IMG-LOGO
Ilmu Tauhid

Kisah Aneh Bingungnya Imam al-Haramain soal Aqidah

Rabu 12 September 2018 13:30 WIB
Share:
Kisah Aneh Bingungnya Imam al-Haramain soal Aqidah
Imam al-Haramain (478 H) bernama lengkap Abul Ma'ali Abdul Malik bin Abdillah Al-Juwaini An-Naisaburi, atau dikenal secara luas sebagai Imam al-Juwaini atau Imam dua tanah suci (al-Haramain). Beliau adalah gurunya Imam al-Ghazali (505 H) sang Hujjatul Islam. Imam al-Haramain mempunyai kedudukan yang sangat tingi dalam keilmuan Ahlussunnah wal Jama’ah. 

Dalam bidang fiqih, beliau adalah orang yang pertama kali merangkum seluruh ragam pendapat ulama Syafi’iyah di masanya dalam satu kitab fenomenal yang bernama Nihayat al-Mathlab. Dari ringkasan dan komentar terhadap kitab inilah kemudian hampir seluruh kitab induk mazhab Syafi’i sejak abad ke-5 Hijriah lahir. Dalam bidang aqidah, beliau adalah salah satu tokoh yang mengembangkan pondasi berpikir manhaj aqidah Asy’ariyah.

Dengan reputasi yang sulit ditandingi siapa pun itu, level keilmuan Imam al-Haramain tak bisa diragukan sedikit pun. Namun demikian, ada sebuah kisah tak masuk akal tentang imam besar ini yang dikatakan bingung menjawab pertanyaan amat sederhana dari seseorang bernama al-Hamadani. Berikut ini terjemah kisahnya yang diceritakan oleh Adz-Dhahabi:

“Aku mendengar Abu al-Ma’ali al-Juwaini ditanya tentang firman Allah, الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى (Yang Maha Pengasih istawa atas ‘Arsy). Ia berkata: ‘Allah telah ada tanpa adanya ‘Arsy” dan mulai berbicara dengan pembicaraan yang kacau.’ Aku berkata, ‘Wahai Guru, kami telah paham apa yang engkau maksudkan. Tapi apakah engkau memiliki jawaban untuk kemestian-kemestian yang terjadi itu?’

Al-Juwaini berkata, ‘Apa yang engkau inginkan dengan ucapanmu dan apa yang engkau maksudkan?’ Aku berkata: ‘Tidaklah seseorang berdoa dengan mengucapkan Ya Rabb sebelum ia menggerakkan lisannya, keluarlah dari batinnya satu kehendak yang tidak akan menoleh ke kanan dan ke kiri, namun dia mengarah ke atas. Apakah engkau memiliki jawaban untuk sebuah kehendak dan tujuan yang mesti terjadi seperti ini? Beritakanlah kepada kami agar kami terlepas dari persoalan (Allah berada) di atas atau di bawah.’ Aku pun menangis, dan orang-orang pun menangis.

Sang Guru pun memukulkan lengannya ke kursinya dan berteriak: ‘Oohh... Alangkah membingungkan hal ini.’ Ia pun menyobek apa yang ada di atas kursi dan [seolah] terjadi kiamat di masjid kemudian Ia pun turun dan tidak menjawab pertanyaanku kecuali mengatakan: ‘Oh, Kekasihku (Allah), membingungkan… membingungkan…’ Setelahnya aku mendengar sahabat-sahabatnya mengatakan, ‘Kami mendengar ia berkata, al-Hamadani telah membuat aku bingung’.” (Adz-Dzahabi, al-‘Uluw lil ‘Aliyy al-Ghaffâr, halaman 259).

Kisah tersebut dikutip berulang kali oleh para pengkritik manhaj Asy’ariyah sebagai bukti bahwa imam mereka kebingungan dan tak bisa menjawab pertanyaan sederhana tentang tempat Tuhan. Benarkah benar demikian? Mari kita kaji rantai riwayat (sanad) dan konten redaksi (matan) cerita itu.

