Ramadhan

Kultum Ramadhan: I’tikaf Sebagai Jalan Mendekat kepada Allah

NU Online  ·  Rabu, 11 Maret 2026 | 15:00 WIB

Kultum Ramadhan: I’tikaf Sebagai Jalan Mendekat kepada Allah

Kultum Ramadhan tentang I’tikaf (NUO)

Ramadhan adalah waktu yang sangat istimewa yang setiap detiknya berharga. Memasuki 10 malam terakhir, intensitas ibadah kita seharusnya bukan menurun, melainkan mencapai puncaknya. Salah satu cara terbaik untuk mencapai puncak kedekatan dengan Allah adalah melalui i’tikaf.
 

Secara istilah, para ulama telah mendefinisikan i’tikaf sebagai upaya sadar seorang hamba untuk mengurung diri dalam ketaatan di dalam Masjid. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Qarib:
 

وَهُوَ لُغَةً الإقامَةُ عَلَى الشَّيْءِ مِنْ خَيْرٍ أَوْ شَرٍّ، وَشَرْعًا إِقَامَةٌ بِمَسْجِدٍ بِصِفَةٍ مَخْصُوْصَةٍ
 

Artinya, “Secara etimologi, i’tikaf adalah menetapi sesuatu yang baik atau jelek. Adapun secara terminologi syara’ i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan sifat tertentu.” (Fathul Qarib, [Beirut, Dar Ibnu Hazm: 2005], halaman 142).
 

Ibadah i’tikaf disebutkan langsung dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 187. Allah berfirman;
 

وَلَا تُبَاشِرُوْهُنَّ وَاَنْتُمْ عٰكِفُوْنَۙ فِى الْمَسٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ فَلَا تَقْرَبُوْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُوْنَ
 

Artinya: "Jangan campuri mereka ketika kamu (dalam keadaan) beri'tikaf di masjid. Itulah batas-batas (ketentuan) Allah. Maka, janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka bertakwa."
 

I’tikaf bukanlah ibadah musiman yang tanpa dasar, melainkan sunnah yang sangat ditekankan (sunnah muakkadah). Rasulullah mencontohkan i’tikaf secara konsisten, khususnya pada sepuluh hari terakhir Ramadhan. Beliau menjaga tradisi ini sampai wafat. Para istrinya juga melanjutkan amalan tersebut setelah beliau wafat.
 

Dalam sebuah hadits disebutkan:
 

 أنَّ النبيَّ صَلَّى اللَّهُ عليه وسلَّمَ كانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأوَاخِرَ مِن رَمَضَانَ، حتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِن بَعْدِهِ
 

Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad saw beritikaf pada sepuluh terakhir bulan Ramadan sampai beliau wafat. Kemudian para istrinya mengikuti itikaf pada waktu tersebut setelah kewafatan beliau.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
 

Ulama sepakat bahwa i’tikaf bukan kewajiban. I’tikaf adalah ibadah sunnah yang mendekatkan diri kepada Allah. Namun jika seseorang telah bernazar atau berkomitmen melaksanakannya, maka ia wajib menyempurnakannya.
 

Imam Al-Qurthubi menjelaskan:
 

وَهُوَ قُرْبَةٌ مِنَ الْقُرَبِ وَنَافِلَةٌ مِنَ النَّوَافِلِ عَمِلَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابُهُ وَأَزْوَاجُهُ، وَيَلْزَمُهُ إِنْ أَلْزَمَهُ نَفْسَهُ، وَيُكْرَهُ الدُّخُولُ فِيهِ لِمَنْ يُخَافُ عَلَيْهِ الْعَجْزُ عَنِ الْوَفَاءِ بِحُقُوقِهِ
 

Artinya: “I'tikaf merupakan salah satu amalan yang mendekatkan diri kepada Allah swt dan termasuk ibadah yang senantiasa dikerjakan oleh Rasulullah saw, para sahabatnya, dan para istrinya pernah melaksanakan i'tikaf. Jika seseorang telah berniat untuk melaksanakan i'tikaf, maka dia wajib untuk menyelesaikannya. Namun, orang yang khawatir tidak mampu memenuhi hak-haknya dalam i'tikaf, dianjurkan untuk tidak menjalankannya.” (Jamiul Ahkamil Qur’an, [Kairo, Darul Kutub Misriyah: 1964], jilid II, halaman 333).
 

Tujuan utama i’tikaf adalah membersihkan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah. I’tikaf merupakan ibadah yang dilaksanakan dengan berdiam diri di masjid dan mengisi waktu dengan amal saleh. Ketika i’tikaf, kita fokus pada shalat, membaca Al-Qur’an, berdzikir, berdoa, bershalawat, serta melakukan muhasabah diri. Kita bisa mengurangi interaksi yang tidak perlu dan menahan diri dari kesibukan dunia. Dari situ lahir kejernihan hati dan kekuatan ruhani.
 

Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
 

المقصود من الاعتكاف صفاء القلب بمراقبة الرب، وهو إنما يحصل غالبًا بالأذكار وعدم الاشتغال بالناس
 

Artinya, “Tujuan i‘tikaf adalah membersihkan hati dengan selalu merasa diawasi oleh Allah. Keadaan ini biasanya terwujud dengan banyak berzikir dan tidak sibuk berinteraksi atau bercampur dengan manusia.” (Fiqhul Islami wa Adillatuhu, [Damaskus, Darul Fikr: t.t.], jilid III, halaman 1772).
 

Kenapa i’tikaf menjadi jalan yang tepat untuk mendekat kepada Allah? Karena i'tikaf adalah momen kita menekan tombol pause dari riuhnya dunia, yang mana notifikasi gadget dan target pekerjaan sering kali menenggelamkan suara hati.
 

Dengan berdiam di masjid, kita sedang membangun ruang privat yang sangat intim untuk berdialog langsung dengan Allah dan terhindari dari hiruk pikuk dunia yang tidak baik. Syekh Zakariya al-Anshari mengatakan:
 

لِاَنَّهُ أَقْرَبُ لِصَوْنِ النَّفْسِ عَنْ ارْتِكَابِ مَا لَا يَلِيْقُ
 

Artinya, “Karena i’tikaf dapat menjaga hawa nafsu dari perbuatan-perbuatan yang tidak baik.” (Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib, [Matba’ al-Maimuniyah: 1313], jilid II, halaman 420).
 

Marilah kita merenung sejenak. Jika selama 11 bulan ini jiwa kita merasa lelah karena terus-menerus dijajah oleh kesibukan dunia, maka Ramadhan adalah kesempatan emas untuk memerdekakannya.
 

I'tikaf bukan sekadar ritual berdiam diri, melainkan benteng yang kokoh untuk menjaga hawa nafsu kita dari hal-hal yang tidak pantas di hadapan Allah. Ia adalah momen di mana kita berhenti mengejar bayangan dunia dan mulai mengejar ridha Sang Pemilik Semesta. I'tikaf adalah bentuk cinta paling murni dari seorang hamba yang rindu kepada Tuhannya. Waallahu a’lam.


Ustadz Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan