NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Hikmah

Bencana Alam: Alarm Alam untuk Manusia supaya Tidak Merusak Lingkungan

NU Online·
Bencana Alam: Alarm Alam untuk Manusia supaya Tidak Merusak Lingkungan
Ilustrasi banjir. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Akhir-akhir ini, di sejumlah daerah di Indonesia tertimpa bencana alam. Di Sumatera Utara, Barat, hingga Aceh. Mulai longsor hingga banjir bandang. Bencana alam ini merupakan satu alarm kuat untuk manusia supaya tidak merusak lingkungan alam semesta.

Manusia sebagai makhluk yang mengemban amanah kekhalifahan di alam semesta, dituntut untuk menjalankan tugas-tugas sebagai khalifah, termasuk menjaga dan melestarikan lingkungan alam dan menjaga dari kerusakan. Amanat kekhalifahan dan menjaga alam dari kerusakan ini secara tegas diperintahkan dan termaktub dalam al-Qur'an. Allah SWT berfirman:

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙ

Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya. Lalu, dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya ia (manusia) sangat zalim lagi sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab [33]: 72).

Sementara perintah tidak merusak lingkungan alam, dijelaskan dalam ayat berikut:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

Artinya: "Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-A'raf [7]: 56).

Ayat ini, kata Imam Qurthubi, secara tegas melarang setiap tindakan yang dapat merusak alam, walaupun hanya sedikit, apalagi secara besar-besaran. Lalu beliau memberi contoh bentuk perusakan alam dengan mengutip perkataan Imam Ad-Dakhhak. Berikut redaksinya:

وقال الضحاك: معناه لا تعوروا الْمَاءَ الْمَعِينَ، وَلَا تَقْطَعُوا الشَّجَرَ الْمُثْمِرَ ضِرَارًا

Artinya: "Maknanya adalah janganlah kalian mengeringkan air yang mengalir dan janganlah kalian memotong pohon yang berbuah secara membahayakan." (Imam Qurthubi, al-Jami’ li Ahkamil Qur'an, [Mesir: Darul Kutub al-Misriyyah, 1964 M], Jilid VII, hal. 226).

Ada sebuah konsep “prinsip kemanusian” menarik yang ditawarkan Hans Jonas, filsuf asal Jerman kelahiran 1903 dan wafat pada 1993, tentang pentingnya menjaga alam. Prinsip Hans Jonas ini dipaparkan Dr. Fachruddin Faiz dalam bukunya yang berjudul Filsafat Moral. Fakhruddin Faiz menyebutkan: “Ada dua prinsip yang dipakai Hans Jonas untuk menjelaskan teori etikanya. Prinsip pertama, manusia tidak berhak menghancurkan diri sendiri. Prinsip kedua, umat manusia wajib ada (bertahan).” (Fachruddin Faiz, Filsafat Moral: Dari Al-Ghazali, Pakubuwana IV, Lawrence Kohlberg, hingga Hans Jonas, [Bandung: Penerbit Mizan, 2024], hal. 91).

Pada kesimpulannya, Fachruddin Faiz mengatakan bahwa prinsip Hans Jonas ini sangat Islami. Karena itu, walaupun beliau bukan tokoh Islam, prinsip yang secara esensi mewajibkan manusia untuk menjaga alam ini, penting kita ketahui dan kampanyekan di tengah masyarakat karena sangat relevan.

Selanjutnya, dalam Filsafat Moral disebutkan kenapa manusia wajib ada dan tidak boleh menghancurkan diri sendiri? Karena manusia memiliki peran yang sangat penting di muka bumi. Hancurnya bumi ini tergantung keberadaan manusia, karena satu-satu makhluk yang diberi kemampuan menjaga alam adalah manusia, makhluk lainnya tidak diberi kemampuan itu. Begitulah kira-kira alasannya.

Lebih jauh lagi, manusia wajib ada dan tidak boleh menghancurkan diri sendiri dengan melakukan tindakan yang dapat merusak makhluk lainnya, termasuk lingkungan alam. Kenapa merusak makhluk lain atau lingkungan dianggap merusak diri sendiri?

Karena sejatinya Tuhan menciptakan seluruh entitas di dunia ini memiliki peran dan fungsi masing-masing, sehingga jika ada satu entitas saja dirusak atau dilenyapkan, maka alam akan kehilangan keseimbangannya. Pada akhirnya, akibat kerusakan tersebut, akan dirasakan oleh perusaknya. Inilah alasan kenapa kita tidak boleh membuat kerusakan alam.

Dalam konteks makhluk Tuhan memiliki fungsinya masing-masing, konsep ini pun selaras dengan ayat Al-Qur'an berikut:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَحْيٖٓ اَنْ يَّضْرِبَ مَثَلًا مَّا بَعُوْضَةً فَمَا فَوْقَهَاۗ

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak segan membuat perumpamaan seekor nyamuk atau yang lebih kecil daripada itu." (QS. Al-Baqarah [2]: 26).

Allah SWT membuat perumpamaan sebuah nyamuk. Dalam benak kita, nyamuk hanyalah makhluk pengganggu. Akan tetapi, terlepas dari itu, Allah SWT menciptakannya bukan tanpa peran. Ia memiliki peran dalam kelangsungan ekosistem alam ini. Begitu juga cicak, katak, dan makhluk lainnya.

Allah menciptakan apapun dengan maksud, peran, dan tujuannya masing-masing…. Kalau ada makhluk yang punah, rusak, atau hancur, maka ekosistem di dalamnya pasti terpengaruh, mungkin jadi tidak seimbang. Kalau terjadi begitu, dampaknya pada akhirnya akan kita rasakan juga. Maka, perlu kita melestarikan alam demi masa depan.” (Dr. Fachruddin Faiz, hal. 95—96).

Di akhir penjelasan prinsip ini, kata Dr. Fakhruddin Faiz, Hans Jonas, yang dikenal dengan teori etika masa depannya, menjadikan prinsip di muka bukan sebuah anjuran, tapi bersifat wajib. Levelnya bukan hanya sekedar seruan, tapi harus dipaksakan. Sebab, hanya manusia satu-satunya makhluk yang diberikan kekuatan untuk menjaga alam ini. Di sisi lain, juga diberi kebebasan memilih, menghancurkan alam atau melestarikan alam.

Walhasil, kita sebagai manusia yang diamanahkan menjadi khalifah, selayaknya melihat bencana alam bukan hanya memiliki keharusan membatu, baik dengan materi, tenaga, atau minimal berdoa, berempati, tapi juga berkewajiban berbenah diri.

Mari jadikan bencana alam ini sebagai alarm alam supaya tangan-tangan kita tidak bertindak sebuah tindakan yang mengakibatkan ekosistem dunia tidak seimbang. Tujuan hanya satu, supaya anak-anak dan cucu-cucu kita bisa merasakan kelestarian alam sehingga masih bisa menikmati keindahannya di masa depan nanti. Wallahu a'lam.

Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan.

Artikel Terkait