Nikah/Keluarga

Anak Butuh Dihargai dan Diapresiasi, Bukan Sekadar Dinasehati

NU Online  ·  Ahad, 18 Januari 2026 | 02:00 WIB

Anak Butuh Dihargai dan Diapresiasi, Bukan Sekadar Dinasehati

anak butuh dihargai (freepik)

Seringkali, dalam benak kita, penghormatan dan kasih sayang dalam keluarga dipahami secara satu arah: anak harus patuh, anak harus tunduk, anak harus menaati. Budaya ini bukan hanya terpatri dalam tradisi sosial, tapi juga kerap dipahami sebagai bagian dari agama. Sayangnya, pemahaman ini belum lengkap.

 

Dalam keluarga, kasih sayang dan penghormatan harus bergerak dua arah. Anak tentu perlu menghormati orang tua, tetapi orang tua pun perlu mengapresiasi anak—mengakui keberadaannya, menghargai usahanya, dan menegaskan bahwa ia adalah amanah Allah yang berharga.

 

Pentingnya Apresiasi Orang Tua

 

Apresiasi bukan sekadar “bagus, nak” atau hadiah sesekali. Lebih dari itu, apresiasi adalah pengakuan tulus terhadap usaha, pertumbuhan, dan keberadaan anak, baik saat mereka berhasil maupun saat mereka tersandung. Misalnya:

 

- Saat anak berani berbicara di depan kelas untuk pertama kalinya, jangan hanya bilang “bagus,” tapi bisa ditambahkan, “Ayah/Ibu bangga karena kamu berani mencoba meski takut.”

 

- Ketika anak gagal dalam ujian, hindari komentar menghukum atau mengecilkan, tapi katakan, “Ayah/Ibu lihat kamu sudah berusaha keras. Yuk, kita belajar sama-sama untuk perbaiki hasilnya.”

 

Contoh nyata ini menunjukkan bahwa apresiasi membangun rasa percaya diri dan menguatkan ikatan emosional antara anak dan orang tua.


Teladan Nabi Yaqub Menghormati Anak 


Al-Qur’an memberikan teladan yang jelas. Nabi Ya‘qub ‘alaihissalam tidak hanya mengasihi anaknya, Nabi Yusuf, tetapi juga menghormati dan memuliakannya secara nyata.  Kisah ini termaktub dalam QS. Yusuf ayat 100, yang juga menakwilkan mimpi Nabi Yusuf tentang sebelas bintang, matahari, dan bulan yang bersujud kepadanya:

 

وَرَفَعَ اَبَوَيْهِ عَلَى الْعَرْشِ وَخَرُّوْا لَهٗ سُجَّدًاۚ وَقَالَ يٰٓاَبَتِ هٰذَا تَأْوِيْلُ رُءْيَايَ مِنْ قَبْلُۖ قَدْ جَعَلَهَا رَبِّيْ حَقًّاۗ وَقَدْ اَحْسَنَ بِيْٓ اِذْ اَخْرَجَنِيْ مِنَ السِّجْنِ وَجَاۤءَ بِكُمْ مِّنَ الْبَدْوِ مِنْۢ بَعْدِ اَنْ نَّزَغَ الشَّيْطٰنُ بَيْنِيْ وَبَيْنَ اِخْوَتِيْۗ اِنَّ رَبِّيْ لَطِيْفٌ لِّمَا يَشَاۤءُۗ اِنَّهٗ هُوَ الْعَلِيْمُ الْحَكِيْمُ

 

Artinya, “Dia (Yusuf) menaikkan kedua ibu bapaknya ke atas singgasana. Mereka tunduk bersujud kepadanya (Yusuf). Dia (Yusuf) berkata, “Wahai ayahku, inilah takwil mimpiku yang dahulu itu. Sungguh, Tuhanku telah menjadikannya kenyataan. Sungguh, Tuhanku telah berbuat baik kepadaku, ketika Dia membebaskan aku dari penjara dan ketika membawa kamu dari dusun, setelah setan merusak (hubungan) antara aku dengan saudara-saudaraku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana..” (QS. Yusuf: Ayat 100)

 

Sujud yang dilakukan Nabi Ya‘qub di sini bukan sujud ibadah, melainkan tindakan penghormatan. Para mufasir menjelaskan, ini adalah bentuk apresiasi tertinggi seorang ayah, mengakui keberhasilan anak sebagai anugerah Allah, bukan ancaman terhadap otoritasnya.

