Kultum Ramadhan: Takwa, Bekal Utama Menyambut Lailatul Qadar
NU Online · Kamis, 12 Maret 2026 | 03:00 WIB
Syifaul Qulub Amin
Kolomnis
Di bulan Ramadhan ada satu malam yang ditunggu kedatangannya oleh setiap Muslim di seluruh dunia, yakni malam Lailatul Qadar. satu malam yang disebut dalam al-Qur’an lebih utama dari seribu bulan. Momen kedatangannya sangat diharapkan. Setiap Muslim berharap bertemu dengannya.
Allah SWT berfirman dalam Surat Al-Qadr ayat 3:
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ
Artinya: "Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan."
Maksud lebih utama daripada seribu bulan pada ayat ini adalah merujuk pada amal ibadah yang kita laksanakan pada malam Lailatul Qadar bernilai lebih banyak daripada malam lainnya, sebagaimana penjelasan Syekh Nawawi Banten:
إِنَّ الْعِبَادَةَ فِيهَا خَيْرٌ مِنَ الْعِبَادَةِ فِي أَلْفِ شَهْرٍ لَيْسَتْ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
Artinya: “Sungguh ibadah di malam Lailatul Qadar lebih baik daripada ibadah seribu bulan di selain malam Lailatul Qadar.” (Marahul Labid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah], jilid II, halaman 650).
Malam istimewa ini dirahasiakan oleh Allah swt kepastian datangnya, hari, tanggal, atau pukul berapa tidak ada yang mengetahui pasti kecuali Allah. Karena alasan inilah kita perlu menyiapkan kepantasan diri dengan senantiasa menjaga ketakwaan sepanjang bulan Ramadhan ini. Karena bekal paling utama yang perlu kita siapkan adalah ketakwaan.
Allah berfirman dalam Surat Ali 'Imran ayat 102:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim."
Makna Takwa dan Aplikasinya dalam Kehidupan Sehari-hari
Makna takwa sangat luas, sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama dalam literatur keislaman. Di antara penjelasan tersebut mengatakan bahwa takwa memiliki derajat atau tingkatkan.
Jadi, kita bisa meningkatkan ketakwaan diri mulai dari paling sederhana, misalnya menghindari hal-hal yang bersifat berlebihan, walaupun hal tersebut mubah secara syariat. Saat berbuka puasa makan atau minum tidak berlebihan, tidur tidak berlebihan, dan hal-hal mubah tapi berlebihan lainnya. Inilah contoh sederhana yang bisa dibiasakan untuk meningkatkan kualitas ketakwaan kita.
Misal lainnya, kita bisa mulai membiasakan menghindari perkara syubhat. Setiap perkara yang belum jelas halalnya kita hindari, terutama yang berkaitan dengan makanan atau minuman yang menjadi konsumsi kita setiap hari.
Dalam konteks bermedia sosial pun bisa kita aplikasikan dengan tidak membagikan konten-konten yang syubhat, apakah manfaatnya jelas atau tidak, atau jangan-jangan konten pembuat kegaduhan atau menyinggung perasaan masyarakat tertentu. Apalagi sudah jelas tidak bermanfaat, maka hindari mengonsumsinya apalagi membagikannya.
Dalam pandangan Imam Abdul Karim al-Qusyairi, hakikat ketakwaan adalah menjaga dari hukuman Allah dengan cara melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Sedangkan pokok dari ketakwaan adalah takwa (takut/menjauh) dari kesyirikan, lalu takwa dari kemaksiatan dan kejelekan, lalu takwa dari kesyubhatan, dan terakhir takwa dari semua hal yang berlebihan (yang tidak diperlukan), sebagaimana penjelasan berikut:
وَحَقِيقَةُ الِاتِّقَاءِ التَّحَرُّزُ بِطَاعَةِ اللَّهِ عَنْ عُقُوبَتِهِ. يُقَالُ: اتَّقَى فُلَانٌ بِتُرْسِهِ، وَأَصْلُ التَّقْوَى اتِّقَاءُ الشِّرْكِ، ثُمَّ بَعْدَهُ اتِّقَاءُ الْمَعَاصِي وَالسَّيِّئَاتِ، ثُمَّ بَعْدَهُ اتِّقَاءُ الشُّبُهَاتِ، ثُمَّ تَدَعُ بَعْدَهُ الْفَضُلَاتِ كَذَلِكَ
Artinya: “Hakikat ketakwaan adalah menjaga dari hukuman Allah SWT dengan cara melaksanakan ketaatan kepada-Nya. Pokok ketakwaan adalah takwa (menjauh) dari kesyirikan, lalu takwa dari kemaksiatan dan kejelekan, lalu takwa dari kesyubhatan, dan juga takwa dari semua hal yang berlebihan.” (Ar-Risalah Al-Qusyairiyah, [Mesir: Darul Ma'arif, t.t.], jilid I, halaman 227).
