Home Khutbah Hikmah Ekonomi Syariah Bathsul Masail Ubudiyah Fiqih Difabel Warisan Zakat Nikah Video Foto Download

Jelang Wafat, Mbah Ngis Tersenyum Dengar ‘Salamun Qaulan min Rabbin Rahim’

Jelang Wafat, Mbah Ngis Tersenyum Dengar ‘Salamun Qaulan min Rabbin Rahim’
Foto Mbah Ngis (kiri) bersama sang suami, Mbah Dullah.
Foto Mbah Ngis (kiri) bersama sang suami, Mbah Dullah.

Mbah Ngismatun Sakdulllah binti KH Abdul Mannan (biasa dipanggil Mbah Ngis, wafat 1994) adalah salah seorang saudara (adik tunggal ayah) dari KH Ahmad Umar bin Abdul Mannan – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan Solo Jawa Tengah yang wafat pada tahun 1980. Semasa hidupnya Mbah Ngis kerap disebut oleh teman-teman, para tetangga dan saudara-saudaranya sebagai “Sewu Siji” yang maksudnya adalah “Perempuan 1001.”mbah

 

Sebutan itu diberikan kepada Mbah Ngis oleh orang-orang di sekitarnya yang mengenal Mbah Ngis secara pribadi dalam kehidupannya sehari-hari. Mbah Ngis dikenal sebagai seorang perempuan luar biasa dalam hal keikhlasan dan kesabaran dalam menjalani hidup. Banyak yang mengatakan kesabarannya dia peroleh tidak dengan berlatih tetapi sudah “gawan bayi” alias anugerah dari Allah suhhanahu wata’ala.

 

Salah satu contoh kesabaran yang pernah diceritakan oleh adik Mbah Ngis, yakni Mbah Nyai Hj. Umi Kultsum Jamiul Abror (wafat 2018) kepada salah seorang putrinya, Mbak Najibah, adalah ketika adik Mbah Ngis tersebut masih kecil sering minta digendong Mbah Ngis dan sulit diminta turun meski hanya sebentar saja karena Mbah Ngis harus segera melaksanakan shalat mengingat waktu sudah hampir habis.

 

Karena kesabaran Mbah Ngis, sang adik tetap dalam gendongan ketika Mbah Ngis berwudhu. Hingga shalat pun sang adik tetap dalam gendongan Mbah Ngis karena memang tidak mau lepas dari gendongannya. Ketika itu Mbah Ngis masih remaja, yakni saat umurnya sekitar 15 tahun, sedang sang adik berumur sekitar 5 tahun.

 

Kesabaran Mbah Ngis momong adik dan membantu ibunya, Mbah Nyai Abdul Mannan (wafat 1980) menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, menjadikan Mbah Ngis dipertahankan tetap tinggal di rumah dan tidak dipondokkan ke pesantren manapun. Hal ini berbeda dengan putra-putri Mbah Kiai Abdul Mannan (wafat 1964) yang kesemuanya di pondokkan untuk mengenyam pendidikan di pesantren lain dan bersekolah. Akibatnya, Mbah Ngis tidak bisa baca tulis kecuali huruf-huruf Al-Quran karena sempat mendapat bimbingan dari abang-abangnya, terutama Mbah Kiai Ahmad Umar.

 

Mbah Ngis ikhlas tidak dipondokkan berkat kesabaran dan kepatuhannya kepada kedua orang tua, terutama kepada sang ibu. Mbah Ngis setiap kali dipanggil oleh Mbah Nyai Abdul Mannan, selalu bergegas menjawabnya. Dalam keadaan apa pun, Mbah Ngis akan tergopoh-gopoh menghadap ibundanya begitu mendengar namanya dipanggil. Meski sedang shalat pun (shalat sunnah), Mbah Ngis segera menjawab panggilan itu dengan langsung membatalkan shalatnya lalu melepas mukena seraya mengatakan,“Inggih Mbok, wonten dhawuh punapa?” (Iya Ibu, saya siap, ada perintah apa?)