Baca juga:
• Bolehkah Mengatakan Allah Bersemayam di Atas Arasy?
• Dalil-dalil Al-Qur’an dan Hadits Bahwa Allah Tak Bertempat

Kajian Sanad

Riwayat itu diriwayatkan oleh Adz-Dzahabi dengan cara ijazah dari satu tokoh ke tokoh lainnya; dari Abu Mansur bin al-Walid al-Harimi dalam sebuah risalah yang dikirimkannya kepada Abu Sa’id az-Zanjani. Sudah maklum bahwa Adz-Dhahabi yang lahir pada tahun 673 H tidak bertemu langsung dengan periwayat pertama kisah itu, yakni Abu Mansur bin al-Walid al-Harimi yang wafat pada tahun 643 H. Demikian juga ada keanehan bila al-Harimi konon mengirimkan risalah kisah ini ke Abu Sa’id az-Zanjani yang hidup pada tahun 380-471 H. Keanehan ini dinyatakan dalam penelitian Syekh Ghaits al-Ghalibi dalam bukunya yang berjudul Durar al-Alfâdz al-‘Awâli.

Di sisi lain jauh sebelum al-Ghalibi melakukan penelitian, Imam as-Subki mengomentari sanad kisah ini sebagai berikut:

قد تكلّف لهَذِهِ الْحِكَايَة وأسندها بِإِجَازَة على إجَازَة مَعَ مَا فِي إسنادها مِمَّن لَا يخفى محاطة على الْأَشْعَرِيّ وَعدم مَعْرفَته بِعلم الْكَلَام

“Adz-Dzahabi memaksakan cerita ini dan menyandarkannya pada ijazah atas ijazah lain serta di sanadnya sudah jelas ada orang yang tidak mengerti [aqidah] Asy’ary dan tidak tahu ilmu kalam.” (as-Subki, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz V, halaman 190).

Kesimpulan akhir dari penelitian Syekh al-Ghalibi, sanad di atas ia katakan sebagai versi periwayatan ijazah yang paling lemah. (Ghaits al-Ghalibi, Durar al-Alfâdz al-‘Awâli, halaman 89).

Versi lain sanad kisah ini adalah dari jalur Muhammad bin Thahir dari Abu Jakfar. Jalur ini disebut oleh Imam as-Subki di kitab yang sama sebagai: لَا يقبل نَقله (tidak diterima penukilannya). Pernyataan as-Subki ini juga senada dengan pengakuan Adz-Dzahabi sendiri dalam kitab Mîzân al-I’tidâl yang mengatakan bahwa Muhammad bin Thahir al-Maqdisi adalah:

 ليس بالقوى، فإنه له أوهام كثيرة في تواليفه

“Lemah, tidak kuat. Sesungguhnya dia punya banyak salah paham (wahm) dalam karya-karyanya”.  (Adz-Dzahabi, Mîzân al-I’tidâl, juz III, halaman 587(.

Kajian Matan

Secara matan atau konten redaksi kisah tersebut, tidak masuk akal apabila profil sehebat Imam al-Haramain memukulkan lengannya ke kursi dan berteriak di masjid: “Ooh.. Alangkah membingungkan hal ini” lalu menyobek barang-barang hingga seolah terjadi kiamat di masjid. Orang-orang pun menangis dan beliau turun tanpa memberi jawaban dan malah mengatakan: “Oh kekasihku (Allah), membingungkan… membingungkan…”.  Siapakah yang bisa percaya cerita ini? Bahkan orang bodoh pun takkan melakukan hal semacam itu di masjid, apalagi selevel Imam al-Haramain.

Sama seperti seluruh orang yang berpikiran rasional lainnya, Imam as-Subki menolak keras matan kisah ini dan bahkan mengkritik balik adz-Dzahabi, periwayatnya. Beliau berkata: “Bagaimanakah keadaan adz-Dzahabi dan orang sepertinya apabila yang seperti imam al-Haramain saja bisa bingung?”. (as-Subki, Thabaqât as-Syâfi’iyah, juz 5 halaman 191). 

Padahal jawaban dari pertanyaan al-Hamadani tersebut sangat mudah dan sudah ada sejak jauh sebelumnya; di era Imam Abu Hanifah (150 H), Imam Ahmad (241 H), at-Thahawi (321 H), dan tentu saja Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (324 H), pendiri manhaj Asy’ariyah. Jawaban itu kemudian diteruskan di masa al-Baqillani (403 H), Ibnu Furak (406 H), al-Baihaqi (458 H) dan tertulis di kitab-kitab mereka. 

