Home Bahtsul Masail Shalawat/Wirid Ramadhan Jenazah Ubudiyah Ilmu Hadits Tasawuf/Akhlak Khutbah Sirah Nabawiyah Doa Tafsir Haji, Umrah & Qurban Hikmah Tafsir Mimpi Zakat Nikah/Keluarga Ilmu Tauhid Ekonomi Syariah Doa Lainnya

Tabel Aqidah 50, Sifat Allah dan Rasul dalam Ahlussunnah wal Jama’ah

Tabel Aqidah 50, Sifat Allah dan Rasul dalam Ahlussunnah wal Jama’ah
Aqidah 50 menurut Aswaja ada dua bagian: sifat-sifat Allah dan sifat-sifat para rasul Allah. Masing-masing meliputi sifat wajib, mustahil, dan jaiz. (Ilustrasi: NU Online)
Aqidah 50 menurut Aswaja ada dua bagian: sifat-sifat Allah dan sifat-sifat para rasul Allah. Masing-masing meliputi sifat wajib, mustahil, dan jaiz. (Ilustrasi: NU Online)

Di lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah dikenal istilah aqidah 50 sebagaimana dipaparkan dalam kitab-kitab aqidah, mulai yang kecil seperti 'Aqidatul Awam karya Sayyid Ahmad Al-Marzuqi, Tijanud Durari karya Syekh Nawawi Banten, dan kitab lanjutan seperti Ummul Barahain karya Imam As-Sanusi.


Maksud dari aqidah 50 tersebut adalah adalah aqidah yang berkaitan dengan sifat wajib, mustahil, dan jaiz bagi Allah; dan bagi para Nabi 'alaihimus shalatu was salam. Angka 50 adalah jumlah total dari seluruh sifat Allah dan rasul itu, baik yang wajib, mustahil, maupun jaiz.


Konsep sifat wajib, mustahil, dan jaiz berangkat dari kenyataan bahwa untuk membuktikan eksistensi mayoritas sifat tersebut meski terdapat dalil naqli berupa Al-Qur'an dan hadits yang merupakan sumber aqidah, tetap membutuhkan penalaran akal sehat, yang dalam konteks ini dikenal sebagai hukum 'aqli yang ada tiga, yaitu wajib 'aqli, mustahil 'aqli, dan jaiz 'aqli


Terlebih bagi orang yang sama sekali belum percaya pada eksistensi Allah sebagai Tuhan maupun eksistensi para rasul 'alaihimus shalatu was salam. Bagaimana mungkin orang bisa menyakini kebenaran Al-Qur'an dan hadits sebagai dalil eksistensi Allah, sementara ia bahkan belum meyakini eksistensi Allah sebagai Tuhan dan eksistensi para rasul sebagai utusan-Nya? Tentu ia tidak mau menerima Al-Qur'an maupun hadits sebagai dalil pembuktiannya. 


Adapun maksud istilah wajib 'aqli adalah segala hal yang menurut akal pasti adanya, atau tidak dapat diterima ketiadaannya. Maksud mustahil 'aqli adalah segala hal yang menurut akal pasti tidak ada, atau tidak diterima adanya. Sedangkan maksud jaiz 'aqli adalah segala hal yang menurut akal bisa saja ada maupun tidak, atau diterima ada maupun ketiadaannya. 


Untuk lebih memudahkan, gerak dan diam makhluk seperti manusia dapat dijadikan ilustrasi alternatif memahami hal ini. 


Hukum wajib 'aqli sebagaimana akal pasti mengharuskan salah satu dari diam dan bergerak terjadi pada makhluk, semisal manusia. Manusia pasti kalau tidak diam, ya bergerak. Kalau tidak bergerak pasti dia diam. 


Hukum mustahil 'aqli sebagaimana akal pasti tidak akan membenarkan keduanya, diam dan bergerak, secara bersamaan terjadi pada makhluk seperti manusia. Manusia pasti tidak dapat diam dan bergerak secara bersamaan. Dalam waktu yang sama, tidak mungkin orang diam dan bergerak. 


Hukum jaiz 'aqli sebagaimana akal pasti membenarkan bahwa salah satu dari diam dan bergerak bisa terjadi atau tidak terjadi pada makhluk seperti manusia. Akal pasti membenarkan diam bisa terjadi atau tidak terjadi pada manusia. Demikian pula bergerak, akal pasti membenarkan bergerak bisa terjadi atau tidak terjadi pada manusia. (Muhammad As-Sanusi, Syarh Ummul Barahain pada Hasyiyyah ad-Dasuqi, [Dar Ihya`il Kutub Al-'Arabi], halaman 49-50).


Pemahaman atas  tiga hukum 'aqli ini sangat penting dan strategis sebelum memahami aqidah Islam tentang sifat-sifat Allah dan rasul-Nya. Imam As-Sanusi mengatakan bahwa mengetahui pembagian hukum 'aqli menjadi tiga ini dan mengulang-ulanginya hingga paham betul, akan memudahkan memahami materi-materi aqidah selanjutnya tanpa kesulitan. 


