Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Di Antara Karamah Syekh Abdul Qadir Jailani: Bisa Menghidupkan Orang Mati

Di Antara Karamah Syekh Abdul Qadir Jailani: Bisa Menghidupkan Orang Mati
Ilustrasi Syekh Abdul Qadir Jailani. (Foto: NU Online)
Ilustrasi Syekh Abdul Qadir Jailani. (Foto: NU Online)

Karamah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya nampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karamah. Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jamaah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karamah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karamah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.


Habib Muhammad Luthfi bin Yahya dalam Secercah Tinta (2012) mengungkapkan, banyak Nabi-nabi dari Bani Israil dengan mukjizatnya bisa menghidupkan orang mati. Lalu bagaimana umatnya Rasulullah saw? Umat Rasulullah pun sama.


Jika pada Bani Israil ada Nabi yang bisa menghidupkan orang mati, maka umat Nabi Muhammad saw pun bisa menghidupkan orang mati dengan karamahnya, seperti Syekh Abdul Qadir Jailani, sebagaimana disebutkan dalam manaqib-nya. Demikian juga Imam Yahya bin Hasan yang juga keturunan Syekh Abdul Qadir Jailani akhirnya disebut Bin Yahya. Karamah-karamahnya juga bisa menghidupkan orang mati.


Melalui riwayat Habib Luthfi, dikisahkan suatu ketika berjalan dengan rombongan dari Tarim, Hadhramaut, Yaman, rombongan tersebut hendak ziarah ke Baitullah al-Haram Makkah kemudian ziarah ke makam Nabi Muhammad.


Dalam perjalanan ke Madinah setelah dari Makkah, seorang rombongannya ada yang meninggal. Kemudian ada yang melapor kepada Imam Yahya bahwa ada anggota rombongan yang meninggal.  


Lalu Imam Yahya datang dan memegang telinga orang tersebut dan berkata: “Hai kamu mau saya ajak ziarah ke jaddana (kakekku) al-Musthafa saw. Nanti setelah berziarah ke jaddana al-Musthafa saw, mau mati, matilah. Ayo qum biidznillah, hiduplah kembali dengan izin Allah.”


Akhirnya seorang anggota rombongan yang mati itu hidup kembali. Tetapi ketika kembali sampai di Tarim setelah ziarah ke makam Baginda Nabi Muhammad, orang tersebut meninggal lagi.  Itulah asal-usulnya kenapa disebut Bin Yahya, karena mempunyai karamah bisa menghidupkan. 


Menurut sumber kedua, disebut Yahya itu memang yang memberikan nama adalah Baginda Nabi SAW sesuai keterangan Habib Alwi bin Thahir Al-Hadad, Mufti Johor.


Karamah-karamah seperti itu tercatat tidak sedikit. Mukjizatnya Nabi Allah Uzair, hewan yang sudah mati sekian ratus tahun bisa dihidupkan kembali. Umat Sayidina Muhammad SAW ada yang seperti itu, bisa menghidupkan hewan yang sudah mati, yaitu Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Thalib al-Athas. Kambing kesenangannya mati, akhirnya dihidupkan kembali oleh Habib Abu Bakar.


Jika kepada para Nabi disebut mukjizat, maka yang melekat pada diri para ulama maupun waliyullah ialah karamah.

 

Di antara penjelasan Syekh Sholeh Darat As-Samarani yang dikutip Rikza Chamami (2016) tentang wali dan karamah adalah dalam syarah nadzam Jauharut Tauhid Syekh Ibrahim Allaqani:

 

واثبتن للاوليإ الكرامة ٭ ومن نفاها انبذن كلامه 


Wali menurut KH Sholeh Darat adalah seorang ‘arif billah (mengetahui Allah) sekedar derajat dengan menjalankan secara sungguh-sungguh taat kepada Allah dan menjauhi maksiat. Artinya para wali itu menjauhi segala macam kemaksiatan berbarengan dengan selalu bertaubat kepada Allah. 


Sebab wali itu belum kategori ma’shumin (terjaga) seperti Nabi. Maka wali belum bisa meninggalkan maksiat secara penuh. Makanya mereka disebut waliyullah. Keberadaan wali yang sedemikian agung ini mendapatkan keistimewaan dalam hidupnya.


Mereka dalam hidupnya selalu mengingat dan menggantungkan diri, dan menyatukannya pada Allah. Hati selalu menghadap dan pasrah dengan takdir Allah saja. Itulah definisi sederhana mengenai wali menurut KH Sholeh Darat.


Adapun karamah menurut KH Sholeh Darat sesuatu yang nulayani adat (berbeda dari sewajarnya) jika dilihat secara kasat mata. Mereka yang mendapat karamah selalu menunjukkan kepribadian baik dan meniru jejak Rasulullah dengan bekal syariah dan baik secara ideologi serta perilakunya. (Fathoni)



Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Hikmah Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×