Budaya Apresiasi Ciptakan Lingkungan Kerja yang Baik
NU Online ยท Jumat, 16 Januari 2026 | 14:00 WIB
Sunnatullah
Kolomnis
Dalam keseharian di tempat kerja, nyaris tak ada tugas yang benar-benar bisa diselesaikan sendirian. Karena setiap pekerjaan yang rampung merupakan hasil dari uluran tangan banyak orang. Ada yang teliti menyiapkan data, ada yang sabar mengoreksi setiap kekeliruan, ada yang sigap menutupi kekurangan, dan ada pula yang hadir untuk memberikan dukungan moral saat beban terasa berat. Setiap rekan memiliki peran masing-masing, dan bergerak bersama menuju tujuan yang sama.
Kerja sama yang solid seperti ini membangun sebuah jejaring kepercayaan yang sebenarnya cukup rapuh jika tidak dirawat dengan baik. Ketika kontribusi dianggap sebagai hal yang biasa, bantuan dipandang sebelah mata, dan jerih payah berlalu begitu saja tanpa adanya pengakuan, suasana kerja perlahan akan mengeras dan menjadi tidak nyaman.
Di sinilah peran pentingnya membiasakan diri untuk mengucapkan โterima kasihโ kepada rekan kerja. Meski terdengar sangat simpel dan sederhana, tetapi ia mampu menjadi pengikat yang sangat kuat, bahkan mampu menegaskan bahwa setiap upaya memiliki arti yang penting, dan setiap bantuan memiliki nilai yang tak ternilai harganya. Dari sinilah kolaborasi yang sehat dapat bertumbuh dengan baik.
Baca Juga
Kisah Mayit yang Berterima Kasih
Berkaitan dengan hal ini, mari simak salah satu hadits yang berasal dari sahabat Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:
ูุงู ููุดูููุฑ ุงููู ู
ููู ูุงู ููุดูููุฑ ุงููููุงุณ
Artinya, โTidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia.โ (HR. Ahmad)
Barangkali di titik ini muncul sebuah pertanyaan, mengapa urusan tidak berterima kasih kepada sesama manusia bisa sampai dikaitkan dengan tidak bersyukur kepada Allah? Padahal, sekilas keduanya tampak berada di wilayah yang berbeda, yang satu menyangkut relasi antarmanusia, sementara yang lain berhubungan dengan hubungan hamba dengan Tuhannya.
Maka dalam menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya jika kita menyimak penjelasan Imam al-Khaththabi yang dikutip oleh Imam Abu Abdillah al-Qurthubi dalam salah satu karyanya. Ia menjelaskan bahwa hadits tersebut dapat dipahami melalui dua pendekatan.
Pertama, seseorang yang memiliki tabiat mengingkari kebaikan orang lain dan tidak berterima kasih atas bantuan yang diterimanya, maka ia akan terbiasa untuk mengingkari nikmat Allah dan tidak bersyukur kepada-Nya.
Kedua, Allah tidak akan menerima syukur seorang hamba atas kebaikan yang dilimpahkan kepadanya jika hamba tersebut tidak mensyukuri kebaikan yang diberikan oleh manusia. Hal ini dikarenakan kedua hal tersebut saling berkaitan erat. Dengan kata lain, syukur kepada Allah diwujudkan melalui syukur kepada manusia, dan siapa saja yang tidak bersyukur kepada manusia, maka ia juga tidak akan mampu bersyukur kepada Allah,
ููุงูู ุงููุฎูุทููุงุจูููู: ููุฐูุง ุงููููููุงู ู ููุชูุฃูููููู ุนูููู ู ูุนููููููููู ุฃูุญูุฏูููู ูุง: ุฃูููู ู ููู ููุงูู ู ููู ุทูุจูุนููู ููููุฑูุงูู ููุนูู ูุฉู ุงููููุงุณู ููุชูุฑููู ุงูุดููููุฑู ููู ูุนูุฑููููููู ูุ ููุงูู ู ููู ุนูุงุฏูุชููู ููููุฑูุงูู ููุนูู ูุฉู ุงูููู ููุชูุฑููู ุงูุดููููุฑู ูููู. ููุงููููุฌููู ุงููุขุฎูุฑู: ุฃูููู ุงูููู ููุง ููููุจููู ุดูููุฑู ุงููุนูุจูุฏู ุนูููู ุฅูุญูุณูุงูููู ุฅูููููููุ ุฅูุฐูุง ููุงูู ุงููุนูุจูุฏู ููุง ููุดูููุฑู ุฅูุญูุณูุงูู ุงููููุงุณู ุฅููููููู ููููููููุฑู ู ูุนูุฑููููููู ูุ ููุงุชููุตูุงูู ุฃูุญูุฏู ุงููุฃูู ูุฑููููู ุจูุงููุขุฎูุฑู
Artinya, โAl-Khaththabi berkata: hadits ini dapat ditafsirkan dengan dua makna. Pertama, siapa saja yang tabiatnya mengingkari nikmat manusia dan meninggalkan rasa terima kasih atas kebaikan mereka, maka kebiasaan itu pula yang akan membawanya pada sikap mengingkari nikmat Allah dan meninggalkan rasa syukur kepada-Nya.
Kedua, Allah tidak menerima syukur seorang hamba atas kebaikan-Nya kepadanya, apabila hamba tersebut tidak mensyukuri kebaikan manusia kepadanya dan justru mengingkari jasa mereka, karena kedua hal ini (syukur kepada Allah dan syukur kepada manusia) saling berkaitan satu sama lain.โ (al-Jamiโ li Ahkamil Qurโan, [Kairo: Darul Kutub al-Mishriyyah, 1384 H/1964 M], jilid I, halaman 398).
Dari penjelasan al-Khaththabi di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan alasan mengapa perkara tidak berterima kasih kepada sesama manusia dianggap sebagai bentuk tidak bersyukur kepada Allah, yaitu karena hal itu mencerminkan sebuah kebiasaan buruk. Seseorang yang terbiasa mengabaikan atau mengingkari kebaikan orang lain, lama-kelamaan akan mengembangkan watak yang serupa terhadap nikmat Allah.
Ia akan menjadi pribadi yang selalu merasa kurang, tidak pernah puas dengan pemberian-Nya, dan akhirnya lupa untuk bersyukur atas segala karunia yang telah diterimanya. Dengan demikian, membiasakan diri untuk berterima kasih kepada sesama adalah bagian dari upaya kita untuk melatih diri agar senantiasa bersyukur kepada Allah atas segala nikmat-Nya.
Sementara itu, menurut Syekh Abul Hasan al-Harawi, salah satu ulama ahli fiqih dan hadits mazhab Hanafi yang pernah berguru kepada Imam Ibnu Hajar al-Haitami, dalam salah satu karyanya ia menjelaskan alasan mengapa tidak berterima kasih kepada sesama bisa dianggap tidak bersyukur kepada Allah.
Menurutnya, karena kebaikan yang datang dari orang lain juga merupakan bagian dari nikmat Allah yang datang melalui tangan mereka. Dengan kata lain, Allah memberikan karunia-Nya melalui perantaraan manusia, sehingga berterima kasih kepadanya adalah bentuk pengakuan dan penghargaan terhadap nikmat Allah yang terwujud melalui mereka,
ููุงูู ุฑูุณููููู ุงููู: ูุงู ููุดูููุฑ ุงููู ู ููู ูุงู ููุดูููุฑ ุงููููุงุณ.... ููุฃูููู ุฅูุญูุณูุงููููู ู ุฃูููุถูุง ู ููู ุฌูู ูููุฉู ุฅูููุนูุงู ููู ุณูุจูุญูุงูููู ุญูููุซู ุฃูุฌุฑูุงูู ุนูููู ุฃูููุฏููููู ู
Artinya, โRasulullah bersabda: โTidak bersyukur kepada Allah orang yang tidak bersyukur kepada manusia...โ karena sesungguhnya kebaikan mereka juga merupakan bagian dari nikmat-Nya, Mahasuci Allah, di mana Dia mengalirkannya melalui tangan-tangan mereka.โ (Syarh Musnad Abi Hanifah, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1405 H], halaman 296).
Dari beberapa penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa mengucapkan terima kasih di kantor tidak hanya sebatas etika dalam bekerja, tetapi juga fondasi spiritual dan psikologis untuk membangun kolaborasi yang sehat dan budaya saling menghargai.
Ucapan terima kasih juga memiliki peran penting dalam membangun lingkungan kerja yang positif dan Produktif, sekaligus wujud pengakuan atas nilai dan kontribusi setiap individu dalam tim. Ketika setiap orang merasa dihargai dan diakui, semangat kerja akan meningkat, kolaborasi akan berjalan lebih harmonis, dan tujuan bersama akan lebih mudah tercapai. Oleh sebab itu, ia akan menjadi investasi jangka panjang untuk menciptakan tim yang solid, kreatif, dan berkinerja tinggi.
Lebih dari itu, ucapan terima kasih kepada rekan kerja juga merupakan bentuk apresiasi yang sangat berharga. Ia adalah cara sederhana untuk mengakui dan menghargai usaha yang telah mereka curahkan dalam membantu kita. Dalam Islam, Rasulullah mengajarkan kita untuk senantiasa membalas kebaikan orang lain, sebagaimana ditegaskan dalam salah satu haditsnya, yaitu:
ู ููู ุฃูุชูู ุฅูููููููู ู ู ูุนูุฑูููููุง ููููุงููุฆูููููุ ููุฅููู ููู ู ุชูุฌูุฏูููุง ู ูุง ุชูููุงููุฆููููููู ุจููู ููุฃูุซูููููุง ุนููููููู ุญูุชููู ุชูุนูููู ูููุง ุฃููู ููุฏู ููุงููุฃูุชูู ููููู
Artinya, โBarangsiapa yang berbuat baik kepadamu, maka balaslah kebaikannya. Jika kamu tidak menemukan sesuatu untuk membalasnya, maka pujilah dia hingga kamu merasa telah membalasnya.โ (HR. Al-Baihaqi).
Dalam konteks ini, Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ucapan terima kasih menempati posisi membalas kebaikan tersebut. Artinya, mengucapkan terima kasih adalah bentuk apresiasi paling sederhana dan mudah dilakukan atas kebaikan yang telah kita terima dari orang lain. Dengan mengucapkan terima kasih, kita telah menunjukkan bahwa kita menghargai kebaikan tersebut dan mengakui kontribusi orang yang telah membantu kita,
ููุงูุดููููุฑู ููุงุฆูู ู ู ูููุงู ู ุงููู ูููุงููุฃูุฉูุ ุญูุชููู ููุงูู ุตููููู ุงูููู ุนููููููู ููุณููููู ู: ู ููู ุฃูุณูุฏูู ุฅูููููููู ู ู ูุนูุฑููููุง ููููุงููุฆููููุ ููุฅููู ููู ู ุชูุณูุชูุทููุนููุง ููุฃูุซููููุง ุนููููููู ุจููู ุฎูููุฑูุง ููุงุฏูุนููุง ูููู ุญูุชููู ุชูุนูููู ููุง ุฃููููููู ู ููุฏู ููุงููุฃูุชูู ูููู
Artinya, โSyukur itu menempati posisi membalas kebaikan, hingga Nabi: โBarangsiapa yang memberikan kebaikan kepadamu, maka balaslah dia. Jika kamu tidak mampu, maka pujilah dia dengan kebaikan dan doakanlah dia hingga kamu merasa telah membalasnyaโ.โ (Ihyaโ Ulumiddin, [Beirut: Darul Maโrifah, t.t], jilid I, halaman 228).
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa ucapan terima kasih memiliki peran penting dalam membangun kolaborasi yang sehat dan budaya saling menghargai di lingkungan kerja. Lebih dari sekadar etika, terima kasih adalah wujud syukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan melalui perantaraan sesama.
Mengucap terima kasih adalah pengakuan atas kontribusi setiap individu dalam tim, sekaligus perekat yang dapat mempererat hubungan antar rekan kerja, dan fondasi spiritual yang mampu menumbuhkan lingkungan kerja yang positif dan produktif. Dengan membudayakan ucapan terima kasih, kita tidak hanya membangun tim yang solid dan berkinerja tinggi, tetapi juga mengamalkan nilai-nilai luhur agama dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu aโlam bisshawab.
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Kultum Ramadhan: Hikmah Zakat Fitrah dalam Islam
6
Niat Zakat Fitrah Lengkap untuk Diri Sendiri, Keluarga, dan Orang Lain yang Diwakilkan
Terkini
Lihat Semua