Nikah/Keluarga

Pentingnya Mengajarkan Anak agar tidak Berharap Pemberian saat Lebaran

NU Online  ·  Kamis, 19 Maret 2026 | 14:00 WIB

Fenomena THR anak-anak kini berada di persimpangan antara tradisi dan distorsi makna spiritual. Sebab ketika Lebaran hanya dilihat sebagai ajang mengumpulkan materi, esensi kemenangan puasa pun perlahan memudar. 

 

Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan anak agar tidak berharap pada pemberian uang saat hari raya. Ini bukan soal melarang kegembiraan, melainkan sebuah ikhtiar mendidik karakter agar mereka tidak memiliki mentalitas transaksional. Menjaga martabat diri (iffah) sejak dini jauh lebih berharga daripada tumpukan materi yang bersifat sementara.

 

Kesadaran Orang Tua agar tidak Bermental Pengemis

Dalam khazanah Islam, terdapat batas yang tegas antara kemuliaan memberi (hadiah) dan kehinaan meminta. Bagi si pemberi, membagikan uang Lebaran adalah manifestasi syukur dan upaya nyata untuk merekatkan tali persaudaraan. 


Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam QS. Adz-Dzariyat: 19 tentang hak bagi orang yang meminta dan orang yang tidak punya dalam harta kita. 

 

وَفِيْٓ اَمْوَالِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّاۤىِٕلِ وَالْمَحْرُوْمِ


Artinya: “Pada harta benda mereka ada hak bagi orang miskin yang meminta dan yang tidak meminta.” (QS. Adz-Dzariyat: 19)


Namun, sebagai orang tua, kita memegang tanggung jawab yang jauh lebih besar dari sekadar urusan materi: menjaga martabat anak agar tidak bermental pengemis. Tanpa disadari, banyak orang tua yang terjebak dalam menormalisasi praktik 'menagih' THR melalui anak-anak mereka. 


Padahal, menginstruksikan anak untuk meminta pemberian materi bukan sekadar lelucon musiman, melainkan tindakan sistematis yang mencederai harga diri mereka sejak dini. Membiarkan anak memandang silaturahmi sebagai ruang transaksional adalah bentuk pengabaian terhadap pendidikan etika yang sangat krusial. Sejatinya, kita sedang mempertaruhkan martabat batin anak demi kesenangan materi yang bersifat sementara.


Orang tua harus menyadari peringatan keras Rasulullah SAW bahwa siapapun yang meminta-minta demi menumpuk materi, termasuk membiarkan anak melakukannya, sejatinya sedang mengumpulkan 'bara api' di tangannya:

 

مَنْ سَأَلَ النَّاسَ أَمْوَالَهُمْ تَكَثُّرًا فَإِنَّمَا يَسْأَلُ جَمْرًا فَلْيَسْتَقِلَّ أَوْ لِيَسْتَكْثِرْ

 

Artinya: "Siapa yang meminta-minta kepada orang banyak untuk menumpuk harta kekayaan, berarti dia hanya meminta bara api. Sama saja halnya, apakah yang diterimanya sedikit atau banyak." (HR. Muslim)


Jika kita mencintai anak-anak kita, tentu kita tidak ingin tangan mereka yang suci justru dipenuhi oleh "bara api" akibat ketidakmampuan kita dalam mendidik rasa berkecukupan (qana’ah) dan menjaga kehormatan diri (iffah).

  
Cara Mengedukasi Anak agar tidak Berharap Pemberian saat Lebaran

Mengedukasi anak agar tidak berharap akan pemberian saat Lebaran bisa dilakukan dengan menekankan nilai kebersamaan dan bersyukur, bukan materi. Mulai sejak dini agar anak tumbuh dengan mentalitas positif tanpa ekspektasi berlebih.


1. Ajarkan konsep bersyukur

Kenalkan bahwa rezeki datang dalam berbagai bentuk, seperti kebersamaan keluarga dan makanan Lebaran, bukan hanya uang THR. Jadilah role model dengan menunjukkan sikap syukur sehari-hari, seperti berdoa sebelum makan. Hindari kalimat yang menyiratkan meminta agar anak tidak terbiasa mengharapkan pemberian.

Salah satu cara untuk menanamkan konsep ini adalah dengan menceritakan kisah-kisah inspiratif. Misalnya, ceritakan tentang seseorang yang hidup sederhana tetapi selalu bersyukur dan akhirnya mendapatkan kebahagiaan sejati. 


2. Fokus pada tradisi positif

Arahkan anak untuk menikmati aktivitas Lebaran seperti bermain dengan saudara, membantu persiapan, atau silaturahmi tanpa tujuan materi. Briefing sebelum kunjungan: jelaskan bahwa datang untuk silaturahmi, ucapkan terima kasih jika diberi, tapi jangan menagih atau berkomentar tentang jumlah.

 

Penjelasan harus menggunakan bahasa yang sederhana namun sarat makna. Misalnya, orang tua dapat mengatakan: "Nak, tujuan kita berkeliling ke rumah saudara adalah untuk bermaafan dan menjaga kasih sayang. THR itu adalah hadiah dari hati, jadi tidak semua orang akan memberikannya, dan itu sangat wajar. Kita harus tetap senang karena yang penting kita bisa bertemu keluarga".


3. Tanamkan nilai berbagi

Libatkan anak dalam kegiatan memberi, seperti sedekah atau zakat fitrah, agar paham kebahagiaan dari berbagi daripada menerima. Ini mencegah mental "pengemis" dan membangun apresiasi terhadap kerja keras. (https://bakabar.com/post/mencegah-anak-bermental-pengemis-di-momen-lebaran-lgkkwec8) 


4. Kelola ekspektasi realistis

Beri pemahaman bahwa uang THR adalah sukarela; jika tidak dapat, juga tak perlu kecewa. Batasi hadiah secara umum untuk mengajarkan bahwa tidak selalu dapat sesuatu, sambil mendorong kontribusi anak seperti membereskan mainan.


Pada akhirnya, mendidik anak untuk melepaskan diri dari bayang-bayang ekspektasi materi (THR) adalah ikhtiar kita untuk menjaga kesucian spiritual Idul Fitri. Ini adalah langkah awal untuk membangun iffah, sebuah martabat diri yang kokoh agar mereka tak terjebak dalam mentalitas transaksional sejak dini. 

 

Dengan mengalihkan fokus anak pada hangatnya silaturahmi dan kebahagiaan berbagi, kita sebenarnya sedang membangun resiliensi mental yang tangguh; sebuah karakter yang tidak akan goyah hanya karena ketiadaan pemberian dari orang lain. Wallahu a’lam.

 

Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.