NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tafsir

Gelap Mata karena Dalih Keluarga: Tafsir At-Taghabun 14

NU Online·
Gelap Mata karena Dalih Keluarga: Tafsir At-Taghabun 14
Ilustrasi keluarga bahagia. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Tak terhitung kasus atas nama “cinta keluarga” justru menyeret seseorang ke jalan yang gelap. Seorang pejabat menyelewengkan dana publik demi menyenangkan pasangan. Seorang ayah membiarkan integritasnya runtuh karena desakan anak yang ingin hidup mewah. Tak sedikit pula, para pejabat negara terjungkal lantaran uang negara dialirkan ke rekening keluarganya. Cerita-cerita itu selalu menimbulkan pertanyaan getir: apakah keluarga yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan justru bisa menjadi pintu celaka?

Kita tentu masih ingat, beberapa kasus yang menimpa pejabat negara mencuat ke publik bukan hanya karena besarnya nilai korupsi, tetapi juga karena sebagian dana itu digunakan untuk kebutuhan pribadi maupun keluarga. Hal serupa juga terlihat pada sejumlah kepala daerah, dari Aceh hingga Papua, yang terseret kasus hukum akibat gaya hidup keluarga yang tidak sejalan dengan penghasilan resmi.

Jika dicermati, hampir semua kisah itu memiliki benang merah: niat membahagiakan keluarga, tetapi dengan cara yang keliru dan instan. Jauh sebelum kisah-kisah ini terjadi, Al-Qur’an telah memberi pengingat tentang hal serupa. Dalam Surat At-Taghabun ayat 14:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّ مِنْ اَزْوَاجِكُمْ وَاَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَّكُمْ فَاحْذَرُوْهُمْۚ وَاِنْ تَعْفُوْا وَتَصْفَحُوْا وَتَغْفِرُوْا فَاِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ۝١٤

yâ ayyuhalladzîna âmanû inna min azwâjikum wa aulâdikum ‘aduwwal lakum faḫdzarûhum, wa in ta‘fû wa tashfaḫû wa taghfirû fa innallâha ghafûrur raḫîm

Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Jika kita tilik ayat di atas, Al-Qur’an menggunakan kata “aduwallakum”— yang dalam bahasa Indonesia berarti “musuh kamu”. Kata itu terasa keras, apalagi ditujukan kepada orang terdekat; istri dan anak. Bukankah keluarga mestinya sumber kasih sayang, tempat pulang, dan alasan berjuang? Lalu mengapa Al-Qur’an dan para mufasir justru menyebut mereka bisa menjadi musuh?

Imam Fakhruddin ar-Razi, dalam Tafsir Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa “musuh” di sini bukan berarti lawan yang dibenci, melainkan peringatan: keluarga bisa menjadi sebab seseorang lalai dari ketaatan, menunda amal, atau tergelincir dalam dosa. Musuh di sini adalah ujian, cinta yang mampu membuat seseorang tergelincir dalam dosa.

Pandangan ini membawa kita pada refleksi, bahwa keluarga, dengan segala kehangatan dan kasih sayangnya, tetaplah bagian dari “fitnah” kehidupan. Bukan fitnah dalam arti buruk, melainkan ujian. Bagaimana seseorang menyeimbangkan cinta kepada keluarga dengan ketaatan kepada Tuhannya. Bagaimana ia tetap menjaga prinsip, tidak menukar iman dengan kenyamanan sesaat.

Imam Ar-Razi mengingatkan, kata “musuh” bukan untuk menumbuhkan kebencian kepada anak atau pasangan, melainkan untuk menegakkan kewaspadaan. Cinta bisa menjadi energi yang mendorong menuju kebaikan, tapi juga bisa menjelma candu yang menyeret ke jurang kebinasaan.

Maka, keluarga adalah medan tempur yang sesungguhnya. Artinya, bukan medan dengan peluru dan bom, melainkan dengan pilihan-pilihan moral, apakah kita sanggup tetap jujur, tetap taat, tetap teguh pada kebenaran, meski desakan orang terdekat begitu kuat? Imam Ar-Razi berkata; 

يَعْنِي أَنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ، يَنْهَوْنَ عَنِ الْإِسْلَامِ وَيُثَبِّطُونَ عَنْهُ وَهُمْ مِنَ الْكُفَّارِ فَاحْذَرُوهُمْ، فَظَهَرَ أَنَّ هَذِهِ الْعَدَاوَةَ إِنَّمَا هِيَ لِلْكُفْرِ وَالنَّهْيِ عَنِ الْإِيمَانِ، وَلَا تَكُونُ بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ فَأَزْوَاجُهُمْ وَأَوْلَادُهُمُ الْمُؤْمِنُونَ لَا يَكُونُونَ عَدُوًّا لَهُمْ

Artinya; “Maksudnya, di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, yakni mereka melarang kalian dari Islam dan menghalangi kalian darinya, sedangkan mereka termasuk orang-orang kafir. Maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dengan demikian jelaslah bahwa permusuhan ini hanyalah dalam kaitan dengan kekufuran dan larangan terhadap keimanan, dan tidak terjadi di antara orang-orang beriman. Adapun istri-istri dan anak-anak mereka yang beriman, mereka tidaklah menjadi musuh bagi mereka,” (Imam Fakhruddin Ar Razi, Mafatihul Ghaib, Beirur: Darul Turats Al-Araby, 1420 H], Jilid XXX, hlm. 556).

Lebih lanjut, Ibnu Jarir ath-Thabari, seorang mufasir besar yang dijuluki “imam para ahli tafsir”, sudah menyinggung fenomena itu ketika menafsirkan Surat At-Taghabun ayat 14. Menurutnya, makna “anak-anak dan istri-istri kalian adalah musuh” bukan berarti mereka layak dibenci. Musuh dalam ayat itu, jelasnya, adalah dalam arti penghalang: mereka yang bisa menahan langkah seorang mukmin dari jalan ketaatan, bahkan mendorongnya kepada kelalaian dan dosa.

Imam Ath-Thabari menegaskan, sebagian istri dan anak kala itu melarang keluarganya berhijrah kepada Nabi atau menunda ikut jihad. Permusuhan ini, katanya, muncul bukan dari kebencian pribadi, melainkan dari benturan kepentingan duniawi dengan panggilan iman. Seorang suami yang semestinya teguh justru luluh, seorang ayah yang seharusnya berani justru mundur.

Imam al-Baghawi dalam Ma‘alimut Tanzil menjelaskan bahwa ayat ini turun karena peristiwa yang dialami sebagian sahabat Nabi. Menurut riwayat Ibnu Abbas, yang dikutip Imam Baghawi, sejumlah kaum lelaki di Makkah telah memeluk Islam dan berkeinginan untuk berhijrah ke Madinah, menyusul Rasulullah. Namun, keinginan itu tidak berjalan mulus. Istri-istri dan anak-anak mereka melarang, merayu, bahkan menangis agar mereka tetap tinggal. Mereka berkata: “Kami sudah sabar menerima keislaman kalian, tetapi kami tidak sanggup bersabar jika harus berpisah dengan kalian,” (Ma‘alimut Tanzil, [Beirut: Darul Ihya t Turats Al-Araby, 1420 H], Jilid V, hlm. 104).

Para lelaki itu pun luluh. Mereka menuruti keluarga dan menunda hijrah. Namun, ketika akhirnya mereka menyusul ke Madinah, mereka mendapati bahwa sahabat-sahabat yang lebih dahulu berhijrah sudah lebih dalam pemahamannya tentang agama. Perasaan menyesal bercampur marah muncul. Ada di antara mereka yang berniat menghukum istri dan anak-anaknya karena dulu telah menghalangi hijrah.

Di sinilah Allah menurunkan ayat itu: sebuah teguran sekaligus tuntunan. Keluarga memang bisa menjadi “musuh” ketika menghalangi ketaatan, tetapi solusinya bukan dendam atau permusuhan. Allah memerintahkan memaafkan, melapangkan dada, dan mengampuni.

Pada sisi lain, ada juga pendapat, sebab turun ayat ini dari riwayat  ‘Atha’ bin Yasar. Ayat ini turun berkaitan dengan ‘Auf bin Malik al-Asyja‘i. Saban kali ia hendak berangkat perang, istri dan anak-anaknya menangis, berkata: “Kepada siapa engkau akan meninggalkan kami?” Hati ‘Auf pun luluh, dan ia membatalkan keberangkatan. Maka turunlah ayat tersebut sebagai peringatan: jangan sampai kasih sayang membuat seseorang meninggalkan ketaatan.

Sejatinya, penjelasan para ulama memberi kita pelajaran yang tak lekang oleh waktu. Cinta kepada keluarga adalah fitrah manusiawi, bahkan bagian dari perintah agama. Al-Qur’an dan hadis Nabi berulang kali menekankan pentingnya kasih sayang kepada istri, anak, dan orang tua. Keluarga dipandang sebagai taman pertama tempat manusia belajar tentang cinta, tanggung jawab, dan keikhlasan.

Namun, sejarah dan kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa cinta yang murni ini bisa berbalik arah. Ia bisa menjelma menjadi belenggu yang menjerumuskan seseorang ke dalam kelalaian, bahkan dosa. Betapa banyak kasus korupsi, penyalahgunaan jabatan, atau tindak kejahatan lain yang didorong oleh alasan “demi keluarga.” Ada pejabat yang menggadaikan integritas demi memastikan anak-anaknya hidup mewah. Ada pula orang tua yang menutup mata atas kesalahan anaknya karena takut kehilangan kasih sayang. Pada akhirnya, cinta yang seharusnya menyelamatkan justru menyeret pada kebinasaan moral.

Namun, bukan berarti agama mendorong kita untuk memusuhi keluarga. Sebaliknya, cinta keluarga tetaplah pilar kehidupan. Hanya saja, ia harus ditempatkan dalam kerangka yang benar: cinta yang menguatkan, bukan melemahkan; cinta yang mendekatkan pada kebaikan, bukan menjauhkan dari nilai-nilai spiritual.

Pada akhirnya, peringatan ini seakan mengetuk kesadaran kita; apakah cinta kepada keluarga membuat kita lebih jujur, lebih berempati, lebih bertanggung jawab? Ataukah justru menjadi alasan untuk menghalalkan segala cara? 

Ustadz Zainuddin Lubis, Pegiat kajian Islam Tinggal di Parung.

Artikel Terkait