Tafsir

Tafsir Surat Hud Ayat 61: Peran Manusia dalam Memakmurkan Bumi

Sel, 21 Mei 2024 | 05:00 WIB

Tafsir Surat Hud Ayat 61: Peran Manusia dalam Memakmurkan Bumi

Ilustrasi memakmurkan bumi. (Foto: NU Online/Freepik)

Surat Hud  ayat 61 mengandung pesan penting tentang peran manusia sebagai pihak yang memakmurkan bumi. Pada ayat ini juga menjelaskan bahwa manusia diciptakan Allah SWT dari tanah dan diberi amanah untuk memakmurkannya. Memakmurkan bumi ini diartikan sebagai mengolah sumber daya alam, membangun peradaban, dan senantiasa berbuat baik untuk kelangsungan hidup di bumi.

 

Allah berfirman dalam Surat Hud ayat 6:

 

هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا فَاسْتَغْفِرُوْهُ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ ۗاِنَّ رَبِّيْ قَرِيْبٌ مُّجِيْبٌ

 

huwa ansya'akum minal-arḍi wasta‘marakum fīhā fastagfirūhu ṡumma tūbū ilaih(i), inna rabbī qarībum mujīb(un).

 

Artinya: "Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya,".

 

Menurut Syekh Ali Jumah dalam kitab al-Bi'ah wa al-hifadz Alaiha min Mandzur Islamy, manusia diperintahkan untuk membangun bumi. Perintah ini bukan sekadar membangun infrastruktur fisik, tetapi mencakup segala upaya untuk meningkatkan kehidupan di bumi. Seluruh alam semesta, dengan segala isinya, diciptakan untuk melayani manusia. Oleh karena itu, manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelolanya dengan baik.

 

Memakmurkan bumi merupakan wujud nyata pengabdian manusia kepada Penciptanya. Dengan memakmurkan bumi, manusia belajar tentang rahasia alam semesta dan kebijaksanaan Allah. Pengetahuan ini mendorong manusia untuk mencari hikmah dalam setiap kejadian dan mensyukuri karunia-Nya.

 

Untuk menjalankan amanah ini, manusia perlu memahami hubungan-hubungan yang kompleks di alam semesta. Hal ini dapat dilakukan dengan mempelajari ilmu pengetahuan dan merenungkan keterkaitan antara berbagai elemen di bumi. Dengan memahami keterkaitan ini, manusia dapat membangun bumi dengan cara yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.

 

Kebaikan metodologi manusia dalam membangun bumi bergantung pada pemahamannya tentang asal-usul alam semesta, hubungannya dengan Allah, dan hubungannya dengan makhluk lain. Dengan memahami hal-hal ini, manusia dapat membangun bumi dengan cara yang selaras dengan kehendak Allah dan bermanfaat bagi semua makhluk hidup.

 

هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا أي أمركم بعمارة الأرض، والعمارة تشمل كل عمل فيه إصلاح للأرض وتوفير ضروريات المعاش فيها، والكون كله بكل مظاهره و موجوداته مسخر للإنسان، قائم على خدمته، فوجب عليه عمارته والمحافظة عليه

 

Artinya: “Allah memerintahkan manusia untuk memakmurkan bumi. Memakmurkan bumi ini mencakup segala pekerjaan yang bertujuan untuk memperbaiki bumi dan menyediakan kebutuhan hidup di dalamnya. Seluruh alam semesta dengan segala manifestasi dan keberadaannya diciptakan untuk melayani manusia. Oleh karena itu, manusia wajib memakmurkan dan memeliharanya." (Syekh Ali Jumah, al-Bi'ah wa al-hifadz Alaiha min Mandzur Islamy, [Kairo: al-Wabil as-Shaib lil Intaji wa Attawzi' wa an-Nasyar, 2009] halaman 67).

 

Sementara itu, Syekh Syamsuddin Al-Quthubi dalam kitab Al-Jami' Li Ahkami Al-Qur'an mengatakan, kalimat هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ [Dia telah menciptakan kamu dari bumi], mengandung pesan penting tentang asal mula manusia dan perannya di bumi. Ayat ini menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah, merujuk pada penciptaan Nabi Adam AS yang terbuat dari tanah liat, sebagaimana disebutkan dalam Surat Al-Baqarah dan Al-An'am.