Jawaban pertanyaan al-Hamadani itu adalah ketinggian yang dimiliki Allah yang ada dalam hati setiap muslim adalah ketinggian mutlak (sifat al-‘Uluw), bukan ketinggian dalam arti arah atau susunan fisikal antara sesutu yang secara fisik berada di bawah dengan sesuatu yang secara fisik ada di atasnya sebab ini adalah sifat jismiyah yang mustahil bagi Allah. Di sisi lain, langit memang kiblat bagi doa sehingga wajar saja bila ketika seseorang berdoa lalu hatinya mengingat langit tempat ia menengadahkan tangannya seperti halnya wajar pula ketika orang hendak salat, maka hatinya akan mengingat ka’bah tempat ia harus menghadapkan tubuhnya. Baik langit atau ka’bah, keduanya bukan tempat bagi Dzat Allah melainkan tempat hamba-Nya mengarah dan menghadap. Dalil bagi hal ini sangat banyak dan diyakini oleh para ulama yang tak terhitung jumlahnya selama seribu tahun terakhir ini. Wallahu A’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center Jember

Tags:
Share:
Rabu 12 September 2018 21:0 WIB
Bagaimana Menyikapi Makna Denotatif dari Sifat Allah?
Bagaimana Menyikapi Makna Denotatif dari Sifat Allah?
Ilustrasi (g-1.com)
Dalam diskusi tentang aqidah, ada pernyataan yang saling bertolak belakang dari para Imam Ahlussunnah apakah makna dhâhir bagi sifat-sifat khabariyah (yang dinyatakan dalam ayat dan hadits, red) Allah ditiadakan secara mutlak ataukah ditetapkan keberadaannya tetapi ditegaskan bahwa yang dimaksud adalah makna yang layak? Kerancuan dalam hal ini akan menyebabkan kebingungan dan diskusi yang tak akan berujung. Untuk itu, penulis perlu kiranya dijelaskan apa dan bagaimana makna dhâhir itu sebenarnya dan bagaimana para ulama menyikapinya.

Secara bahasa, makna dhâhir adalah kata lain dari makna denotatif atau makna yang bukan kiasan atau majas. Jadi semisal ada kata yadu-Llah, maka makna dhâhir-nya adalah “tangan Allah” tanpa perlu diartikan sebagai “kekuasaan Allah” atau “nikmat Allah.” Para Ulama terbagi menjadi dua kelompok besar dalam menyikapi makna dhâhir ini. 

Golongan pertama meniadakan makna dhâhir dari akarnya sebab makna ini adalah sesuatu yang memang mustahil bagi Allah. Di antara yang berpendapat seperti ini adalah Imam al-Mufassir al-Qurthubi berikut:

وَقَدْ عُرِفَ، أَنَّ مَذْهَبَ السَّلَفِ تَرْكُ التَّعَرُّضِ لِتَأْوِيلِهَا مَعَ قَطْعِهِمْ بِاسْتِحَالَةِ ظَوَاهِرِهَا، فَيَقُولُونَ أَمِرُوهَا كَمَا جَاءَتْ

“Telah diketahui bahwa mazhab Salaf adalah meninggalkan takwil terhadap ayat-ayat sifat sambil memastikan kemustahilan seluruh makna dhâhirnya, maka mereka berkata: Baca ulang lagi redaksi itu seperti halnya datangnya.” (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubîy, juz IV, halaman 14)

Imam al-Qurthubi di bagian lain dari tafsirnya menegaskan bahwa yang meyakini makna dhâhir adalah para musyabbihah (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Beliau berkata:

وَقَالَ بَعْضُهُمْ: نَقْرَؤُهَا وَنُفَسِّرُهَا عَلَى مَا يَحْتَمِلُهُ ظَاهِرُ اللُّغَةِ. وَهَذَا قَوْلُ الْمُشَبِّهَةِ
 
“Sebagian orang berkata: ‘Kami membacanya dan menafsirkannya sesuai apa yang dikandung oleh dhâhir bahasa’. Ini adalah perkataan Musyabbihah.” (Al-Qurthubi, Tafsîr al-Qurthubîy, juz I, halaman 254)

Golongan kedua, mereka menetapkan makna dhâhir sebagaimana redaksi dari Al-Qur’an dan Hadits. Hal ini misalnya dikatakan oleh Imam as-Subki sebagai berikut:

وما صح الكتاب والسنة من الصفات يعتقد ظاهر المعنى وينزه عند سماع المشكل

"Keterangan yang shahih dari Al-Quran dan As-Sunnah tentang sifat-sifat Allah,  kita meyakini dhahir maknanya,  dan kita menyucikan Allah (dari sifat-sifat yang tak layak dimiliki-Nya) ketika mendengar keterangan yang musykil (aneh).” (As-Subki, Jam’u al-Jawâmi’).

