Keluarga bukan sekadar unit sosial terkecil, melainkan sebuah “madrasah” utama tempat karakter seseorang pertama kali dibentuk. Di dalam lingkaran ini, hubungan antara orang tua dan anak melampaui urusan pemenuhan materi; ia adalah pertukaran energi emosional yang akan membekas pada kesehatan mental anak hingga dewasa.
Salah satu kunci sederhana namun kuat untuk memperkokoh ikatan ini adalah hadirnya budaya syukur, terutama melalui ucapan terima kasih dari anak kepada orang tua. Jika kita membedahnya melalui kacamata Islam dan psikologi modern, kebiasaan ini sebenarnya merupakan mekanisme untuk menyelaraskan batin, menenangkan saraf, sekaligus memenuhi panggilan spiritual untuk berbakti kepada mereka yang telah berjasa.
Syukur sebagai Pilar Iman dan Jembatan Bakti
Ajaran Islam menempatkan syukur bukan hanya sebagai pengakuan batin kepada Tuhan, melainkan juga sebagai penghormatan terhadap mereka yang menjadi jalan mengalirnya nikmat tersebut, yakni orang tua. Secara doktrinal, rasa syukur kepada Allah dianggap belum utuh jika seseorang mengabaikan rasa terima kasih kepada sesama, terutama kepada mereka yang menjadi wasilah keberadaan kita di dunia.
Dalam relasi keluarga, kesadaran inilah yang kemudian mengkristal dalam konsep birrul walidain, sebuah bentuk bakti tulus yang menjembatani pengabdian seorang hamba kepada Sang Khalik dengan penghormatan kepada ayah dan ibunya. Allah SWT dalam Surat Luqman ayat 14 berfirman:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِۚ حَمَلَتْهُ اُمُّهٗ وَهْنًا عَلٰى وَهْنٍ وَّفِصَالُهٗ فِيْ عَامَيْنِ اَنِ اشْكُرْ لِيْ وَلِوَالِدَيْكَۗ اِلَيَّ الْمَصِيْرُ ١٤
Artinya, “Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.’ Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (QS. Luqman: 14)
Syekh Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam kitab Khawathir Haulal Qur’an-nya memberikan interpretasi terhadap ayat tersebut sebagai berikut:
وقوله تعالى: ﴿أَنِ اشكر لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ المصير﴾ [لقمان: ١٤] فالله تعالى هو المستحق للشكر أولًا؛ لأنه سبحانه هو الذي أنشأ من عدم، وأمدَّ من عُدْم، ثم الوالدان لأنهما السبب في الإيجاد وإنشاء الولد. فكأن الحق سبحانه مسبِّب أعلى؛ لأنه خلق من لا شيء، والوالدان سبب من أسباب الله في الوجود، إذن: لا تُحسِن شكر الله الخالق الأول والمسبِّب الأعلى حتى تُحسِن شكر الوالدين، وهما السبب الثاني في وجودك
Artinya, “Firman Allah Ta’ala: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Kulah kembalimu’ (QS. Luqman: 14). Allah Ta’ala adalah Dzat yang paling berhak mendapatkan syukur pertama kali; karena Dialah Yang Maha Suci yang telah mewujudkan (manusia) dari ketiadaan dan memberikan bekal dari ketiadaan. Kemudian (penghormatan selanjutnya) adalah kedua orang tua, karena keduanya merupakan sebab (perantara) dalam mewujudkan dan membesarkan anak.
Seolah-olah Allah Yang Maha Suci adalah Penyebab Utama karena Dia menciptakan dari ketiadaan sama sekali, sedangkan orang tua adalah salah satu sarana (sebab) yang Allah tetapkan untuk eksistensi manusia di dunia. Oleh karena itu, engkau tidak dianggap telah bersyukur dengan baik kepada Allah Sang Pencipta Pertama dan Penyebab Utama sampai engkau bersyukur dengan baik kepada kedua orang tuamu, yang merupakan penyebab kedua bagi keberadaanmu.” (Khawathir Haulal Qur’an, [Kairo, Mathabi’ Akhbarul Yaum: 1997 M], jilid XIX, halaman 11644-11645).
Syekh Sya’rawi menekankan bahwa syukur kepada Allah dan syukur kepada orang tua adalah satu paket yang tidak bisa dipisahkan. Seseorang tidak dianggap bersyukur kepada Penciptanya jika ia durhaka atau abai terhadap orang tuanya. Dalam ayat tersebut, meskipun Allah yang menghidupkan, Allah memilih orang tua sebagai jalan fisik bagi kehadiran kita di dunia. Oleh karena itu, menghormati “sebab” adalah bagian dari menghormati “Pencipta sebab” (Allah).
Selain itu, Rasulullah SAW juga bersabda mengenai hal tersebut:
مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النَّاسَ، لَمْ يَشْكُرِ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
Artinya, “Barang siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR Ahmad).
Terima Kasih sebagai Kunci Kedekatan Hati Anak dan Orang Tua
Dalam kajian parenting modern, ungkapan terima kasih bukan sekadar etika basa-basi, melainkan alat kunci untuk menciptakan ikatan emosional (attachment) yang kokoh antara anak dan orang tua. Hubungan yang dilandasi rasa aman ini menjadi batu pijakan utama bagi perkembangan mental, keterampilan sosial, hingga kemampuan berpikir anak di masa depan.
Konsep pengasuhan penuh kesadaran atau mindful parenting menitikberatkan pada kemampuan orang tua untuk mengelola emosi dan hadir sepenuhnya dalam dinamika keluarga. Munculnya budaya apresiasi pada anak, seperti kebiasaan berterima kasih, merupakan indikator kuat bahwa pola asuh yang diterapkan berbasis pada kesadaran emosional.
Anak tidak hanya meniru kata-kata, tetapi merespons energi dari orang tua yang mampu meregulasi diri dan memberikan perhatian berkualitas, sehingga syukur tumbuh secara organik sebagai bagian dari karakter mereka.
Panduan Praktis Mengajarkan dan Mengungkapkan Terima Kasih
Menjadikan syukur sebagai identitas anak adalah investasi jangka panjang yang membutuhkan dedikasi tanpa henti. Tidak ada jalan pintas dalam mengajarkan nilai ini; ia tumbuh dari ketulusan orang tua dalam setiap percakapan dan tindakan harian.
Konsistensi dalam memberikan teladan menjadi kunci utama agar anak memahami bahwa syukur adalah kebutuhan spiritual, bukan sekadar formalitas sosial. Oleh karena itu, kesabaran orang tua dalam membimbing setiap tahapan kecil perkembangan anak merupakan fondasi keberhasilan pola asuh ini.
Kadang, rasa terima kasih cukup diucapkan dengan sederhana, misalnya, “Terima kasih ya, Ayah Ibu. Aku sadar, dari dulu sampai sekarang, aku bisa sampai di titik ini karena perhatian dan doa kalian.”
Atau, “Ayah, Ibu, makasih sudah sabar banget ngadepin aku. Aku bersyukur punya orang tua seperti kalian.”
Selain itu, rasa syukur juga bisa disampaikan sambil menyebut nama Allah, seperti, “Makasih ya, Ayah Ibu, atas doa-doanya. Semoga Allah selalu jaga dan muliakan Ayah-Ibu.”
Atau, “Aku bersyukur banget sama Allah karena dikasih orang tua seperti Ayah dan Ibu. Terima kasih atas semua doa dan kasih sayangnya.”
Selanjutnya, dalam keseharian, ucapan terima kasih bisa muncul dari hal-hal kecil, misalnya “Bu, makasih ya masak hari ini. Enak banget, aku senang.” Atau, “Yah, makasih sudah mau main sama aku tadi, padahal Ayah capek habis kerja.”
Ucapan sederhana seperti ini justru terasa lebih jujur dan dekat. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk bikin hati orang tua hangat. Pada akhirnya, menghidupkan budaya terima kasih dalam rumah bukan sekadar tentang sopan santun, melainkan tentang menjaga “ruh” dari sebuah keluarga. Ucapan syukur seorang anak adalah jembatan yang menyatukan nilai-nilai langit dengan kenyataan biologis kita sebagai manusia.
Dengan membiasakan apresiasi, kita tidak hanya mempererat kedekatan emosional, tetapi juga memastikan bahwa keluarga tetap menjadi tempat terbaik bagi tumbuhnya jiwa-jiwa yang sehat. Sebuah kata terima kasih yang tulus ternyata memiliki kekuatan luar biasa untuk menjaga kehangatan hubungan yang akan terus membekas sepanjang hayat. Wallahu a’lam.
Muhammad Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus, Purworejo, Jawa Tengah.