Imam As-Sanusi berkata:


واعلم أن معرفة هذه الأقسام الثلاثة وتكريرها تأنيس للقلب بأمثلتها حتى لا يحتاج الفكر في استحضار معانيها إلى كلفة أصلا بما هو ضرورى على كل عاقل يريد أن يفوز بمعرفة الله تعالى ورسله عليهم الصلاة والسلام

    
Artinya, “Ketahuilah, bahwa mengetahui tiga pembagian hukum 'aqli ini dan mengulang-ulanginya dapat membuat hati terbiasa dengan materi-materi aqidah semisalnya, sehingga untuk menghadirkan makna-maknanya di hati, pikiran tidak perlu melewati kesulitan sama sekali. Cukup dengan pemahaman yang pasti dipahami oleh setiap orang berakal yang ingin sukses mengenal Tuhan, Allah Ta'ala, dan para Rasul-Nya,” (As-Sanusi, Syarh Ummul Barahain, halaman 50-51).


Aqidah 50 dalam lingkungan Ahlussunnah wal Jama’ah terbagi dalam dua bagian. Bagian pertama berkaitan dengan sifat-sifat Allah, meliputi sifat wajib bagi Allah 20 sifat, sifat mustahil 20 sifat, dan sifat jaiz 1 satu sifat. Bagian kedua berkaitan dengan sifat-sifat para rasul Allah, meliputi sifat wajib bagi rasul 4 sifat, sifat mustahil 4 sifat, dan sifat jaiz 1 sifat.

  

Aqidah 50 dan terjemah sederhananya secara terperinci sebagaimana dalam dua tabel berikut:


1. Tabel Sifat Allah

20 Sifat Wajib dan Sifat Mustahil bagi Allah

No

Wajib

Terjemah

KEBALIKAN

Mustahil

Terjemah

No

1

Wujud

Ada

'Adam

Tidak ada

21

2

Qidam

Wujud-Nya tidak berpermulaan

Huduts

Wujud berpermulaan

22

3

Baqa'

Wujud-Nya Tidak berakhir

Fana'

Wujud-Nya berakhir

23

4

Mukhalafatuh li al-hawadits

Berbeda dengan makhluk

Mumatsalatuh li al-hawadits

Sama dengan makhluk

24

5

Qiyamuh bi nafsih

Mandiri

Ihtiyajuh ila ghairih

Butuh kepada selain-Nya

25

6

Wahdaniyyah

Maha Esa

Ta'addud

Lebih dari satu

26

7

Qudrah

Kuasa

'Ajz

Lemah

27

8

Iradah

Berkehendak

Karahah

Terpaksa

28

9

'Ilm

Mengetahui

Jahl

Bodoh

29

10

Hayah

Hidup

Maut

Mati

30

11

Sama'

Mendengar

Shamam

Tuli

31

12

Bashar

Melihat

'Ama

Buta

31

13

Kalam

Berbicara

Bukm

Bisu

33

14

Kaunuhu Qadiran

Allah Zat Yang Maha Kuasa

Kaunuhu 'Ajizan

Allah Zat yang lemah

31

15

Kaunuhu

Muridan

Allah Zat Yang Maha Berkehendak

Kaunuhu Karihan

Allah Zat yang terpaksa

35

16

Kaunuhu

'Aliman

Allah Zat Yang Maha Mengetahui

Kaunuhu Jahilan

Allah Zat yang bodoh

36

17

Kaunuhu

Hayyan

Allah Zat Yang Maha Hidup

Kaunuhu Mayyitan

Allah Zat yang mati

37

18

Kaunuhu

Sami'an

Allah Zat Yang Maha Mendengar

Kaunuhu Asham

Allah Zat yang tuli

38

19

Kaunuhu

Bashiran

Allah Zat Yang Maha Melihat

Kaunuhu A'ma

Allah Zat yang buta

39

20

Kaunuhu

Mutakalliman

Allah Zat Yang Maha Berfirman

Kaunuhu Abkam

Allah Zat yang bisu

40

1 Sifat Jaiz bagi Allah

41. Melakukan atau meninggalkan segala hal mumkin (mungkin terjadi dan tidak)

2. Tabel Sifat para Nabi/Rasul

4 Sifat Wajib dan 4 Mustahil para Nabi/Rasul

No

Wajib

Terjemah

KEBALIKAN

Mustahil

Terjemah

No

42

Sidq

Jujur

Kidzb

Bohong

46

43

Amanah

Terhindar dari keharaman, dsb

Khiyanah

Melakukan keharaman, dsb

47

44

Fathanah

Pandai berargumentasi

Baladah

Bodoh

48

45

Tabligh

Menyampaikan risalah

Kitman

Menyimpan risalah

49

1 Sifat Jaiz /Rasul

50.  Mengalami hal-hal manusiawi seperti sakit, lapar, tidur, menikah, dan semisalnya, yang tidak sampai pada taraf mengurangi derajat keagungannya.

 

Itulah aqidah 50 yang wajib diketahui oleh setiap Muslim, agar mengenal Allah dan para rasul-Nya secara benar dan terhindarkan dari kesalahan. Wallahu a'lam


Ahmad Muntaha AM, Founder Aswaja Muda dan Redaktur Keislaman NU Online





Download segera! NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap. Aplikasi yang memberikan layanan informasi serta pendukung aktivitas ibadah sehari-hari masyarakat Muslim di Indonesia.

Terkait

Ilmu Tauhid Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya

×