Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Sujud Syukur Pemain Bola pada Piala Dunia, Bagaimana Menurut Islam?

Sujud Syukur Pemain Bola pada Piala Dunia, Bagaimana Menurut Islam?
Penyerang Arab Saudi, Saleh Al-Shehri sujud syukur usai bobol gawang Argentina di Piala Dunia 2022, Selasa (22/11/2022). (Foto: AFP)
Penyerang Arab Saudi, Saleh Al-Shehri sujud syukur usai bobol gawang Argentina di Piala Dunia 2022, Selasa (22/11/2022). (Foto: AFP)

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi bahtsul masail NU Online, kita sering menyaksikan sujud syukur pemain sepak bola ketika mencetak gol atau klub yang menang ketika peluit panjang wasit berbunyi dalam sebuah pertandingan sebagai bentuk syukur. Hal ini dipahami sebagai sujud syukur oleh masyarakat. Bagaimana pandangan Islam mengenai sujud syukur dan tata cara sujud syukur? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Hamba Allah/ Jakarta)


Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Bagi atlet sepak bola capaian tertinggi dalam karirnya di lapangan adalah mencetak gol di gawang lawan. Dalam pertandingan memperebutkan piala dunia, mencetak gol adalah sebuah kebahagiaan istimewa bagi sebuah tim. Dan tak jarang bagi muslim, nikmat Tuhan itu diekspresikan dengan sujud syukur.


Selain pada piala dunia, sujud syukur juga merupakan ekpresi kemenangan bagi tim sepak bola pada pertandingan level regional, nasional, daerah, kabupaten/kota, bahkan tingkat kampung. Semua itu layak untuk disyukuri.


Lalu bagaimana menurut pandangan Islam perihal sujud syukur?

Ulama berbeda pendapat perihal sujud syukur ketika mendapat nikmat. Abu Hanifah ra dan Imam Malik ra berpendapat bahwa sujud syukur makruh dilakukan. Bentuk syukur menurut keduanya cukup diekpresikan secara lisan.


Menurut Imam Malik berdasarkan amal penduduk Madinah, bentuk syukur dianjurkan melalui shalat sunnah dua rakaat. (Syekh Abdul Wahhab As-Sya’rani, Al-Mizanul Kubra, [Beirut, Darul Fikr: 1981 M/1401 H], juz I, halaman 181).


Adapun Imam As-Syafi‘i dan Imam Ahmad menganjurkan sujud syukur di luar shalat bagi orang yang sedang mendapatkan nikmat atau terhindar dari musibah.


قد استحبه الشافعي عند تجدد نعمة أو اندفاع نقمة فيسجد لله شكرا على ذلك وبه قال أحمد


Artinya: “Imam As-Syafi’i menganjurkan sujud syukur ketika mendapat nikmat baru atau terhindar dari musibah. Seseorang dianjurkan bersujud sebagai bentuk syukur atas semua itu. Demikian pula pandangan Imam Ahmad,” (As-Sya’rani, 1981 M/1401 H: I/181).


Anjuran sujud syukur menurut Imam As-Syafi‘i dan Imam Ahmad didasarkan pada hadits riwayat sahabat Abu Bakrah ra yang menyaksikan sujud syukur Rasulullah saw.


عَنْ أَبِى بَكْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ النَّبِىَّ صلى الله عليه وسلم إِذَا أَتَاهُ أَمْرٌ يَسُرُّهُ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شُكْرًا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ رَوَاهُ الخمسة إلا النسائي


Artinya: “Dari sahabat Abu Bakrah ra, Rasulullah saw bila mendapat sebuah kenikmatan yang menyenangkannya atau menggembirakannya, maka ia turun bersujud sebagai bentuk syukur kepada Allah swt,” (HR lima imam hadits selain An-Nasa’i).


Ulama juga berbeda pendapat perihal tata cara sujud syukur. Sebagian ulama berpendapat, sujud syukur dilaksanakan sebagaimana shalat, yaitu harus suci pakaian dan tempat sujud, menutup aurat, takbir, dan juga salam seperti pandangan mazhab Syafi’i pada umumnya.


Adapun Imam Muhammad Ali As-Syaukani mengutip Imam Yahya dan Abu Thalib yang mengatakan bahwa tidak ada riwayat hadits yang mensyaratkan wudhu, kesucian pakaian dan tempat sujud, dan juga syarat takbir pada pelaksanaan sujud syukur.


وليس في أحاديث الباب ما يدل على اشتراط الوضوء وطهارة الثياب والمكان. وإلى ذلك ذهب الامام يحيى وأبو طالب وليس فيه ما يدل على التكبير في سجود الشكر


Artinya: “Pada hadits bab ini tidak ada riwayat yang menunjukkan syarat wudhu, kesucian pakaian, dan tempat sujud. Ini merupakan pandangan Imam Yahya dan Abu Thalib. Di sini juga tidak ada keterangan yang menunjukkan keharusan takbir untuk sujud syukur,” (Imam M Ali As-Syaukani, Nailul Authar Syarah Muntaqal Akhbar, [Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Mushtafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh], juz III, halaman 120).


Demikian sejumlah pandangan ulama perihal sujud syukur. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.


Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)





Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Bahtsul Masail Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×