IMG-LOGO
Trending Now:
Shalawat/Wirid

Ini Lafal dan Faedah Shalawat Fatih

Rabu 19 Juni 2019 5:0 WIB
Share:
Ini Lafal dan Faedah Shalawat Fatih
Salah satu shalawat yang kerap dibaca masyarakat di Indonesia adalah shalawat fatih. Shalawat ini sebagaimana namanya adalah lafal shalawat yang diharapkan menjadi wasilah kepada Allah agar segala macam kebuntuan dan kemacetan persoalan yang sedang dihadapi dapat terurai.

Adapun lafal shalawat fatih berikut terjemahannya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الحَقَّ بِالحَقِّ وَالهَادِي اِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammadinil Fātihi limā ughliqa, wal khātimi limā sabaqa, wan nāshiril haqqā bil haqqi, wal hādī ilā shirātin mustaqīm (ada yang baca 'shirātikal mustaqīm'). Shallallāhu ‘alayhi, wa ‘alā ālihī, wa ashhābihī haqqa qadrihī wa miqdārihil ‘azhīm.

Artinya,“Ya Allah, limpahkanlah shalawat, salam, dan keberkahan kepada junjungan kami, Nabi Muhammad SAW, pembuka apa yang terkunci, penutup apa yang telah lalu, pembela yang hak dengan yang hak, dan petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Allah melimpahkan shalawat kepadanya, keluarga dan para sahabatnya dengan hak derajat dan kedudukannya yang agung.”

Lafal shalawat fatih ini dikutip dari Kitab Perukunan Melayu. Dalam kitab itu terdapat kutipan dari Syekh Al-Arif Al-Kubra yang menyebutkan semacam khasiat atas pembacaan shalawat fatih tersebut.  

“Kata Syekh Al-Arif Al-Kubra, ‘Barang siapa membaca shalawat ini seumur hidupnya sekali, niscaya ia dipelihara Allah Ta‘ala dari api neraka dan mewajibkan baginya husnul khatimah,’” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Al-‘Aidrus: tanpa tahun], halaman 52).

Ulama memperkenalkan banyak lafal shalawat. Hal ini tidak menjadi masalah. Yang perlu dihindari adalah penggunaan lafal yang tidak layak bagi para nabi dan rasul seperti lafal “rahimahullāh atau rahimahumullāh”, “radhiyallāh ‘anhu atau ‘anhum”, atau “karramallāhu wajhahū atau ‘anhum.”

ولا يجوز الدعاء للنبي صلى الله عليه وسلم بغير الوارد كرحمه الله بل المناسب واللائق في حق الأنبياء الدعاء بالصلاة والسلام 

Artinya, “Tidak boleh mendoakan Nabi Muhammad SAW dengan lafal yang tidak warid seperti lafal ‘Rahimahullāhu’. Tetapi lafal yang sesuai dan layak untuk para nabi dan rasul adalah lafal shalawat dan salam,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Kasyifatus Saja, [Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyyah], halaman 4).

Demikian lafal shalawat fatih berikut terjemahannya. Shalawat ini biasa dibaca setelah shalat lima waktu, saat tahlilan arwah, dan saat berdoa pada kesempatan keagamaan lainnya. Semoga Allah membiasakan mulut dan hati kita dalam membaca shalawat dan kalimah thayyibah lainnya. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)
Share:
Selasa 28 Mei 2019 14:0 WIB
Bolehkah Bershalawat kepada Selain Rasulullah SAW?
Bolehkah Bershalawat kepada Selain Rasulullah SAW?
(Foto: @jamaat.net)
Shalawat selain berarti sebagai sebuah doa, sering juga digunakan sebagai pujian kepada Rasulullah SAW. Selain itu, shalawat kepada Rasulullah SAW juga sering digunakan sebagai zikir yang dibaca setiap hari, bahkan menjadi rutinitas. Hal ini tentu maklum karena shalawat kepada nabi telah disebutkan dalam Al-Qur’an.
 
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
 
Artinya, “Sungguh Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya,” (Surat Al-Aḥzab ayat 56).
 
Namun, apakah diperbolehkan bershalawat kepada orang biasa atau orang lain yang bukan seorang nabi atau rasul?
 
Menjawab hal ini kita perlu merujuk salah satu hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari tentang seorang putra Abu Aufa yang bernama Abdullah. Suatu hari Abdullah bin Abu Aufa datang kepada Rasul SAW dengan membawa sesuatu yang akan disedekahkan kepada Rasul SAW.
 
Sesuatu tersebut bukanlah barang pribadi Abdullah melainkan barang ayahnya yang telah meninggal. Ayahnya telah berpesan kepada Abdullah untuk menyedekahkan sesuatu kepada Rasul SAW.
 
Rasul SAW pun menerima sedekah dari Abdullah bin Abi Aufa tersebut dengan tangan terbuka. Nabi bahkan mendoakannya dan juga ayahnya yang telah meninggal dengan doa, “Allahumma shalli ala Abī Aufa.”
 
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَاهُ قَوْمٌ بِصَدَقَتِهِمْ قَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ فُلَانٍ فَأَتَاهُ أَبِي بِصَدَقَتِهِ فَقَالَ اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى آلِ أَبِي أَوْفَى
 
Artinya, “Dari 'Abdullāh ibn Abī Awfā berkata, ‘Jika suatu kaum datang kepada Rasulullah SAW dengan membawa sedekah mereka, Rasul mendoakannya, ‘Allāhumma ṣalli 'alā āli fulān’ (Ya Allah berilah salawat kepada keluarga fulān). Maka bapakku mendatangi Rasul SAW dengan membawa zakatnya. Rasul mendo'akanya, ‘Allāhumma ṣalli 'alā āli Abī Awfā.’ (Ya Allah, berilah shalawat kepada keluarga Abu Awfā),’” (Lihat Al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ Al-Bukhārī, [Beirut, Dāru Ṭūqin Najāt: 1422 H], juz II, halaman 129).
 
Dalam riwayat Abu Nuaim Al-Asbahani, doa nabi tersebut juga menyebutkan Abdullah, yaitu dengan doa, “Allahumma shalli ala ibn Abi Aufa.” (Lihat Abū Nuʽaim Al-Asbahānī, Ḥilyatul Auliyā’ wa Ṭabaqātul Aṣfiyā, [Beirut, Dār Kutb: 1974 M], juz V, halaman 96).
 
Dalam hadits lain juga disebutkan bahwa Rasul pernah bershalawat atau mendoakan orang dari kaum Anshar karena memberinya pakaian dan selimut.
 
عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: جَاءَ  رَسُولُ اللَّهِ إِلَى بَيْتِ سَعْدٍ فَسَلَّمَ فَرَدَّ سَعْدٌ السَّلَامَ وَخَافَتَ وَانْطَلَقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَحِقَهُ سَعْدٌ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّمَا حَمَلَنِي عَلَى ذَلِكَ أَرَدْتُ أَنْ تَزِيدَنَا مِنْ كَثْرَةِ السَّلَامِ ثُمَّ أَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى دَخَلَ عَلَى سَعْدٍ فَأَتَاهُ بِإِنَاءٍ فِيهِ مَاءٌ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ أَتَاهُ مِلْحَفَةً وَرْسِيَّةً فَاشْتَمَلَ بِهَا، قَالَ قَيْسٌ: فَرَأَيْتُ أَثَرَ الْوَرْسِ عَلَى عُكَنِهِ ثُمَّ قَالَ: " اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى الْأَنْصَارِ وَعَلَى ذُرِّيَّةِ الْأَنْصَارِ، وَعَلَى ذُرِّيَّةِ ذُرِّيَّةِ الْأَنْصَارِ، ثُمَّ أَوْكَفَ سَعْدٌ حِمَارًا لَهُ عَلَيْهِ قَطِيفَةٌ فَقَالَ لِابْنِهِ: اذْهَبْ فَرَدَّ الْحِمَارَ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ارْكَبْ عَلَى صَدْرِ حِمَارِكَ» قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ ارْكَبْ. قَالَ: إنَّكَ رَبُّهُ " قَالَ: هُوَ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
 
