IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Kunci Keberhasilan Dakwah Rasulullah

Sabtu 29 Juni 2019 04:30 WIB
Kunci Keberhasilan Dakwah Rasulullah
Ilustrasi (Ebookanak)
Nabi tidak pernah memaksakan Islam dalam dakwahnya. Ia menghadirkan kebenaran Islam dalam akhlak mulianya sehingga Islam diterima oleh siapa pun. Akhlaqul karimah yang dianugerahkan Allah SWT kepada Nabi sekaligus menjadi komitmen dakwahnya. Meskipun riwayat menyebutkan, akhlak mulia Nabi Muhammad sudah tertanam sejak muda. Hal itu dibuktikan dengan gelar al-amin (seorang yang dapat dipercaya) oleh masyarakat Arab sebelum Rasulullah menerima wahyu.

Salah satu contoh dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad ialah ketika menyampaikan Islam melalui surat. Tradisi kerajaan terdahulu ialah suatu keberanian dan tentu sebuah penghormatan tinggi ketika ada utusan resmi menghampiri kerajaan untuk menyampaikan sebuah pesan. Apalagi pesan tersebut disampaikan secara damai dan tidak mudah karena harus mengarungi lautan dan melewati bentangan jarak yang sangat panjang bagi para utusan.

Kala itu, seruan Nabi melalui surat direspon positif oleh kerajaan. Hasilnya menakjubkan, banyak raja dan orang-orang penting lainnya memeluk Islam. Raja-raja tersebut bukan tanpa alasan serta merta mengikuti seruan Nabi, karena mereka sebelumnya telah mendengar kabar soal utusan Allah bernama Muhammad, manusia terpercaya, jujur, dan menyampaikan kebenaran di setiap ucapannya.

Guru Besar bidang Tafsir KH Nasaruddin Umar dalam Khutbah-khutbah Imam Besar (2018) mengungkapkan di antara surat-surat Rasulullah ialah kepada Muqawqis, Raja Qibthi di Mesir sekitar akhir tahun 6 H atau awal tahun 7 H sebagai berikut:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Muhammad hamba Allah dan utusan-Nya kepada Muqawqis, Raja Qibthi. Keselamatan semoga tercurah kepada orang yang mengikuti Petunjuk-Nya, amma ba’du: aku mengajakmu dengan ajakan kedamaian. Masuklah Islam maka engkau akan selamat. Masuklah Islam maka engkau akan diberikan Allah pahala dua kali. Jika engkau menolak maka atasmu dosa penduduk Qibthi.” 

Sebagai sebuah penyampai kebenaran, tentu saja seruan Nabi Muhammad disambut gembira oleh Raja Muqawqis. Surat berisi seruan yang sama juga disampaikan Rasulullah kepada Kaisar Heraclius Raja Romawi, Raja Najasyi Penguasa Habasyah, Raja Gassan Jabalah bin Aiham, Raja Thaif, dan raja-raja besar lainnya.

Dakwah Nabi Muhammad melalui surat membuahkan teladan luhur bagi umat Islam bahwa kebenaran harus disampaikan dengan cara yang baik. Selain itu, dakwah juga menuntut kearifan akhlak penyampainya sehingga antara hati dan perkataan merupakan satu-kesatuan. Itulah bentuk integritas Nabi yang teguh dan berani tapi tetap ramah, berakhlak baik, dan menghormati.

Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan dalam Secercah Tinta (2012) mengungkapkan beberapa kunci keberhasilan dakwah Nabi Muhammad yang dinukil dari sebuah ayat Al-Qur’an:

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ 

“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (QS At-Taubah: 128)

Dari ayat di atas, Allah SWT memperkenalkan dan menerangkan kedudukan Nabi Muhammad. Telah datang Rasul, utusan yang berasal dari manusia, bukan dari makhluk lain. Utusan Allah dari golongan manusia menunjukkan bahwa Muhammad bukanlah manusia sembarangan. Beliau adalah manusia pilihan yang luar biasa.

Lalu apa luar biasa atau keistimewaan yang dimiliki oleh Rasulullah SAW? Pertanyaan ini terjawab dalam beberapa kalimat selanjutnya. Pertama, azizun ‘alaih ma’anittum (berat terasa olehnya penderitaanmu). Karena sepanjang hayatnya, terutama yang dipikirkan oleh Nabi Muhammad adalah umatnya. Ia sama sekali tidak menginginkan umatnya menderita di hari kemudian.

Bahkan, beberapa riwayat menyebutkan ketika Malaikat Izrail mendatangi Nabi Muhammad untuk mencabut nyawanya. Tentu saja perintah Allah tersebut terasa berat bagi Izrail untuk mencabut manusia yang paling dicintai Allah SWT. Di dalam obrolan sebelum mencabut nyawa Sang Nabi, Izrail memberikan kabar gembira tentang kesempurnaan dan kenikmatan surga bagi Rasulullah SAW.

Bukan malah bergembira, Nabi Muhammad justru teramat sedih dan menderita sehingga membuat Izrail bertanya-tanya. Nabi Muhammad berkata, “Lalu, bagaimana dengan umatku?” Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa Nabi tidak akan pernah membiarkan umatnya menderita meski merekalah yang membuat sengsara dirinya sendiri. Kondisi ini membuat berat terasa oleh Nabi Muhammad atas penderitaan umatnya.

Kedua, harishun ‘alaikum (sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu). Ini merupakan ungkapan cinta, kasih sayang sekaligus harapan Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.

Ketiga, bil mu’minina raufur rahim (amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin). Beliau memiliki rasa kasih sayang teramat mendalam pada kaum beriman.

Sifat-sifat itulah yang kemudian menopang keberhasilan dakwah Nabi Muhammad. Akhlak mulia, cinta, dan kasih sayang yang mewujud dalam penjelasan ayat di atas merupakan kunci keberhasilan dakwah Nabi dengan mengedepankan akhlaqul karimah karena tersimpan harapan besar Nabi kepada umatnya.

Dengan demikian, keberhasilan seorang dai/daiyah atau mubaligh/mubalighah bergantung pada seberapa besar rasa 'azizun ‘alaih ma’anittum dalam dirinya. Karena hal itulah dasar pertama untuk mengajak orang lain atau umat manusia ke jalan Allah SWT. Harapan para pendakwah juga ada dalam prinsip harishun ‘alaikum tanpa memaksakan kehendak sehingga sifat bil mu’minina raufur rahim harus terus dikedepankan. (Fathoni)
Share: