Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 47

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 47
umat Islam lebih baik dari masyarakat Yahudi Madinah karena firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 110, “Kuntum khaira ummatin…” dan sabda nabi, “Kalian (umat Islam) menyamai 70 umat. Kalian itu umat terbaik dan termulia di sisi Allah.”
umat Islam lebih baik dari masyarakat Yahudi Madinah karena firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 110, “Kuntum khaira ummatin…” dan sabda nabi, “Kalian (umat Islam) menyamai 70 umat. Kalian itu umat terbaik dan termulia di sisi Allah.”

Berikut ini adalah teks, transliterasi, terjemahan, dan kutipan sejumlah tafsir ulama atas Surat Al-Baqarah ayat 47:


يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ 


Yā Banī Isrā’īladzkurū ni‘matiyallatī an‘amtu ‘alaykum, wa annī fadhdhaltukum ‘alal ‘ālamīna.


Artinya, “Hai Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang telah Kuberikan kepada kalian. Aku telah melebihkan kalian dari semua umat lain di alam ini,” (Surat Al-Baqarah ayat 47).


Ragam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 47

Imam Jalaluddin dalam Kitab Tafsirul Jalalain mengatakan, cara mengamalkan kata “udzkurū” atau “ingatlah” pada Surat Al-Baqarah ayat 47 dilakukan dengan mensyukuri nikmat Allah SWT dalam bentuk ketaatan pada perintah-Nya. Sedangkan nikmat kelebihan tersebut dianugerahkan kepada bapak moyang Bani Israil Madinah. Bani Israil diberikan kelebihan dari sekalian umat di zaman mereka.


Imam Al-Baidhawi dalam Kitab Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil mengatakan perihal Surat Al-Baqarah ayat 47, Allah mengingatkan berulang kali Bani Israil atau karunia yang diberikan oleh Allah sebagai keistimewaan bagi mereka. Allah mengaitkan nikmat dengan ancaman keras bagi mereka yang melalaikan dan tidak memenuhi kewajiban terhadap nikmat.


Kata “di alam” pada Surat Al-Baqarah ayat 47 mengacu pada umat manusia di zaman Bani Israil ketika mereka menerima nikmat Allah. Allah melebihkan bapak moyang Bani Israil yang hidup di masa Nabi Musa dan era setelahnya sebelum mereka membuat mudharat pada ilmu, keimanan, dan amal saleh yang Allah berikan kepada mereka. Allah menjadikan banyak orang di tengah Bani Israil sebagai nabi dan penguasa yang adil.


Imam Al-Baghowi dalam Kitab Ma’alimut Tanzil fit Tafsir wat Ta’wil mengatakan, meskipun kenikmatan dianugerahkan oleh Allah untuk nenek moyang Bani Israil Madinah pada Surat Al-Baqarah ayat 47, kemuliaan itu tetap tersemat di dada keturunan mereka.


Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, Allah pada Surat Al-Baqarah ayat 47 mengingatkan Bani Israil Madinah pada nikmat jauh sebelumnya yang diterima oleh bapak moyang dan para pendahulu mereka.


Allah melebihkan mereka dengan pengutusan rasul dan penurunan kitab suci. Allah melebihkan mereka dari umat lain di zaman mereka sebagaimana keterangan Surat Ad-Dukhan ayat 32 dan Surat Al-Maidah ayat 20.


Tetapi bagaimana pun, kata Ibnu Katsir, umat Islam lebih baik dari masyarakat Yahudi Madinah karena firman Allah pada Surat Ali Imran ayat 110, “Kuntum khaira ummatin…” yang ditujukan kepada umat Islam dan sabda nabi, “Kalian (umat Islam) menyamai 70 umat. Kalian itu umat terbaik dan termulia di sisi Allah.” Hadist perihal ini banyak disebutkan dalam menjelaskan Surat Ali Imran ayat 110.


Ada ulama tafsir, kata Ibnu Katsir, menjelaskan, kelebihan Bani Israil yang Allah sebutkan pada Surat Al-Baqarah ayat 47 tidak bersifat mutlak sebagaimana dikatakan oleh Fakhruddin Ar-Razi dan Al-Qurthubi. Kelebihan mereka dari umat lain terjadi karena di tengah mereka terlahir para nabi.


Ibnu Katsir mengatakan, meskipun kata “al-ālamīna” atau “dari umat lain di alam raya pada zamannya” bersifat umum yang mencakup para nabi sebelum dan sesudah Bani Israil, Nabi Ibrahim AS yang diutus sebelum mereka lebih utama daripada para nabi Bani Israil; dan Nabi Muhammad SAW yang dating setelah zaman mereka lebih utama dari segenap makhluk dan junjungan anak manusia (sayyidi waladi Adam AS) baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan)


Terkait

Tafsir Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya