IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Nabi Muhammad, Perihal Nama-nama, dan Optimisme

Selasa 30 April 2019 22:00 WIB
Nabi Muhammad, Perihal Nama-nama, dan Optimisme
Nabi Muhammad saw. kerap kali memberikan nama kepada barang-barang yang dimiliki dan dipakainya. Mulai dari hewan yang dikendarai, barang-barang yang digunakan setiap harinya, hingga alat-alat perang yang digunakannya ketika berperang. Qashwa adalah salah satunya. Unta kesayangan Nabi Muhammad saw. yang dibeli dari Sayyidina Abu Bakar as-Siddiq. Ia diberi nama seperti itu karena cepatnya ketika berjalan.

Nabi Muhammad saw. menunggangi Qashwa ketika hijrah ke Madinah. Selain menaiki untuk hijrah ke Madinah, Rasulullah juga menunggangi Qashwa dalam beberapa peristiwa penting lainnya seperti Perang Badar, Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah), Perjanjian Hudaibiyah, dan Haji Wada’.

Nabi Muhammad saw. juga memiliki kuda yang bernama ath-Thirf. Diberi nama demikian karena kuda itu mampu berlari dengan cepat, secepat kedipan mata. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga memiliki kuda yang digunakan untuk perlombaan. Namanya as-Sakbu (kuda yang berlari kencang bagaikan air yang mengalir). Dulu kuda ini miliki seorang Badui dan bernama adh-Dharsu (kuda yang sulit dikendalikan dan berkelakuan jelek). Kemudian Nabi mengubah namanya menjadi as-Sakbu. Selain itu, Nabi Muhammad saw. juga memiliki beberapa kuda lainya yang diberi nama al-Wardu (kemerah-merahan), Sabhatun (kuda yang jalannya begitu kencang), dan yang lainnya. 

Hal yang sama juga Nabi Muhammad saw. lakukan kepada seperangkat alat perangnya. Diantaranya bendera yang digunakan Nabi Muhammad saw. untuk berperang yang diberi nama al-Uqab. Sementara untuk pedang, Nabi Muhammad saw. memiliki beberapa seperti Zul Fiqar, al-Mihzam (pemenggal), ar-Rusuub (tajam hingga bisa menembus daging), al-Battar (tajam), al-Qal’iy (benteng), al-Qadhiib (pemenggal), al-Adhab (tajam), dan al-Hatf (yang membuat binasa). Semuanya alat-alat perang Nabi Muhammad saw. dinamai dengan nama-nama yang indah dan bermakna.

Ada makna tertentu dibalik pemberian nama benda-benda tersebut dengan penamaan yang indah dan baik. Merujuk buku Akhlak Rasul Menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), penamaan seperangkat alat perang dengan nama khusus tersebut membuat benda-benda itu seakan-akan hidup dan menjadi teman setia Nabi Muhammad saw. setiap kali mengikuti peperangan. Nama-nama itu juga menunjukkan semangat keberanian dan tidak perlu ada yang ditakuti kecuali Allah.

Nabi Muhammad saw. yakin, nama-nama yang baik atau kalimat yang indah bisa dijadikan sarana untuk menumbuhkan semangat dan optimisme. Bahwa nama-nama baik tersebut bisa menjadi pendorong agar manusia berusaha lebih keras lagi. Sehingga apa yang diharapkan dan dicita-citakannya bisa terwujud.

Hal seperti itu pernah dialami Nabi Muhammad saw. ketika peristiwa di Hudaibiyah. Pada saat itu, baik pihak Nabi maupun pihak musyrik Makkah saling mengirim utusan untuk berunding. Pihak musyrik Makkah semula mengirim Budail bin Warqa al-Khuza’i, kemudian Urwah bin Mas’ud, kemudian al-Hullais bin Alqamah, dan kemudian Mukriz bin Hafsh. Semuanya tidak membuahkan hasil atau gagal.  

Selanjutnya, tokoh musyrik Makkah mengutus Suhail bin Amr untuk menemui Nabi Muhammad saw. Ketika mengetahui Suhail yang diutus, Nabi Muhammad saw. optimis akan ada titik temu antara pihak Muslim dan pihak musyrik Makkah. Beliau ‘mendasarkan’ atau 'mengaitkan' sikap optimismenya itu dengan nama Suhail –seakar dengan kata sahl- yang berarti mudah.

“Telah dipermudah (sahula) untuk kalian urusan kalian,” kata Nabi Muhammad saw. meyakinkan para sahabatnya, sebagaimana dikutip buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018).

Betul saja, setelah berunding panjang pihak Muslim dan pihak musyrik –yang diketuai Suhail bin Amr- akhirnya setuju dengan dicetuskannya Perjanjian Hudaibiyah (Shulhul Hudaibiyah). Sebuah perjanjian yang dinilai menguntungkan pihak musyrik dan merugikan umat Islam. Namun setelah mendengarkan penjelasan dari Nabi Muhammad saw., akhirnya sahabat yang keberatan dengan isi perjanjian itu mau menerima perjanjian itu meski dengan berat hati. 

“Bersabarlah dan ikhlaslah, karena Allah akan memberimu dan memberi orang-orang lemah jalan keluar,” kata Nabi Muhammad saw. 

Di tengah perjalanan balik ke Madinah, Nabi Muhammad saw. menerima wahyu dari Allah QS. al-Fath (kemenangan). Melalui perjanjian itu, Allah memberikan kemenangan yang nyata kepada umat Islam. Ternyata, butir-butir Perjanjian Hudaibiyah yang dinilai merugikan justru malah menguntungkan umat Islam nantinya. Begitulah Nabi Muhammad saw. yang seringkali menjadikan nama sesuatu yang baik atau kalimat yang indah sebagai sarana untuk menumbuhkan sikap optimisme. (A Muchlishon Rochmat)
Share: