Kisah Khalifah Umar bin Khattab Memecat Panglima Perangnya
Umar merupakan satu-satunya kepala negara yang berani mengambil keputusan memecat Panglimanya yang hebat.
Artikel dengan tag "Umar Bin Khattab"
Umar merupakan satu-satunya kepala negara yang berani mengambil keputusan memecat Panglimanya yang hebat.
Sayyidina Umar dikenal sebagai penguasa yang berupaya keras dalam memperhatikan kebutuhan masyarakatnya, termasuk pengendalian harga kebutuhan pokok.
Awal penanggalan hijriah resmi diputuskan pada era khalifah Umar bin Khathab.
Kisah ketegasan Umar yang menarik adalah saat ia berbicara pada Hajar Aswad. Sekali waktu ia menyaksikan Rasulullah mencium Hajar Aswad. Sebagai Muslim yang sangat loyal dengan sunnah Rasul, Umar pun mengikutinya.
Keberadaan Hamzah sebelum memeluk Islam tidak ikut menghalangi dakwah Nabi Muhammad sebagaimana umumnya orang musyrik. Umar pergi mencari keberadaan Nabi. Namun sebelum menemukan beliau, Umar dicegat oleh Nu’aim bin Abdullah dan mengajaknya untuk menemui adiknya, Fathimah bin Khattab yang sudah masuk Islam.
Sayyidina Umar bin Khattab ra melaksanakan standar prosedur kerja-kerja pengadilan. Ia mendengarkan penjelasan keduanya. Ia mempelajari kasus yang melibatkan keduanya. Ia meminta keduanya menghadirkan saksi dan bukti yang diperlukan di persidangan. Ia bertanya seperlunya kepada mereka sebelum akhirnya memutuskan perkara.
Sayyidina Umar bin Khattab ra lebih memilih sikap jujur meski kejujuran itu membunuh karir dan pribadinya.
Sayyidina Umar bin Khattab ra merupakan orang yang sangat teguh memegang prinsip. Ia dikenal tangguh, keras, dan memiliki pendirian yang kuat. Kendati demikian, ia bukan orang yang merasa benar selalu. Ia merasa sebagai manusia biasa yang memiliki kekurangan.
Umar masuk merangkul baginda Nabi Muhammad. Kemudian dengan tersendat, Umar mengucapkan dua kalimat syahadat, memeluk Islam.
Khalifah Umar memang dikenal dengan ketegasannya. Riwayat lain mengisahkan, suatu ketika Umar mendapat laporan bahwa putra Gubernur Mesir telah menempeleng seorang warga negara tanpa tanpa sebab berarti dibanding perlakuan yang telah didapatnya itu.
Sebelum wafat, Umar masih sempat memikirkan tahta kekhalifahan berikutnya. Singkat cerita, Umar membentuk Majelis Syura sebagai lembaga yang bertugas untuk memusyawarahkan dan menyepakati bersama, siapa yang layak menduduki kursi khalifah berikurtnya.
Umar memilih enam orang ini bukan tanpa sebab. Muhammad Suhail Thaqusy dalam Tarikhul Khulafa menjelaskan beberapa alasannya. Di antaranya karena mereka berasal dari suku Quraisy, dari sahabat-sahabat senior, dan Nabi telah meridhai mereka pasca beliau wafat.