Artinya, “Dari Qays bin Saʽad ibn ʽUbādah RA berkata, ‘Rasulullah SAW datang ke rumah Saʽd, kemudian beliau memberi salam. Saʽd pun menjawab salam tersebut dan berbicara dengan suara lirih. Rasul SAW pun pergi namun Saʽad menyusulnya. Saʽad pun berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, saya berbuat demikian karena saya ingin Rasul menambah salam sebanyak-banyaknya.’ Rasul pun menatap Saʽad dan kembali masuk ke rumah Saʽad. Saʽad kemudian menyambut Rasul SAW dengan sebuah wadah yang berisi air dan dibuat mandi oleh Rasul. Kemudian Saʽad memberi Rasul sebuah mantel berwarna merah untuk dipakainya. Pada saat itu, Qays melihat ada bekas benang pakaian menempel di lehernya. Kemudian Rasul SAW bersabda, ‘Allāhumma ṣalli ʽalā al-Anṣār wa ʽalā dzurrīyat al-Anṣār, wa ʽalā dzurrīyat dzurrīyatil Anṣār,’ (Ya Allah, berikanlah salawat kepada orang Anshar ini, keturunannya, dan keturunan dari keturunannya). Saʽad kemudian mewakafkan satu keledai untuk Rasul SAW, di atas keledai itu ada sepotong kain sutra. Saʽad pun berkata kepada putranya, ‘Pergilah dan kembalikan keledainya. Rasulullah SAW bersabda, “Naiklah di atas punggung keledaimu!” Saʽad berkata, ‘Wahai Rasulullah, naiklah!’ Rasul menjawab, ‘Naiklah, kaulah pemiliknya.’ Saʽad berkata kembali, ‘Keledai ini sudah menjadi milikmu wahai Rasul SAW,’” (Lihat At-Ṭhabrānī, Muʽjamul Kabīr, [Tanpa keterangan kota, Maktabah Al-ʽUlm wal Ḥikam: 1983 M), juz XVIII, halaman 389).
 
Dari dua hadits tersebut menunjukkan bahwa Rasul sendiri tidak pernah melarang untuk bershalawat kepada orang lain yang bukan nabi atau rasul. Rasulullah SAW bahkan mencontohkan sendiri bershalawat kepada orang lain, yang dalam kasus dua hadits di atas disebutkan telah melakukan perbuatan baik, yaitu bersedekah. 
 
Tidak hanya sedekah, dalam hadits lain juga Rasul SAW pernah bersabda bahwa Allah SWT dan para malaikatnya akan bershalawat kepada orang yang mengajarkan hal baik kepada manusia.
 
حَدَّثَنَا مَكْحُولٌ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ» ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ {إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ} [فاطر: 28] ثُمَّ قَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ، وَأَهْلَ سَمَاوَاتِهِ وَأَرَضِيهِ، وَالنُّونَ فِي الْبَحْرِ يُصَلُّونَ عَلَى الَّذِينَ يُعَلِّمُونَ النَّاسَ الْخَيْرَ
 
Artinya, “Telah menceritakan kepada kami Makḥūl, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Keutamaan orang yang alim atas orang yang ahli ibadah seperti keutamaanku atas orang yang lebih rendah derajatnya dari kalian.’ Rasul SAW kemudian membaca Surat Fatir ayat 28. Kemudian ia melanjutkan sabdanya, ‘Sungguh Allah SWT, para malaikat-Nya, penduduk langit dan bumi-Nya, serta ikan Nūn di laut bershalawat kepada orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia,” (Lihat ʽAbdullah bin Abdur Rahmān Ad-Dārimī, Sunan Ad-Dārimī, [Beirut, Dārul Kutub Al-ʽArabi: 1407 H], juz I, halaman 334).
 
Hal ini tentu menunjukkan bahwa bershalawat kepada orang lain dianjurkan jika orang lain tersebut melakukan kebaikan. As-Sakhawi bahkan dalam kitabnya, menjelaskan bahwa ada sekitar 70-an penggunaan shalawat. Salah satunya adalah untuk mendoakan orang-orang yang berbuat baik, (Lihat Muḥammad bin ʽAbdur Raḥmān As-Sakhāwī, Al-Qaulul Bādiʽ fis Ṣhalāh ʽalal Ḥabībis Syāfiʽ, [Madinah, Muassasatur Rayyān: 2002 M], halaman 342-459). Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits.
Senin 27 Mei 2019 15:0 WIB
Sejarah dan Asal Muasal Shalawat Nabi
Sejarah dan Asal Muasal Shalawat Nabi
(Foto: @via twitter.com)
Membaca shalawat adalah salah satu amalan dan penghargaan kita kepada Rasulullah SAW. Sebagai umat Rasul SAW tentu kita tak asing lagi dengan amalan membaca shalawat, bahkan di masa sekarang membaca shalawat tidak hanya amalan yang bernilai pahala, tapi juga sudah mulai menjadi budaya dan perlombaan.
 
Bagaimana sejarah dan asal muasal shalawat. Mengapa shalawat bisa menjadi seterkenal dan membudaya seperti sekarang?
 
Membahas sejarah shalawat tentu tidak bisa terlepas dari Surat Al-Ahzab ayat 56:
 
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
 
Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
 
Sebab turunnya ayat ini bisa dibilang menjadi sejarah shalawat kepada Rasul SAW. Sebab, At-Thabari menyebutkan bahwa setelah ayat ini turun, ada seorang sahabat yang bertanya terkait bunyi shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasul SAW menyebutkan shalawat Ibrahimiyah, sebagaimana yang biasa kita baca pada tasyahud akhir saat shalat.
 
Ayat tersebut oleh At-Thabari memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mendoakan Rasul SAW dan keselamatannya, (Lihat Ibnu Jarir At-Thabari, Jāmiʽul Bayān fi Ta’wīlil Qur’ān, [Beirut, Muassasatur Risālah: 2000], juz XX, halaman 320).
 
Terkait kapan shalawat itu diwajibkan kepada Rasul SAW, merujuk pada turunnya ayat tersebut kepada Rasul SAW, perintah shalawat tersebut diturunkan pada bulan Syaban pada tahun kedua Hijriyah.
 
Oleh Abu Dzar Al-Harawī, inilah yang disebut bulan Syaban sebagai bulan shalawat, (Lihat Muḥammad ibn ʽAbdur Rahmān As-Sakhawi, Al-Qaulul Bādiʽ fis Ṣhalāh ʽalal Ḥabībis Syāfiʽ, [Madinah, Muassasatur Rayyān: 2002 M], halaman 92).
 
Secara lebih lanjut As-Suyuṭī menjelaskan bahwa shalawat sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi Musa AS dan kaumnya, Bani Isra’il. Saat itu Bani Isra’il bertanya kepada Nabi Musa AS, terkait apakah Allah SWT bershalawat kepada makhluk-Nya. Mendengar pertanyaan dari kaumnya tersebut, Nabi Musa AS kemudian berdoa dan meminta jawaban kepada Allah SWT. Allah SWT pun menjawab pertanyaan Nabi Musa AS. Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa AS.
 
يَا ُموسَى إِنْ سَأَلُوْكَ هَلْ يُصَلِّي رَبُّكَ؟ فَقُلْ : نَعَمْ . أَنَا أُصَلِّي وَمَلَائِكَتِي عَلَى أَنْبِيَائِي وَرُسُلِي
 
Artinya, “Wahai Musa AS, sungguh kaum Bani Israil bertanya kepadamu, apakah Tuhanmu bershalawat kepada makhluk-Nya? Jawablah, ‘Iya. Aku dan juga para malaikatku bershalawat kepada para nabi dan rasul-Ku,’” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).
 
Kemudian turunlah Surat Al-Ahzab di atas. As-Suyūṭī menambahkan bahwa setelah turun ayat tersebut, kaum Bani Israil tersebut kemudian bahagia dan memujinya.
 
Dari hal ini bisa diambil kesimpulan bahwa anjuran bershalawat turun untuk menghargai dan memuji utusan Rasul SAW atas tanggungannya berdakwah kepada para kaumnya.
 
Shalawat itu awalnya sebagai kabar baik kepada kaum Bani Israil, namun Allah SWT juga memberikan keutamaan kepada para nabi melalui shalawat kepadanya terlebih dahulu karena semuanya disampaikan melalaui perantaranya.
 
Ini juga bisa termasuk sebagai penghargaan kepada Nabi dan Rasul tersebut. Dalam hal ini Ubay ibn Ka’ab menyebutkan bahwa tidak ada hal baik yang diturunkan kepada seorang Rasul kecuali Rasul tersebut menjadi bagian dari hal baik tersebut. Turunlah Surat At-Taubah ayat 112.
 
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
 
Artinya, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang mukmin itu,” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).
 
Oleh karena itu pada masa Rasulullah SAW, shalawat ini juga bisa menjadi sebuah penghargaan kepada Rasul SAW. Itulah mengapa ketika nama Rasul SAW disebut, Rasul SAW menganjurkan kita untuk membaca shalawat kepadanya, bahkan dengan memberikan janji keutamaan-keutamaan yang banyak.
 
Hal ini diperkuat oleh pendapat Al-Ghazali dan beberapa ulama lain yang dikutip oleh As-Sakhawi yang menyebutkan bahwasanya shalawat kepada Nabi SAW tidak terbatas sebagai doa, tapi juga sebagai pujian dan sebagai ibadah. Wallahu a‘lam.
 
 
Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits.
Ahad 19 Mei 2019 20:30 WIB
Dzikir dengan Mengulang 'Allah, Allah, Allah' dalam Islam
Dzikir dengan Mengulang 'Allah, Allah, Allah' dalam Islam
Ilustrasi (via coub.com)
Ada banyak sekali ragam bacaan dzikir yang dipraktikkan kaum muslimin, ada yang pendek dan ada pula yang panjang. Beberapa bacaan dzikir yang populer adalah semisal takbir (Allâhu akbar), tahmid (al-hamdu lillâh), tahlil (lâ ilâha illAllah), hauqalah (lâ haula walâ quwwata illâ billâh) dan sebagainya yang semua ulama sepakat akan kebaikannya. 

Namun, ada satu lafal dzikir yang dipermasalahkan oleh sebagian pihak, yakni ketika berdzikir dengan hanya mengulang nama Allah saja sehingga menjadi: "Allah, Allah, Allah, Allah...." Dzikir dengan satu kata “Allah” saja semacam ini kerap dijumpai dalam lelaku ilmu tasawuf. Mengomentari dzikir semacam ini, Syekh Ibnu Taymiyah berkata:

والذكر بالاسم المفرد مظهرا ومضمرا بدعة في الشرع وخطأ في القول واللغة فإن الاسم المجرد ليس هو كلاما لا إيمانا ولا كفرا

"Dzikir dengan isim mufrad (satu kata), baik berupa kata asli (Allah) ataupun kata ganti (Huwa) adalah bid’ah dalam syariat, salah secara etika berbicara dan keliru secara bahasa. Karena satu kata, bukan kalam (kalimat sempurna), bukanlah iman dan bukan pula kekafiran.” (Ibnu Taymiyah, Majmu’ Al-Fatawa, X, 396).

Demikianlah pandangan Syekh Ibnu Taymiyah yang memang terkenal dengan pendapat-pendapatnya yang keras. Pandangan seperti ini diikuti oleh para pengikutnya dari kalangan pendaku Salafi kontemporer seperti Syekh Bin Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin dalam fatwanya masing-masing (Majmu' Fatawa Ibn Baz dan Majmu' Fatawa wa Rasa'il al-Utsaimin). Benarkah dzikir semacam ini haram seperti fatwa-fatwa tersebut? Berikut penjelasannya:

Baca juga:
Penentuan Jumlah Bilangan Suatu Wirid
Penentuan Khasiat Suatu Wirid dalam Pandangan Islam
Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi Mengarang Wirid Sendiri
Dzikir secara harfiah berarti menghafal, mengingat atau menyebut. Menurut ar-Raghib, kata dzikir sama dengan menghafal (al-hifdh) tetapi makna menghafal lebih pada aspek menyimpan memori, sedangkan dzikir (adz-dzikr) lebih pada aspek menyatakan memori tersebut. Kadang, kata dzikir juga bermakna mengingat dalam hati. (ar-Raghib al-Asfahani, al-Mufradat Fi Gharib al-Qur’an, 328).  Dari pengertian ini sebenarnya mengulang kata “Allah, Allah, Allah” masuk dalam kategori makna dzikir sebab ia adalah perwujudan dari mengingat dan menyampaikan isi hati.

Salah satu perintah berdzikir yang ada dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

"Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati." (QS. Al-Muzzammil: 8)

Ayat tersebut memerintahkan untuk menyebut nama Tuhan Nabi Muhammad, yang tak lain adalah Allah. Syekh Ali Jum’ah, salah satu mufti kontemporer dari Mesir, dalam salah satu video ceramahnya menerangkan bahwa ayat ini sama sekali tidak menyuruh untuk menyucikan Allah dengan ucapan tasbih, mengagungkan Allah dengan ucapan takbir, mentauhidkan Allah dengan ucapan tahlil dan sebagainya tetapi hanya memerintahkan untuk menyebut nama Tuhan, yakni Allah saja. Ayat ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa menyebut nama Allah berulang kali adalah kebaikan, sama sekali bukan hal tercela. Penulis melihat semua kritik terhadap dzikir dengan satu kata seperti ini tak berpijak pada dasar argumentasi yang kokoh dan menjadi batal di depan ayat ini.

