IMG-LOGO
Trending Now:
Ramadhan

Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (1)

Kamis 31 Mei 2018 23:7 WIB
Share:
Nama-nama Lain Bulan Ramadhan (1)
Ramadhan adalan bulan yang paling istimewa dibanding dengan bulan yang lainnya. Sejumlah peristiwa penting terjadi di bulan suci ini. Momen pelipatgandaan pahala ini juga berlimpah ibadah-ibadah khusus, yang memacu umat Islam berlomba-lomba dalam meraih keutamaan di bulan Ramadhan.

Di antara cirri sesuatu yang istimewa adalah memiliki banyak nama, seperti Baginda Besar Nabi Muhammad ﷺ yang mempunyai banyak nama dan julukan positif. Begitupun dengan bulan Ramadhan. Berikut adalah nama-nama lain Ramadhan sebagaimana disarikan dari kitab Ittihaf al-Anam bi Ahkam ash-Shiyam karya Dr. Zainuddin bin Muhammad bin Husain bin al-‘Aydarus al-Ba’alawy.

1. Bulan Al-Qur’an

Bulan Ramadhan dinamakan pula bulan Al-Qur’an (شهر القران), sebagaimana kita ketahui bahwa di bulan inilah Al-Qur’an diturunkan. Dalam Al-Qur’an surat al-Baqoroh ayat 185 Allah ﷻ berfirman:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ 

“Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”

Malaikat Jibril AS pun mengajarkan Al-Qur’an pada Nabi Muhammad ﷺ pada bulan ini, sebagaimana riwayat dari Ibnu ‘Abbas RA:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِى رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِى كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

Dari Ibnu Abbas, ia berkata: "Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling murah hati, lebih-lebih ketika bertemu Jibril di bulan Ramadhan. Beliau bertemu Jibril pada pada setiap malam bulan Ramadhan untuk tadarus Al-Qur'an. Maka sifat murah hati Rasulullah melebihi hembusan angin." (HR. Bukhari)

Selain keistimewaan bulan Ramadhan dari dua dalil di atas, para ulama pun menghatamkan al-Quran di bulan ini lebih banyak dari bulan-bulan lainnya.

2. Bulan Puasa

Bulan Ramadhan bisa disebut juga bulan puasa (شهر الصيام), ibadah inlah yang paling istimewa dalam bulan Ramadhan, sehingga penyebutan bulan Ramadhan dengan bulan puasa sudah mendarah daging. Ditambah keutamaan melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan, sebagaimana riwayat dari Abu Hurairah RA:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : " مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ 

Dari Abu Hurairah RA, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa yang mendirikan Ramadhan karena iman dan mengharap ganjaran, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu (HR Bukhari)

3. Bulan Shalat Malam (Syahrul Qiyâm)

Sebagaimana telah disinggung bahwa Ramadhan adalah bulan yang mana pahala dilipatgandakan. Oleh sebab itu banyak kaum Muslimin yang meramaikan malam-malam mereka dengan ibadah, salah satunya shalat tarawih.

Disebut Syahrul Qiyam karena ada hadits yang berisi keutamaan qiyam di bulan ini.

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يرغب في قيام رمضان من غير أن يأمرهم بعزيمة ثم قال من قام رمضان إيمانا و احتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه. متفق عليه

Dari Abi Hurairah RA. berkata: “Bahwasanya Rasulullah ﷺ senantiasa mengimbau dalam shalat di malam Ramadhan, imbauan yang tidak bersifat mewajibkan. Kemudian beliau ﷺ bersabda: “Barangsiapa yang bangun mendirikan Ramadhan dengan iman dan ikhlas maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR Bukhari dan Muslim)

4. Bulan Doa

Artinya bulan doa. Bulan Ramadhan identic juga dengan bulan doa, bahkan salah satu waktu mustajabnya doa yaitu ketika menjelang buka puasa. Sebagaimana hadits Nabi ﷺ, dari riwayat ‘Ubadah RA:

أتاكم رمضان شهر بركة ، فيه خير يغشيكم الله فيه، فتنزل الرحمة ، وتحط الخطايا، ويستجاب فيه الدعاء، فينظر الله إلى تنافسكم ، ويباهي بكم ملائكته، فأروا الله من أنفسكم خيرا، فإن الشقي من حرم فيه رحمة الله عز وجل

Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di dalamnya ada kebaikan yang meliputi kalian, maka turunlah rahmat, berguguran segala kesalahan dan dosa, di dalamnya doa dikabulkan, maka Allah melihat semangat kalian, dan para malaikat sangat dengan kalian, maka perlihatkan di hadapan Allah yang terbaik dari jiwa-jiwa kalian, karena sesungguhnya celaka bagi siapa yang diharamkan di dalamnya rahmat Allah ﷻ.

5. Bulan Rahmat

Allah ﷻ banyak memberi rahmat dalam bulan ini, kita bisa merasakannya sendiri bagaimana melimpahnya kasih sayang Ia kepada mahluknya, berupa pengampunan dosa hamba-hambanya. 

Abu Hurairah RA meriwayatkan hadits dari Nabi ﷺ:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah ﷺ. bersabda, ‘Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta penyeru menyeru, “Wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadhan.” (HR. At-Tirmidzi)

(Amien Nurhakim)

Bersambung...
Share:
Kamis 31 Mei 2018 20:45 WIB
Asal-usul Susunan Lafal Niat Puasa Ramadhan
Asal-usul Susunan Lafal Niat Puasa Ramadhan
Ulama bersepakat bahwa niat terletak di dalam hati dan tidak wajib dilafalkan. Namun melafalkannya dianjurkan atau disunnahkan sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafi’i dan dinukil oleh Imam Nawawi dalam al-Majmu’:

ومحل النية القلب ولا يشترط نطق اللسان بلا خلاف، ولا يكفي عن نية القلب ولكن يستحب التلفظ مع القلب

“Semua sepakat bahwa tempat niat itu adalah hati dan tidak disyaratkan pengucapannya secara lisan. Tak cukup niat hati, namun disunnahkan untuk melafalkan (dengan lidah) bersamaan dengan niat di hati.” (Imam Nawawi, al-Majmu’, Riyadh, Dârul ‘Âlamil Kutub, juz 6, halaman 248)

Dalam kitab I’anatut Thalibin pada bab Puasa juga telah dijelaskan bahwa niat itu harus di hati, sedangkan mengucapkannya adalah sunnah atau dianjurkan:

النيات با لقلب ولا يشترط التلفظ بها بل يندب...

“Niat itu dengan hati, dan tidak disyaratkan mengucapkannya, karena mengucapkan niat itu disunnahkan/dianjurkan.” (Sayid Bakri, I’anatut Thalibin, Surabaya, Hidayah,  halaman 221)

Kadang di masyarakat masih terjadi perbedaan pendapat antara mereka yang sudah membiasakan diri talaffudh (melafalkan) niat dan mereka yang menghindari praktik tersebut. Perbedaan paham adalah hal yang lumrah dan terjadi sejak lama. Hanya saja, masing-masing harus tahu porsi masing-masing.

Bagi masyarakat yang terbiasa melafalkan niat, jangan sampai menjadikan lafal niat itu seakan-akan bagian dari rukun, padahal tidak ada ulama yang mewajibkannya. Jangan menilai bahwa tidak sah ibadah yang tidak melafalkan niat.

Baca juga: Apakah Niat Puasa Ramadhan Harus Diucapkan?
Fakta kondisi masyarakat di lapangan kadang unik. Ada sebagian di antara mereka yang belum mengerjakan ibadah tertentu dengan alasan belum bisa/belum hafal lafal niatnya. Atau bahkan ada sebagian jamaah meragukan keabsahan shalat imam masjid hanya karena mereka tidak mendengar imam melafalkan niat shalat lewat mikrofon kecil yang menempel di dada imam. Yang demikian agak berlebihan, karena niat hanya disyaratkan di dalam hati.

Demikian juga bagi mereka yang memakruhkan pun harus bersikap proporsional. Sebab, bagaimanapun melafalkan niat tidak mengurangi sedikitpun nilai yang ada di dalam hati. Talaffudh niat juga bermanfaat setidaknya bagi mereka yang kadang dihinggapi keraguan apakah sudah berniat atau belum—mereka baru mantap ketika niat dalam hati disertai dengan melafalkannya secara lisan. Itulah mengapa sering kita dengar pelafalan niat puasa, misalnya tiap selepas tarawih, oleh umat Islam di Tanah Air.

Lantas, bagaimana asal usul susunan lafal niat puasa yang akrab kita dengarkan sekarang?

Dalam mazhab Syafi’i, niat tak hanya menyengaja melakukan sesuatu (qashdul fi’li), tapi juga mesti disertai kejelasan jenis ibadah secara spesifik (ta”yîn), serta ketegasan status kefardhuannya (fardliyyah) bila ibadah itu memang fardhu. Praktik niat puasa adalah pada malam hari hingga terbit fajar, dan disunnahkan melafalkannya.

Baca juga: Komponen yang Harus Dipenuhi dalam Niat
Untuk itu ulama Syafi’iyah menawarkan susunan redaksi niat yang sesuai dengan tata cara berniat tersebut. Disusunlah sebuah lafal niat yang kemudian sering kita dengar hingga kini di masjid-masjid atau madrasah-madrasah di Indonesia yang mayoritas pendudukanya bermazhab Syafi’i.

Imam An-Nawawi, misalnya, menuliskan bahwa:

صِفَةُ النِّيَّةِ الْكَامِلَةِ الْمُجْزِئَةِ بِلَا خِلَافٍ أَنْ يَقْصِدَ بِقَلْبِهِ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لِلَّهِ تَعَالَى

“Bentuk niat yang sempurna adalah dengan sengaja hati bermaksud berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah ta'ala”. (Imam Nawawi, al-Majmu’, Riyadh, Dârul ‘Âlamil Kutub, juz 6, halaman 253)

Dari sini hadirlah redaksi lafal niat puasa yang sering diucapkan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانِ هَذِهِ السَّنَةِ لله تَعَالىَ

“Aku sengaja berpuasa esok hari untuk menunaikan ibadah fardhu di bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta'ala”.

Baca juga: Lafal Niat Puasa: Ramadlana atau Ramadlani?
Tradisi melafalkan niat puasa Ramadhan itu tidak lepas dari pedoman niat dalam pandangan mazhab Imam Syafi’i sebagaimana penjelasan singkat di atas. Mengapa dilaksanakan secara bersama-sama dan usai shalat tarawih?

Hal ini tak lepas dari kearifan para ulama Nusantara untuk bersikap hati-hati dari lupa melaksanakan salah satu rukun puasa tersebut. Manusia adalah tempatnya lupa, sementara keabsahan puasa Ramadhan pertama-tama dinilai dari niatnya. Tentu yang demikian tanpa mengabaikan keyakinan bahwa walaupun tidak diucapkan setelah shalat tarawih atau bahkan tidak diucapkan sama sekali—yang penting dari sejak malam dan sebelum subuh hati kita sudah berniat untuk berpuasa—puasa sudah sah.

Semoga Allah menerima amal ibadah puasa kita, dan semoga Allah menganugerahkan ketakwaan kepada kita semua. Aamin. Wallahu A’lam.


Aang Fatihul Islam, Ketua PC LDNU Jombang

Kamis 31 Mei 2018 17:15 WIB
Berzakat Fitrah di Bulan Ramadhan, Bolehkah?
Berzakat Fitrah di Bulan Ramadhan, Bolehkah?
Kita sudah melewati sepuluh hari pertama bulan Ramadhan. Di beberapa tempat sudah mulai ada edaran mekanisme, tempat, dan kepanitiaan pendistribusian zakat fitrah. Edaran tersebut tidak hanya di dunia nyata, namun juga sudah banyak menyebar di dunia maya. Zakat fitrah biasanya dikeluarkan pada malam hari raya Idul Fitri. Namun, tidak sedikit orang yang mengeluarkan fitrahnya di bulan Ramadhan karena berbagai alasan. Bagaimana hukumnya?

Baca juga: Hukum Zakat Fitrah dalam Bentuk Uang
Dasar kewajiban zakat fitrah sebelum adanya ijma’ (konsensus ulama’) adalah hadits Ibnu Umar:

فرض رسول الله صلى الله عليه وسلم زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر أو صاعا من شعير على كل حر أو عبد ذكر أو أنثى من المسلمين

“Rasulullah ﷺ mewajibkan zakat fitrah dari Ramadhan atas manusia, satu sha’ dari kurma atau gandum, atas setiap orang merdeka, hamba sahaya, laki-laki atau perempuan dari orang-orang Islam.”

Dan hadits Abi Sa’id:

كنا نخرج زكاة الفطرة إذا كان فينا رسول الله صلى الله عليه وسلم صاعا من طعام أو صاعا من تمر أو صاعا من شعير أو صاعا من زبيب أو صاعا من أقط فلا أزال أخرجه كما كنت أخرجه ما عشت 

“Kami mengeluarkan zakat fitrah saat kami bersama Rasulullah, satu sha’ dari makanan, kurma, gandum, anggur kering atau makanan aquth (sejenis makanan yang terbuat dari susu, padat bentuknya). Aku senantiasa mengeluarkannya sebagaimana Nabi menunaikannya sepanjang hidupku.”

Kedua hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahih-nya. Menurut pendapat yang masyhur, zakat fitrah diwajibkan pada tahun kedua Hijriyah, tahun diwajibkannya puasa Ramadhan.

Zakat fitrah diwajibkan atas setiap Muslim yang mampu, untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang wajib ia nafkahi seperti istri dan anak yang belum akil baligh. Yang dimaksud mampu adalah memiliki kecukupan harta yang melebihi dari kebutuhan diri sendiri dan orang yang wajib dinafkahi saat malam dan hari raya. Di samping mampu, kriteria wajib menunaikan zakat fitrah adalah setiap Muslim yang menemui satu bagian dari bulan Ramadhan dan satu bagian dari Syawal. Sehingga, tidak wajib zakat bagi orang yang meninggal di bulan Ramadhan atau bayi yang lahir setelah maghribnya bulan Syawal (malam 1 Syawal).

Pada dasarnya kewajiban zakat fitrah dimulai saat tenggelamnya matahari bulan Syawal. Namun hukumnya jawaz (boleh) menunaikannya di bulan Ramadhan dengan memakai pola ta’jil az-zakat, mempercepat penunaian zakat fitrah sebelum waktu wajibnya.

Kebolehan menunaikan zakat fitrah di bulan Ramadhan berlandaskan bahwa zakat fitrah diwajibkan karena dua sebab, puasa dan berbuka darinya (lewatnya bulan puasa), sehingga dibolehkan menunaikannya saat salah satu sebab kewajibannya ada, sebagaimana dibolehkan menunaikan zakat mal saat ditemukan salah satu dari dua penyebab kewajibannya, yaitu haul dan nishab.

Syekh al-Khatib al-Syarbini menegaskan:

وله تعجيل الفطرة من أول ليلة رمضان لأنها وجبت بسببين وهما الصوم والفطر فجاز تقديمها على أحدهما

“Boleh mempercepat zakat fitrah mulai dari malam pertama bulan Ramadhan, sebab zakat fitrah wajib karena dua sebab, puasa dan berbuka (berlalunya bulan puasa), maka boleh mendahulukan penunaian zakat fitrah atas salah satu dari kedua sebab tersebut.” (al-Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 1, hal 416)

Zakat fitrah yang ditunaikan di bulan Ramadhan, kadar, ketentuan yang berhak menerima, tata cara niat, dan ketentuan lainnya sama dengan pelaksanaan zakat fitrah saat hari raya Idul Fitri.

Baca juga: Waktu Pembayaran Zakat Fitrah
Bila melihat pertimbangan keutamaan, zakat fitrah lebih baik dikeluarkan menjelang pelaksanaan shalat Idul Fitri. Sebab hal ini sesuai dengan yang dilakukan Rasulullah saw. dan sesuai dengan fungsi dari zakat fitrah “mencukupi kebutuhan fakir miskin di hari raya.”

Demikian penjelasan mengenai hukum menunaikan zakat fitrah di bulan Ramadhan, semoga bermanfaat. (M. Mubasysyarum Bih)

Selasa 29 Mei 2018 18:0 WIB
Amalan Rasulullah di Malam Lailatul Qadar
Amalan Rasulullah di Malam Lailatul Qadar
Salah satu keistimewaan dan keutamaan Ramadhan adalah di dalamnya terdapat malam lailatul qadar. Malam ini ditunggu-tunggu oleh setiap umat Islam. Setiap orang berharap agar bertemu dengan malam tersebut karena itu malam terbaik dari seribu bulan.

Hanya saja Rasulullah SAW tidak menjelaskan secara pasti kapan terjadi lailatul qadar. Para ulama pun beda pendapat mengenai hal ini. Tujuan dari perahasiaan kedatangan malam ini adalah agar umat Islam selalu beribadah dan memperbanyak amal saleh sembari berharap bertemu lailatul qadar.

Imam An-Nawawi dalam Kitab Al-Adzkar menjelaskan ada beberapa amalan yang sangat dianjurkan di malam lailatul qadar. Ia  menjelaskan:

روينا بالأسانيد الصحيحة في كتب الترمذي والنسائي وابن ماجه وغيرها عن عائشة رضي الله عنها قالتْ: قلتُ: يارسول اللَّه إن علمتُ ليلة القدر ما أقول فيها؟ قال: " قُولي: اللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فاعْفُ عَنِّي

قال أصحابَنا رحمهم الله: يُستحبّ أن يُكثِر فيها من هذا الدعاء، ويُستحبّ قراءةُ القرآن وسائر الأذكار والدعوات المستحبة في المواطن الشريفة.....قال الشافعي رحمه الله: أستحبّ أن يكون اجتهادُه في يومها كاجتهاده في ليلتها، هذا نصّه، ويستحبّ أن يُكثرَ فيها من الدعوات بمهمات المسلمين، فهذا شعار الصالحين وعباد الله العارفين.

Artinya, “Kami riwayatkan dari sanad yang shahih dalam kitab al-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan lain-lain bahwa Aisyah pernah berkata, ‘Wahai Rasulullah, andaikan aku mengetahui lailatul qadar, apa yang bagus aku baca?’ Rasulullah menjawab, ‘Bacalah Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’ (Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku).’

Ulama kami berkata, disunahkan memperbanyak baca doa ini, baca Al-Qur’an, zikir, dan doa-doa yang disunahkan pada tempat atau waktu yang mulia….Imam As-Syafi’I berkata, ‘Aku menyukai memperbanyak ibadah tersebut di siang hari sebagaimana di malam hari.’ Dianjurkan juga memperbanyak doa-doa yang penting bagi umat Islam. Ini tanda orang-orang saleh dan hamba Allah yang arif.”

Berdasarkan penjelasan Imam An-Nawawi ini, ada beberapa amalan yang biasa dilakukan pada lailatul qadar. Meskipun kita tidak tahu secara pasti kapan datangnya lailatul qadar, yang penting amalan ini dilakukan selama bulan Ramadhan, khususnya sepuluh terakhir Ramadhan.

Di antara amalan yang bisa dilakukan adalah memperbanyak baca doa:

Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni’

Artinya, “Wahai Tuhan, Engkau Maha Pengampun, menyukai orang yang minta ampunan, ampunilah aku.”

Dianjurkan juga memperbanyak baca Al-Qur’an, zikir, dan doa-doa yang bermanfaat untuk umat Islam. Dalam pandangan Imam As-Syafi’i, amalan ini sebaiknya tidak hanya dilakukan di malam hari saja, tapi juga diperbanyak siang hari. Pasalnya, ia sendiri sangat menyukai melakukan amalan ini di siang hari, sebagaimana kesungguhannya di malam hari. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah)