IMG-LOGO
Khutbah
KHUTBAH

Khutbah Jumat: Merawat Kebhinekaan Indonesia 

Rabu 27 November 2019 10:00 WIB
Khutbah Jumat: Merawat Kebhinekaan Indonesia 
Ilustrasi: (linikini)
Khutbah I

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ هَدَانَا لِلْإِيْمَانِ وَالْإِسْلَامِ* وَخَصَّنَا بِشَرِيْعَةِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ* أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اَلْمُنْعِمُ الْمَنَّانُ* وَأَشْهَدُ أَنَّ مَحُمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اَلْمَبْعُوْثُ بِخَيْرِ الْأَدْيَانِ * اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ اَلسَّادَاتِ الْأَعْيَانِ*
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَهُوَ أَصْدَقُ الْقَائِلِيْنَ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ ، يَاآيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّاوَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، أّمَّابَعْدُ
 
 
Hadirin Sidang Jumat yang Dirahmati Allah!
Puji dan syukur marilah kita sama-sama panjatkan ke hadirat Allah. Alhamdulillah, di tengah kesibukan, kita masih diberikan kekuatan untuk memenuhi panggilan salat Jumat ini. Kekuatan itu tentu tidak lahir dari hati yang kosong tanpa keyakinan bahwa hidup bukan sekadar mengejar nikmat duniawi, tetapi juga nikmat ukhrawi.

Shalawat dan salam semoga tetap terlimpah kepada Baginda Alam Habibana wa Nabiyyana Muhammad saw., sosok yang gigih memperjuangkan keimanan umatnya. Alhamdulillah, berkat kegigihan itu, kita masih punya secercah keimanan yang mudah-mudahan kuat kita pertahankan hingga napas penghabisan. Sebab, musibah paling besar bagi kita adalah kematian tidak membawa iman, naudzu billah.

Shalawat dan salam juga semoga dilimpahkan pada keluarga dan para sahabatnya, juga mudah-mudahan kita diakui sebagai umatnya yang mendapatkan syafaat darinya. Amin yarabbal alamin.

Hadirin sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Kita sama sekali tidak setuju terhadap aksi teror, kekerasan, kekejaman, dan kebiadaban di mana pun, oleh siapa pun, dan atas nama apa pun. Sebab semua aksi itu hanya akan menyebabkan korban sia-sia dan merusak peradaban yang sudah ada.

Bayangkan di belahan dunia sana bangunan-bangunan yang susah payah dibangun puluhan tahun, harus hancur seketika. Belum lagi korban meninggal dan korban luka. Aksi-aksi tak berkemanusiaan itu pastikan tidak terjadi di Indonesia, sehingga bintik-bintik yang mengantarkan perpecahan dan merusak kebhinekaan harus kita singkirkan sejak dini.

Alhamdulillah suasana bangsa kita masih dan semoga tetap kondusif, aman,  dan damai seperti ini. Tugas kita adalah menjaga dan melestarikan suasana itu, seraya memastikan diri kita tidak terjebak dalam pusaran permusuhan dan kebencian. Sebab kita sama sekali tidak menginginkan Indonesia masuk ke dalam pusaran konflik atau perseteruan dengan sesama, baik sesama saudara seiman, sesama anak bangsa, maupun sesama umat manusia yang berbeda agama. 

Hadirin yang dirahmati Allah ​​​​​
Namun, tak bisa dipungkiri ada pihak-pihak yang ingin mengusik keutuhan bangsa dan kerukunan hidup beragama. Tampaknya, di tengah keragaman suku, agama, dan budaya yang ada, masih saja ada yang belum menyadari arti keragaman dan kebhinekaan itu. Terutama di media-media sosial atau media online, hadirin masih kerap mendengar ungkapan-ungkapan bernada hasutan, menyalahkan, menganggap diri paling benar, dan menganggap pihak lain salah, bahkan tak segan melontarkan label kafir, munafik, dan sesat, yang tentu dalam pandangan Islam, kata-kata itu tidak saja bersifat konseptual, tetapi juga bermuatan negatif bahkan provokatif.

Sejarah sudah membuktikan, terjadinya perang saudara akibat label-label tadi. Istilah munafik atau kafir sering kali dijadikan klaim dan wilayah hitam-putih sekaligus pembenaran untuk memerangi, bahkan membunuh mereka yang tidak seakidah. Ini yang tidak boleh kita terima dalam konteks bangsa Indonesia yang memiliki keragaman suku, budaya, begitu pula agama.

Yang lebih membahayakan, label-label itu tak saja dilontarkan kepada yang tidak seakidah, tetapi juga kepada sesama umat Islam yang tidak seideologi. Inilah, yang dalam hemat khatib, menjadi salah satu bintik kebencian, kekerasan, dan perseteruan antarsaudara, sekaligus perusak kerukunan inter dan antarumat beragama.     

Karena itu, acap kali terdengar orang yang mengesankan Islam sebagai agama keras, agama perang, dan antiperdamaian. Padahal, semua itu hanya ulah segelintir orang yang mengatasnamakan Islam, yang ingin mencoreng dan merusak wajah Islam yang ramah dan toleran, baik terhadap sesama seagama maupun yang berlainan agama. Banyak ayat dan hadis yang menyatakan hal itu. Bahkan, nama islam itu sendiri sejatinya berarti ‘damai’, ‘selamat’, ‘kepasrahan’. Marilah kita simak arti ayat yang menyebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً

Artinya, “Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, (Surat Al-Baqarah ayat 208);

Dalam hadits dinyatakan:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيْدِهِ

Artinya, “Muslim sejati adalah muslim yang orang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Jika saja kita mengacu kepada Islam yang berarti ‘damai’ atau ‘selamat’, maka arti ayat tersebut kurang lebih berbunyi, “Masuklah kalian ke dalam kedamaian secara keseluruhan” atau “Masuklah kalian ke dalam keselamatan secara keseluruhan.” Ini artinya bahwa tatkala seorang mendeklarasikan diri untuk memeluk Islam, maka dia harus siap dengan konsekuensi keislamannya, yaitu menciptakan kedamaian dan keselamatan.

Damai dalam pengertian kewajiban bersama yang harus dijalankan umat Islam; dan selamat dalam pengertian orang lain sesama muslim bahkan yang bukan muslim, selamat dari segala bentuk kekerasan, penindasan, penghinaan, penganiayaan dan seterusnya.

Ayat di atas juga dengan sangat jelas mengisyaratkan bahwa umat Islam harus totalitas menjaga kedamaian dan keselamatan antarsesama. Bukan saja memberikan rasa damai kepada kelompok atau kepada orang yang seakidah dengannya, melainkan juga kepada sesama manusia, bahkan seluruh alam atas dasar kasih sayang dan saling mencinta. Mari perhatikan kembali ayat yang menyebutkan:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ 

Artinya, “Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam,”  (Surat Al-Anbiya ayat 107).

Dengan demikian, tatkala sewaktu-waktu muncul konflik atau perselisihan di tengah masyarakat, maka umat Islam sudah seharusnya bersikap lebih arif, mengambil jalan damai, dan menempuh cara-cara yang humanis, bukan jalan kekerasan dan keributan, apalagi mengatasnamakan agama, sebab kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru.

Ledakan bom di Mapolrestabes Medan beberapa waktu lalu cukuplah kejadian yang terakhir. Jalan damai yang ditempuh harus menjadi tradisi bersama dalam menyelesaikan permasalahan di tengah bangsa ini. Kita tentu tidak mengharapkan insiden serupa terjadi. Beginilah seharusnya umat Islam menjaga keutuhan dan kesatuan bangsa. Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa kesatuan dan kedamaianlah yang menjadikan kita kuat, bukan perselisihan, bukan pula saling tuduh dan saling menyalahkan yang tiada akhir.

Mudah-mudahan Islam senantiasa menjadi oasis di gurun pasir, bukan sebagai alasan pecahnya konflik seperti di negara-negara gurun pasir! Oleh sebab itu,  marilah kita pertebal keimanan, bentengilah diri kita dengan ketakwaan sebab tantangan zaman semakin berat, di samping kita harus terus memperbaikinya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ. فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِاْلاِتِّحَادِ وَاْلاِعْتِصَامِ بِحَبْلِ اللهِ الْمَتِيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ، إِيَّاهُ نَعْبُدُ وَإِيَّاُه نَسْتَعِيْنُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. اِتَّقُوا اللهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.. وَصَلَّى الله عَلَى سَيِّدَنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْ مِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتْ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَ نَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ 

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ. 

أقيموا الصلاة
 

Ustadz M. Tatam Wijaya, alumni Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi. Kini ia mengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
Share:

Baca Juga