IMG-LOGO
Shalat

Terlintas Pikiran Jorok di Tengah Shalat?

Ahad 28 April 2019 14:0 WIB
Share:
Terlintas Pikiran Jorok di Tengah Shalat?
Ilustrasi (iStock.)
Dalam shalat kita dianjurkan untuk senantiasa khusyuk dan penuh khidmat. Hal ini salah satunya dilaksanakan dengan cara menghilangkan segala pikiran-pikiran yang tidak berhubungan dengan bacaan yang dilantunkan saat shalat. Namun, siapa yang menduga jika tiba-tiba terbesit dalam pikiran seseorang yang sedang shalat sesuatu yang tidak diinginkan, bahkan tak jarang jika pikiran-pikiran yang muncul berupa pikiran-pikiran yang jorok, tak seronok, dan sangat tidak layak terjadi saat shalat, misalnya tentang orang tanpa busana, hubungan haram dengan lawan jenis, atau semacamnya.

Baca juga:
Pentingnya Khusyuk dalam Wudhu agar Khusyuk dalam Shalat
Kiat Shalat Khusyuk Menurut Imam al-Ghazali

Lalu hal yang patut dipertanyakan, bagaimana sebenarnya hukum memikirkan sesuatu yang jorok tatkala sedang melakukan shalat? Apakah hal tersebut dapat menyebabkan shalat yang dilakukan menjadi batal?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, patut dipahami bahwa hadirnya pikiran-pikiran dalam shalat adakalanya muncul secara alamiah tanpa ada niatan sama sekali, dan ada juga pikiran-pikiran yang muncul karena diupayakan dan disengaja oleh seseorang. 

Pikiran yang muncul tanpa adanya kesengajaan atau muncul secara alamiah, pernah dialami oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Hal ini seperti yang tercantum dalam salah satu haditsnya:

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ الْحَارِثِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ سَرِيعًا دَخَلَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأَى مَا فِي وُجُوهِ الْقَوْمِ مِنْ تَعَجُّبِهِمْ لِسُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ تِبْرًا عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يُمْسِيَ أَوْ يَبِيتَ عِنْدَنَا فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ رواه البخاري

“Diriwayatkan dari sahabat ‘Uqbah bin Haris RA, beliau berkata: Aku shalat Ashar bersama Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tatkala beliau salam, beliau berdiri dengan cepat dan masuk menuju (rumah yang dihuni) sebagian istri beliau, lalu beliau keluar. Beliau melihat banyak wajah-wajah yang keheranan atas sikap beliau tersebut. Lalu beliau bersabda: ‘Aku ingat emas yang aku miliki tatkala aku sedang shalat, lalu aku tidak senang emas tersebut menetap di sisiku, akhirnya aku pun memerintahkan untuk membagikannya.” (HR. Bukhari)

Pikiran yang muncul secara alamiah ini bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan, selama pikiran tersebut segera dihentikan dan bergegas memikirkan dan merenungkan bacaan-bacaan yang terdapat dalam shalat. Sebab, munculnya pikiran ini di luar kuasa seseorang, sehingga tidak terkena taklif berupa sebuah larangan.

Ketika pikiran yang datang spontan tersebut tidak dihentikan, bahkan justru terus dibayangkan dalam angan-angan, maka hukumnya makruh (tak dianjurkan) apalagi bila yang terlintas tersebut adalah sesuatu yang jorok atau tak pantas. Meski demikian, perbuatan demikian tidak sampai membatalkan shalat. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi:

يستحب الخشوع في الصلاة والخضوع وتدبر قراءتها واذكارها وما يتعلق بها والاعراض عن الفكر فيما لا يتعلق بها فان فكر في غيرها وأكثر من الفكر لم تبطل صلاته لكن يكره سواء كان فكره في مباح أو حرام كشرب الخمر

“Disunnahkan dalam shalat khusyuk, khudlu’ (rendah diri) dan merenungkan bacaan, dzikir dan segala hal yang berhubungan dengan shalat dan sunnah menjauhi pikiran-pikiran yang tidak berhubungan dengan shalat. Jika seseorang memikirkan pada hal selain shalat dan terus-menerus melakukannya maka shalatnya tidak dihukumi batal, hanya saja hal tersebut dihukumi makruh, baik memikirkan perkara yang mubah atau haram, seperti (memikirkan tentang) minum khamr.” (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 4, Hal. 102)

Salah satu dalil yang menjadi pijakan para ulama dalam merumuskan tidak batalnya shalat seseorang yang memikirkan pikiran jorok atau pikiran yang tidak berhubungan dengan shalat adalah berdasarkan pada suatu hadits:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ تَجَاوَزَ لأُمَّتِى عَمَّا حَدَّثَتْ بِهِ أَنْفُسَهَا مَا لَمْ تَعْمَلْ أَوْ تَكَلَّمْ بِهِ 

“Sesungguhnya Allah ﷻ mengampuni pada umatnya atas hal yang terbesit dalam dirinya selama ia tidak melakukannya atau mengucapkannya.” (HR. Muslim)

Lebih jauh lagi, munculnya pikiran-pikiran jorok atau pikiran yang tidak berhubungan dengan shalat tatkala seseorang melaksanakan shalat adalah godaan setan yang dikenal dengan nama Setan Khinzib. Setan ini biasa menggoda orang-orang yang sedang melaksanakan shalat agar shalat yang mereka lakukan menjadi tidak khusyuk. Tatkala hal demikian dialami oleh kita, maka Rasulullah menganjurkan untuk membaca ta’awwudz dan meludah ke arah kiri kita sebanyak tiga kali. Hal demikian tentunya dilaksanakan tatkala shalat kita sedah selesai. Seperti yang dijelaskan dalam hadits:

عَنْ أَبِى الْعَلاَءِ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ أَبِى الْعَاصِ أَتَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ حَالَ بَيْنِى وَبَيْنَ صَلاَتِى وَقِرَاءَتِى يَلْبِسُهَا عَلَىَّ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « ذَاكَ شَيْطَانٌ يُقَالُ لَهُ خِنْزِبٌ فَإِذَا أَحْسَسْتَهُ فَتَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنْهُ وَاتْفِلْ عَلَى يَسَارِكَ ثَلاَثًا ». قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَهُ اللَّهُ عَنِّى. مسلم

“Diriwayatkan dari Abu Ala’ bahwa sesungguhnya ‘Utsman bin Abi al-‘Ash mendatangi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu ia berkata: ‘Wahai Rasulullah! Sesungguhnya setan telah menghalangi antara diriku dan shalatku serta bacaan shalatku ia membuat shalatku menjadi samar bagiku.’ Lalu Rasulullah bersabda: ‘Itu adalah setan, namanya Khinzib. Jika kamu merasa diganggu maka mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguannya (membaca ta’awwudz) dan meludahlah ke arah kirimu sebanyak tiga kali.’ Sahabat ‘Utsman bin Abi al-’Ash berkata: ‘Aku melakukan hal tersebut lalu Allah menghilangkan setan itu dariku.’” (HR. Muslim)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa munculnya pikiran-pikiran jorok adalah hal yang tidak baik dan tidak layak terjadi saat shalat, meski secara fiqih tidak sampai membatalkan shalat. Hal tersebut mesti kita jauhi dengan terus-menerus melatih diri untuk khusyuk karena shalat merupakan ibadah istimewa karena di saat itulah kita “berkomunikasi” dengan Allah. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 

Tags:
Share:
Sabtu 27 April 2019 19:30 WIB
Batasan Bolehnya Menggaruk-garuk saat Shalat
Batasan Bolehnya Menggaruk-garuk saat Shalat
Ilustrasi (via wtop.com)
Salah satu hal yang membatalkan shalat adalah bergeraknya bagian tubuh seseorang (di luar gerakan shalat) dalam jumlah yang banyak. Para ulama mazhab Syafi’i menjelaskan, gerakan dianggap banyak ketika berlangsung tiga kali secara beriringan serta tanpa jeda yang cukup lama. 

Berbeda halnya ketika tiga gerakan tersebut dilaksanakan secara terpisah atau dengan jeda cukup lama—sekiranya gerakan pertama dianggap sudah terputus dari gerakan kedua, maka gerakan yang pertama sudah tidak dihitung lagi. Terputusnya suatu gerakan dalam shalat, menurut Imam Al-Baghawi adalah ketika terdapat jeda sekitar satu rakaat shalat. Ketentuan ini seperti halnya yang dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya, Raudhah at-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin:

وحد التفريق أن يعد الثاني منقطعا عن الأول وقال في التهذيب عندي أن يكون بينهما قدر ركعة 

“Batasan suatu gerakan dianggap terpisah adalah saat gerakan kedua dianggap terputus dari gerakan pertama. Imam al-Baghawi berkata dalam kitab at-Tahdzib, ‘Menurutku (dua gerakan dianggap terputus itu) sekiranya di antara kedua gerakan berjarak sekitar satu rakaat.” (Syekh Abu Zakaria Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Raudhah at-Thalibien wa ‘Umdah al-Muftin, juz 1, hal. 108)

Perincian tentang penghitungan jumlah gerakan dalam shalat, misalnya seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in:

وإمرار اليد وردها على التوالي بالحك مرة واحدة، وكذا رفعها عن صدره ووضعها على موضع الحك مرة واحدة
أي إن اتصل أحدهما بالآخر، وإلا فكل مرة، على ما استظهره شيخنا. 251

“Menggerakkan tangan dan mengembalikannya secara beriringan dihitung satu hitungan, begitu juga mengangkat tangan dari dada dan meletakkan tangan di tempat menggaruk dihitung satu hitungan jika dilaksanakan secara langsung (ittishal), jika tidak langsung maka setiap jeda dihitung satu kali hitungan. Ketentuan ini berdasarkan penjelasan yang dijelaskan oleh guruku (Imam Ibnu Hajar).” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 251)

Namun demikian, ketentuan di atas tidak berlaku bagi gerakan-gerakan kecil, seperti gerakan jari-jari, bibir dan lidah. Sehingga, menggaruk dengan jari-jari pada bagian tubuh yang gatal walaupun dilakukan berulang-ulang dan lebih dari hitungan tiga kali tetap dianggap sebagai hal yang diperbolehkan dan tidak membatalkan shalat, selama telapak tangan tidak ikut bergerak. Hanya saja menggerakkan jari-jari dengan jumlah yang banyak ini dihukumi makruh. Seperti yang dijelaskan dalam kitab Fath al-Mu’in

ـ )لا( تبطل )بحركات خفيفة( وإن كثرت وتوالت، بل تكره، )كتحريك( أصبع أو )أصابع( في حك أو سبحة مع قرار كفه، )أو جفن( أو شفة أو ذكر أو لسان، لانها تابعة لمحالها المستقرة كالاصابع

“(Shalat) tidak batal dengan gerakan yang ringan, meskipun dalam jumlah yang banyak dan dilakukan beriringan, hanya saja dihukumi makruh. Seperti menggerakkan satu jari atau beberapa jari untuk menggaruk (kulit) atau bertasbih besertaan tetapnya (tidak bergeraknya) telapak tangan. Atau bergeraknya pelupuk mata, bibir, zakar, dan lisan, karena bagian tubuh tersebut mengikuti terhadap tempat menetapnya, seperti jari-jari (mengikuti tangan).” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 250)

Bagaimana jika rasa gatal sulit untuk ditahan dan membutuhkan garukan lewat gerakan telapak tangan lebih dari tiga kali? Ukuran "sulit ditahan" di sini menurut adat alias umumnya masyarakat. Dalam keadaan demikian gerakan telapak tangan dalam jumlah yang banyak dianggap sebagai hal yang dimaafkan (ma’fû) dan tidak membatalkan shalat. Kondisi tersebut masuk masuk kategori darurat. Berbeda halnya ketika rasa gatal masih bisa ditahan, maka dalam keadaan tersebut cukup dengan gerakan jari-jari saja, tanpa perlu menggerakkan telapak tangan dalam jumlah yang banyak.

Hal yang sama juga berlaku ketika gerakan muncul secara refleks, tanpa disengaja, seperti gerakan-gerakan yang terjadi ketika sedang kedinginan atau ketika kaget. Gerakan-gerakan ini pun dimaafkan dan tidak membatalkan shalat. Tentang hal ini Syekh Zainuddin al-Maliabari menjelaskan:

وخرج بالأصابع الكف، فتحريكها ثلاثا ولاء مبطل، إلا أن يكون به جرب لا يصبر معه عادة على عدم الحك فلا تبطل للضرورة.
قال شيخنا: ويؤخذ منه أن من ابتلي بحركة اضطرارية ينشأ عنها عمل كثير سومح فيه.

“Dikecualikan dengan perkataan ‘jari-jari’ yakni telapak tangan, maka menggerakkan telapak tangan tiga kali secara beriringan dapat membatalkan shalat, kecuali ketika seseorang merasa gatal-gatal yang tidak sabar secara adat untuk tidak menggaruknya, maka dalam keadaan demikian (menggerak-gerakkan telapak tangan) tidak membatalkan shalat karena dianggap darurat. Guruku (Ibnu Hajar al-Haitami) berkata: ‘Berdasarkan hal tersebut maka orang yang diberi cobaan berupa gerakan refleks (idtirari) yang memunculkan perbuatan yang banyak maka dianggap sebagai hal yang dimaafkan.” (Syekh Zainuddin al-Maliabari, Fath al-Mu’in, juz 1, hal. 251)

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menggerakkan jari-jari untuk menggaruk bagian tubuh yang gatal dapat dilakukan dalam jumlah gerakan yang banyak selama telapak tangan seseorang tidak ikut bergerak, hanya saja hal tersebut dihukumi makruh. Sedangkan menggerakkan telapak tangan lebih dari tiga dianggap sebagai hal yang dimaafkan dalam shalat, ketika dilaksanakan untuk menggaruk bagian tubuh yang sudah tidak bisa ditahan lagi secara adat. Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
Kamis 18 April 2019 9:0 WIB
Sahkah Shalat Makmum yang Mendahului atau Menyamai Imam?
Sahkah Shalat Makmum yang Mendahului atau Menyamai Imam?
Di antara sejumlah persyaratan bermakmum adalah mengikuti imam dan tidak mendahuluinya. Pertanyaannya, bagaimana jika ada makmum yang menyalahi ketentuan itu? Bagaimana pula keabsahan shalat dan keutamaan berjamaahnya?

Secara umum, mendahului dan menyamai imam dapat dirinci ke dalam tiga hal: (1) dalam posisi; (2) dalam takbiratul ihram; (3) selain dalam posisi dan takbiratul ihram.

Pertama, mendahului dan menyamai imam dalam posisi. Syekh Sa‘id bin Muhammad dalam Syarhul Muqaddimah Al-Hadramiyyah, (Terbitan Darul Minhaj, Jeddah, Cetakan Pertama, 2004, jilid I, halaman 338) menyatakan, jika seorang makmum yakin bahwa posisinya mendahului imam maka shalatnya tidak sah, kecuali dalam kondisi darurat seperti ketakutan atau terancam.

Lebih lanjut, Syekh Sai‘id ibn Muhammad mengatakan, adapun yang menjadi acuan dalam menentukan posisi makmum adalah tumit yang jadi tumpuan beban tubuhnya. Posisi ini biasanya dilakukan tatkala makmum masih seorang diri, sehingga disunahkan berdiri di sebelah kanan imam.

Dalam posisi ini, tumit makmum tidak boleh lebih depan dari tumit imam. Sebab posisi itu menyebabkan shalatnya tidak sah. Sedangkan yang menjadi acuan bagi makmum yang shalat sambil duduk adalah kedua pantatnya; lambung bagi makmum yang shalatnya sambil tidur miring; dan kepala bagi makmum yang shalatnya telentang.

Berikut adalah petikan pernyataan Syekh Sa‘id ibn Muhammad yang dikemukakan dalam Syarhul Muqaddimah Al-Hadramiyyah:

فإن تقدم يقيناً عليه في غير شد خوف .. لم تصح؛ لخبر: "إنما جعل من الإمام ليؤتم به" و (الائتمام): الاتباع، أما لو شك فيه .. فلا يضر سواء جاء من خلفه، أم من أمامه. والعبرة في التقدم في القائم (بعقبه) أي التي اعتمد عليها من رجليه أو إحداهما، وهو مؤخر القدم مما يلي الأرض (أو بأليتيه إن صلى قاعداً) ولو راكباً (أو بجنبه إن صلى مضطجعاً) أو برأسه إن صلى مستلقياً

Artinya, “Jika makmum yakin mendahului imam, di luar situasi ketakuatan, maka tidak shalatnya, berdasarkan hadits, ‘Imam itu dibentuk hanya untuk dimakmumi (diikuti).’ Sehingga makmum yang ragu apakah posisinya mendahului atau tidak, adalah tidak mengapa, baik dirinya datang dari belakang imam atau dari depannya. Adapun yang menjadi acuan mendahului imam bagi makmum yang shalat berdiri adalah tumit. Maksudnya, tumit kedua kaki atau salah satu kaki yang dijadikan tumpuan. Tumit sendiri yakni bagian belakang telapak kaki yang menyentuh tanah. Atau, yang menjadi acuan adalah kedua pantat bagi makmum yang shalat sambil duduk, meskipun duduknya di atas sesuatu (seperti kursi, pen.); lambung bagi makmum yang shalat sambil tidur miring; kepala bagi makmum yang shalat sambil tidur telentang.”

Pertanyaan berikutnya, bagaimana jika posisi makmum menyamai posisi imam? Jawabannya, walau tidak sampai membatalkan shalat, tetapi hal itu makruh dialakukan. Sedangkan perkara makruh yang dilakukan makmum saat berjamaah akan menghilangkan keutamaan berjamaah, kendati status makruhnya hanya pada bagian yang disamainya saja. Demikian menurut penulis Syarhul Muqaddimah Al-Hadramiyyah:

فإن ساواه كره كراهة مفوتة لفضيلة الجماعة فيما ساواه فيه فقط وكذا يقال في كل مكروه من حيث الجماعة

Artinya, “Jika posisi makmum dan imam sama, maka hukumnya makruh, sedangkan makruh dapat menghilangkan keutamaan berjamaah, meskipun status makruhnya hanya pada bagian yang mereka samai saja. Bahkan ada yang mengatakan, setiap perkara makruh yang dilakukan dalam berjamaah bisa menghilangkan keutamaan berjamaah.”

Untuk itu, agar shalatnya sah dan tidak makruh, maka makmum sendirian hendaknya berdiri di sebelah kanan imam lalu mundur sedikit, atau boleh juga mundur agak jauh selama tidak lebih dari tiga siku.

Kedua, mendahului imam dalam takbiratul ihram. Dalam Hâsyiyatul Bâjûrî, (Terbitan Maktabah Al-‘Ulumiyyah, Semarang, Tanpa Tahun, jilid I, halaman 197), Syekh Ibnu Qasim menyatakan, siapa pun yang mendahului takbiratul imam, maka shalatnya tidak sah. Demikian halnya membarengi imam.

Ini artinya, jika menyamai imam dalam hal posisi hanya sekadar makruh dan menghilangkan keutamaan berjamaah, namun menyamai imam dalam takbiratul ihram tidak ditolelir dan dapat membatalkan shalat.

Demikian pula jika seorang makmum ragu-ragu, apakah takbiratul ihramnya menyamai imam atau setelah imam, kemudian diyakini bahwa takbirnya setelah imam, namun ternyata setelah berselang lama dugaannya salah dan takbirnya mendahului imam, maka itu pun shalatnya batal. Karenanya, wajar jika Rasulullah saw. mewanti-wanti dalam urusan ini, “Janganlah kalian tergesa-gesa mengikuti imam. Setelah imam bertakbir, barulah kalian bertakbir.”

Alasannya, makmum yang takbiratul ihram sebelum imam, sejatinya bermakmum kepada orang yang belum masuk shalat. Sedangkan, masuknya shalat ditandai dengan sempurnanya takbiratul ihram. Adapun fatwa Imam Al-Baghawi yang menyatakan bahwa seorang yang takbiratul ihram dan belakangan ternyata diketahui imamnya belum takbir, maka shalatnya sah secara munfarid, adalah fatwa yang lemah.

Ketiga, mendahului dan menyamai imam selain dalam posisi dan takbiratul ihram. Maksudnya adalah mendahului atau menyamai imam dalam gerakan dan bacaan. Kembali dikemukakan oleh Syekh Ibnu Qasim, mendahului gerakan imam dua rukun berturut-turut, walaupun keadaan rukunnya adalah rukun pendek, seperti rukuk dan i‘tidal, tanpa ada alasan yang dibenarkan, maka menyebabkan shalatnya menjadi batal. Kecuali bila mendahuluinya tanpa disengaja, seperti tidak tahu gerakan imam atau karena lupa, maka itu ditolelir dan tidak menyebabkan batal.