 

Ketika sudah berumah tangga, kesabaran Mbah Ngis makin menunjukkan bahwa itu merupakan anugerah dari Allah suhhanahu wata’ala. Pada suatu hari Mbah Ngis melahirkan anak sendirian di tengah malam, yakni saat melahirkan anak kelima pada tahun 1965. Tak ada dukun bayi atau bidan di sampingnya saat itu. Apalagi dokter kandungan.

 

Dalam keadaan seperti itu Mbah Ngis berusaha memanggil-manggil nama seorang kakak ipar yang rumahnya agak dekat dengan rumah Mbah Ngis untuk meminta tolong. Tetapi tidak didengarnya karena hari tengah malam. Saat itu Mbah Dullah (wafat 2005) ada di luar kota. Maklum saat itu pengetahuan tentang HPL (hari perkiraan lahir) belum semaju sekarang.

 

Akhirnya Mbah Ngis secara total berpasrah diri kepada Allah suhhanahu wata’ala dengan tetap berikhtiar mengapit-mengapitkan kakinya pada si bayi agar tak jatuh dari tempat tidur hingga pagi hari demi keselamatannya. Mbah Ngis tersadar akan bahaya yang bisa mengancam keselamatan bayi dan dirinya. Mbah Ngis tiba-tiba merasa seperti pernah mendengar sebuah pesan agar ari-ari atau tali pusar tak masuk kembali ke dalam kandungan, maka perut bagian bawah harus diikat.

 

Mbah Ngis kemudian segera meraih selembar jarik di sampingnya dan mengikatkannya secara kencang pada bagian di bawah pusar sambil melafalkan, "Bismillâh tawakkaltu alallâh walâ haula walâ quwwata illâ billâh." Dalam kepasrahan diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta, Mbah Ngis terus-menerus berdoa memohon pertolongan-Nya.

 

Keesokan harinya di saat Subuh, kakak ipar yang dimaksudkan Mbah Ngis mendengar tangis bayi. Beliau segera datang memberikan pertolongan pada Mbah Ngis dengan selekasnya mengupayakan hadirnya seorang bidan untuk menyelesaikan persalinannya. Benar, seorang bidan yang tidak terlalu jauh rumahnya dari rumah Mbah Ngis segera datang dan berhasil menolong Mbah Ngis dan bayinya.

 

Kesabaran Mbah Ngis tidak berhenti hanya sampai di situ. Pada suatu hari, Mbah Ngis kedatangan tamu sepasang suami istri. Sang suami adalah kawan Mbah Dullah sesama makelar. Kedatangan tamu pasutri itu ke rumah Mbah Ngis sebenarnya terkait dengan cekcok di antara mereka. Sebelumnya mereka bertengkar di rumah karena sang suami sering pulang dari makelaran dengan tangan hampa.

 

Dalam perkenalannya dengan Mbah Ngis, sang istri hanya ingin membuktikan apakah benar cerita suaminya bahwa Mbah Ngis selalu besikap sabar ketika Mbah Dullah pulang ke rumah tanpa membawa uang serupiah pun. Mbah Ngis mempersilakan Mbah Dullah menjawab pertanyaan itu. Lalu Mbah Dullah menjelaskan bahwa Mbah Ngis sebagai istrinya tak pernah marah kepadanya ketika pulang tanpa membawa uang. Tak puas dengan jawaban Mbah Dullah, sang istri meminta Mbah Ngis untuk menjawabnya sendiri.

 

Mbah Ngis pun membenarkan apa yang diceritakan Mbah Dullah tentang dirinya. Entah setan mana yang merasuki sang istri, ia membentak-bentak Mbah Ngis. Ia mengatakan bahwa seorang istri harus tegas terhadap suami. Jika tak ada uang, suami tak usah dilayani. Ia menyalahkan Mbah Ngis sebagai seorang istri yang bodoh.

 

Menanggapi hujatan seperti itu, Mbah Ngis menjelaskan bahwa rezeki keluarga bisa melalui pintu mana saja dan tidak harus atau melulu lewat suami. Mbah Ngis mencontohkan bahwa rezeki yang diterimanya dari berjualan makanan kecil dan es kucir di pondok dari pagi hingga malam hari bisa jadi sebenarnya tertuju kepada Mbah Dullah tetapi d/a Mbah Ngis. Mendengar jawaban itu, sang istri mengatakan penjelasan Mbah Ngis sulit diterima akal. Ia meminta diri dan menarik pundak sang suami dengan kasar untuk mengajaknya segera pulang.


Dalam berjualan di pondok dalam rangka membantu Mbah Dullah mencari nafkah, kesabaran Mbah Ngis juga teruji karena terkadang ada anak-anak yang tidak jujur, yakni mengambil jajanan tanpa bayar. Hal seperti ini wajar terjadi di kalangan anak-anak sekolah. Terhadap anak-anak yang berbuat seperti itu, Mbah Ngis seringkali berpura-pura tidak tahu tetapi tetap berusaha mengingatnya agar sewaktu-waktu ketika sepi dan tidak ada orang lain, Mbah Ngis dapat menasihatinya dengan baik. Perlakuan seperti itu cukup efektif untuk menyadarkan mereka dari perilakunya yang salah dan cukup membuatnya jera. Juga tidak jarang membuat mereka merasa dihargai dan ditutup aibnya.

 

Di kemudian hari ketika mereka telah menjadi orang tua, mereka masih ingat Mbah Ngis meskipun Mbah Ngis sudah meninggal dunia sekaligus teringat dahulu pernah merugiknnya. Selama beberapa tahun terakhir ini, Mbah Ngis beberapa kali mendapat kiriman uang dari mereka lewat wesel Pos Indonesia atau via kurir yang mengakui secara terus terang bahwa dahulu sewaktu masih kecil di pondok pernah mengambil jajanan di warung Mbah Ngis tanpa bayar.

 

Mereka mengakui jumlah uang yang mereka kirim jauh lebih besar daripada yang mereka ambil dari warung Mbah Ngis karena kiriman uang itu sekaligus sebagai syukuran sekaligus tahadduts bin ni’mah bahwa kini mereka telah cukup sukses dalam hidupnya dengan pekerjaan masing-masing.

 

Dengan adanya kiriman-kiriman uang yang ditujukan kepada Mbah Ngis pribadi, anak-anak Mbah Ngis merasakan Mbha Ngis seolah-olah masih hidup karena masih diberi rejeki oleh Allah suhhanahu wata’ala dan menafkahi keluarganya yang telah lama ditinggalkannya sejak 1994. Mbah Ngis wafat karena kanker rahim 13 tahun setelah melahirkan anak ke-13.

 

Mbah Ngis Menjelang Wafat

 

Pada bulan Rajab 1994, Mbah Ngis mengalami pendarahan di rahimnya. Pada awalnya Mbah Ngis mengira bahwa hal itu sebagai gejala menopause bagi perempuan yang sudah mencapai usia lebih dari 50 tahun seperti Mbah Ngis. Tetapi ketika pendarahan semakin parah dan menimbulkan ketidaknyamanan di sekujur badan, Mbah Ngis periksa ke dokter.

 

Dari dokter Mbah Ngis mendapat surat pengantar untuk periksa darah dan urine di sebuah laboratorium. Hasil laborat menunjukkan Mbah Ngis mengidap penyakit kanker rahim. Dokter mengatakan Mbah Ngis harus operasi. Kalau tidak, usia Mbah Ngis tidak akan sampai lebaran Idul Fttri 1414 H.

 

Mendengar vonis kanker oleh dokter, Mbah Ngis tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Mbah Ngis hanya diam menahan kesedihan. Sedih bukan saja karena sakit kanker tetapi juga bagaimana cara berikhtiar yang baik agar diberinya kesembuhan. Mbah Ngis akhirnya memutuskan untuk tetap berobat ke dokter tetapi yang tidak memintanya operasi.

 

Mbah Ngis berpikir operasi atau tidak akan sama saja tidak ada jaminan sembuh karena soal hidup dan mati Allah sudah mengatur. Mbah Ngis mengatakan, jika aku dioperasi lalu tidak berhasil, aku akan mati dengan meninggalkan keluarga dengan banyak anak dan utang yang sangat besar, sementara tubuhku koyak karena beberapa luka operasi.

 

Namun dokter seperti yang diinginkan Mbah Ngis tidak ada di Solo; adanya di Malang. Oleh karena itu Mbah Ngis dibawa ke Surabaya ke rumah anak tertua Mbah Ngis – Mbak Idha Anang - agar lebih dekat dengan Malang setiap kali periksa dokter. Di Malang, Mbah Ngis tidak dioperasi, tetapi oleh dokter diberi obat yang harus diminum setiap hari. Kankernya memang hancur, tetapi ada efek samping pada jantung. Jantung Mbah Ngis tidak cukup kuat dan bengkak. Pembengkakan ini membuat kesehatan Mbah Ngis menurun dari hari ke hari.

 

Dalam kondisi seperti itu, pada Jum’at pagi 7 Ramadhan 1414 H bertepatan dengan tahun 1994 M, Mbah Ngis menyampaikan beberapa wasiat untuk anak-anaknya, antara lain berisi agar mereka tetap rukun, sabar, dan istiqamah dalam beribadah. Mbah Ngis juga memberitahukan kepada mereka, khususnya kepada Mbak Siti Rochmah - anak ke-6 Mbah Ngis - bahwa sang ibu memiliki tabungan uang logam atau koin sebanyak 3 kaleng yang disimpannya di bawah kolong meja di warungnya di Solo.

 

Kepada anak ke-6 tersebut, Mbah Ngis berpesan bahwa uang itu sengaja dikumpulkan dan sudah diniati untuk aqiqah bagi putri ke-11 Mbah Ngis yang sudah meninggal sebelum diaqiqahi pada tahun 1980 dalam usia 3 tahun. Daging aqiqah itu supaya dihidangkan untuk menjamu tamu-tamu pada acara Khataman Al-Quran dan Haul Pondok Mangkuyudan pada tahun itu. Ternyata nilai koin yang disimpan Mbah Ngis dalam 3 kaleng itu cukup besar untuk membeli 2 ekor kambing pada saat itu.

 

Pada Jumat sore, 7 Ramadhan 1414 H, kondisi Mbah Ngis kritis. Mbah Dullah sudah cukup pengalaman dalam mengenali tanda-tanda orang yang akan meninggalkan dunia. Misalnya, dari telingnya yang sudah lisut. Melihat hal itu Mbah Dullah segera membacakan surat Yasin. Ketika sampai pada ayat ke-58, yakni “Salamun Qaulan Min Rabbin Rahim(“Salam” sebagai ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang), Mbah Dullah membacanya berulang hingga tiga kali. Pada saat mendengar itu, Mbah Ngis tersenyum simpul.

 

Diiringi senyum yang merekah, Mbah Ngis menjulurkan tangan kanannya kepada Mbah Dullah - suami yang dihormati dan dicintainya tanpa syarat. Mbah Dullah sebagai suami cukup paham dengan ajakan Mbah Ngis untuk besalaman, yakni permohonan maaf sekaligus pamit Mbah Ngis untuk pulang ke rahmatullah selamanya. Mbah Dullah seketika itu menyambut jabat tangan itu sambil berucap dengan gemetaran, “Aku ikhlas, aku ridha ibune.”

 

Beberapa saat kemudian Mbah Ngis bercerita baru saja bertemu dengan ayahandanya – Mbah Kiai Abdul Mannan yang telah wafat pada tahun 1964. Juga bertemu dengan abangnya - Mbah Kiai Umar Abdul Mannan yang telah wafat pada tahun 1980. Juga bertemu dengan keponakannya – Mas Munawar Shodiq yang wafat pada tahun 1993. Kesemuanya memberikan senyum kepada Mbah Ngis.