Bila kita melihat hadits Nabi, penyebutan dzikir dengan satu kata bukanlah hal yang tidak ada sama sekali sehingga bisa dianggap bid’ah. Dalam riwayat sahih Imam Muslim disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللهُ، اللهُ 

“Dari Anas, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: Kiamat tak akan terjadi hingga di muka bumi tak disebut: Allah, Allah.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menambah bukti bahwa dzikir dengan menyebut “Allah, Allah” tidaklah terlarang, bahkan sebaliknya merupakan kebajikan yang membuat kiamat takkan terjadi bila ia masih terucap di muka bumi. Karena itulah, wajar sekali bila para ulama tasawuf terkemuka mengajarkan dzikir semacam ini, salah satunya adalah Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang menjelaskan cara-cara berdzikir untuk selalu mengingat Allah, sebagaimana berikut:

فإن أصل طريق الدين القوت الحلال وعند ذلك يلقنه ذكراً من الأذكار حتى يشغل به لسانه وقلبه فيجلس ويقول مثلا الله الله أو سبحان الله سبحان الله أو ما يراه الشيخ من الكلمات 

“Maka sesungguhnya dasar dari jalan tasawuf adalah makanan yang halal. Maka ketika itu terpenuhi, hendaknya seorang guru mendiktekan pada muridnya salah satu macam dzikir hingga lisan dan hatinya sibuk dengan itu. Ia duduk dan misalnya berkata: “Allah, Allah” atau “Subhanallah subhanallah” atau redaksi lain yang diajarkan oleh gurunya.” (al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, III, 77).

Adapun soal anggapan bahwa mengulang kata “Allah” saja adalah salah menurut bahasa sebab tak berupa kalimat sempurna seperti “Mahasuci Allah” atau “Allah Mahabesar”, maka anggapan ini tidak bisa menjadi dalil untuk mengharamkan dzikir semacam ini sebab meskipun tak lumrah sebab hanya satu kata, ia tetaplah berfungsi selayaknya redaksi dzikir yang panjang sebagai pengingat kepada Allah. Imam ar-Ramli, salah satu ulama yang diakui sebagai mujtahid di kalangan mazhab Syafi’iyah, dalam kitab fatwanya pernah ditanya perihal hal ini dan beliau memberikan jawaban sebagai berikut:

ـ (سُئِلَ) عَنْ قَوْلِ الْقَائِلِ فِي مَجْلِسِ الذِّكْرِ اللَّهُ اللَّهُ فِي حَالِ صَحْوِهِ مِنْ اسْتِغْرَاقٍ هَلْ يُسَمَّى ذِكْرًا أَوْ لَا، وَإِذَا قُلْتُمْ بِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى ذِكْرًا هَلْ يُثَابُ عَلَيْهِ أَمْ لَا؟ (فَأَجَابَ) بِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى ذِكْرًا عُرْفًا لِعَدَمِ إفَادَتِهِ لَكِنَّهُ يُثَابُ لِقَصْدِ الذِّكْرِ كَمَا أَنَّ ذَا الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ آثِمٌ بِنُطْقِهِ بِحَرْفٍ وَاحِدٍ مِنْ الْقُرْآنِ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ؛ لِأَنَّهُ نَوَى مَعْصِيَةً وَشَرَعَ فِيهَا، وَإِنْ لَمْ يُسَمَّ قَارِئًا

“Imam ar-Ramli ditanya tentang ucapan seseorang di majelis dzikir ‘Allah, Allah’ di saat ia tersadar dari keheningan dzikirnya, apakah itu disebut dzikir atau tidak? Dan bila tidak, apakah berpahala atau tidak?” Ar-Ramli menjawab: “Secara kebiasaan yang berlaku, hal itu tidak disebut dzikir sebab bukan merupakan kalimat sempurna, tetapi pelakunya mendapat pahala sebab berniat dzikir, seperti halnya seseorang yang punya hadats besar berdosa ketika melafalkan satu huruf Al-Qur’an dengan niat membaca al-Qur’an, meskipun [secara kebiasaan] tidak disebut sebagai telah membaca Al-Qur’an,” (ar-Ramli, Fatawa ar-Ramli, IV, 358).

Penjelasan Imam ar-Ramli di atas bisa menjadi jawaban bagi yang mempermasalahkan ketidaklengkapan susunan kalimat bila dzikir hanya terdiri dari satu kata saja. Anggaplah ia memang tidak disebut sebagai dzikir karena alasan tersebut, tetapi bukan berarti ia haram atau bid’ah, melainkan tetap berpahala sesuai dengan niat pengucapnya. Apalagi hal ini sesuai dengan keterangan dalam ayat dan hadits di atas. Jadi, fatwa yang mengharamkan dzikir semacam ini adalah tidak tepat. Wallahu a’lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.