nama pemiliknya.
ย 

Jika kelak di hari kiamat memilih pahala sedekah tersebut, maka sedekah yang kamu lakukan atasnya pahalanya menjadi miliknya. Jika dia menolak dan menuntut pahala kebaikanmu yang mengambil hartanya, maka pahala sedekah tersebut akan mencukupi sebagai pengganti tuntutan hartanya dan pahal sedekah tersebut adalah milikmu yang telah bersedekah.
ย 

Hal ini sebagaimana yang tetap dari para sahabat Nabi".ย (Ibnulย Qayyim Al-Jauziyyah, Zadul Maโ€™ad, [Beirut, Muโ€™assasah Al-Risalah: 1996), jilid V, halaamn 690).
ย 

Jika hal di atas masih tidak mungkin dilakukan, maka solusi terakhir dari Imam Al-Ghazali adalah sebagai berikut:
ย 

ูˆุฅู† ู„ู… ูŠู…ูƒู† ูุนู„ูŠูƒ ุจุชูƒุซูŠุฑ ุญุณู†ุงุชูƒ ูˆุงู„ุฑุฌูˆุน ุฅู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุจุงู„ุชุถุฑุน ูˆุงู„ุงุจุชู‡ุงู„ ุฃู† ูŠุฑุถูŠู‡ ุนู†ูƒ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ
ย 

Artinya, โ€œKalau itu pun tidak mungkin dilakukan, maka perbanyaklah berbuat baik dan memohonlah kepada Allah dengan kerendahan dan sepenuh hati agar di hari Kiamat kelak yang bersangkutan merelakan haknya yang ada padamuโ€.ย (Ihsan,161).
ย 

Syekh Ihsan Jampes mempertegas maksud dari Imam Al-Ghazali:
ย 

ุญุชู‰ ุชููŠุถ ุนู†ูƒ ูˆุชูˆุถุน ููŠ ู…ูˆุงุฒูŠู† ุงุฑุจุงุจ ุงู„ู…ุธุงู„ู… ...ย ูˆู„ุชูƒู† ูƒุซุฑุฉ ุญุณู†ุงุชูƒ ุจู‚ุฏุฑ ู…ุธุงู„ู…ูƒ
ย 

Artinya, โ€œPerbanyaklah kebaikan sampai kebaikan tersebut meluap melebihi untuk diletakkan di timbangan para penuntut yang hartanya ada pada dirimu. Hendaklah kebaikanmu tersebut sebanyak dan sebanding dengan kezhalimanmu.โ€ย (Ihsan,161).
ย 

Dari penjelas di atas dapat disimpulkan bahwa hak adami yang berkaitan dengan harta adalah hal yang sangat berat tuntutannya kelak di hari kiamat. Karena itu, kita harus berusaha untuk mencari tahu dan mengingat kepada siapa saja kita berutang.

Itulah kenapa dalam surat Al-Baqarah ayat 282 Allah memerintahkan kita untuk selalu mencatat transaksi utang-piutang.ย 
ย 

Jika masih belum ketemu namun kita mengetahui nominal utangnya, maka kita dapat bersedekahย sejumlah nominal tersebut atas nama pemberi utang. Jika ternyata kita tidak mampu karena kondisi keuangan kita yang tidak mencukupi, maka minimal memperbanyakย kebaikan sekiranya kelak cukup untuk menutupi tuntutan pemberi utang. Wallahu aโ€™lam.
ย 

 

Ustadzย Abdul Wahid Al-Faizin,ย Dosen Fiqh Mu'amalah STAI Sidogiri