Banyak orang belum benar-benar merdeka dari pengaruh orang lain. Dalam bertindak dan berbuat, mereka sering tidak murni berorientasi pada kebaikan dan kebenaran, melainkan pada keinginan untuk mendapatkan validasi dan pengakuan dari sesama. Akibatnya, semangat dalam melakukan sesuatu naik-turun, bergantung pada sejauh mana orang lain memberi pujian atau penilaian baik.
Tentang hal ini, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berpesan kepada putranya, Hasan:
ولا تكن عبد غيرك وقد جعلك الله حراً
Artinya, “Jangan menjadi hamba bagi orang lain. Allah SWT sudah menjadikan kamu merdeka,” (Abu Hasan Al-Mawardi, Adabud Dunya wad Din, [Beirut, Dar Iqra’: 85], halaman 338).
Pesan ini mengandung makna yang dalam tentang pentingnya hidup dengan kemerdekaan sejati, yaitu merdeka dari belenggu pengakuan manusia dalam berbuat baik dan menegakkan kebenaran. Jangan sampai kita diperbudak oleh kebutuhan akan validasi, hingga kehilangan kebebasan untuk bertindak sesuai dengan tuntunan Islam.
Dalam Islam, ukuran benar dan salah tidak ditentukan oleh pengakuan manusia, melainkan oleh ridha Allah SWT. Karena itu, jangan menunggu validasi orang lain untuk berbuat baik, dan jangan pula berhenti menjadi orang baik meski tidak pernah dihargai atau diapresiasi.
Seseorang yang berbuat baik hanya demi mendapatkan pengakuan manusia, sejatinya tidak akan pernah benar-benar memperoleh apa yang ia harapkan. Bersandar pada manusia hanya akan berujung pada kekecewaan dan penyesalan. Nabi Muhammad SAW bersabda:
مَنْ أَرْضَى النَّاسَ بِسَخَطِ اللهِ وَكَلَهُ اللهُ إِلَى النَّاسِ
Artinya, “Barangsiapa mencari keridhaan manusia dengan membuat Allah murka, maka ia diserahkan oleh Allah kepada manusia,” (HR. Ibnu Hibban).
Penjelasan hadits ini menurut Muhammad Al-Qari adalah:
يعني سلط الناس عليه حتى يؤذوه ويظلموا عليه ولم يدفع عنه شرهم
Artinya, “Maksudnya: Allah akan membuat orang-orang lain berkuasa atasnya, sehingga mereka akan menyakitinya dan menzaliminya, dan Allah tidak akan melindunginya dari kejahatan mereka,” (Muhammad Al-Qari, Mirqatul Mafatih, [Lebanon, Darul Kutub Al-’Ilmiyah: 2001], jilid IX, halaman 318).
Sejalan dengan sifat dasar manusia yang sulit bersyukur, tidak semua bentuk pengorbanan akan diapresiasi dengan baik. Manusia juga mudah berubah; hari ini memuji, esok bisa saja mencela. Karena itu, tidak selalu orang yang merasa berjasa akan mendapat penilaian positif dari sesamanya.
Bahkan, banyak manusia yang mudah menyakiti dan menzalimi. Tidak semua kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, justru sering kali dilupakan dan diabaikan. Di situlah letak kerugian bagi mereka yang tidak memerdekakan diri dari kebutuhan akan validasi manusia. Berbeda halnya jika seseorang berbuat karena Allah SWT, maka Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan amal kebaikan, sekecil apa pun itu. Apa yang tampak remeh di mata manusia bisa sangat bernilai di sisi-Nya.
Karena itu, berbuatlah baik demi memperoleh ridha Allah SWT, meskipun hal itu membuatmu mendapat celaan dan hinaan dari manusia. Jangan sebaliknya, berbuat demi manusia namun justru mendapat murka-Nya.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili menegaskan:
والجهر بالحق دون خشية من أحد أو مخافة لومة لائم
Artinya: “Terus teranglah dalam menyampaikan kebenaran tanpa rasa takut kepada siapa pun dan tanpa khawatir terhadap celaan orang yang mencela,” (Syekh Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, [Beirut: Darul Fikr, 1985], jilid VI, halaman 821).
Inilah hakikat keikhlasan yang sesungguhnya: ketika gunjingan, hinaan, celaan, dan berbagai penilaian buruk dari manusia tidak mampu menggoyahkan langkah untuk terus berbuat baik. Begitu pula, pujian dan sanjungan tidak menjadikan diri merasa lebih mulia.
Selain itu, bentuk nyata dari memerdekakan diri dari validasi manusia adalah dengan tetap berbuat baik kepada semua orang, bukan hanya kepada mereka yang pernah berbuat baik kepada kita. Sebab, jika kebaikan hanya diberikan sebagai balasan, maka itu bukan kebaikan karena Allah SWT, melainkan sekadar timbal balik antar manusia.
Rasulullah SAW bersabda:
لا تكونوا إمعة، تقولون: إن أحسن الناس أحسنا، وإن ظلموا ظلمنا، ولكن وطنوا أنفسكم إن أحسن الناس أن تحسنوا، وإن أساؤوا فلا تظلموا
Artinya: “Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan. Kamu berkata: jika mereka berbuat baik, kami pun berbuat baik; dan jika mereka berbuat zalim, kami pun berbuat zalim. Tetapi, teguhkanlah dirimu: jika mereka berbuat baik, maka berbuatlah baik; dan jika mereka berbuat jahat, janganlah kamu berlaku zalim,” (HR. Tirmidzi).
Konsep ini juga mengajarkan kita untuk tidak sibuk menilai bagaimana orang lain memperlakukan kita. Hidup bukan tentang apa yang orang lain lakukan terhadap kita, melainkan tentang bagaimana diri kita bersikap terhadap orang lain dan kepada Allah SWT. Karena itu, jangan menunggu orang lain berbuat baik terlebih dahulu untuk kemudian membalas dengan kebaikan.
Dalam kehidupan masyarakat modern, terutama di lingkungan perkotaan, banyak orang terjebak pada citra dan penilaian sosial. Media sosial, misalnya, sering menjadikan “likes” dan “views” sebagai ukuran keberhasilan dan kebaikan. Akibatnya, seseorang mudah merasa rendah diri ketika tidak mendapat perhatian, atau sebaliknya merasa sombong saat mendapat banyak pujian. Padahal, ukuran sejati bukan di mata manusia, melainkan di hadapan Allah SWT.
Dengan memerdekakan diri dari kebutuhan akan validasi manusia, seseorang akan memancarkan ketenangan batin dan energi positif. Ia tidak lagi dikendalikan oleh pandangan orang lain yang berubah-ubah, juga tidak terbebani oleh ekspektasi sosial yang menuntut kesempurnaan. Ia menjadi pribadi yang tenteram, karena hidupnya tidak bergantung pada penilaian orang lain yang penuh kepentingan dan beragam latar belakang.
Terlebih lagi, kita tahu bahwa memuaskan semua orang adalah hal yang mustahil. Menghamba pada pandangan manusia hanya akan menguras energi dan membuat hati lelah, karena tidak ada titik akhir yang bisa memuaskan semuanya.
Sebagaimana nasihat Imam Syafi’i:
إنك لا تقدر أن ترضى الناس كلهم ، فأصلح ما بينك وبين الله ولا تبالي بالناس
Artinya: “Sesungguhnya engkau tidak akan mampu membuat semua orang ridha kepadamu. Maka perbaikilah hubunganmu dengan Allah, dan jangan pedulikan manusia,” (Tajuddin As-Subki, Ath-Thabaqat Al-Kubra Asy-Syafi’i, [Beirut: Darul Kutub Al-Ilmiyah, 1971], jilid I, halaman 99).
Dalam konteks kehidupan urban yang serba cepat dan kompetitif, pesan ini menjadi sangat relevan. Banyak orang kehilangan arah karena sibuk mengejar pengakuan, baik dari rekan kerja, lingkungan sosial, maupun dunia digital. Padahal, semakin seseorang bergantung pada penilaian orang lain, semakin ia kehilangan kebebasan dan ketenangan diri.
Sebaliknya, jika orientasi hidup diarahkan kepada Allah SWT, maka setiap aktivitas, sekecil apa pun, menjadi bermakna ibadah. Intensitas amal sehari-hari pun akan meningkat, karena ia menghamba kepada Tuhan yang selalu hadir, bukan kepada manusia yang kadang absen bahkan acuh. Kekhusyukan pun tumbuh, karena setiap amal dilakukan untuk Dzat yang Maha Melihat, bukan demi pandangan manusia yang mudah lalai.
Dari penjelasan ini dapat disimpulkan bahwa seorang muslim sejati harus hidup dengan kemerdekaan spiritual, bebas dari ketergantungan terhadap pengakuan manusia. Berbuat baik demi validasi sesama hanya akan membawa kekecewaan, sebab manusia bersifat mudah berubah dan sering lupa.
Namun, jika kebaikan dilakukan karena Allah SWT, sekecil apa pun amal itu tidak akan pernah sia-sia. Hidup pun menjadi lebih tenang, tenteram, dan penuh keberkahan, karena hati tidak lagi dikendalikan oleh manusia, melainkan diarahkan oleh keikhlasan kepada Sang Pencipta. Wallahu a'lam.
Ustadz Muqoffi, Guru Pon-Pes Gedangan & Dosen IAI NATA Sampang Madura.
