IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Amalan Jaga Konsentrasi ala Rasulullah SAW

Sabtu 19 Maret 2016 1:3 WIB
Share:
Amalan Jaga Konsentrasi ala Rasulullah SAW
Konsentrasi terlebih lagi pada saat kritis adalah barang mahal yang tidak dijual di toko. Memang ada banyak sebab yang dapat memecah konsentrasi pikiran seseorang. Pelbagai ingatan justru hadir saat tidak dikehendaki. Pikiran-pikiran kadang melintas begitu saja memotong garis konsentrasi.

Kurangnya konsentrasi ini dapat membawa kerugian besar. Karenanya konsentrasi perlu dipelihara dengan baik.

Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin ila Jannati Rabbil ‘Alamin menyinggung sebuah doa di dalam Al-Quran yang Allah SWT perintahkan kepada Nabi Muhammad SAW agar pikiran-pikiran yang tidak dikehendaki tersingkir. Doanya sebagai berikut,

وَقُلْ رَّبِّ أَعُوْذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِيْنِ وَأَعُوْذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَّحْضُرُوْنِ

Artinya, “Waqur rabbi a‘ûdzubika min hamazâtis syayâtîn wa a‘ûdzubika rabbi ay yahdlurûn (Katakanlah [hai Muhammad], ‘Aku berlindung kepada-Mu ya Allah dari gangguan setan. Aku juga berlindung kepada-Mu dari kepungan mereka,’” QS Al-Mukminun ayat 97-98).

Kalau makhluk-Nya yang paling mulia, paling berilmu, dan paling diperhatikan diperintahkan untuk berlindung kepada Allah, apalagi kita sebagai manusia biasa. Kita lebih layak mengamalkan doa ini. Demikian keterangan Imam Al-Ghazali dalam Minhajul ‘Abidin.

Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Jampes, Kediri dalam karyanya Sirajut Thalibin ala Minhajil ‘Abidin menguraikan lebih lanjut pernyataan Imam Al-Ghazali itu sebagai berikut.

اي يحوموا حولي في شيء من الأحوال وخصوصا حال الصلاة و قراءة القرآن و حلول الموت لأنها أحرى الأحوال بأن يخاف عليه فيها كما في البيضاوي

Artinya, “’Aku berlindung kepada-Mu ketika setan-setan itu dari segala arah menghampiriku di waktu-waktuku.’ Terlebih lagi saat sembahyang, membaca Al-Quran, dan saat ajal mendekat. Karena tiga kondisi ini lebih layak lagi sebagai waktu paling kritis untuk berlindung kepada Allah. Demikian disebutkan Imam Al-Baidlawi.”

Di waktu-waktu tertentu, kita membutuhkan konsentrasi penuh. Tetapi kepingan pikiran-pikiran yang dibawa setan saat sembahyang, membaca Al-Quran, dan ajal mendekat perlu disingkirkan dengan harapan perlindungan dari Allah SWT agar kita selamat melewati tiga kondisi dan juga saat-saat lainnya dengan sejahtera. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Share:
Ahad 13 Maret 2016 17:5 WIB
Anjuran Nabi SAW Sebelum Berpergian
Anjuran Nabi SAW Sebelum Berpergian
Tidak nikmat rasanya hidup ini jika tiap hari hanya dihabiskan di rumah. Sesekali kita perlu juga melangkah ke luar, pergi ke tempat pariwisata, atau mengunjungi karib kerabat. Ketika hendak berpergian, jangan lupa pamitan, minta restu, dan doa keluarga terutama untuk perjalanan jauh dan lama.

Selain pamitan, Rasulullah SAW menganjurkan shalat dua rakaat sebelum meninggalkan rumah.

Amaliah ini rutin Beliau lakukan ketika hendak berpergian. Apalagi saat meninggalkan rumah untuk jangka waktu yang lama. Hal ini seperti yang dijelaskan Imam An-Nawawi dalam Al-Majmu’ Syarhul Muhadzzab,

يستحب إذا أراد الخروج من منزله أن يصلي ركعتين يقرأ في الأولى بعد الفاتحة (قل يا أيها الكافرون) وفي الثانية (قل هو الله أحد) ففي الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ما خلف عبد أهله أفضل من ركعتين يركعهما عندهم حين يريد سفرا. وعن أنس قال: كان النبي صلى الله عليه وسلم لاينزل منزلا إلا ودعه بركعتين، رواه الحاكم وقال هو صحيح على شرط البخاري ويستحب أن يقرأ بعد سلامه (آية الكرسي ولإيلاف قريش)

Artinya, “Disunahkan shalat dua raka’at menjelang keluar rumah. Pada rakaat pertama, disunahkan membaca surat Al-Kafirun dan membaca surat Al-Ikhlas untuk rakaat kedua. Dalam sebuah hadis Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Tidak ada amalan yang lebih utama ketika keluar rumah kecuali shalat dua raka’at”. Sahabat Anas menceritakan bahwa Nabi SAW tidaklah meninggalkan rumah sebelum shalat dua raka’at, (HR Al-Hakim). Setelah shalat, dianjurkan membaca ayat Kursi dan surat Quraisy.”

Sebelum keluar rumah, lakukanlah shalat dua raka’at. Dianjurkan membaca surat Al-Kafirun pada raka’at pertama, dan surat Al-Ikhlas pada raka’at kedua. Jangan lupa setelah shalat membaca ayat Kursi dan surat Quraisy.