 

Lebih jauh lagi, Al-Baghawi  menegaskan bahwa sujud tersebut merupakan tradisi penghormatan yang lazim pada umat-umat terdahulu. Meskipun secara fisik sama dengan sujud ibadah, maknanya berbeda. Islam kemudian merevisi dan mengharamkan bentuk penghormatan dengan bersujud demi menjaga kemurnian tauhid.

 

وَقِيلَ: وَضَعُوا الْجِبَاهَ عَلَى الْأَرْضِ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى طَرِيقِ التَّحِيَّةِ وَالتَّعْظِيمِ، لَا عَلَى طَرِيقِ الْعِبَادَةِ. وَكَانَ ذَلِكَ جَائِزًا فِي الْأُمَمِ السَّالِفَةِ فَنُسِخَ فِي هَذِهِ الشَّرِيعَةِ

 

Artinya, “Satu pendapat mengatakan, mereka semua meletakkan dahi-dahi ke tanah, dan tindakan itu sebagai bentuk penghormatan dan pemuliaan, bukan bentuk peribadatan. Umat-umat terdahulu membolehkan tindakan tersebut, lantas direvisi oleh syariat Islam.” (Tafsir Al-Baghawi, [Riyadh: Dar Thayyibah, 1990], Juz 4, halaman 279)

 

Dari penafsiran ini, kita memetik pesan moral yang sangat berharga. Seorang Nabi Ya‘qub, yang mana merupakan bapak Bani Israil, tidak keberatan untuk menghormati anaknya sendiri. Ini adalah bentuk apresiasi tertinggi seorang ayah, sekaligus cerminan kedewasaan spiritual dalam membaca keberhasilan anak sebagai anugerah Allah, bukan ancaman terhadap otoritas orang tua.

 

Sebagai orang tua, kita bisa meneladani prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari: memberikan pengakuan dan penghormatan kepada anak atas keberhasilan maupun usaha mereka. Bahkan hal-hal sederhana seperti mengangguk, tersenyum, atau menepuk bahu bisa menjadi bentuk apresiasi yang berharga bagi anak.


Prinsip ini ditegaskan Nabi Muhammad dalam sabdanya:

 

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا

Artinya, “Kami tidak menganggap orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Imam Tirmidzi)

 

Artinya, kasih sayang dan penghormatan adalah dua arah. Orang tua menghormati anak dan anak menghormati orang tua secara bersamaan, maka hubungan keluarga tidak akan jatuh pada pola hirarki kaku dan cenderung otoriter. Apresiasi tulus dari orang tua justru menjadi pintu tumbuhnya spiritualitas yang harmonis dalam keluarga.

 

Bayangkan rumah yang orang tua jarang memberi pujian atau pengakuan. Anak akan merasa seperti “objek” yang harus ditundukkan, bukan subjek yang dimanusiakan. Hubungan menjadi kering, komunikasi minim, dan spiritualitas keluarga sulit tumbuh. Sebaliknya, rumah yang penuh apresiasi menumbuhkan anak yang percaya diri, hormat, dan berbakti secara sadar, bukan karena takut atau paksaan.

 


Tips Praktis Mengapresiasi Anak
 

 

Pertama, berikan ucapan spesifik: Hindari sekadar “Bagus!”, tapi sebutkan apa yang membuatmu bangga, misal: “Aku bangga kamu menulis cerita sendiri hari ini.”

 


Kedua, perhatian fisik dan emosional: Pelukan, tepukan di punggung, atau senyum hangat bisa lebih berkesan daripada kata-kata.

 


Ketiga, Rayakan usaha, bukan hanya hasil: Anak yang gagal tetap layak diapresiasi atas keberaniannya mencoba.

 

Luangkan waktu berkualitas: Aktivitas sederhana, seperti memasak bersama atau jalan sore, bisa menjadi momen menunjukkan apresiasi dan penghormatan.

 

Dengarkan anak dengan penuh perhatian: Mendengar cerita atau keluh kesahnya tanpa menghakimi adalah bentuk penghargaan emosional.


Pada akhirnya, Islam tidak menghendaki penghormatan satu arah dalam keluarga. Keteladanan Nabi Ya‘qub dan penegasan Nabi Muhammad  menunjukkan bahwa apresiasi orang tua kepada anak merupakan bagian dari perintah agama. Maka, sebagai orang tua, sudah semestinya menghormati, memuliakan, dan mengapresiasi anak dengan tulus, sebagaimana kita berharap anak-anak kita tumbuh dalam bakti yang lahir dari kesadaran, bukan paksaan. Wallahu A’lam.

 


---------
Shofi Mustajibullah, Mahasiswa Pascasarjana UNISMA dan Pengajar Pesantren Ainul Yaqin