Abu Muzahim al-Khaqani, Penyusun Pertama Ilmu Tajwid
Imam Abu Muzahim al-Khaqani memberikan pengaruh yang sangat besar pada keberlangsungan ajaran Islam, khususnya dalam ilmu tajwid atau cara membaca Al-Qur’an.
Kumpulan artikel kategori Ilmu Al-Qur'an
Imam Abu Muzahim al-Khaqani memberikan pengaruh yang sangat besar pada keberlangsungan ajaran Islam, khususnya dalam ilmu tajwid atau cara membaca Al-Qur’an.
Kendati Imam Mujahid telah memaksimalkan jerih payahnya dalam penyeleksian tujuh imam qiraat sab'ah, ternyata ia masih dinilai sebagian ulama kurang fair karena memilih dan menetapkan Imam al-Kisa’i daripada Imam Ya’qub al-Hadrami (w. 250 H) sebagai imam ketujuh.
Qiraat sab'ah memiliki sejarah yang tak sederhana. Imam qiraat yang dipilih juga bukan tanpa alasan. Meskipun, para ulama berbeda pendapat terkait hal ini.
Hanya saja, di dalam Al Qur'an ada ayat yang menyelisihi aturan yang berlaku ini, dan penyelisihannya itu mempunyai faidah balaghah yang luar biasa banyaknya, sehingga dimasukkan dalam katagori al ibda'.
Wilayah kajian ilmu tafsir adalah mencakup semua pembahasan Al-Qur’an secara tematik dan sistematis. Tidak ada satu ayat pun yang ada dalam Al-Qur’an tidak dibahas dalam ilmu tafsir, semuanya dibahas secara terperinci dan detail.
Doa-doa Nabi Muhammad dalam Al-Quran tergolong spesial. Selain sebagai doa, lafal-lafal doa itu juga merupakan wahyu.
Sekilas ungkapan tafsir dan takwil memiliki makna yang serupa. Padahal keduanya berbeda.
Riwayat Imam Hafs merupakan riwayat bacaan yang sangat populer dan paling banyak digunakan.
Doa merupakan aktivitas ibadah yang dapat mendekatkan diri seorang hamba kepada Tuhannya, dan sebaik-baik doa adalah yang sesuai dengan redaksi yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad ﷺ
Khataman adalah perbuatan yang baik. Akan lebih baik bila dilakukan dalam waktu dan kondisi yang baik.
Utsman lalu mengirim utusan kepada Hafshah RA (yang menyimpan mushaf peninggalan masa kekhalifahan Abu Bakar RA dan Umar RA), "Keluarkanlah mushaf itu kepada kami. Kami akan menyalin suhuf ke dalam sejumlah mushaf. Nanti kami kembalikan lagi kepadamu," kata Utsman melalui utusannya.
Kerja kodifikasi Al-Qur’an di masa khalifah Utsman bin Affan melahirkan produk Al-Qur’an beberapa mushaf yang sangat terbatas. Sejumlah mushaf versi resmi ini kemudian terkenal dengan sebutan Mushaf Utsmani atau Al-Imam. Mushaf Utsmani atau Al-Imam merupakan fase ketiga dalam sejarah kodifikasi Al-Qur’an. (Manna’ Al-Qaththan, Mabahits fi Ulumil Qur’an, [tanpa kota, Darul Ilmi wal Iman: tanpa tahun], halaman 129).