Demikianlah amalan Nabi Muhammad SAW sebelum meninggalkan rumah. Semoga kita dapat mengamalkan dan membiasakannya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Senin 7 Maret 2016 7:30 WIB
GERHANA MATAHARI TOTAL
Ini yang Makruh saat Gerhana Tiba
Ini yang Makruh saat Gerhana Tiba
Menurut taksiran ahli astronomi dan ahli falak, gerhana matahari akan terjadi pada tanggal 9 Maret 2016. Di hari itu kita akan melihat fenomena alam yang tidak ditemukan biasanya pada hari lain.

Adanya gerhana ini secara tidak langsung membantah keyakinan orang yang menuhankan matahari dan bulan. Kedua benda langit tersebut tidak selamanya bercahaya. Pada suatu saat dia akan meredup. Ini juga menunjukan bahwa matahari dan bulan adalah makhluk Tuhan. Andaikan ia berkuasa atas dirinya, tentu dia akan selalu bersinar dan bercahaya.

Ketika menyaksikan gerhana, Nabi Muhammad SAW menganjurkan umatnya untuk shalat, memperbanyak dzikir, dan doa. Beliau SAW bersabda, “Apabila kalian melihat gerhana, tunaikan shalat dan berdo’a sampai kondisinya normal,” (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadits ini, ulama menghukumi shalat gerhana (khusuf dan kusuf) sebagai sunah mu'akkadah. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan Habib Zen bin Semit dalam At-Taqriratus Sadidah fi Masa’ilil Mufidah:

حكمها سنة مؤكدة ولو لمنفرد، ويكره تركها، وتسن جماعة وفي مسجد وإن ضاق

Artinya, “Hukum shalat khusuf dan kusuf adalah sunah muakkadah meskipun dikerjakan seorang diri. Sementara meninggalkannya makruh. Mengerjakan shalat gerhana berjamaah di masjid sangat dianjurkan walaupun tempatnya sempit.”

Lantaran shalat gerhana dianjurkan, maka meninggalkannya dimakruhkan. Dengan demikian, jika mendapati fenomena ini pada Rabu (9/3) nanti kita diharapkan untuk shalat secara berjamaah dan memperbanyak dzikir dan do’a. Jangan sampai saat terjadi gerhana, kita malah bersantai-santai sambil selfie di bawah lindungan gerhana matahari. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Ahad 6 Maret 2016 13:0 WIB
Waswas, Cara Setan Mengelabui Orang Shalat
Waswas, Cara Setan Mengelabui Orang Shalat
Foto Ilustrasi: Viva

Dalam salah satu karya yang berjudul Al-Kasyfu wat Tabyin fi Ghuruuril Khalqi Ajma'in, Abu Hamid Al-Ghazali membongkar macam-macam bentuk keterperdayaan yang dialami manusia saat mereka berusaha mendekatkan diri pada Allah melalui berbagai jalan ibadah. Salah satu dari bentuk ketertipuan manusia yang dikuak dalam risalah tersebut adalah berhinggapnya rasa waswas (keragu-raguan) pada seseorang ketika melaksanakan berbagai ritual ibadah khususnya dalam shalat.

Berdasarkan realitas keseharian kita dan pengalaman empiris di masyarakat, waswas memang bisa menghinggapi siapa saja. Fenomena waswas bisa ditemui baik di lingkungan pesantren maupun komunitas masyarakat umum. Berdasarkan pengamatan kami, orang terpelajar dalam pengertian orang yang sudah mengerti hukum fiqih, paham ketentuan dan kaifiyah pelaksanaan suatu ibadah tertentu, tidak lantas menjamin bahwa ia selamat atau bebas dari terkena waswas.

Menurut Al-Ghazali, rasa waswas acap menjangkiti kelompok ahli ibadah di antaranya adalah pada saat niat shalat. Setan tidak akan membiarkan begitu saja seseorang yang sedang berniat shalat secara sah. Namun Setan akan menggodanya hingga seseorang yang dilanda waswas itu tidak dapat menjumpai shalat jamaah, sehingga tertinggal dari kesempatan mengikuti shalat berjamaah.

Selanjutnya orang yang mengalami waswas ketika takbiratul ihram, lanjut Al-Ghazali, dapat berakibat mengubah sifat bacaan takbir tersebut dari yang semestinya, misalnya panjangnya takbir berlebihan dari ketentuan yang semestinya lantaran sangat berhati-hati. Selain itu waswas dalam takbiratul ihram ini juga membawa dampak orang tersebut tidak dapat konsentrasi mendengarkan bacaan Al-Fatihahnya imam.

Imam Al-Ghazali berasumsi bahwa orang yang didera waswas di sepanjang pelaksanaan shalatnya ini, dirinya telah tertipu oleh semua keragu-raguaan yang dialaminya, seraya tidak menyadari bahwa hadirnya hati (khusu') saat shalat itu wajib. Dirinya benar-benar terpedaya oleh godaan iblis dan dihiasi dengan keragu-raguan akan semua itu.

Menurut Al-Ghazali, sumber pemantik atau penyebab datangnya sikap waswas pada orang yang mendirikan shalat ini ialah karena kehati-hatian (ihtiyath) yang terlampau ekstrem agar bisa sama persis sebagaimana kriteria yang ditentukan oleh fiqih dan tajwid, seraya menduga bahwa kehati-hatian yang berlebihan itu menjadi pembeda antara shalat dirinya dengan shalatnya orang awam kebanyakan, sehingga dengan cara begitu ia berharap dirinya tetap lebih baik di sisi Allah. Padahal perasaan seperti itu tidak lain merupakan bisikan Iblis. (M. Haromain)