IMG-LOGO
Tafsir

Neraka dan Penduduknya dalam Keterangan Al-Qur’an

Senin 7 Oktober 2019 14:0 WIB
Share:
Neraka dan Penduduknya dalam Keterangan Al-Qur’an
Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kita berlindung kepada Allah SWT dari segala tindakan yang bisa mengantar manusia ke pintu neraka.
Neraka merupakan seburuk-buruk tempat kembali. Dalam banyak ayat, neraka disinggung sebagai tempat kembali orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan mengingkari para nabi dan utusan-Nya. Selain ingkar, mereka juga mengufuri ajaran Allah yang disampaikan lewat lisan para utusan.

Bagaimana Al-Qur’an menggambarkan rombongan yang kelak akan memasukinya ini? Mari kita simak penafsiran para mufassir bil ma’tsûr dari Al-Qur’an Surat Az-Zumar ayat 71 dan 72 sebagai berikut:

وَسِيْقَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِلٰى جَهَنَّمَ زُمَرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا جَاۤءُوْهَا فُتِحَتْ اَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنْكُمْ يَتْلُوْنَ عَلَيْكُمْ اٰيٰتِ رَبِّكُمْ وَيُنْذِرُوْنَكُمْ لِقَاۤءَ يَوْمِكُمْ هٰذَا ۗقَالُوْا بَلٰى وَلٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ

Artinya, “Orang-orang yang kafir digiring ke neraka Jahanam secara berombongan sehingga apabila mereka sampai kepadanya (neraka) pintu-pintunya dibukakan dan penjaga-penjaga berkata kepada mereka, ‘Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul dari kalangan kamu yang membacakan ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan (dengan) harimu ini?’ Mereka menjawab, ‘Benar, ada,’ tetapi ketetapan azab pasti berlaku terhadap orang-orang kafir," (Surat Az-Zumar ayat 71).

Di dalam Surat Az-Zumar ayat 72, Allah SWT juga berfirman:

قِيْلَ ادْخُلُوْٓا اَبْوَابَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۚفَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ

Artinya, “Dikatakan (kepada mereka), ‘Masukilah pintu-pintu neraka Jahanam itu, (kamu) kekal di dalamnya.’ Maka (neraka Jahanam) itulah seburuk-buruk tempat tinggal bagi orang-orang yang menyombongkan diri,’ (Surat Az-Zumar ayat 72).

Ketika menafsiri ayat “wasiqal ladzina kafaru ila jahannama,” At-Thabary menyampaikan maksud ayat ini berdasar hadits riwayat tafsir dari Qatadah dan diriwayatkan oleh Bisyr dari Yazid dan dari Sa’id, ia berkata:

وحشر الذين كفروا بالله إلى ناره التي أعدّها لهم يوم القيامة جماعات, جماعة جماعة, وحزبا حزبا

Artinya, “Orang-orang yang kafir terhadap Allah SWT kelak akan dikumpulkan menuju neraka-Nya yang disiapkan untuknya kelak di hari kiamat dalam kelompok-kelompok, kelompok demi kelompok, partai demi partai,” (Abu Ja’far At-Thabary, Tafsir At-Thabary).

Secara tegas, At-Thabari memaknai lafal zumaran sebagai جماعات (kelompok-kelompok). Al-Qurthuby menyampaikan gambaran dari zumaran ini layaknya suara seruling yang berbeda antara satu sama lainnya. Ia berkata:

دفعا وزجرا بصوت كصوت المزمار

Artinya, “Secara berkelompok dan tersekat-sekat, dengan suara menyerupai suaranya seruling (al-mizmar),” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby).
 
Selanjutnya ketika sampai pada menafsiri ayat: حتى إذا جاءوها فتحت أبوابها (sehingga ketika mereka telah sampai di depan neraka maka dibukalah pintu-pintu tersebut) secara khusus al-Thabary dan Al-Qurthuby sepakat menyebut bahwa banyaknya pintu neraka tersebut adalah berjumlah 7 buah.

Lafal خزنة merupakan bentuk jama’ dari lafal خازن yang bermakna penjaga. Kalimat ini ditinjau dari ilmu i’rabul qur’an, menyerupai kalimat dengan wazan سدنة وسادن dalam shighat jama’ dan mufradnya. Ketika penduduk neraka telah sampai di depan pintu neraka, dan mengetuknya, para penjaga neraka ini mengucapkan salam kepada mereka. Namun salam itu justru disampaikan dalam bentuk pertanyaan:

ألم يأتكم رسل منكم يتلون عليكم آيات ربكم أي الكتب المنزلة على الأنبياء . وينذرونكم أي يخوفونكم لقاء يومكم هذا قالوا بلى أي قد جاءتنا

Artinya, “Bukankah para utusan telah mendatangi kalian sembari membacakan ayat-ayat dari Tuhan kalian kepada kalian (berupa kitab suci  yang diturunkan kepada mereka/para anbiya) dan memperingatkan kalian (memperingatkan tentang hari perjumpaan ini)?’ Mereka menjawab, ‘Benar, para utusan itu telah datang kepada kami,’” (Al-Qurthuby, Tafsir Al-Qurthuby, http://www.quran7m.com/searchResults/039072.html).

Jika dilihat dari siyaqul kalam pertanyaan ini, maka lafal pertanyaan tersebut seolah bermakna taubikh (melecehkan) karena bagaimana pun mereka sudah diingatkan. Namun, mereka menolak selama hidup di dunia, bahkan menghinakan mereka yang memberi peringatan. Akhirnya mereka seolah dibalas dengan pelecehan balik melalui pertanyaan itu. Sebuah pertanyaan yang sudah pasti jawabannya, yaitu kebenaran bahwa kelak Allah SWT benar-benar akan memenuhi neraka jahannam dengan golongan jin dan manusia. Allah SWT berfirman:

وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Artinya, “Akan tetapi telah nyata kalimat azab atas orang-orang yang kufur,” (Surat Az-Zumar ayat 71).

Ayat ini mendapat penafsiran dari At-Thabary sebagai:

ولكن وجبت كلمة الله أن عذابه لأهل الكفر به علينا بكفرنا به.

Artinya, “Akan tetapi telah tetap bahwa sungguh kalimat Allah berupa azab untuk ahli kufur kepada-Nya akan mendera kita sebab kekufuran yang telah kami lakukan.” (Abu Ja’far At-Thabary, Tafsir At-Thabary, http://www.quran7m.com/searchResults/039072.html).

Jadi, seolah pertanyaan itu memang tidak butuh jawaban karena para ahli kufur ini sudah mengerti akan jawaban pastinya, mau tidak mau mereka harus menanggung konsekuensi sebab kekufuran yang dilakukannya. Sebagaimana konsekuensi itu telah mereka sadari dar firman Allah SWT:

لأملأن جهنم من الجنة والناس أجمعين

Artinya, “Sungguh, pasti akan aku penuhi neraka jahannam itu dari golongan jin dan manusia semua.”

Dengan kata lain, mereka sadar pasti akan masuk neraka jahannam. Oleh karena itu, maka disampaikan oleh para penjaga-penjaga neraka kepada mereka sebagaimana termaktub dalam Surat Az-Zumar ayat 72:

قِيْلَ ادْخُلُوْٓا اَبْوَابَ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۚفَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِيْنَ

Artinya, “Diucapkan, ‘Masuklah kalian lewat pintu-pintu neraka jahannam yang telah disediakan dan kelak kalian kekal di dalamnya. Itulah seburuk-buruk tempat kembali bagi orang-orang yang takabur.’”

At-Thabary menggambarkan masuk mereka ini menurut rombongannya sebagai berikut:

فتقول خزنة جهنم للذين كفروا حينئذ: (ادْخُلُوا أَبْوَابَ جَهَنَّمَ) السبعة على قدر منازلكم فيها (خَالِدِينَ فِيهَا) يقول: ماكثين فيها لا يُنقلون عنها إلى غيرها.(فَبِئْسَ مَثْوَى الْمُتَكَبِّرِينَ) يقول: فبئس مسكن المتكبرين على الله في الدنيا، أن يوحدوه ويفردوا له الألوهة, جهنم يوم القيامة

Artinya, “Para penjaga neraka jahanam ini lalu berkata kepada orang-orang kafir ketika itu, ‘Masuklah kali lewat pintu-pintu jahanam yang berjumlah tujuh menurut kadar derajat kekufuran kalian. Kalian akan tinggal di dalamnya tanpa bisa berpindah dari satu pintu ke pintu lainnya. Itulah seburuk-buruk tempat kembali bagi orang-orang yang sombong.’ Yaitu seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang telah membangkang kepada Allah selagi di dunia dengan tidak mau menauhidkannya, dan memurnikannya dalam sifat ketuhanannya. Oleh karena itu, neraka jahanam tempat tinggalnya kelak di hari kiamat,” (Abu Ja’far At-Thabary, Tafsir At-Thabary).

Walhasil, berdasarkan keterangan ayat ini, dapat disimpulkan bahwa kelak di hari kiamat, neraka merupakan: 

1. Tempat orang-orang yang kufur, takabur, dan suka membangkang terhadap perintah Allah SWT. Neraka merupakan bentuk balasan yang bersifat balasan penghinaan atas perbuatan kaum yang kufur lagi takabur ini selama di dunia.

2. Neraka memiliki tujuh pintu. Kelak penduduk neraka akan memasukinya lewat pintu-pintu tersebut menurut derajat pembangkangannya kepada Allah SWT.

3. Neraka merupakan tempat yang dijaga oleh para malaikat (khazanah) yang diutus oleh Allah SWT.

4. Neraka adalah seburuk-buruk tempat kembali. Kita berlindung kepada Allah SWT dari segala tindakan yang bisa mengantar manusia ke pintu neraka. Wallahu a’lam bis shawab.
 
 
Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudhu’iyah, Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Jawa Timur.
Share:

Baca Juga

Sabtu 5 Oktober 2019 16:15 WIB
Ihsan, Hasan, dan Istihsan dalam Bahasa Al-Qur’an
Ihsan, Hasan, dan Istihsan dalam Bahasa Al-Qur’an
Persamaan akar kata sekaligus perbedaan dalam derivasinya membuat suatu kata memiliki perbedaan tapi sekaligus inti yang sama.
Syariat agama kita memiliki tiga sub-ajaran pokok, yaitu imânislâm dan ihsân. Ketiga sub ini sebenarnya berangkat dari sebuah hadits populer yang biasa dikenal dengan istilah hadits Jibril. Salah satu dari ketiga sub-ajaran itu adalah ihsân. Secara definitif, ihsân ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad ﷺ sebagai:
 
قال فأخبرني عن الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك رواه مسلم
 
Artinya: “Jibril berkata lagi: ‘Beritahu aku apa itu Ihsân!’ Rasul menjawab: ‘[Ihsân itu adalah] jika anda mengabdi kepada Allah seolah-olah anda melihat-Nya, dan andai anda tidak dapat melihatnya, maka Ia pasti melihat anda’.” HR Muslim.
 
Ihsân berasal dari fi’il tsulatsy mazîd dengan formula ah-sa-na (أحسن) yang makna literalnya adalah “berbuat baik, melakukan dengan baik, melampaui atau mengetahui dengan baik.” Jika mengukut wazan fi’il tsulatsy mujarrad (kata kerja dasar) ha-su-na, maka arti leteralnya adalah baik atau bagus. Di dalam Al-Qur’an, rumpun kata ini dipergunakan sebanyak kurang lebih 166 kali, yang secara bergantian menggunakan diksi husnâhasanahhasanâtahsana (fi’il), ahsanu (isim tafdlil), husnan, muhsinîn, ahsin (fi’il amar), dan lain sebagainya. 
 
Dalam kesempatan ini, kita hendak mengurai penggunaan diksi hasan pada ayat QS Al-Baqarah [2] ayat 245. Allah ﷻ berfirman: 
 
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
 
Artinya: “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”
 
Di dalam Tafsir al-Mishbah, karya dari Prof Quraish Shihab, beliau menjelaskan penafsiran ayat ini sebagai berikut: 
 
“Berjuang di jalan Allah memerlukan harta, maka korbankanlah harta kalian. Siapa yang tidak ingin mengorbankan hartanya, sementara Allah telah berjanji akan membalasnya dengan balasan berlipat ganda? Rezeki ada di tangan Allah. Dia bisa mempersempit dan memperluas rezeki seseorang yang dikehendaki sesuai dengan kemaslahatan. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikembalikan, lalu dibuat perhitungan atas pengorbanan kalian. Meskipun rezeki itu karunia Allah dan hanya Dialah yang bisa memberi atau menolak, seseorang yang berinfak disebut sebagai 'pemberi pinjaman' kepada Allah. Hal itu berarti sebuah dorongan untuk gemar berinfak dan penegasan atas balasan berlipat ganda yang telah dijanjikan di dunia dan akhirat.”
 
Penafsiran yang disampaikan oleh Prof. Quraish Shihab di atas menjelaskan bahwa makna lafadh hasanan yang dilekatkan pada qardlan (utang) adalah bermakna kerelaan seseorang mengorbankan hartanya dengan jalan infak. Orang yang demikian ini ibarat orang yang meminjami Allah dan baginya kelak dijanjikan Allah berupa kelipatan pahala yang banyak baik di dunia maupun di akhirat. Penafsiran ini nampaknya senada dengan penafsiran Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Ia menyampaikan:
 
يحث تعالى عباده على الإنفاق في سبيله ، وقد كرر تعالى هذه الآية في كتابه العزيز في غير موضع
 
Artinya: (Dengan ayat ini) Allah ﷻ menganjurkan kepada para hamba-Nya agar gemar berinfaq di jalan-Nya. Dan Dia mengulang-ulang anjuran ini dalam Kitab-Nya Yang Maha Mulia ini (Al-Qur’an) dalam berbagai ayat yang lain.” (Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir)
 
Masih menurut Ibn Katsir, berdasarkan hadits yang yang meriwayatkan turunnya ayat ini, sebagaimana disampaikan oleh Ibn Abi Hat’im dari sahabat Abdullah Ibn Mas’ud, dijelaskan bahwa: 
 
لما نزلت : ( من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له ) قال أبو الدحداح الأنصاري : يا رسول الله وإن الله ليريد منا القرض ؟ قال : " نعم يا أبا الدحداح " قال : أرني يدك يا رسول الله . قال : فناوله يده قال : فإني قد أقرضت ربي حائطي . قال : وحائط له فيه ستمائة نخلة وأم الدحداح فيه وعيالها . قال : فجاء أبو الدحداح فناداها : يا أم الدحداح . قالت : لبيك قال : اخرجي فقد أقرضته ربي عز وجل
 
Artinya: Ketika ayat (man dza al-ladzi yuqridlu alllaha qardlan hasanan fayudlâ’ifahu lahu)  ini turun, terdapat seorang sahabat yang bernama Abu al-Dahdah dari kalangan sahabat anshar menghadap Rasulullah ﷺ dan berkata; “Wahai Rasulullah, Demi Sesungguhnya Allah telah menghendaki kita agar menghutangi-Nya?” Rasulullah ﷺ menjawab: “Iya, Wahai Abu Dahdâh” Abu Dahdâh berkata: “Perlihatkan tangan tuan, Wahai Rasulallah!” Ibnu Mas’ud berkata: “Lalu diraihnya tangan Rasulallah”. Abu Dahdâh berkata: “Aku menghutangkan tembokku kepada Tuhanku.” Ia melanjutkan: “Tembok itu terdiri dari 600 pohon kurma yang Ummu Dahdâh beserta keluarganya tinggal di dalamnya.” Ibn Mas’ud kemudian berkata: “Lalu pulanglah Abu Dahdâh menghampiri istrinya dan memanggilnya: “Wahai Ummu Dahdâh!” Sang Istri menjawab: “Iya, suamiku.” Abu Dahdâh berkata: “Keluarlah kamu! Aku telah mengambil janji menghutangkan semua ini kepada Tuhanku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung.” (Ibn Katsir, Tafsir Ibn Katsir)
 
Tindakan Abu Dahdâh ini merupakan bentuk pengamalan dari ayat yang berisi qardlan hasanan di atas. Artinya, ayat itu berkisah tentang kerelaan sahabat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah sebagaimana disinggung oleh kedua mufassir di atas. Hadits riwayat tafsir ini juga disampaikan oleh Mufassir yang lain, seperti al-Baghawy, al-Thabary dan Al-Qurthuby. Syekh Jalâluddin Al-Mahally menyampaikan dalam Tafsir Jalâlain secara umum pengertian yang sama. 
 
Ada penafsiran lain terkait dengan “qardlan hasanan” berdasar hadits riwayat sahabat Umar ibn Khathab dalam rupa hadits marfu’ yang sanadnya bersambung sampai Rasulullah ﷺ. Umar berkata: هو النفقة في سبيل الله (yaitu: berinfak di jalan Allah ﷻ). Dalam penafsiran lain disebutkan :هو النفقة على العيال  (yaitu memberikan nafkah kepada keluarga). Ada juga ulama yang menafsirkan sebagai:  هو التسبيح والتقديس (yaitu membaca tasbîh dan taqdîs (penulis:  memahasucikan Allah dan menyucikan dari segala bentuk hal yang mengarah kepada penyekutuan). 
 
Berdasar riwayat hadits yang lain yang menjelaskan proses turunnya ayat, bahwa ayat ini turun setelah QS Al-Baqarah [2]: 261 dan berfungsi menjelaskannya. Allah ﷻ berfirman: 
 
مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل
 
Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti menanam sebuah biji, yang darinya tumbuh tuju tandan.” (QS Al-Baqarah [2]: 261)
 
Saat itu, kemudian Nabi ﷺ berdoa: رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Lebihkanlah atas umatku!). Dari sini lalu turun ayat: من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له أضعافا كثيرة (Barangsiapa yang memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatkan baginya berupa pahala dengan kelipatan yang banyak). Ternyata Rasulullah ﷺ tidak berhenti sampai disini. Beliau berdoa lagi: “رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Berikan tambahan lagi atas umatku!). Lalu turunlah ayat yang lain; 
 
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
 
Artinya: “Katakan [Muhammad]! Wahai Hamba-Ku yang terdiri dari orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Bagi mereka yang telah berbuat baik di dalam kehidupan dunia ini, terdapat sebuah kebaikan (yang dijanjikan). Buminya Allah teramat luas. Sesungguhnya bagi orang-orang yang penyabar, akan diberikan pahala yang tanpa bisa dihitung.” (QS al-Zumar [39]: 10). 
 
Yang menarik dari tafsir ayat dengan ayat ini, adalah ada diksi menarik yang disertakan dalam QS Al-Zumar [39] ayat 10 di atas. Diksi itu adalah: وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Penggunaan diksi ini sebagaimana disinggung oleh Mujâhid, makna wâsi’ah selalu identik dengan makna rezeki dunia berupa materi. 
 
Walhasil, penafsiran terhadap Surat Al-Baqarah ayat 245 di atas, seolah menjadi bermakna: “bahwasanya orang yang telah berbuat baik di dunia sebagaimana diibaratkan telah memberi utang Allah, maka bagi dirinya akan diberikan balasan selain berupa pahala yang banyak, dirinya juga akan diberi balasan di dunia berupa materi.”
 
Dengan kata lain, makna “hasan” pada ayat itu, tidak hanya sebuah perbuatan baik yang berkonotasi akhirat saja, melainkan juga dunia. Jika makna ayat ternyata juga berkonotasi pada dunia, maka yang dimaksud dengan mengutangi Allah dengan jalan yang baik, adalah juga bermakna memberikan pinjaman kepada sanak kerabat yang membutuhkan pinjaman, dan pinjaman itu disampaikan dengan cara yang baik karena semata mengharap ridha Allah.
 
Dalam konteks fiqih disebut dengan istilah pinjaman tabarru’ (suka rela). Karena yang diharapkan hanyalah semata ridha Allah, maka tidak ada syarat yang turut disertakan. Namun, pemaknaan ini berasal dari sudut pandang orang yang meminjami (muqridl). Adapun kewajiban yang berlaku atas orang yang meminjam adalah sebagaimana disinggung oleh Allah ﷻ dalam QS Al-Zumar [39] ayat 10, yaitu berbuat ihsân atas pinjaman yang diberikan. Antara hasan dan ihsân terdapat “manajemen risiko” yaitu berupa istihsân sebagaimana disinyalir lewat penggalan ayat وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Inilah pengamalan dari ihsân sebagaimana terdapat dalam hadits Jibril yang telah disinggung dalam awal tulisan ini. Wallâhu a’lam bish shawâb.

 
Ustadz Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur
 
Kamis 3 Oktober 2019 13:0 WIB
Perjalanan Rombongan Penghuni Surga dalam Al-Qurân
Perjalanan Rombongan Penghuni Surga dalam Al-Qurân
Ilustrasi: NU Online
Allah SWT telah menjanjikan surga kepada hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh. Surga banyak digambarkan sebagai tempat yang indah tiada tara. Dalam kitab tauhid banyak dijelaskan mengenai keindahan surga ini sebagai:

ما لا عين رأت ولا أذن سمعت 

Artinya, “Tempat yang tiada mata pernah memandangnya dan telinga mendengarnya.”

Para penghuni surga juga terdiri atas orang-orang yang disucikan. Bagaimana hal-ihwal masuknya para makhluk Allah SWT ini ke dalam surga? Siapa yang pertama kali kelak memasukinya? Mari kita simak penafsiran dari para mufassir terhadap Surat Al-Zumar ayat 73. Allah SWT telah berfirman:

وَسِيقَ الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلَامٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ

Artinya, “Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan (mereka dengan menauhidkanNya dan mengamalkan perintah-Nya) akan digiring ke surga dengan berkelompok-kelompok, hingga ketika mereka tiba di depannya, (Nabi meminta kepada Allah agar pintu-pintu surga dibuka) maka ia pun dibuka, para malaikat penjaga surga menyambutnya (memberikan penghormatan kepada mereka dengan penuh kebahagiaan dan suka cita karena kesucian mereka dari noda-noda kemaksiatan) seraya berkata kepada mereka, 'Selamat untuk kalian, kalian selamat dari segala cacat (kehidupan kalian adalah baik). Masuklah kalian kedalam surga dan kalian kelak kekal di dalamnya,'” (Surat Az-Zumar ayat 73).

At-Thabary, di dalam kitab tafsirnya menjelaskan perihal pihak yang dimaksud sebagai al-ladzinat taqaw rabbahum (orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya):

وَحُشِرَ الَّذِينَ اِتَّقَوْا رَبّهمْ بِأَدَاءِ فَرَائِضه , وَاجْتِنَاب مَعَاصِيه فِي الدُّنْيَا , وَأَخْلَصُوا لَهُ فِيهَا الْأُلُوهَة , وَأَفْرَدُوا لَهُ الْعِبَادَة , فَلَمْ يُشْرِكُوا فِي عِبَادَتهمْ إِيَّاهُ شَيْئًا { إِلَى الْجَنَّة زُمَرًا } يَعْنِي جَمَاعَات

Artinya, “Orang-orang yang bertaqwa kepada Tuhannya dengan menjalankan kewajiban-kewajiban yang dibebankan atasnya, menjauhi perbuatan makshiat selama hidup di dunia, memurnikan keyakinan dari adanya tuhan selain Allah, dan bersungguh-sungguh dalam melakukan penghambaan, tiada menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun dalam ibadah, kelak mereka akan dikumpulkan di dalam surga Allah secara berombongan, yakni dalam bentuk kumpulan demi kumpulan,” (At-Thabary, Jami’ul Bayan ‘an Ta’wili ayil Qur’an, Damaskus, [Beirut, Dâr al-Fikr: tt], juz XXXXIV, halaman 24).

Kondisi rombongan ini secara lebih jelas digambarkan oleh Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:

جماعة بعد جماعة، المقربون ثم الأبرار، ثم الذين يلونهم، ثم الذين يلونهم، كل طائفة مع من يناسبهم: الأنبياء مع الأنبياء، والصديقون مع أشكالهم، والعلماء مع أقرانهم، وكل صنف مع صنف، وكل زمرة تناسب بعضها بعضاً

Artinya, “Jamaah demi jamaah, ahli taqarrub kepada Allah, kemudian kaum abrar, kemudian orang-orang yang mengiringinya, lalu rombongan berikutnya yang mengirinya. Semua kelompok bersama dengan orang yang memiliki derajat setara dengannya. Para nabi bersama para nabi, ahli shiddiqin bersama dengan sesama mereka. Para ulama bersama dengan yang segolongan dengan mereka. Semua kelompok bersama dengan kelompoknya. Setiap kelompok satu sama lain berada dalam satu nasab (derajat),” (Abul Fida’ Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’ânil Adhîm, [Kairo, Muassisah Qurthubah: 2000 M], juz XII, halaman 155).

Di dalam sebuah hadits, digambarkan mengenai keadaan dari rombongan-rombongan ini, sebagai berikut:

عن أبي هريرة رضي اللّه عنه قال، قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: (من أنفق زوجين من ماله في سبيل اللّه تعالى دعي من أبواب الجنة وللجنة أبواب، فمن كان من أهل الصلاة دعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الصدقة دعي من باب الصدقة، ومن كان من أهل الجهاد دعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصيام دعي من باب الريّان، فقال أبو بكر رضي اللّه تعالى عنه: يا رسول اللّه: ما على أحد من ضرورة دعي من أيها دعي، فهل يدعى منها كلها أحد يا رسول اللّه؟ قال صلى اللّه عليه وسلم: نعم وأرجو أن تكون منهم) "أخرجه أحمد ورواه البخاري ومسلم من حديث الزهري بنحوه

Artinya, “Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Barang siapa menafkahi istri-istrinya dengan hartanya yang diperoleh di jalan Allah Ta’ala, maka kelak dia akan dipanggil dari beberapa pintu surga. [Ketahuilah] bahwa surga memiliki beberapa pintu. Barang siapa termasuk dari kalangan ahli shalat, maka dia akan diundang dari pintu shalat. Barang siapa ahli sedekah, ia akan diundang dari pintu sedekah. Barang siapa ahli jihad, ia akan diundang dari pintu jihad. Barang siapa ahli puasa, maka dia akan diundang dari pintu Ar-Rayyan.’ Sahabat Abu Bakar RA bertanya, ‘Wahai Rasulullah! Apakah tiap-tiap orang kelak akan dipanggil sesuai amal keahliannya? Apakah panggilan itu pasti ya Rasulallah?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Benar. Aku berharap bahwa kamu adalah satu di antara mereka.’ Hadits ini ditakhrij oleh Imam Ahmad dan diriwayatkan oleh Bukhari. Imam Muslim memiliki hadits yang sama dari jalur sanad Az-Zuhry.”

Dalam sebuah hadits yang termaktub dalam Shahih Muslim, dijelaskan secara tsabit, bahwa kelak, ketika kaum beriman sudah berada di depan pintu surga, mereka merasa tidak pantas untuk mengetuk pintu surga tersebut. Sampai kemudian datanglah Rasulillah SAW mengetuk pintunya. Selanjutnya baru kemudian para calon penghuni surga ini masuk ke dalamnya.

عن أنس رضي اللّه عنه قال، قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: (أنا أول شفيع في الجنة(

Artinya, “Dari Sahabat Anas RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku adalah orang pertama yang memberi syafaat di dalam surga,’” HR Muslim.

Lafal lain menyebutkan:

وأنا أول من يقرع باب

Artinya, “Aku adalah awal orang yang mengetuk pintu surga,” (HR Muslim).

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Ahmad dijelaskan lebih lengkap lagi:

عن أنَس بن مالك رضي اللّه عنه قال: قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: آتي باب الجنة يوم القيامة، فأستفتح، فيقول الخازن: من أنت؟ فأقول: محمد - قال - فيقول: بك أمرت أن لا أفتح لأحد قبلك" "أخرجه أحمد ورواه مسلم

Artinya, “Diriwayatkan dari shahabat Anas bin Mâlik RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ‘Aku kelak akan mendatangi pintu surga di hari kiamat, kemudian aku mengetuknya. Lalu bertanyalah penjaga surga itu, ‘Siapa Anda?’ Aku menjawab, ‘Muhammad.’ Lalu berkatalah ia, ‘Demi Tuan, aku diperintahkan untuk tidak membuka pintu surga kepada seorang pun sebelum Tuan membukanya,’” (Hadits ditakhrij oleh Imam Ahmad dan diriwayatkan oleh Imam Muslim).

Dengan mendasarkan diri pada riwayat hadits di atas, maka dapat dipahami bahwa ketika rombongan-rombongan kaum yang bertakwa ini telah sampai di depan pintu surga, mereka tidak bisa masuk, sebelum Rasulullah SAW memasukinya terlebih dahulu.

Setelah pintu dibuka oleh Rasulullah SAW, para malaikat penjaga surga (khazanah) lalu mengucap salam penghormatan kepada rombongan ini. Tetapi, masih ada proses yang harus dilalui oleh kaum beriman ini sebagaimana tertuang dari maksud ayat salâmun ‘alaikum thibtum (Salam sejahtera buat kalian dan kondisi kalian adalah yang baik).

Karena manusia tidak luput dari salah dan dosa, maka untuk menuju kondisi salâmun dan thibtum dibutuhkan proses ala surgawi. Ibnu Katsir dan At-Thabary menyampaikan takwil dari ayat salâmun ‘alaikum thibtum sebagai berikut:

طابت أعمالكم وأقوالكم وطاب سعيكم وجزاؤكم

Artinya, “Amal, perkataan dan usaha kalian bagus, maka balasan kalian juga bagus.”

Lebih lanjut At-Thabary dan Ibnu Katsir menyampaikan sebuah hadits berikut:

حَتَّى إِذَا اِنْتَهَوْا إِلَى بَابهَا , إِذَا هُمْ بِشَجَرَةٍ يَخْرُج مِنْ أَصْلهَا عَيْنَانِ , فَعَمَدُوا إِلَى إِحْدَاهُمَا , فَشَرِبُوا مِنْهَا كَأَنَّمَا أُمِرُوا بِهَا , فَخَرَجَ مَا فِي بُطُونهمْ مِنْ قَذِر أَوْ أَذًى أَوْ قَذًى , ثُمَّ عَمَدُوا إِلَى الْأُخْرَى , فَتَوَضَّئُوا مِنْهَا كَأَنَّمَا أُمِرُوا بِهِ , فَجَرَتْ عَلَيْهِمْ نَضْرَة النَّعِيم , فَلَنْ تَشْعَث رُءُوسهمْ بَعْدهَا أَبَدًا وَلَنْ تَبْلَى ثِيَابهمْ بَعْدهَا , ثُمَّ دَخَلُوا الْجَنَّة , فَتَلَقَّتْهُمْ الْوِلْدَان كَأَنَّهُمْ اللُّؤْلُؤ الْمَكْنُون 

Artinya, “Ketika kaum yang bertakwa telah sampai di depan pintu surga, mereka berjumpa dengan sebuah pohon yang keluar dari pangkalnya dua mata air. Mereka lalu bersegera menuju salah satunya. Mereka bergegas meminumnya seolah diperintahkan. Dari itulah kemudian keluar semua kotoran dari perutnya. Kemudian mereka bergegas menuju ke mata air yang lain, lalu mereka berwudhu dengannya seperti diperintahkan. Mendadak wajah mereka berseri-seri. Tiada pernah mereka mengurai kepalanya selamanya setelahnya, dan tiada mereka mengalami kerusakan. Lalu mereka bergegas masuk surga dan dipapah oleh para wildan yang bagaikan mutiara berkilauan,” (HR Imam Muslim).
Masih berkaitan dengan rombongan yang masuk ke dalam surga ini, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, kondisi kelompok yang memasuki surga Allah SWT dijelaskan sebagai berikut:

قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم: (أول زمرة تلج الجنة صورهم على صورة القمر ليلة البدر لا يبصقون فيها ولا يمتخطون فيها ولا يتفلون فيها، آنيتهم وأمشاطهم الذهب والفضة ومجامرهم الأُلُوَّة، ورشحهم المسك، ولكل واحد منهم زوجتان يرى مخ ساقهما من وراء اللحم من الحسن، لا اختلاف بينهم ولا تباغض، قلوبهم على قلب واحد يسبِّحون اللّه تعالى بكرة وعشياً) "أخرجه مسلم والإمام أحمد

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Permulaan rombongan yang memasuki surga, gambaran mereka adalah menyerupai rembulan di malam purnama. Mereka tiada meludah di dalamnya, tiada beringus, tiada kotoran mata. Wadah dan sisir mereka terbuat dari emas dan perak, tiada pernah buang air besar atau kecil, peluh mereka misik, dan tiap-tiap dari mereka dua istri (bidadari) yang seolah tampak urat betis di balik kulit mereka karena cantiknya. Tiada perselisihan di antara mereka dan tiada saling membenci. Hati-hati mereka satu, senantiasa bertasbih kepada Allah di pagi dan sore hari,’” (HR Imam Ahmad dan Imam Muslim).

Mencermati tafsir Surat Az-Zumar ayat 73 ini, maka dapat dipetik kandungan ayat sebagai berikut:

1. Bahwa, kelak orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT akan masuk ke dalam surga secara berombongan mengikuti derajat rombongannya.

2. Surga adalah tempat yang dijanjikan oleh Allah. Di dalamnya tidak ada lagi hajat duniawi. Bahkan digambarkan bahwa hajat buang air besar dan lain sebagainya semuanya ditiadakan oleh Allah SWT.

3. Awal manusia yang masuk ke dalam surga adalah Nabi Muhammad SAW.

4. Kelak di dalam surga, para penghuninya kekal (abadan abadan). Wallahu a‘lam bis shawab.
 

Muhammad Syamsudin, Wakil Sekretaris Bidang Maudluiyah, PW LBMNU Jawa Timur.
Selasa 1 Oktober 2019 7:0 WIB
Keutamaan Infak di Jalan Allah dalam Tafsir Al-Qur’an
Keutamaan Infak di Jalan Allah dalam Tafsir Al-Qur’an
Ilustrasi: pixabay
Syariat agama Islam memiliki tiga sub-ajaran pokok, yaitu Imân, Islâm dan Ihsân. Ketiga sub ini sebenarnya berangkat dari sebuah hadits masyhûr yang biasa dikenal dengan istilah hadits Jibril.

Salah satu dari ketiga sub-ajaran itu adalah ihsân. Secara definitif, ihsân ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW sebagai:

قال فأخبرني عن الإحسان قال أن تعبد الله كأنك تراه فإن لم تكن تراه فإنه يراك رواه مسلم

Artinya, “Jibril berkata lagi, ‘Beritahu aku apa itu ‘Ihsân!’’ Rasul menjawab, ‘Ihsân itu adalah jika Anda mengabdi kepada Allah seolah-olah Anda melihat-Nya, dan andai Anda tidak dapat melihatnya, maka Dia pasti melihat Anda,’” (HR Muslim).

Ihsân berasal dari fi’il tsulatsy mazîd dengan formula ah-sa-na (أحسن) yang makna literalnya adalah “berbuat baik, melakukan dengan baik, melampaui atau mengetahui dengan baik.” Jika mengikuti wazan fi’il tsulatsy mujarrad (kata kerja dasar) ha-su-na, maka arti literalnya adalah baik atau bagus.

Di dalam Al-Qurân, rumpun kata ini dipergunakan sebanyak kurang lebih 166 kali, yang secara bergantian menggunakan diksi al-husnâ, hasanah, hasanât, ahsana (fi’il), ahsanu (isim tafdhil), husnan, muhsinîn, ahsin (fi’il amar), dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan ini, kita hendak mengurai penggunaan diksi hasan pada ayat Surat Al-Baqarah ayat 245. Allah SWT berfirman:

مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً ۚ وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Artinya, “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”

Di dalam Tafsir Al-Mishbah, KH Quraish Shihab menjelaskan penafsiran ayat ini sebagai berikut:

“Berjuang di jalan Allah memerlukan harta, maka korbankan harta kalian. Siapa yang tidak ingin mengorbankan hartanya, sementara Allah telah berjanji akan membalasnya dengan balasan berlipat ganda? Rezeki ada di tangan Allah. Dia bisa mempersempit dan memperluas rezeki seseorang yang dikehendaki sesuai dengan kemaslahatan. Hanya kepada-Nya kalian akan dikembalikan, lalu dibuat perhitungan atas pengorbanan kalian. Meski rezeki itu karunia Allah dan hanya Dia yang bisa memberi atau menolak, seseorang yang berinfak disebut sebagai ‘pemberi pinjaman’ kepada Allah. Hal itu berarti sebuah dorongan untuk gemar berinfak dan penegasan atas balasan berlipat ganda yang telah dijanjikan di dunia dan akhirat.”

Penafsiran yang disampaikan oleh KH Quraish Shihab di atas menjelaskan bahwa makna lafal hasanan yang dilekatkan pada qardhan (utang) adalah bermakna kerelaan seseorang mengorbankan hartanya dengan jalan infaq.

Orang yang demikian ini ibarat orang yang meminjami Allah dan baginya kelak dijanjikan berupa kelipatan pahala yang banyak baik di dunia maupun di akhirat. Penafsiran ini tampaknya senada dengan penafsiran Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya. Ia menyampaikan:

يحث تعالى عباده على الإنفاق في سبيله ، وقد كرر تعالى هذه الآية في كتابه العزيز في غير موضع

Artinya, “(Dengan ayat ini) Allah SWT menganjurkan kepada para hamba-Nya agar gemar berinfaq di jalan-Nya. Dia mengulang-ulang anjuran ini dalam kitab-Nya Yang Maha Mulia ini (Al-Qurân) dalam berbagai ayat yang lain,” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibn Katsir, http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya245.html).

Masih menurut Ibnu Katsir, berdasarkan hadits yang melatari turun ayat ini, sebagaimana disampaikan oleh Ibnu Abi Hat’im dari sahabat Abdullah Ibnu Mas’ud, sebuah keterangan menyebutkan bahwa:

لما نزلت : ( من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له ) قال أبو الدحداح الأنصاري : يا رسول الله وإن الله ليريد منا القرض ؟ قال : " نعم يا أبا الدحداح " قال : أرني يدك يا رسول الله . قال : فناوله يده قال : فإني قد أقرضت ربي حائطي . قال : وحائط له فيه ستمائة نخلة وأم الدحداح فيه وعيالها . قال : فجاء أبو الدحداح فناداها : يا أم الدحداح . قالت : لبيك قال : اخرجي فقد أقرضته ربي عز وجل

Artinya, “Ketika ayat (man dzal ladzi yuqridhulllaha qardhan hasanan fayudhâ’ifahu lahu)  ini turun, terdapat seorang sahabat yang bernama Abud Dahdah dari kalangan sahabat Anshar menghadap Rasulullah SAW dan berkata, “Wahai Rasulullah, sungguh Allah telah menghendaki kita agar mengutangi-Nya?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Benar, wahai Abud Dahdâh.’ Abud Dahdâh berkata, ‘Perlihatkan tangan Anda, Wahai Rasulullah!’ Ibnu Mas’ud berkata, ‘Lalu tangan Rasulullah diraih.’ Abud Dahdâh berkata, “Aku mengutangkan tembokku kepada Tuhanku.’ Ia melanjutkan, ‘Tembok itu terdiri atas 600 pohon kurma yang Ummud Dahdâh beserta keluarganya tinggal di dalamnya.’ Ibnu Mas’ud kemudian berkata, ‘Lalu pulang Abud Dahdâh menghampiri istrinya dan memanggilnya, ‘Wahai Ummud Dahdâh!’ Sang istri menjawab, ‘Saya, suamiku.’ Abud Dahdâh berkata, ‘Keluarlah kamu! Aku telah mengambil janji mengutangkan semua ini kepada Tuhanku Yang Maha Mulia lagi Maha Agung,’” (Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir, http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura2-aya245.html).

