Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Abdul Muthalib, Sosok di Balik Penemuan Kembali Sumur Zamzam

Abdul Muthalib, Sosok di Balik Penemuan Kembali Sumur Zamzam
Ilustrasi. (Foto: NU Online)
Ilustrasi. (Foto: NU Online)

Setelah Kabilah Jurhum menodai kesucian Kota Makkah dengan melakukan berbagai tindak kezaliman, sekutu Kabilah Kinanah dan Khuza’ah menyerang dan mengusir mereka dari tanah kelahiran Nabi Muhammad itu. Sebelum pulang ke negeri asalnya, Yaman, Jurhum menimbun sumur Zamzam agar jejaknya tidak diketahui oleh siapa pun.


Bertahun-tahun sejak penimbunan itu, Sumur Zamzam sudah tidak tampak lagi jejaknya. Betul-betul rata dengan tanah. Belum lagi dinamika geografis dan berbagai bencana alam yang mempengaruhi konstruk dataran Makkah dalam waktu yang cukup panjang.


Abdul Muthalib merupakan tokoh utama dalam penemuan kembali Sumur Zamzam. Sebab, dialah orang yang mendapat ilham tantang posisi sumur suci itu dan menggalinya sendiri bersama anak satu-satunya, Haris. Oleh karena itu, tidak salah jika penulis singgung sedikit sosok kakek Rasulullah ini dan status sosialnya di Makkah. Dengan begitu bisa diketahui alasan Allah swt memilihnya sebagai penemu Zamzam setelah sekian lama hilang.


Semasa hidupnya Abdul Muthalib merupakan sosok yang sangat dihormati masyarakat. Nama aslinya adalah Syaibatul Hamd. Kata ‘syaibah’ berarti uban. Saat baru lahir tumbuh rambut putih di kepalanya, sehingga dia dinamai demikian. Nama Abdul Mthalib sendiri merupakan panggilan dari masyarakat yang kemudian lebih populer karena mulanya dikira dia adalah budak dari Muthalib, sang paman.


Abdul Mutahalib sendiri berasal dari Yatsrib (nama sebelum Madinah). Begitu ayahnya, Hasyim, wafat, sang paman membawanya ke Makkah setelah mendapat restu dari ibunya, Salma. Setibanya di Makkah, orang-orang Quraisy menyangka bahwa Muthalib membawa budak yang telah dibelinya dari Yatsrib. “Itu adalah budak Muthalib (dalam bahasa Arab disebut ‘Abdul Muthalib’),” sangka kaum Quraisy.


Muthalib yang mendengar anggapan itu segera memberikan klarifikasi, “Bukan, itu adalah keponakanku yang aku bawa dari Madinah.” 


Posisi Muthalib di Makkah setelah kewafatan Hasyim adalah sebagai as-Siqâyah dan ar-Rifâdah (pemberi minum dan penjamu para jamaah haji), status sosial yang sangat dihormati ketika itu. Selain memiliki kedudukan mulia di tengah kaumnya, ia juga terkenal sangat dermawan sehingga dijuluki al-Faydh (orang yang amat dermawan). (Muhammad Abu Syuhbah, As-Sîrah an-nabawiyah ‘ala Dhauil Qurâni was Sunnah, tanpa tahun: juz 1, h. 152)


Wafatnya Muthalib

Setelah Muthalib wafat di daerah Radman, Yaman, Abdul Muthalib menggantikan posisinya di Makkah. Dia bahkan memiliki kedudukan lebih mulia dibanding para pendahulunya sehingga orang-orang Quraisy sangat menghormatinya. Dia juga sosok yang amat dermawan, sampai-sampai memiliki kebiasaan menabur remukan roti di atas bukit agar dimakan kawanan burung. Karena itu dia dijuluki al-Faydah (orang yang amat dermawan).


Tidak adanya sumur di Makkah membuat Abdul Muthalib kesulitan dalam mengemban amanah menyediakan minum bagi orang-orang yang menunaikan haji. Untuk bisa memperoleh air ia harus pergi keluar Makkah mencari sumur. Satu-satunya sumur yang ada di Makkah yaitu Zamzam sudah tidak ada, bahkan jejaknya hilang sama sekali. Sudah begitu, ia hanya memiliki seorang anak yang membantunya, yaitu Harits. (Muhammad Abu Syuhbah: juz 1, h. 153)


Isyarat penggalian sumur Zamzam

Doa-doa Abdul Muthalib agar diberi kemudahan dalam mengemban amanah mulia sebagai penjamu jamaah haji akhirnya dikabulkan oleh Allah swt. Dikisahkan, sekali waktu saat ia tidur di atas Hijr Ismail, datang seseorang dalam mimpinya dan berkata, “Galilah Thaibah!” Ia bertanya, “Apa itu Thaibah?” Orang itu kemudian menghilang begitu saja.


Keesokan harinya Abdul Muthalib tidur di tempat yang sama dan orang yang kemarin datang lagi. “Galilah Barrah!” katanya berseru. “Apa itu Barrah?” tanya Abdul Muthalib. Orang itu kemudian menghilang sama seperti pada mimpi pertama.


Pada malam ketiga Abdul Muthalib tidur di tempat yang sama dan orang itu datang lagi. “Galilah al-Madhnunah!” “Apa itu al-Madhnunah?” tanya Abdul Muthalib semakin penasaran. Pada malam keempat dan Abdul Muthalib tidur di tempat yang sama, orang itu datang lagi dan berkata, “Galilah Zamzam!” Abdul Muthalib bertanya, “Apa itu Zamzam?”


“Zamzam adalah air yang tidak pernah habis, melimpah ruah, dan akan menjadi air minum bagi jamaah haji yang agung itu. Posisinya berada di antara kotoran dan darah, di sekitar gagak-gagak bersayap putih beterbangan dan di dekat sarang semut,” jawabnya.


Keesokan harinya Abdul Muthalib segera menuju ke tempat yang ia pahami lewat isyarat mimpi itu. Dengan membawa cangkul dan ditemani putranya, Harits, ia pergi ke tempat yang ternyata persis berada di antara dua berhala, yaitu Isaf dan Nailah. Tempat ini biasa digunakan orang-orang Quraisy untuk menyembelih hewan kurban. Di dekatnya ada sarang semut dan sekawanan burung gagak sedang mematuk-matuk tanah.


Melihat Abdul Muthalib dan putranya tampak serius menggali, orang-orang Quraisy penasaran dan menghampiri mereka. Mengetahui tempat yang digali sangat sakral karena sebagai tempat penyembelihan, orang-orang Quraisy mencoba menghentikannya. Abdul Muthalib tidak menggubris respons mereka.


Abdul Muthalib tetap dengan pendiriannya dan terus menggali, sementara Harits jaga-jaga barangkali orang Quraisy akan melakukan tindakan untuk mencegahnya. Tidak lama setelah penggalian, Abdul Muthalib melihat sumur Zamzam dan dikagumkan dengan harta karun yang dulu dikubur Kabilah Jurhum berupa dua patung rusa emas, pedang dari Qal’ah, dan baju besi. (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyah, 2002: h. 142-147)


Singkat kisah, sejak saat itu Abdul Muthalib tidak lagi kesulitan untuk menjamu jamaah haji yang datang dari berbagai penjuru negeri. Bahkan karena Air Zamzam memiliki nilai komersial yang sangat tinggi, ia bisa menjualnya dan dibelikan kismis sebagai suguhan tambahan. Kadang juga membeli susu dan madu untuk dicampurkan dengan kesegaran air suci itu. (Muhammad Abu Syuhbah: juz 1, h. 153)


Penulis: Muhamad Abror

Editor: Fathoni Ahmad



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Sirah Nabawiyah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×