Pernyataan Imam as-Subki di atas diberi syarah/komentar oleh Imam az-Zarkasyi sebagai berikut:

أن كل ما ورد في الكتاب والسنة الصحيحة من الصفات اللائقة بجلاله، نعتقد ظاهر المعنى وما ورد فيهما من المشكل مما ظاهره الاتصاف بالحدوث والتغير كقوله تعالى: {وجاء ربك والملك} وقوله صلى الله عليه وسلم: ((ينزل ربنا كل ليلة)) فإنا ننزه عند سماعه عما لا يليق به.

"Keterangan yang shahih dari Al-Quran dan As-Sunnah tentang sifat-sifat Allah yang layak bagi-Nya, kita meyakini zhahir maknanya. Dan redaksi yang datang pada kita yang dhâhirnya mengandung sifat kebaruan dan perubahan, seperti firman Allah ‘Tuhanmu telah datang bersama Malaikat’ dan sabda Nabi ‘Tuhan Kita turun setiap malam’, maka kita menyucikan Allah dari sifat-sifat yang tak layak dimiliki-Nya ketika mendengar hal itu.” (Az- Zarkasyi, Tasynîf al-Masâmi’ bi Jam’i al-Jawâmi’, juz IV, halaman 676).

Senada dengan itu, Imam al-Asy’ari dalam al-Ibanah juga menetapkan makna dhâhir sebagai berikut:

لأن القرآن على ظاهره، ولا يزول عن ظاهره إلا بحجة، فوجدنا حجة أزلنا بها ذكر الأيدي عن الظاهر إلى ظاهر آخر، ووجب أن يكون الظاهر الآخر على حقيقته لا يزول عنها إلا بحجة.

“Sebab Al-Qur’an seluruhnya atas makna dhâhir. Makna dhâhir itu tak hilang kecuali dengan hujjah.” (Abu Hasan al-Asy’ari, al-Ibânah, halaman 138) 

Lalu bagaimanakah sebenarnya makna dhâhir ini? Sebenarnya perselisihan dalam penetapan atau penafian makna dhâhir ini hanyalah redaksional semata. Semua tergantung apa yang dimakud makna dhâhir itu sendiri; bila makna dhâhir diartikan sebagai makna asal yang dibawakan oleh Allah dan Rasulullah tetapi bukan makna jismiyah (makna organ tubuh, susunan, pergerakan, volume dan sebagainya), maka ini disetujui oleh para ulama. Namun bila makna dhâhir diartikan sebagai makna jismiyah sebagaimana makna yang melekat pada makhluk, maka inilah yang ditolak seluruh ulama. 

Karena itulah, Adz-Dhahabi mengatakan bahwa kata dhâhir mempunyai dua makna yang berbeda:

قُلْتُ: قَدْ صَارَ الظَّاهِرُ اليَوْم ظَاهِرَيْنِ: أَحَدُهُمَا حق، والثاني باطل، فالحق أن يَقُوْلَ: إِنَّهُ سمِيْع بَصِيْر، مُرِيْدٌ متكلّم، حَيٌّ عَلِيْم، كُلّ شَيْء هَالك إلَّا وَجهَهُ، خلق آدَمَ بِيَدِهِ، وَكلَّم مُوْسَى تَكليماً، وَاتَّخَذَ إِبْرَاهِيْمَ خَلِيْلاً، وَأَمثَال ذَلِكَ، فَنُمِرُّه عَلَى مَا جَاءَ، وَنَفهَمُ مِنْهُ دلاَلَةَ الخِطَابِ كَمَا يَليق بِهِ تَعَالَى، وَلاَ نَقُوْلُ: لَهُ تَأْويلٌ يُخَالِفُ ذَلِكَ. وَالظَّاهِرُ الآخر وَهُوَ البَاطِل، وَالضَّلاَل: أَنْ تَعتَقِدَ قيَاس الغَائِب عَلَى الشَّاهد، وَتُمَثِّلَ البَارِئ بِخلقه، تَعَالَى الله عَنْ ذَلِكَ، بَلْ صفَاتُهُ كَذَاته، فَلاَ عِدْلَ لَهُ، وَلاَ ضِدَّ لَهُ، وَلاَ نظير له، ولا مثيل لَهُ، وَلاَ شبيهَ لَهُ، وَلَيْسَ كَمثله شَيْء، لاَ فِي ذَاته، وَلاَ فِي صفَاته، وَهَذَا أمرٌ يَسْتَوِي فِيْهِ الفَقِيْهُ وَالعَامِيُّ، وَاللهُ أَعْلَمُ.

“Saya berpendapat bahwa kata dhâhir hari ini ada dua macam, yang pertama adalah benar dan yang kedua adalah bathil. Yang benar adalah  berkata bahwa Allah Maha Mendengar, Melihat, Berkehendak, Berfirman, Hidup, Mengetahui, segala sesuatu akan hancur kecuali Wajh-Nya, Allah menciptakan Adam dengan yad-Nya, berfirman pada Musa dengan firman sebenarnya, menjadikan Ibrahim sebagai kekasih, dan yang semisal itu. Maka kita membaca ulang sebagaimana redaksi aslinya dan kita memahaminya sesuai dengan apa yang layak bagi Allah Ta’ala. Dan, kita tak berkata bahwa itu punya takwil yang menyelisihi itu. Adapun dhâhir lainnya adalah yang batil dan sesat yaitu meyakini analogi hal yang ghaib (sifat Allah) terhadap yang terlihat dan menyamakan Allah dengan makhluk-Nya. Allah Maha Suci dari hal itu. Tetapi sifat-sifatnya seperti halnya Dzat-Nya, sehingga tak punya saingan, tak punya lawan, tak punya perbandingan, tak punya hal yang kemiripan, tak punya keserupaan. Dan tak ada satu pun yang sama dengan-Nya, tidak di dalam Dzat-Nya atau sifat-sifatnya. Ini adalah perkara yang sama antara orang yang terpelajar dan orang bodoh. Wallahu a’lam.” (Adz-Dzahabi, Siyar A’lâm an-Nubalâ’, juz XIV, halaman 332)

Dengan demikian menjadi jelas bahwa makna dhâhir yang mengarah ke tafwîdh (memasrahkan makna hakikat yang layak pada Allah) adalah makna dhâhir yang diterima dan ditetapkan. Sedangkan makna dhâhir yang mengarah pada adanya perbandingan dengan makhluk, misalnya ketika melihat makhluk turun bergerak dari atas ke bawah, lalu meyakini nuzûl Allah juga turun bergerak dari arah atas ke bawah, maka ini adalah makna dhâhir yang ditolak sebab merupakan aqidah kaum musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Wallahu a’lam.


Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember & Peneliti di Aswaja NU Center Jember.  

Selasa 11 September 2018 14:15 WIB
Ini Bahasa Malaikat Munkar dan Nakir kepada Ahli Kubur
Ini Bahasa Malaikat Munkar dan Nakir kepada Ahli Kubur
Umat Islam percaya bahwa Allah mengutus Malaikat Munkar dan Nakir untuk menanyakan beberapa hal kepada manusia yang berada di alam kubur atau alam barzakh. Malaikat Munkar dan Nakir akan mengajukan pertanyaan perihal ketuhanan, kenabian, dan beberapa hal penting lainnya kepada manusia yang wafat baik dimakamkan jenazahnya, diterkam binatas buas, atau manusia yang jenazahnya sudah musnah tanpa bentuk.

Yang menjadi soal kemudian adalah bahasa apa yang dipakai oleh kedua malaikat itu untuk bertanya kepada ahli kubur? Pertanyaan ini sempat mengemuka saat kita kecil dahulu. Meski tampaknya pertanyaan remeh, kita juga tidak mudah untuk menjawabnya.

Kita memang pernah menemukan hadits Rasulullah SAW yang terjemahannya menyebutkan “Cintailah Arab karena tiga hal, pertama karena aku orang Arab, Al-Quran bahasa Arab, dan penduduk surga menggunakan bahasa Arab.” Tetapi kita tidak mendapatkan keterangan perihal bahasa di alam kubur atau alam barzakh.

Syekh M Nawawi Al-Bantani dalam Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam mengatakan bahwa kedua malaikat yang bertugas di alam kubur itu akan menggunakan bahasa yang digunakan sehari-hari oleh ahli kubur tersebut seketika hidup di alam dunia.

ويسألان كل إنسان بلغته ويقولان له من ربك وما دينك ومن نبيك وما قبلتك ومن إخوتك وما إمامك وما منهاجك وما عملك

Artinya, “Keduanya (malaikat Munkar dan Nakir) bertanya kepada setiap ahli kubur dengan bahasa yang bersangkutan. Keduanya bertanya, ‘Siapa tuhanmu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Apa kiblatmu? Siapa saudaramu? Apa imammu? Apa jalan hidupmu? Apa amalmu?’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Kedua malaikat di alam kubur akan bertanya perihal tuhan, agama, nabi, kitab suci, kiblat dalam ibadah, saudara, pedoman hidup, jalan hidup, dan perilaku sehari-hari dengan bahasa yang digunakan ahli kubur sehari-hari ketika hidup di dunia. Dengan bahasa itu, ahli kubur dapat menangkap pertanyaan kedua malaikat.

Orang yang beriman dan mendapat taufiq dari Allah akan menjawab pertanyaan keduanya dengan tepat. Ahli kubur itu kemudian diminta istirahat sebagaimana pengantin hingga pada waktunya akan dibangunkan oleh orang yang paling dikasihinya.

والمؤمن يقول لهما ربي الله وحده لا شريك له والإسلام ديني ومحمد نبي وهو خاتم النبيين والكعبة قبلتي والمؤمنون إخوتي والقرآن إمامي والسنة منهاجي وأنا قرأت كتاب الله فآمنت به وصدقته ويقولان له إذا وفق للجواب صدقت ونم نوم العروس الذي لا يوقظه إلا أحب الناس إليه

Artinya, “Orang mukmin menjawab keduanya, ‘Tuhanku adalah Allah yang maha esa, tiada sekutu bagi-Nya. Islam agamaku. Muhammad adalah nabiku, ia penutup para nabi. Ka’bah adalah kiblatku. Orang-orang mukmin adalah saudaraku. Al-Qur’an adalah imamku. Sunnah rasul adalah jalan hidupku. Aku membaca kitabullah, dan beriman serta membenarkannya. Kedua malaikat itu berkata kepada ahli kubur yang beriman itu ketika mendapat taufiq untuk menjawabnya, ‘Kau benar. Tidurlah sebagaimana tidur para pengantin yang tiada dapat membangunkannya kecuali orang yang paling mengasihinya,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Hadits riwayat Bukhari dan Muslim menyebutkan bahwa kedua malaikat itu akan meminta pandangan ahli kubur perihal status Nabi Muhammad SAW.

Orang yang beriman akan menjawab dengan percaya diri bahwa Nabi Muhammad SAW adalah hamba dan utusan Allah. Sementara orang kafir dan munafik akan panik diliputi ketakutan ketika ditanya perihal Nabi Muhammad SAW. Keduanya menjawab “Aku tidak tahu.”

وفي رواية البخاري ومسلم إنهما يقولان له ما كنت تقول في هذا النبي محمد صلى الله عليه وسلم فيقول المؤمن اشهد أنه عبد الله ورسوله انتهى وأما الكافر والمنافق فيحصل لهما رعب فيقولان لهما هاه هاه لا أدري 

Artinya, “Dalam riwayat Al-Bukhari dan Muslim, kedua malaikat itu bertanya kepada ahli kubur, ‘Apa pendapatmu perihal nabi ini, Nabi Muhammad SAW?’ Ahli kubur yang beriman itu menjawab keduanya, ‘Saksikanlah bahwa dia (Nabi Muhammad SAW) itu hamba dan utusan Allah. Selesai. Adapun orang kafir dan munafik diliputi rasa takut. Keduanya (orang kafir dan munafik) menjawab, ‘Oh, oh, aku tidak tahu,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Syarah Nuruz Zhalam ala Aqidatil Awam, [Semarang, Maktabah Thaha Putra: tanpa catatan tahun], halaman 17).

Semoga Allah membimbing hidup kita di dunia. Semoga Allah memberikan rahmat dan taufik-Nya kepada kita dalam menghadapi pertanyaan kedua malaikat di alam kubur atau alam barzakh. Kita juga berharap syafaat Rasulullah SAW di alam kubur baik saat menghadapi pertanyaan kedua malaikat tersebut dan sesudahnya. Amin. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 10 September 2018 19:15 WIB
Dalil tentang Masih Hidupnya Nabi Isa dan Turunnya di Akhir Zaman
Dalil tentang Masih Hidupnya Nabi Isa dan Turunnya di Akhir Zaman
Allah ﷻ berfirman:

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَىٰ أَعْقَابِكُمْ ۚ وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئًا ۗ وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Artinya: "Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur."

Surat Ali 'Imran ayat 144 ini adalah penegasan bahwa Nabi Muhammad itu tidak wafat sebagaimana anggapan kaum kafir dan kaum musyrik ketika konteks perang Uhud.

Sehingga ketika bicara tentang kewafatan para nabi maka tidak tepat menggunakan ayat ini. Justru ayat ini memakai bentuk pertanyaan, yakni “apakah jika beliau itu wafat atau terbunuh kalian akan berpaling?”

Menjadi nyata dan ternyata Rasulullah ketika itu masih hidup dan tidak wafat. Ini adalah penjelasan Allah yang melegakan umat Islam ketika itu. 

Kemudian bagaimana dengan makna ayat ini?

Syekh Fakhruddin ar-Razy dalam Tafsir al-Kabir, juz 9, halaman 21-22 menyatakan:

فيسخلوا كما خلوا

"Maka beliau Nabi Muhammad itu akan berlalu sebagaimana para rasul sebelumnya juga telah berlalu."

Syekh Fakhruddin juga menegaskan:

أنه تعالى بين فى آيات كثيرة أنه عليه السلام لا يقتل

"Sesungguhnya Allah menjelaskan dalam banyak ayat Al-Qur’an bahwa Nabi Muhammad itu tidak terbunuh."

Al-Hafidz Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat

 وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ

menyampaikan riwayat bahwa ketika Rasulullah telah wafat, maka ayat ini dibacakan oleh Abu Bakar kepada Umar karena telah nyata bahwa Rasulullah sudah wafat.

Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa dalam konteks perang Uhud dan Rasulullah belum wafat, maka turunlah ayat itu.

Ibn Katsir menafsiri ayat tersebut dengan menyatakan:

له أسوة بهم في الرسالة، وفي جواز القتل عليه

"Rasulullah itu sebagai teladan bagi para Rasul dalam hal kerasulan, dan bolehnya terjadi pembunuhan atas beliau."

Dalil tentang Masih Hidupnya Nabi Isa

1. QS Ali Imran (3): 55

إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ

Artinya: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".

2. QS An-Nisa' (4): 157-158

وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا. بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا

Artinya: “Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

3. QS An-Nisa' (4): 159

وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا

Artinya: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.”

4. QS Al-Maidah (5): 117

مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”

5. QS Az-Zukhruf (43): 61

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ

Artinya: “Artinya: "Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (kiamat) itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”

Berikut ini sebagian tafsir tentang Ali Imran (3): 55, riwayat Ibn Abbas dan Hasan al-Bashri:

 وأخرج إسحاق بن بشر، وابن عساكر، من طريق جويبر، عن الضحاك، عن ابن عباس في قوله (إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ)، يعنى: رافعك ثم متوفيك في آخر الزمان

Ayat innî mutawaffîka wa râfi‘uka bermakna "mengangkatmu, dan mewafatkanmu di akhir zaman." (Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma'tsur, juz 3, halaman 598)

 وقد ثبت الدليل أنه حي، وورد الخبر عن النبي"أنه سينزل ويقتل الدجال" ثم إنه يتوفاه بعد ذلك

"Sungguh telah tetap dalil bahwa sesungguhnya beliau (Nabi Isa Ibn Maryam) itu hidup. Ada suatu khabar yang telah sampai dari Nabi Muhammad, ‘Sesungguhnya ia Nabi Isa itu akan turun (ke bumi), dan membunuh dajjal’. Kemudian, sesungguhnya Allah akan mewafatkan Nabi Isa setelah itu.” (Syekh Fakhruddin ar-Razy, Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghayb, juz 8, halaman, 74-78)

وأخرج ابن جرير، وابن أبى حاتم، من وجه آخر، عن الحسن فى قوله: (إني متوفيك): يعنى وفاة المنام، رفعه الله فى منامه. قال الحسن: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لليهود: إن عيسى لم يمت، وإنه راجع إليكم قبل يوم القيامة

"Maksudnya adalah kewafatan tidur, Allah membangkitkan Isa dalam tidur beliau. Imam Al-Hasan (al-Bashri, seorang ulama generasi tabi'in) berkata: Rasulullah bersabda kepada orang Yahudi: "Sesungguhnya Isa itu belum meninggal dunia, sesungguhnya beliau akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat."

(Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Ad-Durrul Mantsur, juz 3, halaman 596)

Berikut ini tafsir Al-Maidah (5): 117 dari sejumlah ulama

وكنت عليهم شهيدا مادمت فيهم فلما توفيتني كنت انت الرقيب عليهم

Dr. Muhammad Hasan al-Hamshi dalam Al-Qur'an Karim Tafsir wa Bayan menafsiri "tawaffaytani" itu dengan:

اخذتني إليك وافيا برفعي إلى السماء حيا

"Engkau mengambilku kepada-Mu, secara sempurna, dengan mengangkatku ke langit dalam keadaan hidup."

Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Munir menafsirkannya dengan:

رفعتني من بينهم إلى السماء

"Engkau mengangkatku dari antara mereka, ke langit."

Syekh Al-Wahidy dalam Tafsir Al-Wajiz menafsirkannya dengan:

قبضتني ورفعتني إليك أي إلى السماء

"Engkau mengambilku, dan mengangkatku kepada-Mu, maksudnya ke langit."

Kedua ulama tafsir ini menyatakan bahwa konteks ayat tersebut adalah firman Allah di hari kiamat.

Berikut ini penafsiran Ibn Abbas dan para ulama tentang Az-Zukhruf ayat 61:

Ketika menafsiri kalimat “la ‘ilmun lis sâ‘ah", Dr. Muhammad Hasan menyatakan:

علامة واضحة يعلم بها قرب الساعة

"Sesungguhnya Isa 'alaihis salam itu sebagai pertanda yang jelas, yang dengan pertanda itu akan diketahui dekatnya hari kiamat."

Syekh Nawawi juga menjelaskan tentang ayat itu

وإن عيسى لشرط من اشراط الساعة. والمعنى وإن نزول عيسى من السماء علامة على قرب الساعة

"Sesungguhnya Isa itu sungguh sebagai pertanda dari sebagian tanda-tanda kiamat. Dengan demikian maknanya adalah bahwa sesungguhnya turunnya Isa dari langit itu sebagai pertanda atas dekatnya hari kiamat."

Apakah contoh dari dua tafsir ini sesuai dengan tafsiran para ulama salaf, terutama generasi sahabat? Ternyata cocok.

1. Ibnu Abbas

قال: خروج عيسى عليه السلام قبل يوم القيامة

"Keluarnya Isa alaih salam, sebelum hari kiamat.”

Tafsir dari Ibn Abbas ini antara lain disebutkan oleh Imam Ibn Jarir at-Thabari, Imam at-Thabarany, dan Al-Haitsami.

2. Hasan Bashri

  قال: نزول عيسى

"Turunnya Isa."

3. Qatadah

قال: نزول عيسى عليه السلام علم للساعة

"Turunnya Isa adalah pertanda kiamat."

Tegasnya, Ibn Katsir dalam "Tafsir Al-Quran al-Adzim", jilid 7 halaman 236 menyatakan sebagai berikut:

وهكذا روي عن ابي هريرة وابن عباس، وأبى العالية، وأبى مالك، وعكرمة، والحسن، وقتادة، والضحاك، وغيرهم

“Demikianlah (bahwa 'âyatun lis-sâ‘ah' itu adalah dengan keluarnya Isa Ibn Maryam sebelum hari kiamat) diriwayatkan dari Abi Hurairah, Abdullah ibn Abbas, Abi al-'Aliyah, Abi Malik, 'Ikrimah, Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, ad-Dhahak, dan selainnya.

Lebih lanjut Ibn Katsir menyatakan,

وقد تواترت الأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، أنه أخبر بنزول عيسى ابن مريم عليه السلام، قبل يوم القيامة اماما عادلا، وحكما مقسطا

"Sungguh telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah Muhammad bahwa beliau sungguh mengabarkan tentang turunnya Isa Ibn Maryam sebelum hari kiamat sebagai imam yang adil dan hakim yang adil."


Yusuf Suharto, anggota Tim Aswaja NU Center PWNU Jawa Timur