Hukum Melepaskan Peliharaan yang Dapat Mengganggu Tetangga dengan Kotorannya
NU Online ยท Selasa, 9 Desember 2025 | 08:00 WIB
Muhammad Zainul Millah
Kolumnis
Di antara persoalan yang sering muncul dalam kehidupan sehari-hari adalah hewan peliharaan seperti ayam, kucing, kambing, kelinci, atau angsa yang dibiarkan berkeliaran hingga mengotori halaman, atau bahkan masuk ke rumah tetangga.
Meski tampak sepele, masalah ini tetap perlu dilihat dari sudut pandang fiqih agar jelas siapa yang bertanggung jawab dan bagaimana hukum syariatnya. Tujuannya tentu agar hubungan sosial dengan tetangga tetap terjaga dengan baik.
Secara umum, hukum melepas hewan peliharaan mengikuti adat atau kebiasaan masyarakat setempat. Jika cara melepas hewan itu tidak sesuai dengan kebiasaan yang berlaku, maka pemilik harus menanggung dampak atau kerugian yang ditimbulkannya.
Baca Juga
Jual-Beli Hewan Peliharaan
Namun jika hewan tersebut memang memiliki kebiasaan yang mengganggu. Misalnya, suka mengambil makanan atau buang kotoran di rumah tetangga, maka pemilik wajib membatasinya, baik dengan mengikat maupun memasukkannya ke dalam kandang.
Syekh An-Nawawi menjelaskan bahwa jika seseorang punya hewan yang diketahui suka merusak, maka ia wajib menjaga atau mengikat hewan tersebut, baik pada siang maupun malam hari.
Jika pemilik lalai dan tidak menjaga hewannya, ia berkewajiban mengganti semua kerusakan yang ditimbulkan oleh hewan tersebut.
Baca Juga
Doa saat Membeli Hewan Peliharaan
ูููููู ููุงููุชู ูููู ููุฑููุฉู ู
ูููุณูุฏูุฉู ุชูุฃูุฎูุฐู ุงูุทูููููุฑู ููุชูููุชูุญู ุงููููุฏููุฑูุฃููู ููููุจู ุนููููุฑูุฃููู ุฏูุงุจููุฉู ู
ูุนูุฑููููุฉู ุจูุงูุชููุนูุฏููู ููุฌูุจู ุนูููู ุตูุงุญูุจูููุง ุฑูุจูุทูููุง ููููููุง ููุงูู ุฃููู ููููุงุฑูุง ููุฅููู ููู
ู ููููุนููู ููู
ูุง ุฃูุชูููููุชู ููุฌูุจู ุนููููููู ุถูู
ูุงูููู ููุฃูููููู ู
ูููุฑููุทู ุจูุชูุฑููู ุญูููุธูููุง
Artinya, "Jika ia memiliki kucing yang merusak yang memangsa burung-burung, dan membuka panci-panci, atau anjing yang buas, atau hewan ternak yang diketahui suka melanggar batas (merusak), maka wajib atas pemiliknya untuk mengikatnya, baik siang maupun malam. Jika ia tidak melakukannya, maka apa yang dirusak (oleh hewan tersebut), wajib atasnya untuk menanggung ganti ruginya (dhaman); karena ia telah bersikap ceroboh dengan meninggalkan penjagaannya." (Raudhatut Thalibin, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 2013] juz VII, halaman 403).
Ibnu Qosim Al-Ubadi menjelaskan, kotoran hewan meskipun tidak sampai merusak, namun repotnya mensucikan sudah dihukumi seperti hewan yang merusak.
โูููููููููู: ุจูู
ูุง ููููููุตู ูููู
ูุชููู ููุง ููุจูุนูุฏู ุฃููู ููููุชููููู ุจูุฃููู ููุดูููู ุนููููููู ุชูููุฌููุณููู ููููุญููู ู
ูุดููููุฉู ุชูุทููููุฑููู ููุฅููู ููู
ู ุชูููููุตู ูููู
ูุชููู ุงูู. ุณูู
ูู ุนููููููู
Artinya โโ(Mengenai) perkataannya: 'Dengan sesuatu yang menurunkan nilainya', tidak menutup kemungkinan bahwa sudah cukup jika pengotorannya (penajisannya) itu menyulitkan dirinya, seperti kesulitan membersihkannya, meskipun tidak menurunkan nilainya." (Selesai, dari Ibnu Qosim).โ (Hawasyis Syirwani, [Beirut: Darul Fikr, 2019] juz IV, halaman 200).
Sayyid Abu Bakar Utsman bin Muhammad Syata ad-Dimyathi al-Bakri menjelaskan bahwa perilaku merusak atau mengotori hewan tersebut dapat dibuktikan dengan terjadi sebanyak dua atau tiga kali menurut pendapat pertama, dan menurut pendapat yang lain, cukup satu kali.
โ(ูููููููู: ุนูููุฏู ุฅุชูููุงููููุง) ุฃูู ุงููููุฑููุฉู ููุงููุฃูููููู ุงููุฃูููููู ุจูุชูุฐููููุฑู ุงูุถููู
ููุฑูุ ููุงููู
ูุฑูุงุฏู ุนูููุฏู ุฐููููู ู
ููููู ู
ูุฑููุชููููู ุฃููู ุซูููุงุซูุง. ููููููู ููููุชูููู ุจูู
ูุฑููุฉู. โููุฎูุฑูุฌู ุจููู ุงูููุชูู ููู
ู ููุนูููุฏู ุฐููููู ู
ูููููุงุ ููููุง ุถูู
ูุงูู ููููู ุนูููู ุงููุฃูุตูุญูู ููุฃูููู ุงููุนูุงุฏูุฉู ุฌูุฑูุชู ุจูุญูููุธู ุงูุทููุนูุงู
ู ุนูููููุง ููุง ุฑูุจูุทูููุง
Artinya โ(Perkataan [ulama]: "Diketahui kebiasaan merusaknya") Yaitu kebiasaan merusak kucing. Dan yang dimaksud adalah diketahui kebiasaan itu darinya sebanyak dua atau tiga kali. Dan dikatakan (pendapat lain) cukup dengan satu kali. Dikecualikan dengannya (yakni keluar dari hukum ganti rugi) hewan yang tidak diketahui kebiasaan merusak darinya. Maka tidak ada ganti rugi atasnya menurut pendapat yang paling sahih; karena kebiasaan umum berlaku untuk menjaga makanan darinya (kucing) bukan dengan mengikatnya.โ (Iโanatuth Thalibin, [Beirut: Darul Fikr, 2018] juz IV, halaman 291).
Berdasarkan uraian di atas, pada dasarnya hukum melepas hewan ternak disesuaikan dengan kebiasaan masyarakat setempat. Namun jika terbukti hewan tersebut biasa merusak atau buang kotoran di tempat orang lain, maka pemilik harus mengikat atau memasukkannya dalam kandang. Jika tidak, maka ia bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkannya. Wallahu aโlam.
Ustadz Muhammad Zainul Millah. Wakil Katib PCNU kab. Blitar.
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: 4 Hal yang Menghalangi Terkabulnya Doa Seorang Muslim
2
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah Mengendalikan Amarah
3
PBNU Siapkan Peluncuran Sa'adatuna, Ekosistem Digital Penghubung Warga NU hingga Akar Rumput
4
Innalillahi, Putra Bungsu KH Wahab Chasbullah Wafat
5
Meski Diancam AS, Anwar Ibrahim Tetap Larang Warga Israel Masuk Malaysia
6
Khutbah Jumat: Adab Bertamu dalam Islam, Wujud Akhlak Seorang Muslim
Terkini
Lihat Semua