5 Sebab Al-Qur'an Tak Dibukukan di Zaman Rasulullah
Mengapa di zaman Rasulullah ayat-ayat Al-Qur'an tersebut tidak dikodifikasi atau dibukukan dalam satu mushaf? Simak penjelasannya
Kumpulan artikel kategori Ilmu Al-Qur'an
Mengapa di zaman Rasulullah ayat-ayat Al-Qur'an tersebut tidak dikodifikasi atau dibukukan dalam satu mushaf? Simak penjelasannya
Selain pernyataan, Al-Qur’an juga memuat sejumlah pertanyaan untuk menyadarkan manusia. Berikut 13 ayat Qur’an mengandung pertanyaan ‘Afala Ta’qilun’
10 ayat Al-Qur’an yang mengandung perintah takwa ini bisa dibaca untuk menunaikan salah satu rukun khutbah yaitu wasiat takwa.
Termasuk kesempurnaan mengetahui Al-Qur’an adalah mengetahui waqaf dan ibtida’.
Barangsiapa membaca surat Quraisy pada makanan, maka Allah hilangkan bahaya di dalamnya, (Allah juga) menyelamatkan dari rasa takut dan (menyelamatkan) dari fakir.
Pesan langit dalam ayat tersebut begitu luas atau universal, ia menghapus "kasta" dalam masyarakat Arab; menegaskan kembali bahwa sebagai hamba Allah bukan nasab, harta, bentuk rupa atau status pekerjaan yang menentukan keutamaan hamba Allah, tetapi ketakwaan.
Hal pertama dan utama yang harus diperbaiki dalam membangun masyarakat yang sejahtera adalah dimulai dari Islahul Ifrad atau memperbaiki individunya terlebih dahulu.
Kemukjizatan ilmiah Al-Qur’an bukanlah terletak pada pencakupannya akan teori-teori ilmiah yang selalu baru dan berubah, serta merupakan hasil usaha manusia dalam penelitian dan pengamatan. Tetapi, ia terletak pada dorongannya untuk berfikir dan menggunakan akal.
Di antara contoh asbabun nuzul adalah riwayat yang menjelaskan kejadian yang melatarbelakangi diturunkannya hukum larangan meminum khamr dalam Al-Quran, yaitu:
Asbabun Nuzul dapat dikatakan sebagai sejarah turunnya sebuah ayat Al-Qur’an. Bisa juga dikatakan sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an. Sebab-sebab yang dimaksud tersebut dapat berupa tempat, waktu, dan peristiwa.
Posisi urutan imam qira’at yang ditetapkan oleh Ibnu Mujahid terus berkembang di era ulama setelahnya.
Nama lengkap beliau adalah Abu Bakar Ahmad bin Musa bin al-Abbas bin Mujahid al-Baghdadi. Namun lebih dikenal dengan panggilan Ibnu Mujahid.