 

Tak hanya itu Mbah Ngis juga bercerita baru saja melihat seorang temannya yang sudah mendahului. Dalam ceritanya, Mbah Ngis mengatakan teman tersebut keadaannya menyedihkan. Sewaktu masih sehat, Mbah Ngis memang pernah bercerita tentang temannya yang lahir dari keluarga Muslim. Ia beragama Islam hingga usia dewasa. Tetapi ketika menikah dengan suaminya, ia sudah berpindah agama.

 

Setelah itu Mbah Ngis sudah tidak berkomunikasi lagi dengan anak-anak dan suami di rumah anak tertua di Surabaya. Tetapi wajah Mbah Ngis makin berseri dengan bibir masih bergerak-gerak pelan yang dapat diikuti sebagai mengucapkan Allah... Allah... sebagaimana kebiasan Mbah Ngis menyebut asma-Nya baik di kala suka maupun duka. Pada Sabtu pagi, 8 Ramadhan 1414 H bertepatan dengan 19 Pebruari 1994 M, sekitar jam 07.00 WIB, anak-anak Mbah Ngis, laki-laki dan perempuan, sudah banyak yang berada di Surabaya.

 

Mereka berkumpul dan bersimpuh di samping kiri dan kanan Mbah Ngis yang berbaring di atas tempat tidur. Mereka membacakan Surat Yasin dan mendoakan husnul khatimah bagi Mbah Ngis apabila Allah memang sudah menghendakinya. Mbah Ngis sudah tidak bisa diajak berkomunikasi lagi meski bibirnya masih sesekali terlihat komat-kamit tanpa suara. Sepertinya Mbah Ngis sudah berkonsentrasi penuh menyambut ajal dengan kehadiran malaikat Izrail di sisinya.

 

Di saat itu, sebetulnya Mbah Ngis sudah wafat dengan jantungnya yang sudah pecah, tetapi tidak ada seorang pun tahu kapan persisnya ruh Mbah Ngis dijemput Malaikat Izrail karena keadaan Mbah Ngis hanya seperti orang yang sedang tidur nyenyak. Kepastian Mbah Ngis sudah wafat disampaikan oleh dokter yang datang segera setelah itu untuk memeriksa. Tangis pilu anak-anak Mbah Ngis seketika meledak mendengar keterangan dokter. Inna lillahi wa inna ilihai rajiun.

 

Jenazah Mbah Ngis pada hari itu juga menjelang dzuhur dibawa pulang ke Solo dengan mobil ambulance. Keesokan harinya Mbah Ngis baru dimakamkan di sebelah kiri makam ayahandanya- Mbah Kiai Abdul Mannan di Makam Saripan Makamhaji Pajang Kartosuro Sukoharjo.

 

Komplek makam ini dinamakan Saripan karena di sana terdapat makam-makam: Syarif Husain bin Ibrahim Al-Haddad, Syarif Hasyim bin Ibrahim Al-Haddad, dan Syarif Alwi bin Ibrahim Al-Haddad. Menurut beberapa cerita masyarakat sekitar, beliau-beliau adalah para tokoh yang turut menyerbarkan agama Islam, khususnya di kota Solo. Ketiga ulama tersebut merupakan guru spiritual dari Kanjeng Susuhunan Prabu Mangkurat yang bertahta di Kartasura. Sedangkan bangunan makam itu sendiri dibangun pada 1851.

 

Usia Mbah Ngis pada waktu wafat adalah 53 tahun – usia yang sebetulnya belum cukup tua. Hingga usia ini Mbah Ngis dipanggil “Lik Ngis” oleh santri-santi Pondok Mangkuyudan. Tetapi orang-orang sekarang suka menyebutnya Mbah Ngis karena seandainya masih hidup usia Mbah Ngis kini genap 79 tahun.

 

 

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta.

BNI Mobile