Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Biografi Ibnu Mujahid, Penghimpun Tujuh Imam Qira’at (I)

Biografi Ibnu Mujahid, Penghimpun Tujuh Imam Qira’at (I)
Ibnu Mujahid adalah seorang imam yang tsiqah dan berdedikasi tinggi dalam bidang Al-Qur’an. (Foto: Ilustrasi)
Ibnu Mujahid adalah seorang imam yang tsiqah dan berdedikasi tinggi dalam bidang Al-Qur’an. (Foto: Ilustrasi)

Ketika membahas tentang qira’at Al-Qur’an, maka kurang sempurna jika tidak diiringi dengan membahas sosok Ibnu Mujahid. Beliau adalah seorang ulama yang berperan penting dalam merapikan dan merampingkan jumlah imam qira’at Al-Qur’an agar mudah diketahui dan dihafalkan oleh masyarakat yang hendak belajar qira’at Al-Qur’an.

 

Pemilihan tujuh imam qira’at di antara ratusan imam merupakan gagasan baru dalam metode pengajaran qira’at Al-Qur’an. Hasil penelitiannya ini tertuang dalam Kitab al-Sab’ah fi al-Qira’at, yang merupakan kitab primer bagi penggiat qira’at Al-Qur’an. Bahkan hampir semua kitab yang mengaji qira’at sab’ah pada saat ini merujuk pada kitab tersebut. Jika menilik sejarah qira'at, pada abad kedua dan ketiga banyak dijumpai para imam qira’at dari berbagai negara Islam, hanya saja sebagian di antara mereka bacaan Al-Qur’annya tidak bersumber kepada Nabi Muhammad saw, secara shahih dan benar.

 

Melihat mirisnya fenomena ini, pada akhir abad ke 3 dan awal ke 4, Ibnu Mujahid (w. 324 H) melakukan penelitian dan penghimpunan imam qira’at yang mempresentasikan bacaan yang shahih. Dalam penelitiannya, Ibnu Mujahid memilih 7 imam qira’at yang berasal dari beberapa negara Islam pada saat itu, yaitu Madinah, Makkah, Syam, Bashrah dan Kufah. Setiap negara dipilih satu imam, kecuali negara Kufah yang dipilih 3 imam.

 

 

Biografi Ibnu Mujahid

Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi. Namun lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Mujahid. Panggilan tersebut dinisbatkan kepada kakek ketiganya, yaitu Mujahid. Beliau lahir pada tahun 245 H, di kota Suq al-Athas, Baghdad, Karenanya kadang beliau dipanggil dengan al-Athasyi.Ibnu Mujahid merupakan guru besar dalam bidang ilmu qira’at Al-Qur’an yang menjadi rujukan masyarakat dan pemimpin para qari’ pada masanya. Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau tidak sekedar mahir dalam bidang ilmu Al-Qur’an dan syariat, namun juga seorang yang memiliki kepekaan yang mampu mengenal tentang musik.Perpaduan kemahiran beliau dalam bidang Al-Qur’an, hadits, gramatikal Bahasa Arab dan musik, menjadikannya termasuk dalam intelektual muslim abad ke empat yang diperhitungkan.

 

Perjalanan Intelektual Ibnu Mujahid

Memulai menuntut ilmu di kampung halamannnya, beliau adalah seorang murid yang cinta terhadap ilmu pengetahuan. Pada mulanya, beliau menghafal Al-Qur’an, kemudian melanjutkan belajar ilmu syariat Islam. Hasrat kecintaannya pada Al-Qur’an sudah tampak sejak kecil, dibuktikan dengan keinginannya untuk mendalami ilmu Al-Qur’an hingga keluar Negeri. Kedalaman dan keluasan ilmu Ibnu Mujahid juga didukung oleh banyaknya guru-guru yang kompeten dalam bidang Al-Qur’an di Negara Kufah. Dalam riwayat dikatakan bahwa beliau belajar kepada kurang lebih 50 guru. Selain cakap dan mahir dalam bidang qira’at Al-Qur’an, beliau juga dikenal sebagai pakar dalam bidang hadits dan gramatikal bahasa Arab. Imam al-Dzahabi menyebutnya dengan al-Muqri’ al-Muhaddits al-Nahwi. (Adz-Dzahabi, Siyar A’lam al-Nubala’/488).


Dalam menuntut ilmu, Ibnu Mujahid tidak merasa puas hanya belajar di kota kelahirannya saja, karenanya beliau berpetualang ke berbagai Negara Islam saat itu, di antaranya adalah Hijaz, Bashrah dan Syam. Pada bidang hadits, beliau belajar kepada Sa’dan bin Nashr, Ahmad bin Mansur al-Ramadi, Muhammad bin Abdullah al-Mukharrimi, Abu Bakar al-Shaghani, dan Abbas al-Duri. (al Dzahabi, Makrifat al-Qurra’ al-Kibar/153).Adapun dalam hal transmisi sanad al-Qur'an, Terdapat dua metode yang beliau terapkan, yaitu; metode ardhan (membaca kepada guru) dan metode sima’an (mendengarkan bacaan guru). Ibnu Mujahid belajar Al-Qur’an kepada banyak guru. Di antaranya:

 

Metode Ardhan; (1) Abu al-Za’ra’, Abdurrahman bin Abdus (w. 280 H). Kepada beliau, secara khusus Ibnu Mujahid mengkhatamkan al-Qur'an 20 kali menggunakan qira’at Imam Nafi’. (Ibnu Mujahid, Kitab al-Sab’ah fi al-Qira’at/88). Selain itu, hampir semua bacaan qira’at Al-Qur’an beliau pelajari kepada Abdurrahman bin Abdus kecuali qira’at Ibnu Katsir. (2) Imam Qunbul, Muhammad bin Abdurrahman al-Makki (w. 291 H). Ibnu Mujahid belajar kepada Imam Qunbul pada tahun 278 H ketika berumur 33 tahun.

 

Motode Sima’an; (1) Ahmad bin Yahya Tsa’lab (w. 291 H), (2) Idris bin Abdul Karim al-Hadda (w. 292 H), (3) Ishad bin Ahmad bin Ishaq al-Khaza’I (w. 308 H), (4) Muhamad bin Jarir al-Thabari (w. 310 H), (5) Muhammad bin Abdurrahim al-Ashbahani (w. 296 H), (6) Muhammad bin Yahya al-Kisa’i al-Shaghir (w. 288 H), (7) Musa bin Ishaq al-Anshari (w. 297 H), beliau meriwayatkan dari Imam Qalun, (8) Ahmad bib Sahal al-Usynanni (w. 307 H), (9) Abu al-Abbas al-Baghdadi, Muhammad bin Ahmad bin Washil (w. 273 H), dan lain-lain.

 

Kedudukan Ibnu Mujahid

Setelah melakukan rihlah ilmiyah ke berbagai negara, beliau mencapai kedudukan yang sangat tinggi dalam bidang ilmu agama terutama dalam bidang qira’at. Pada tahun 286 H beliau diangkat menjadi imam qira’at di Baghdad yang merupakan kedudukan tertinggi dalam bidang Al-Qur’an. Dari sinilah kemudian beliau dikenal sebagai seorang imam (pemimpin dalam bidang qira’at) dan hujjah (rujukan umat).

 

Popularitas dan kedudukan beliau dalam bidang Al-Qur’an dan qira’at tidak didapatkan hanya dengan membalikkan telapak tangan, namun dengan usaha dan kesungguhan yang tinggi. Dengan tekad yang kuat, beliau berangkat dari kampung halamannya menuju berbagai Negara Islam untuk menuntut ilmu. Di kala telah mencapai pada puncak tertinggi keilmuannya, beliau tak segan membuka pengajian dan menyebarkan ilmu di kampung halamannya kendati pada saat itu guru beliau masih hidup yaitu Muhammad bin Yahya al-Kisa’i al-Saghir. Hal ini merupakan kebanggaan tersendiri bagi para guru beliau. Kesuksesan seorang guru adalah ketika mampu melahirkan murid yang sukses dalam bidangnya.

 

Muhammad bin Yahya adalah seorang imam yang dikenal dengan julukan al-Kisa’i al-Shagir, karena kemahirannnya dalam bidang Al-Qur’an yang menyamai Imam al-Kisa’i (w. 189 H), kemudian beliau mampu melahirkan seorang murid yang mahir dan terkenal hampir menyamainya yaitu Ibnu Mujahid.

 

Pengajian atau majelis ilmu yang beliau rintis, menarik perhatian banyak penuntut ilmu, di antaranya adalah: Abdul Wahid bin Abi Hasyim, Abu Isa Bakkar, al-Hasan al-Mutthawwi’I, Abu Bakar al-Syadza’I, Abu al-Faraj as-Syanbudzi, Abu Ahmad al-Samiri, Abu Ali bin Habasy, Abu al-Husain Ubaidillah bin al-Bawwab, Mansur bin Muhammad al-Qazzar dan lain-lain.Dalam bidang hadits, yang meriwayatkan hadits dari beliau adalah; Ibnu Syahin, al-Daruqutni, Abu Bakar bin Syadzan, Abu Hafs al-Kattani, Abu Muslim al-Katib dan lain-lain. (al Dzahabi, Siyar a’lam al-Nubala’/15/273).

 

Komentar Ulama atas Ibnu Mujahid

Ibnu Mujahid adalah seorang imam yang tsiqah dan berdedikasi tinggi dalam bidang Al-Qur’an. Oleh karena itu, banyak ulama yang memberikan kesaksian positif tentang beliau, baik dalam perihal kepribadian maupun kiprahnya dalam bidang Al-Qur’an, di antaranya adalah, Abu Amr al-Dani, Ibnu al-Jazari dan Ibnu al-Nadim.Imam Abu Amr al-Dani (w. 444 H) berkata: “Ibnu Mujahid lebih unggul dibandingkan teman-temannya dalam hal keluasan ilmu, begitu juga dalam pemahaman, dialek yang tepat dan ibadah yang baik”.Ibnu al-Jazari (w. 833 H) berkata: “Tinggi reputasinya, masyhur kepakarannya, melampau teman- temannya dalam hal agama, hafalan dan kebaikan. Aku tidak mengetahui seorang guru qira’at al-Quran yang paling banyak muridnya dibandingkannya, dan tidak ada kabar yang sampai kepada kami seorang penuntut ilmu memenuhi majelis seorang guru seperti banyaknya murid yang memenuhi majelis Ibnu Mujahid". (Ibnu al-Jazari, Ghayat an Nihayat fiThabaqat al-Qurra’/ 134-142).

 

Ibnu al-Nadim berkata:“Dia satu-satunya imam (dalam bidang qira’at) pada masanya yang tak terbantahkan, dalam hal keutamaan, keilmuan, religious dan pengetahuan tentang qira’at Al-Qur’an dan ulum Al-Qur’an, mempunyai etika yang baik, lembut perangainya, sering bercanda, cerdas menembus cakrawala”. (Abdul Hadi al-Fadli, al-Qira’at Al-Qur’aniyah; Tarikh wa Ta’rif/ 36).

 

Setelah mengabdikan raga dan jiwanya, Ibnu Mujahid menghadap kepada Rab-Nya pada waktu dhuhur, hari rabu tanggal 20 Sya’ban 324 H – 17 Juli 0936 M.

 

Kisah ini mengajarkan bahwa kesungguhan dan sabar dalam belajar adalah kunci kesuksesan. Tak ada kesuksesan yang datang secara gratis, namun harus ditempuh dengan usaha dan kesungguhan yang nyata.

 

Ustadz Moh. Fathurrozi, penulis buku “Mengarungi Samudra 10 Imam Qira’at”; pendiri Al-Qur’an Khairu Jalis


 


Terkait

Ilmu Al-Qur'an Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya