Sujud Syukur Pemain Bola pada Piala Dunia, Bagaimana Menurut Islam?
NU Online ยท Senin, 5 Desember 2022 | 09:30 WIB
Penyerang Arab Saudi, Saleh Al-Shehri sujud syukur usai bobol gawang Argentina di Piala Dunia 2022, Selasa (22/11/2022). (Foto: AFP)
Alhafiz Kurniawan
Penulis
Assalamu โalaikum wr. wb.
Redaksi bahtsul masail NU Online, kita sering menyaksikan sujud syukur pemain sepak bola ketika mencetak gol atau klub yang menang ketika peluit panjang wasit berbunyi dalam sebuah pertandingan sebagai bentuk syukur. Hal ini dipahami sebagai sujud syukur oleh masyarakat. Bagaimana pandangan Islam mengenai sujud syukur dan tata cara sujud syukur? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu โalaikum wr. wb. (Hamba Allah/ Jakarta)
Baca Juga
Cara Sujud Syukur
Jawaban
Assalamu โalaikum wr. wb.
Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Bagi atlet sepak bola capaian tertinggi dalam karirnya di lapangan adalah mencetak gol di gawang lawan. Dalam pertandingan memperebutkan piala dunia, mencetak gol adalah sebuah kebahagiaan istimewa bagi sebuah tim. Dan tak jarang bagi muslim, nikmat Tuhan itu diekspresikan dengan sujud syukur.
Selain pada piala dunia, sujud syukur juga merupakan ekpresi kemenangan bagi tim sepak bola pada pertandingan level regional, nasional, daerah, kabupaten/kota, bahkan tingkat kampung. Semua itu layak untuk disyukuri.
Lalu bagaimana menurut pandangan Islam perihal sujud syukur?
Ulama berbeda pendapat perihal sujud syukur ketika mendapat nikmat. Abu Hanifah ra dan Imam Malik ra berpendapat bahwa sujud syukur makruh dilakukan. Bentuk syukur menurut keduanya cukup diekpresikan secara lisan.
Menurut Imam Malik berdasarkan amal penduduk Madinah, bentuk syukur dianjurkan melalui shalat sunnah dua rakaat. (Syekh Abdul Wahhab As-Syaโrani, Al-Mizanul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: 1981 M/1401 H], juz I, halaman 181).
Adapun Imam As-Syafiโi dan Imam Ahmad menganjurkan sujud syukur di luar shalat bagi orang yang sedang mendapatkan nikmat atau terhindar dari musibah.
Baca Juga
Doa Sujud Syukur
ูุฏ ุงุณุชุญุจู ุงูุดุงูุนู ุนูุฏ ุชุฌุฏุฏ ูุนู
ุฉ ุฃู ุงูุฏูุงุน ููู
ุฉ ููุณุฌุฏ ููู ุดูุฑุง ุนูู ุฐูู ูุจู ูุงู ุฃุญู
ุฏ
Artinya: โImam As-Syafiโi menganjurkan sujud syukur ketika mendapat nikmat baru atau terhindar dari musibah. Seseorang dianjurkan bersujud sebagai bentuk syukur atas semua itu. Demikian pula pandangan Imam Ahmad,โ (As-Syaโrani, 1981 M/1401 H: I/181).
Anjuran sujud syukur menurut Imam As-Syafiโi dan Imam Ahmad didasarkan pada hadits riwayat sahabat Abu Bakrah ra yang menyaksikan sujud syukur Rasulullah saw.
ุนููู ุฃูุจูู ุจูููุฑูุฉู ุฑูุถููู ุงูููููู ุนููููู ููุงูู ุฃูููู ุงููููุจูููู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ุฅูุฐูุง ุฃูุชูุงูู ุฃูู
ูุฑู ููุณูุฑูููู ุฃููู ุจูุดููุฑู ุจููู ุฎูุฑูู ุณูุงุฌูุฏูุง ุดูููุฑูุง ููููููู ุนูุฒูู ููุฌูููู ุฑูููุงูู ุงูุฎู
ุณุฉ ุฅูุง ุงููุณุงุฆู
Artinya: โDari sahabat Abu Bakrah ra, Rasulullah saw bila mendapat sebuah kenikmatan yang menyenangkannya atau menggembirakannya, maka ia turun bersujud sebagai bentuk syukur kepada Allah swt,โ (HR lima imam hadits selain An-Nasaโi).
Ulama juga berbeda pendapat perihal tata cara sujud syukur. Sebagian ulama berpendapat, sujud syukur dilaksanakan sebagaimana shalat, yaitu harus suci pakaian dan tempat sujud, menutup aurat, takbir, dan juga salam seperti pandangan mazhab Syafiโi pada umumnya.
Adapun Imam Muhammad Ali As-Syaukani mengutip Imam Yahya dan Abu Thalib yang mengatakan bahwa tidak ada riwayat hadits yang mensyaratkan wudhu, kesucian pakaian dan tempat sujud, dan juga syarat takbir pada pelaksanaan sujud syukur.
ูููุณ ูู ุฃุญุงุฏูุซ ุงูุจุงุจ ู
ุง ูุฏู ุนูู ุงุดุชุฑุงุท ุงููุถูุก ูุทูุงุฑุฉ ุงูุซูุงุจ ูุงูู
ูุงู. ูุฅูู ุฐูู ุฐูุจ ุงูุงู
ุงู
ูุญูู ูุฃุจู ุทุงูุจ ูููุณ ููู ู
ุง ูุฏู ุนูู ุงูุชูุจูุฑ ูู ุณุฌูุฏ ุงูุดูุฑ
Artinya: โPada hadits bab ini tidak ada riwayat yang menunjukkan syarat wudhu, kesucian pakaian, dan tempat sujud. Ini merupakan pandangan Imam Yahya dan Abu Thalib. Di sini juga tidak ada keterangan yang menunjukkan keharusan takbir untuk sujud syukur,โ (Imam M Ali As-Syaukani, Nailul Authar Syarah Muntaqal Akhbar, [Syirkah Maktabah wa Mathbaโah Mushtafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh], juz III, halaman 120).
Demikian sejumlah pandangan ulama perihal sujud syukur. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.
Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,
Wassalamu โalaikum wr. wb.
(Alhafiz Kurniawan)
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Kultum Ramadhan: Hikmah Zakat Fitrah dalam Islam
6
Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
Terkini
Lihat Semua