Tindakan Abud Dahdâh ini merupakan bentuk pengamalan dari ayat yang berisi qardhan hasanan di atas. Artinya, ayat itu berkisah tentang kerelaan sahabat dalam menginfakkan hartanya di jalan Allah sebagaimana disinggung oleh kedua mufassir di atas. Hadits riwayat tafsir ini juga disampaikan oleh mufassir yang lain, yaitu Al-Baghawy, At-Thabary dan Al-Qurthuby. Syekh Jalâluddin Al-Mahally menyampaikan dalam Tafsir Jalâlain secara umum pengertian yang sama.

Ada penafsiran lain terkait dengan “qardhan hasanan” berdasar hadits riwayat sahabat Umar bin Khathab dalam rupa hadits marfu’ yang sanadnya bersambung sampai Rasulullah SAW. Umar berkata هو النفقة في سبيل الله (yaitu, infaq di jalan Allah SWT). Dalam penafsiran lain disebutkan هو النفقة على العيال  (yaitu, memberikan nafkah kepada keluarga).

Ada juga ulama yang menafsirkan sebagai هو التسبيح والتقديس (yaitu, membaca tasbîh dan taqdîs (penulis memahasucikan Allah dan menyucikan dari segala bentuk hal yang mengarah kepada penyekutuan).

Riwayat hadits lain yang menjelaskan proses turunnya ayat menjelaskan bahwa ayat ini turun setelah Surat Al-Baqarah ayat 261 dan berfungsi menjelaskannya. Allah SWT berfirman:

مثل الذين ينفقون أموالهم في سبيل الله كمثل حبة أنبتت سبع سنابل

Artinya, “Perumpamaan orang-orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah adalah seperti menanam sebuah biji, yang darinya tumbuh tujuh tandan,” (Surat Al-Baqarah ayat 261).

Saat itu, kemudian Nabi SAW berdoa رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Lebihkan atas umatku!). Dari sini lalu turun ayat من ذا الذي يقرض الله قرضا حسنا فيضاعفه له أضعافا كثيرة (Siapa saja yang memberikan pinjaman kepada Allah dengan pinjaman yang baik, maka Allah akan melipatkan baginya berupa pahala dengan kelipatan yang banyak). Ternyata Rasulullah SAW tidak berhenti sampai di sini. Ia berdoa lagi: “رب زد أمتي (Wahai Tuhanku! Berikan tambahan lagi atas umatku!). Lalu turunlah ayat yang lain:

قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

Artinya, “Katakan [Muhammad]! Wahai hamba-Ku yang terdiri atas orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah. Bagi mereka yang telah berbuat baik di dalam kehidupan dunia ini, terdapat sebuah kebaikan (yang dijanjikan). Bumi Allah teramat luas. Sungguh, orang-orang yang penyabar akan diberikan pahala yang tidak dapat dihitung,” (Surat Az-Zumar ayat 10).

Yang menarik dari tafsir ayat dengan ayat ini, adalah ada diksi yang disertakan dalam Surat  Az-Zumar ayat 10 di atas. Diksi itu adalah وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Penggunaan diksi ini sebagaimana disinggung oleh Mujâhid, makna wâsi’ah selalu identik dengan makna rezeki dunia berupa materi.

Walhasil, penafsiran terhadap Surat Al-Baqarah ayat 245 di atas, seolah menjadi bermakna: “bahwasanya orang yang telah berbuat baik di dunia sebagaimana diibaratkan telah mengutangi Allah, maka bagi dirinya akan diberikan balasan selain berupa pahala yang banyak, dirinya juga akan diberi balasan di dunia berupa materi.”

Dengan kata lain, makna “hasan” pada ayat itu, tidak hanya sebuah perbuatan baik yang berkonotasi akhirat, melainkan juga dunia. Jika makna ayat ternyata juga berkonotasi pada dunia, maka yang dimaksud “mengutangi Allah dengan jalan yang baik,” adalah juga bermakna memberikan pinjaman kepada sanak kerabat yang membutuhkan pinjaman, dan pinjaman itu disampaikan dengan cara yang baik karena semata mengharap ridha Allah.

Dalam konteks fiqih, hal ini disebut dengan istilah pinjaman tabarru’ (sukarela). Karena yang diharapkan hanya ridha Allah, maka tidak ada syarat yang turut disertakan. Namun, pemaknaan ini berasal dari sudut pandang orang yang meminjami (muqridh).

Adapun kewajiban yang berlaku atas orang yang meminjam adalah sebagaimana disinggung oleh Allah SWT dalam Surat Az-Zumar ayat 10, yaitu berbuat ihsân atas pinjaman yang diberikan. Antara hasan dan ihsân terdapat “manajemen risiko” yaitu berupa istihsân sebagaimana disinyalir lewat penggalan ayat وأرض الله واسعة (Bumi Allah teramat luas). Inilah pengamalan dari ihsân sebagaimana terdapat dalam hadits Jibril yang telah disinggung dalam awal tulisan ini. Wallâhu a’lam bis shawâb.
 

Muhammad Syamsudin, Peneliti Bidang Ekonomi Syariah, Aswaja NU Center PWNU Jawa Timura