Di beberapa wilayah di Indonesia, saat ini terjadi bencana alam. Jurnalis NU Online, melaporkan beberapa musibah, seperti banjir di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Beberapa waktu sebelumnya juga terjadi longsor di Banjarnegara dan Cilacap, Jawa Tengah, serta erupsi Gunung Semeru di Jawa Timur.
Kabar ini tentu menjadi duka bagi kita semua. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bagi kita sebagai muslim untuk mengambil hikmah dan bersikap dengan bijak. Setidaknya, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan ketika terjadi musibah, baik yang menimpa diri kita maupun orang lain.
Pertama, ketika kita mengalami, melihat, mendengar, atau mengetahui suatu musibah, hendaknya kita segera mengingat Allah Swt. dengan membaca kalimat istirja’: “Inna lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn.”
Dalam Al-Qur’an , Allah berfirman:
اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ
Artinya, "(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali). (QS Al-Baqarah ayat 156)
Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Adzkar, menjelaskan bahwa kalimat tersebut dianjurkan untuk diucapkan, bahkan ketika mengalami peristiwa musibah yang terlihat remeh sekalipun, seperti putusnya tali sandal. (Imam Nawawi, Al-Adzkar, (Beirut; Darul Fikr: 1414 H), hlm. 126).
Kedua, ketika musibah menimpa orang lain, kita perlu menumbuhkan rasa empati.
Empati dapat ditunjukkan dengan mendoakan kebaikan, memberikan hiburan atau dukungan kepada mereka yang tertimpa musibah, serta ikut bersedih dan tidak menunjukkan kegembiraan atas peristiwa yang menyedihkan itu.
Nabi Muhammad saw. bersabda;
لا تُظْهِرِ الشَّمَاتَةَ لِأَخِيكَ فَيَرْحَمُهُ اللَّهُ وَيَبْتَلِيكَ
Artinya, “Janganlah kamu memperlihatkan kegembiraan atas musibah yang menimpa saudaramu, karena Allah mungkin akan mengasihinya dan menimpakan ujian kepadamu.” (HR At-Tirmidzi)
Bila kita mampu memberikan pertolongan atau bantuan berupa donasi, hal itu tentu akan jauh lebih baik. Bantuan yang kita berikan dapat meringankan kesedihan dan beban mereka yang sedang mengalami musibah. Setiap kontribusi, sekecil apa pun, memiliki arti besar bagi para korban yang membutuhkan uluran tangan.
Kita dapat menyalurkan donasi melalui lembaga terpercaya. Di lingkungan NU, terdapat Lazisnu yang menghimpun berbagai bentuk bantuan untuk disalurkan kepada korban bencana. Selain itu, ada juga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan lembaga kredibel lainnya juga menjadi pilihan yang aman serta tepat untuk menyalurkan kepedulian kita kepada sesama.
Tak bisa dipungkiri, ketika bencana terjadi, masyarakat sangat membutuhkan bantuan, baik berupa pangan, pakaian, maupun tempat tinggal sementara. Dalam konteks Indonesia saat ini, berbagai video yang beredar menunjukkan longsor dan banjir telah memutus akses warga, sehingga membuat mereka semakin membutuhkan dukungan. Oleh karena itu, kepedulian dan solidaritas kita menjadi sangat berarti bagi mereka.
Rasulullah saw bersabda terkait anjuran menolong yang terkena musibah:
مَنْ نَـفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُـرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا ، نَـفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُـرْبَةً مِنْ كُـرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Artinya, “Barangsiapa yang menghilangkan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, maka Allâh menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat.” (HR. Muslim).
Kemudian dalam lanjutan hadits tersebut, disebutkan keutamaan lain bagi orang yang menolong saudaranya:
وَاللّٰهُ فِي عَوْنِ العَبْدِ مَا كَانَ العَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيْهِ
Artinya, "Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama si hamba selalu menolong saudaranya." (HR Muslim).
Lebih lanjut, dalam hadits lain, Nabi Muhammad saw juga menegaskan orang yang yang gemar menolong atau bermanfaat untuk sesama, maka ia akan dicintai oleh Allah. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ath-Thabrani;
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ، وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ، أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً، أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا، أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا، وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا
Artinya, "Manusia yang paling dicintai Allah adalah manusia yang paling bermanfaat kepada sesama dan perbuatan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang kamu bagikan kepada sesama Muslim atau kamu gunakan untuk meringankan kesulitannya atau melunasi hutangnya atau membebaskannya dari rasa lapar. Sesungguhnya aku lebih menyukai untuk berjalan bersama (menolong) saudaraku yang membutuhkan bantuan dari pada beritikaf di masjid ini, yaitu masjid Madinah selama satu bulan." ( Imam Thabrani, al-Mu’jamul Kabir, juz 12, halaman 453)
Pada akhirnya, manfaat tolong-menolong ternyata tidak hanya dirasakan oleh orang yang menerima bantuan. Orang yang memberi pertolongan pun mendapatkan balasan pahala yang besar, bahkan memperoleh kedudukan istimewa dari Allah dan Nabi Muhammad.
Ketiga, ketika terjadi musibah, terutama bencana alam, kita perlu menjadikannya sebagai bahan introspeksi diri. Misalnya pada peristiwa banjir, kita perlu menilai apakah bencana itu murni terjadi karena faktor alam atau ada campur tangan manusia yang kurang menjaga lingkungan sekitar.
Menjaga dan merawat lingkungan harus menjadi kesadaran bersama. Alam adalah anugerah dari Allah Swt. yang tidak seharusnya kita rusak. Misalnya, kebiasaan membuang sampah sembarangan ke sungai dapat menyebabkan banjir. Begitu juga dengan menebang pohon tanpa aturan, yang dapat memicu tanah longsor dan banjir bandang.
Di dalam Al-Qur'an, Allah Swt telah memberikan peringatan kepada kita semua akan kerusakan di dunia yang disebabkan karena ulah perbuatan tangan manusia:
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya, "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar).
Maka, sudah sepatutnya kita merawat alam bumi ini dari kerusakan-kerusakan, yang seringkali diperbuat oleh manusia sendiri. Bisa kita saksikan sendiri di sekitar kita, sungai telah tercemar, banyak hutan menjadi gundul, laut pun terkena limbah, udara menjadi tercemar karena hasil perbuatan dari manusia, dan bahkan mungkin termasuk dari kita sendiri.
Berdasarkan laporan Auriga Nusantara mencatat bahwa deforestasi di Indonesia mencapai 261.575 hektare pada 2024. Angka ini meningkat 4.191 hektare dibandingkan tahun 2023. Penggundulan hutan paling banyak terjadi di Kalimantan dan Sumatera, yang masing-masing kehilangan sekitar 124 ribu hektare dan 91 ribu hektare hutan.
Secara umum, deforestasi terjadi akibat aktivitas manusia yang mengubah kawasan hutan menjadi area pertambangan, pertanian, dan perkebunan. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan juga menjadi salah satu penyebab hilangnya tutupan hutan.
Kondisi hilangnya hutan ini turut memperburuk bencana alam di berbagai daerah. Tanpa akar pohon yang menahan tanah dan menyerap air, kawasan rawan mengalami banjir bandang dan tanah longsor. Dampaknya kini terlihat di beberapa wilayah Indonesia, seperti Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, yang semakin sering mengalami bencana serupa.
Untuk itu, manusia seyogianya kembali mengingatkan perannya di bumi sebagai khalifah, yang bertugas menjaga atau tidak berbuat kerusakan di dunia ini. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
وَلاَ تُفْسِدُواْ فِي الأَرْضِ بَعْدَ إِصْلاَحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya, “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-A’raf ayat 56).
Pada akhirnya, menjaga ataupun merawat alam ini, menjadi ikhtiar kita dalam mencegah kerusakan ataupun terjadinya bencana alam, yang bisa jadi karena ulah perbuatan kita sendiri. Dan juga menjadi bagian dari upaya yang mencerminkan ajaran agama Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.
------------
Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali
