Aliran Jahmiyah: Sejarah, Pemikiran, dan Ajaran Kontroversinya
NU Online · Ahad, 19 April 2026 | 17:05 WIB
Sunnatullah
Kolumnis
Salah satu firqah dalam spektrum teologi Islam awal yang turut mewarnai dinamika pemikiran keislaman adalah Jahmiyah. Kemunculannya beriringan dengan fase ketika perdebatan teologis mulai mengemuka secara intens, serta ragam penafsiran terhadap doktrin-doktrin keagamaan mulai berkembang secara signifikan.
Sebagaimana dijelaskan oleh Muhammad Abu Zahrah, pasca wafatnya Rasulullah, umat Islam mengalami ekspansi geografis yang luas dan berinteraksi dengan berbagai komunitas beragama lain. Kondisi ini melahirkan ruang diskursif baru, di mana persoalan-persoalan teologis seperti takdir, iman, dan hakikat Tuhan tidak lagi terbatas sebagai wacana internal umat Islam, melainkan berkembang menjadi bagian dari dialog lintas agama.
Dari dinamika intelektual tersebut, muncul beragam respons: sebagian pemikiran menerima pengaruh tertentu, sementara sebagian lainnya menolaknya secara kritis. Proses interaksi ini pada gilirannya turut memengaruhi perkembangan wacana teologis Islam, hingga sebagian konsepsi keagamaan mengalami artikulasi dan interpretasi yang beragam di kalangan para pemikir Muslim. (Muhammad Abu Zahrah, Tarikh al-Mazahib al-Islamiyyah, (Kairo: Dar al-Fikr al-‘Arabi, t.t.), hlm. 59).
Dalam konteks inilah, Jahmiyah termasuk salah satu aliran teologis yang tidak dapat dilepaskan dari dinamika perjumpaan intelektual antarumat beragama pada masa awal Islam. Untuk memahami lebih jauh sejarah kemunculan serta perkembangan pemikirannya, akan diuraikan secara lebih rinci pada bagian berikut.
Mengenal Firqah Jahmiyah
Syekh Muhammad bin Abu Bakar as-Syahrastani (wafat 548 H), dalam kitab Al-Milal wan Nihal mengatakan bahwa firqah Jahmiyah secara harfiah dinisbatkan kepada seorang tokoh bernama Jahm bin Shafwan, salah satu tokoh penting di balik tersebarnya paham Jabariyah al-Khalishah, yang dalam ajarannya meyakini bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak bebas, dan segala perbuatannya benar-benar dipaksa oleh Allah.
Oleh sebab itu, keyakinan para pengikut mazhab Jahmiyah ini tidak jauh berbeda dengan keyakinan kelompok Jabariyah, karena tokoh pendiri Jahmiyah sendiri merupakan salah satu penggagas paham Jabariyah. Namun kemudian lebih masyhur dengan sebutan Jahmiyah, karena dinisbatkan kepada penggagasnya itu sendiri.
Ajaran Jahmiyah ini pertama kali muncul dan berkembang di wilayah Termidz atau Tirmidz, yaitu salah satu kota besar yang ada di provinsi Surxondaryo, Republik Uzbekistan, yang saat itu menjadi salah satu pusat peradaban Islam di bagian timur wilayah Khurasan.
Simak penjelasan as-Syahrastani berikut ini:
الْجَهْمِيَّةُ: أَصْحَابُ جَهْمِ بْنِ صَفْوَانَ، وَهُوَ مِنَ الْجَبَرِيَّةِ الْخَالِصَةِ، ظَهَرَتْ بِدْعَتُهُ بِترْمِذَ
Artinya, “Jahmiyah: adalah pengikut Jahm bin Shafwan, yang merupakan penganut Jabariyah murni. Ajarannya pertama kali muncul di kota Tirmidz.” (Al-Milal wan Nihal, [Beirut: Darul Ma’rifah, 1404, tahqiq: Muhammad Kaylani], jilid I, halaman 58).
Namun, siapa sebenarnya sosok Jahm bin Shafwan pendiri sekte Jahmiyah ini? Nah, untuk memahami lebih dalam, penulis akan melanjutkan pembahasan ini dengan mengulas dengan singkat perihal siapa sosok Jahm bin Shafwan pendiri paham Jahmiyah tersebut.
Biografi Singkat Jahm bin Shafwan
Secara biografi, menurut Imam asy-Syaukani, sosok Jahm bin Shafwan merupakan murid dari Ja’d bin Dirham, seorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan paham Jabariyah dan mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Dari Ja’d bin Dirham inilah, Jahm kemudian mengembangkan dan menyebarluaskan pemikiran-pemikiran tersebut,
الْجَهْمِيَّةُ: نِسْبَةٌ إِلَى جَهْمِ بْنِ صَفْوَانَ... تِلْمِيذِ الْجَعْدِ بْنِ دِرْهَمٍ، أَوَّلِ مَنْ صَدَرَ عَنْهُ الْقَوْل بِخَلْقِ الْقُرْآنِ
Artinya, “Jahmiyah adalah nisbat kepada Jahm bin Shafwan, murid dari Ja’d bin Dirham, yaitu orang pertama yang darinya muncul pendapat tentang keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk.” (Al-Fathur Rabbani min Fatawa asy-Syaukani, [Yaman: Maktabah al-Jail, t.t], halaman 250).
Namun yang tidak kalah menarik untuk disinggung dalam hal ini adalah rantai keilmuan yang didapatkan oleh Ja’d bin Dirham, karena dari sanalah kita akan paham bahwa paham Jahmiyah ini juga memiliki sedikit singgungan dengan agama-agama yang lain.
Sebagaimana penulis kutip penjelasan salah satu pemikir Islam bermazhab Syafi’i dan berkebangsaan Mesir, bernama Dr. Ali Sami an-Nasyar, ia menjelaskan bahwa Ja’d bin Dirham merupakan murid dari Banan bin Sam’an, dan Banan merupakan murid dari Thalut, yang merupakan keponakan dari Labid bin A’sham.
Dan ternyata, Labid bin A’sham ini adalah orang yang hidup satu masa dengan Nabi Muhammad dan masyhur sebagai sosok yang memusuhi sang Nabi. Di masa itu, ia juga berkutat dengan ilmu sihir dan dikenal sebagai salah satu tokoh yang mengusung paham bahwa Al-Qur’an adalah makhluk. Ada juga yang mengatakan bahwa Labid mengambil ajarannya dari seorang Yahudi di Yaman. (Nasy’atul Fikril Falsafi fil Islam, [Kairo: Darul Ma’arif, t.t], jilid I, halaman 330).
Oleh sebab itu, meski Jahm bin Shafwan tidak hidup di zaman Nabi, jalur keilmuan yang sampai kepadanya menunjukkan bahwa paham Jahmiyah memiliki pengaruh dari luar Islam. Kendati tidak semua ajarannya diambil dari Yahudi atau sihir, namun gagasan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk sudah lebih dulu ada sebelum Jahm lahir. Ia hanya merapikan dan menyebarkan gagasan tersebut dengan istilah-istilah teologi Islam. Karena itu pula, para ulama sangat menolak paham ini.
Ajaran Sekte Jahmiyah
Sebagaimana firqah-firqah teologis lain yang memiliki ciri khas pemahaman masing-masing, Jahmiyah pun juga memiliki seperangkat paham dan keyakinan khas, yang membedakannya dari aliran-aliran lain. Dan berikut ini beberapa pemahaman Jahmiyah yang penulis kutip dari penjelasan Syekh Muhammad bin Abu Bakar as-Syahrastani:
Pertama, Jahmiyah berpandangan bahwa Allah tidak dapat disifati dengan sifat yang juga dimiliki oleh makhluk, karena hal itu akan menyerupai (tasybih) ciptaan-Nya. Berdasarkan pandangan ini, mereka menolak sifat-sifat Allah seperti Maha Hidup (hayyan) dan Maha Mengetahui (aliman), namun mereka menetapkan sifat-sifat seperti Maha Kuasa (qadiran) dan Maha Menciptakan (khaliqan), karena sifat ini dianggap tidak sama persis dengan apa yang dimiliki oleh makhluk-Nya.
Kedua, Jahmiyah menetapkan adanya ilmu-ilmu baru yang muncul pada diri Allah (‘uluman haditsatan). Mereka berargumen bahwa tidak mungkin Allah mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu diciptakan oleh-Nya.
Ketiga, Jahmiyah berkeyakinan bahwa manusia tidak memiliki kekuasaan atas sesuatu dan tidak dapat disifati memiliki kemampuan. Manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang terpaksa dalam perbuatannya, tanpa memiliki kehendak bebas atau pilihan. Segala perbuatan manusia diciptakan oleh Allah sebagaimana Allah menciptakan perbuatan pada benda-benda mati lainnya.
Perbuatan manusia hanya dinisbatkan secara majazi, sama seperti nisbat pada benda mati, misalnya dikatakan pohon berbuah, air mengalir, matahari terbit dan terbenam, langit mendung dan menurunkan hujan, atau bumi berguncang dan menumbuhkan tanaman. Oleh karena itu, pahala dan siksa pun dianggap sebagai hasil dari keterpaksaan (jabr), sebagaimana seluruh perbuatan manusia adalah hasil keterpaksaan.
Keempat, Jahmiyah juga berpendapat bahwa kenikmatan surga dan azab neraka tidak berlangsung kekal, melainkan akan berakhir setelah penghuninya merasakan apa yang ada di dalamnya. Karena bagi mereka, tidak mungkin terdapat gerak atau kejadian yang berlangsung tanpa batas akhir, sebagaimana tidak mungkin pula tanpa permulaan.
Kelima, Jahmiyah berpendapat bahwa orang yang memiliki pengetahuan (ma’rifah) tentang Allah, lalu mengingkarinya dengan lisan, maka ia tidak dianggap kafir karena pengingkaran lisannya. Hal ini karena pengetahuan dan ma’rifah yang ada di hati tidak akan hilang hanya karena pengingkaran lisan. (Asy-Syahrastani, 1/59).
Namun demikian, beberapa pemahaman dan keyakinan sekte Jahmiyah ini tidak diterima begitu saja oleh para ulama. Ia mendapatkan penolakan yang sangat keras, khususnya dari kalangan ulama salaf. Bahkan dari kalangan salaf-lah yang paling keras menolak ajaran-ajaran tersebut, karena dinilai mengarah pada penafian sifat-sifat Allah secara total (ta’thil).
Penjelasan ini sebagaimana penulis kutip dalam catatan kaki kitab al-Ibanah ‘an Syariatil Firaq an-Najiyah, karya Syekh Abu Abdillah bin Baththah al-Hanbali (wafat 387 H), berikut sebagian kutipannya:
وَكَانَ السَّلَفُ كُلُّهُمْ مِنْ أَشَدِّ الرَّادِّينَ عَلَيْهِ وَنَسَبَتهُ إِلَى التَّعْطِيلِ المحْضِ
Artinya, “Dan seluruh ulama salaf adalah orang-orang yang paling keras menolak pendapatnya, dan mereka menganggapnya menganut paham ta’thil (penolakan sifat-sifat Allah) yang murni.” (al-Ibanah ‘an Syariatil Firaq an-Najiyah, [Riyadh: Dar ar-Rayah, 1998 M], jilid I, halaman 380).
Demikian paparan mengenai sejarah firqah Jahmiyah, yang mencakup latar belakang kemunculannya, sosok Jahm bin Shafwan beserta rantai transmisi keilmuannya, serta sejumlah doktrin utama yang dinisbatkan kepadanya.
Meskipun aliran ini tidak berkembang menjadi mazhab besar dalam sejarah teologi Islam, serta banyak pandangannya dikritisi dan ditolak oleh mayoritas ulama Ahlus Sunnah, keberadaan Jahmiyah tetap memiliki signifikansi historis dalam memetakan perkembangan wacana teologi Islam klasik.
Kajian terhadapnya membantu memahami dinamika perdebatan akidah pada periode awal Islam, termasuk batas-batas penerimaan dan penolakan terhadap berbagai gagasan teologis yang muncul pada masa tersebut.
-----------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 2 Nikmat Allah yang Sering dilupakan
2
Khutbah Jumat: Memahami 4 Tingkatkan Rezeki
3
Khutbah Jumat: Jika Bisa Dibuat Mudah, Kenapa Dipersulit?
4
Insentif Guru dan Tendik Non-ASN Madrasah 2026 Dibuka, Ini Syarat dan Jadwalnya
5
Hukum Senang atas Wafatnya Muslim Lain karena Perbedaan Mazhab, Bolehkah?
6
17 Kader NU Diwisuda di Al-Ahgaff, Ketua PCINU Yaman Torehkan Terobosan Filologi
Terkini
Lihat Semua