Inilah hakikat makna takwa dan tingkatan takwa yang harus kita pahami dan bisa kita aplikasikan di kehidupan sehari-hari. Bertahap, seperti uraian yang telah dikemukakan.
Mengidentifikasi Kualitas Ketakwaan Diri
Yang juga penting kita pahami adalah cara bagaimana mengukur kualitas ketakwaan. Caranya, kata Imam Abdul Karim al-Qusyairi, setidaknya ada tiga ciri khusus diri kita bisa katakan bertakwa, yakni:
- Bertawakal dengan apa yang belum kita peroleh.
Saat kita melamar pekerjaan di beberapa tempat, tapi panggilan untuk interview atau kepastiannya tak kunjung datang, maka ketika respon kita positif, tetap memasrahkan keputusan diterima atau tidaknya kepada Allah SWT, tidak berputus asa tapi memperbaiki apa kurang, maka itulah ciri-ciri ketakwaan. Begitu juga sebaliknya;
- Ridha dengan apa saja yang kita peroleh.
Misalnya kita sudah berikhtiar mencari nafkah sekuat tenaga supaya penghasilan melebihi kebutuhan pokok, tapi hasil yang diperoleh berbicara lain, tetap penghasilan hanya menutup kebutuhan pokok. Maka, respon yang menggambarkan ketakwaan adalah tetap bersyukur, dan tidak melakukan cara yang dilarang demi menambah penghasilan. Dengan kata lain, menerima apa adanya; dan
- Bersabar atas apa saja yang hilang dari kita punya.
Dalam konteks ini banyak sekali contohnya di kehidupan kita. Usaha bangkrut, orang yang kita cintai wafat atau kehilangan barang berharga, maka bersabar, tidak menyalahkan takdir, tetap berprasangka baik kepada Allah SWT merupakan ciri nyata dari ketakwaan diri kita.
Mari simak ulasan berikut:
يُسْتَدَلُّ عَلَى تَقْوَى الرَّجُلِ بِثَلَاثٍ: حُسْنُ التَّوَكُّلِ فِيمَا لَمْ يَنَلْ، وَحُسْنُ الرِّضَا فِيمَا قَدْ نَالَ، وَحُسْنُ الصَّبْرِ عَلَى مَا قَدْ فَاتَ
Artinya: “Tiga tanda berikut bisa dibuat patokan atas ketakwaan seseorang, (1) bagusnya tawakal dengan apa yang belum diperolehnya, (2) bagusnya ridha dengan apa saja yang diperolehnya, dan (3) bersabar atas apa saja yang hilang darinya.” (Al-Qusyairi, I/229).
Inilah cara mengukur kualitas ketakwaan dan yang paling mengetahui tiga ciri ini adalah diri kita masing-masing. Mari sambut malam Lailatul Qadar dengan meningkatkan kualitas ketakwaan dengan senantiasa berusaha melaksanakan hal-hal yang telah disampaikan.
Semoga kita diberi kekuatan dalam melaksanakan ketakwaan sehingga bisa menyambut malam Lailatul Qadar dengan maksimal, karena bekal yang paling utama untuk menyambutnya adalah dengan ketakwaan. Wallahu a'lam.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pengajar di PP Putri Al-Masyhuriyah Kebonan Bangkalan.
Terpopuler
1
Kultum Ramadhan: Keutamaan 10 Malam Terakhir dan Cara Mendapatkan Lailatul Qadar
2
Menurut Imam Ghazali, Lailatul Qadar Ramadhan 1447 H Akan Jatuh pada Malam Ke-25
3
Syed Muhammad Naquib al-Attas: Cendekiawan tanpa Telepon Genggam
4
Makna Keterpilihan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
5
Cendekiawan Malaysia Syed Naquib Alatas Meninggal Dunia dalam Usia 94 Tahun
6
Lafal Doa Malam LaiLatul Qadar, Lengkap dengan Latin dan Terjemah
Terkini
Lihat Semua