Sama halnya  dengan mendahului adalah meninggalkan diri dua rukun berturut-turut dari imam tanpa ada alasan yang dibenarkan, maka itu pun juga menyebabkan batal. Berbeda halnya dengan mengakhirkan diri disertai alasan, seperti bacaannya kendor, sedangkan bacaan Fatihahnya belum selesai dan dia juga bukan makmum masbûq (ketinggalan), maka mengakhirkan diri yang demikian, selama tidak ketinggalan tiga rukun yang panjang, tidak sampai membatalkan shalat.  

Hanya saja, walau menyamai gerakan imam tidak sampai membatalkan shalat, tetapi makruh hukumnya. Sedangkan perkara makruh yang dilakukan makmum saat berjamaah dapat menghilangkan keutaman berjamaahnya, kendati kehilangannya hanya pada rukun yang disamainya, tidak pada seluruh shalat.

Demikian juga menyamai imam dalam bacaan, seperti bacaan Surah Al-Fatihah pada dua rakaat pertama shalat jahr dan salam, sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Ibnu Qasim dalam Hâsyiyatul Bâjûrî, (Terbitan Maktabah al-‘Ulumiyyah, Semarang, Tanpa Tahun, jilid I, halaman 199) berikut ini.

ولا تضر مساواته لإمامه أى في صحة الإقتداء وإن كانت مكروهة مفوتة لفضيلة الجماعة فيما ساوى فيه كما لو قارنه في شيء من أقوال الصلاة وأفعالها التى يطلب فيها عدم المقارنة كالفاتحة والأولتين والسلام وجميع أفعال الصلاة في ابتدائها كأن يبتدئ الركوع معه ويبتدئ السجود معه وهكذا بخلاف دوامها ومعلوم أن التحرم لا بد أن يتأخر فيه عن إمامه احتياطا له

Artinya, “Tidak masalah makum menyamai imamnya. Dalam arti, tidak merusak keabsahan shalatnya. Hanya saja hal itu makruh dan menyebabkan hilangnya fadilah berjamaah, meskipun status makruhnya pada bagian yang disamainya saja. Demikian juga makruh andai makmum menyamai imam pada bacaan atau gerakan shalat yang dituntut untuk tidak membarengi imam dalam mengawalinya seperti pada bacaan Fatihah pada dua rakaat pertama, salam, dan semua gerakan shalat. Misalnya, dia mengawali rukuk atau mengawali sujud bareng dengan imam.  Dan seterusnya. Bahkan, tidak dikatakan makruh lagi jika makmum selamanya membarengi imamnya. Apalagi, sudah dimaklumi bahwa dalam takbiratul ihram, makmum wajib mengakhirkan diri dari takbiratul ihram imam, sebagai bentuk kehati-hatian bagi dirinya.” 

Berdasar petikan di atas, selayaknya seorang makmum, selain dalam takbiratul ihram, tidak mengawali gerakannya sebelum imam mengawalinya. Sebab, sebagaimana yang telah disampaikan, mengawali takbiratul ihram sebelum imam, atau juga membarenginya, dapat membatalkan shalat. Selain itu, imam sendiri ditetapkan untuk diikuti oleh makmum, sebagaimana dalam sabda Rasulullah SAW, “Imam sendiri dibuat untuk diikuti (makmum). Karena itu, janganlah kalian menyalahinya,” (HR Malik).

Tak hanya itu, setiap makmum hendaknya takut akan peringatan Rasulullah SAW dalam hadits lainnya, “Apakah salah seorang di antara kalian yang mengangkat kepalanya saat imam masih sujud, tidak takut kepalanya diganti dengan kepala seekor himar?” (HR Ahmad).

Demikian uraian singkat tentang konsekuensi mendahului dan menyamai imam dalam shalat berjamaah. Semoga bermanfaat. Insya Allah, sejumlah persyaratan lain dalam berjamaah yang belum teruraikan di sini akan diuraikan pada kesempatan berikutnya. Wallahu a’lam.


Ustadz M Tatam Wijaya, Pengasuh Majelis Taklim Syubbanul Muttaqin, Desa Jayagiri, Kecamatan Sukanagara, Cianjur Selatan, Jawa Barat.
Senin 15 April 2019 21:5 WIB
Ke Mana Arah Kiblat Shalat di Dalam Ka’bah?
Ke Mana Arah Kiblat Shalat di Dalam Ka’bah?
(Foto: @pixabay)
Setiap shalat kita diharuskan menghadap ke arah kiblat, yaitu bangunan Ka’bah dari penjuru mana pun kita berada. Ulama menetapkan bahwa menghadap ke arah kiblat menjadi bagian dari syarat sah shalat. Lalu bagaimana dengan arah shalat yang dilakukan di dalam Ka’bah?

Syekh Wahbah Az-Zuhayli mengatakan bahwa secara syariat kita dalam melaksanakan shalat diharuskan menghadap ke arah kiblat. Sedangkan tata cara pelaksanaan shalat di dalam Ka’bah telah ditulis oleh para ulama.

عرفنا أنه لا بد شرعاً من استقبال جزء من الكعبة… وقد أقر الفقهاء مشروعية الصلاة في جوف الكعبة

Artinya, “Kita mengetahui bersama bahwa [orang yang shalat di dalam Ka’bah] secara syar’i harus menghadap salah satu bagian Ka’bah… Ahli fiqih telah menetapkan pelaksanaan shalat di dalam Ka’bah,” (Lihat Syekh Wahbah Az-Zuhayli, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, [Beirut, Darul Fikr: 1985 M/1405 H], cetakan kedua, juz I, halaman 602).

Mazhab Syafi’i berpendapat perihal arah kiblat bagi orang yang shalat di dalam Ka’bah. Menurut mazhab ini, orang yang shalat di dalam Ka’bah dapat menghadap pintu atau dinding Ka’bah sebagai arah kiblat baginya.

مَنْ صَلَّى فِي الْكَعْبَةِ، وَاسْتَقْبَلَ جِدَارَهَا أَوْ بَابَهَا مَرْدُودًا أَوْ مَفْتُوحًا مَعَ ارْتِفَاعِ عَتَبَتِهِ ثُلُثَيْ ذِرَاعٍ أَوْ عَلَى سَطْحِهَا مُسْتَقْبِلاً مِنْ بِنَائِهَا مَا سَبَقَ جَازَ

Artinya, “Siapa yang shalat di dalam ka’bah dan menghadap dindingnya atau pintunya yang tertutup maupun terbuka disertai ketinggian ambang pintunya tiga hasta, atau di atas atapnya sambil menghadap salah satu bangunannya yang telah lalu, maka boleh,” (Lihat Imam An-Nawawi, Minhajut Thalibin pada Hamisy Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 224).

Bagi Mazhab Syafi’i, arah mana pun yang dihadapi oleh orang di dalam Ka’bah adalah bagian dari Ka’bah sehingga orang yang shalat di dalam Ka’bah tidak perlu khawatir akan keabsahan shalatnya.

لأنه متوجه إلى جزء من الكعبة أو إلى ما هو كالجزء منها

Artinya, “Karena pada hakikatnya ia menghadap ke salah satu bagian dari Ka’bah atau ke salah satu benda yang seakan menjadi bagian dari Ka’bah,” (Lihat Syekh As-Syarbini, Mughnil Muhtaj ila Ma’rifati Ma’ani Alfazhil Minhaj, [Beirut, Darul Makrifah: 1997 M/1418 H], cetakan pertama, juz I, halaman 224).

Ulama berbeda pendapat perihal shalat mana yang sah di dalam Kabah. Sebagian ulama mengatakan bahwa shalat yang sah dilakukan di dalam Kabah adalah shalat sunnah, bukan shalat fardhu.

Sebagian ulama lain mengatakan bahwa shalat berjamaah fardhu maupun sunnah tetap sah di dalam Kabah. Masalah rincian ini dapat dipelajari lebih lanjut di kitab-kitab fiqih. Yang pasti, shalat di dalam Ka’bah sah dilakukan menghadap ke arah bagian mana pun dari bangunan Ka’bah. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)