NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tasawuf/Akhlak

Mengubah Cara Pandang terhadap Kebaikan, Kunci Menghindari Riya’

NU Online·
Mengubah Cara Pandang terhadap Kebaikan, Kunci Menghindari Riya’
Ilustrasi orang sedang merekam diri sendiri. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Cara seseorang memandang kebaikan yang ia lakukan sangat menentukan seberapa bersih niat di balik amal tersebut. Sering kali, perbuatan yang tampak saleh secara lahir justru terkotori oleh riya’, karena motivasinya bergeser dari mencari ridha Allah menjadi mencari pujian manusia. Sebaliknya, amal yang sederhana dan tersembunyi bisa bernilai tinggi di sisi Allah, karena dilakukan dengan hati yang benar-benar tulus.

Penyakit riya’ tidak selalu muncul karena seseorang ingin dipuji, tetapi karena ia keliru dalam memahami siapa pusat dari kebaikan itu sendiri. Ia melihat dirinya sebagai pelaku utama, bukan Allah sebagai Penggerak Segala Sesuatu. Inilah akar dari penyakit riya’. Imam al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum ad-Din menulis:

وَأَصْلُ الرِّيَاءِ حُبُّ الْمَدْحِ وَكَرَاهَةُ الذَّمِّ، وَحُبُّ قُبُولِ النَّاسِ لِلْعَبْدِ وَإِقْبَالِهِمْ عَلَيْهِ

Artinya, “Akar riya’ adalah kecintaan terhadap pujian, kebencian terhadap celaan, dan keinginan agar manusia menerima serta menghormatinya,” (Ihya’ Ulum ad-Din, al-Ghazali, [Beirut: Dar al-Ma’rifah, 2000], juz III, hlm. 356).

Karena itu, membenahi cara pandang terhadap kebaikan menjadi langkah awal agar amal tidak terkontaminasi riya’. Sebab, amal yang lahir dari niat yang keliru akan terus berjalan mengikuti arah yang salah.

Secara bahasa, riya’ berasal dari kata ra’a–yura’i–mura’atan, yang berarti memperlihatkan sesuatu agar dilihat orang lain. Secara istilah, para ulama menjelaskan bahwa riya’ adalah melakukan ibadah dengan niat agar dilihat dan dipuji manusia. Imam an-Nawawi al-Bantani dalam Nasa’ih al-'Ibad mengutip dari al-Hikam:

الرِّيَاءُ هُوَ طَلَبُ الْمَنْزِلَةِ فِي قُلُوبِ النَّاسِ بِالْعِبَادَةِ

Artinya, “Riya’ adalah upaya mencari tempat di hati manusia melalui ibadah,” (Nasa`ihul ‘Ibad, [Singapura: al-Maktabah al-Islamiyyah, 1930], hlm. 61)

Al-Qur’an memberi peringatan keras terhadap orang-orang yang beramal bukan karena Allah:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ، الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ

Artinya, “Celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) mereka yang lalai dari shalatnya, dan mereka yang berbuat riya’,” (QS. Al-Ma’un [107]: 4–6).

Dalam sebuah hadits riwayat Ahmad, Rasulullah SAW bersabda:

أَخْوَفُ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ. قَالُوا: وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الرِّيَاءُ

Artinya, “Yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah syirik kecil.” Para sahabat bertanya, ‘Apakah itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Riya’,” (HR. Ahmad, no. 23630)

Riya’ adalah penyakit yang sangat halus. Ia bisa menyusup ke dalam amal sekecil apa pun, bahkan di detik terakhir sebelum amal itu selesai. Ibn Atha’illah as-Sakandari dalam al-Hikam mengingatkan:

عَمَلٌ تَسُوسُهُ النِّيَّةُ الخَالِصَةُ، أَفْضَلُ مِنْ عَمَلٍ تَكْثُرُ صُوَرُهُ وَتَقِلُّ فِيهِ الْمُرَاقَبَةُ

Artinya, “Amal sederhana yang dijaga oleh niat yang tulus lebih utama daripada amal besar yang minim kesadaran akan pengawasan Allah,” (Al-Hikam al-‘Atha’iyyah, [Kairo: Markaz al-Ahram, 1988], hlm. 73)

Fenomena riya’ kini tak hanya muncul dalam ibadah yang tampak di masjid, tetapi juga di ruang digital. Di media sosial, banyak orang terjebak dalam budaya pencitraan. Amal baik yang seharusnya mendekatkan diri kepada Allah, berubah menjadi ajang mencari validasi. Sedekah, kerja sosial, atau kegiatan keagamaan diunggah bukan untuk menginspirasi, melainkan untuk mendapatkan pengakuan. Inilah bentuk baru dari riya’ di zaman modern.

Dalam khazanah tasawuf, para ulama mengenalkan konsep wijhatun nadhar, yaitu cara pandang terhadap sesuatu. Cara pandang inilah yang menentukan arah niat dan amal. Jika orientasi amal adalah pandangan manusia, maka amal itu rapuh karena bergantung pada penilaian yang berubah-ubah. Sebaliknya, jika pusatnya adalah Allah, maka amal menjadi stabil dan penuh ketenangan. Imam al-Ghazali dalam Minhaj al-‘Abidin menulis:

إِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ يُرِيدُونَ بِالْعَمَلِ غَيْرَ اللهِ، وَهُوَ غَفْلَةٌ عَنِ الْمَقْصُودِ

Artinya, “Kebanyakan manusia dalam amalnya tidak menginginkan Allah, dan itu merupakan kelalaian dari tujuan sejati amal,” (Minhajul 'Abidin, [Beirut: Darul Fikr, 1986], hlm. 91).

Meski demikian, niat yang belum sempurna bukan alasan untuk berhenti berbuat baik. Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَلَا تُبْطِلُوا أَعْمَالَكُمْ

Artinya, “Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan Rasul, dan jangan batalkan amal-amalmu,” (QS. Muhammad [47]: 33).

Ayat ini menegaskan bahwa perjuangan melawan riya’ harus dilakukan seiring dengan amal itu sendiri. Yang penting bukan berhenti berbuat, tetapi memperbaiki cara pandang dan niat saat melakukannya. Ibnu Ajibah dalam Syarh al-Hikam menulis:

الْمُخْلِصُ مَنْ عَمِلَ لِلَّهِ، لَا يَرَى نَفْسَهُ فِي الْعَمَلِ، وَلَا يَرَى الْعَمَلَ مِنْ نَفْسِهِ

Artinya, “Orang yang ikhlas adalah yang beramal karena Allah, tidak melihat dirinya dalam amal, dan tidak melihat amal itu bersumber dari dirinya,” (Syarhul Hikam al-‘Atha’iyyah, [Kairo: Darus Salam, 2004], juz I, hlm. 82).

Untuk menghindari riya’, seseorang harus mengubah pusat cara pandangnya. Bukan dirinya sebagai pelaku, tetapi Allah sebagai Penggerak Segala Sesuatu. Misalnya, ketika seseorang menyumbang untuk pembangunan masjid, yang perlu ia tanamkan bukanlah kebanggaan karena sumbangannya, tetapi kesadaran bahwa masjid itu berdiri karena kehendak Allah, bukan karena dirinya. Ia hanyalah bagian kecil dari takdir Allah yang sedang berjalan.

Syekh Ibn Atha’illah berkata dalam at-Tanwir fi Isqat at-Tadbir:

إِذَا أَرَادَ اللهُ أَنْ يُظْهِرَ عَلَيْكَ فَضْلَهُ، خَلَقَ الْفِعْلَ وَأَضَافَهُ إِلَيْكَ

Artinya, “Apabila Allah hendak menampakkan karunia-Nya kepadamu, Dia ciptakan amal kebaikan dan menisbahkannya kepadamu,” (At-Tanwir fi Isqat at-Tadbir, [Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2003], hlm. 55).

Habib Abdullah bin Alawi al-Haddad juga menulis dalam Risalatul Mu’awanah:

إِذَا عَرَفَ الْعَبْدُ أَنَّ اللهَ هُوَ الْفَاعِلُ فِي كُلِّ شَيْءٍ، زَالَ عَنْهُ الْعُجْبُ وَالرِّيَاءُ

Artinya, “Apabila seorang hamba sadar bahwa Allah-lah pelaku dalam setiap sesuatu, maka hilanglah darinya rasa kagum terhadap diri sendiri dan riya’.” (Risalatul Mu’awanah, [Tarim: Dar al-Hawi, 1987], hlm. 25).

Kesadaran ini membuat amal terasa ringan. Kita tidak lagi berbuat baik untuk menegakkan nama, tetapi untuk menunaikan perintah. Dengan begitu, setiap amal menjadi ibadah, setiap gerak menjadi pengabdian.

Menghindari riya’ tidak cukup dengan menekan niat, tetapi dimulai dengan mengubah cara pandang terhadap amal. Lihatlah amal bukan sebagai prestasi pribadi, melainkan sebagai amanah dan takdir yang Allah percayakan. Wallahu a’lam bisshawab.

Ustadz Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni Ma’had Aly Situbondo, pengajar di Ponpes Manbaul Ulum dan Nurussalafiyah Kabul, Lombok Tengah.

Tags:tasawuf

Artikel Terkait