 

Penciptaan manusia dari tanah melambangkan kesatuan manusia dengan bumi. Manusia bukan makhluk asing di bumi, melainkan bagian integral dari planet ini. Hal ini menegaskan tanggung jawab manusia untuk menjaga dan memakmurkan bumi.

 

Lafadz انشأ [menciptakan] dalam ayat ini mengandung makna yang lebih dalam daripada sekadar "membuat." Kata ini menunjukkan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan potensi dan kemampuan yang luar biasa untuk membangun dan memajukan bumi. 

 

Hal ini dikonfirmasi oleh ayat selanjutnya yang menyebutkan وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا (wasta‘amarakum fîha) yang secara harfiah diterjemahkan sebagai “dan Dia menjadikan kamu pemakmur di dalamnya”.  Ayat ini dipahami sebagai penetapan manusia sebagai pemimpin di bumi. Tugas kepemimpinan tersebut dimaknai sebagai keharusan untuk memakmurkan dan menghuni bumi.

 

Para ahli tafsir memiliki pandangan yang sedikit berbeda namun secara keseluruhan searah mengenai makna ayat tersebut. Mujahid melihatnya sebagai penetapan manusia sebagai penghuni bumi. Sementara Qatadah berpendapat bahwa ayat tersebut menjelaskan bahwa Allah menyediakan tempat tinggal bagi manusia di bumi.

 

Adh-Dhahhak memiliki tafsir yang unik. Menurutnya, ayat ini  memberikan keleluasaan waktu yang panjang bagi manusia untuk memakmurkan bumi. Menurutnya, rentang waktu tersebut berkisar antara 300 hingga 1000 tahun.

 

Ibnu Abbas memberikan pandangan yang lebih condong kepada makna kehidupan. Beliau berpendapat bahwa ayat ini menjelaskan bahwa Allah memberikan kehidupan kepada manusia di bumi.

 

Zaid bin Aslam memiliki pandangan yang lebih rinci mengenai kemakmuran yang dimaksud dalam ayat tersebut. Menurutnya, Allah memerintahkan manusia untuk memakmurkan bumi dengan cara memenuhi segala kebutuhan yang ada di dalamnya.  Contoh dari kemakmuran ini  adalah membangun tempat tinggal dan menanam pepohonan.

 

وَقَالَ الضَّحَّاكُ: أَطَالَ أَعْمَارَكُمْ، وَكَانَتْ أَعْمَارُهُمْ مِنْ ثَلَاثِمِائَةٍ إِلَى أَلْفٍ. ابْنُ عَبَّاسٍ: أَعَاشَكُمْ فِيهَا. زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ: أَمَرَكُمْ بِعِمَارَةِ مَا تَحْتَاجُونَ إِلَيْهِ فِيهَا مِنْ بِنَاءِ مَسَاكِنَ، وَغَرْسِ أَشْجَارٍ. وَقِيلَ: الْمَعْنَى أَلْهَمَكُمْ عِمَارَتَهَا مِنَ الْحَرْثِ وَالْغَرْسِ وَحَفْرِ الْأَنْهَارِ وَغَيْرِهَا

 

Artinya: “Adh-Dhahhak berkata maksud ayat ini memberikan waktu yang lama bagi manusia untuk memakmurkannya. Waktu pemakmuran mereka berkisar antara 300 sampai 1000 tahun. Ibnu Abbas berkata , maksudnya, Dia memberikan kehidupan di dalamnya. Zaid bin Aslam berkata, maksud ayat ini adalah memerintahkanmu dengan memakmurkan apa-apa yang dibutuhkan di dalamnya dari mendirikan tempat tinggal, menggali sungai dan menanam pepohonan." (Syekh Syamsuddin Al-Quthubi, Al-Jami' Li Ahkami Al-Qur'an, [Kairo: Darul Kutub al-Mishriyah,1963] Jilid IX, halaman 56).

 

Sementara itu, Syekh Wahbah Zuhaili dalam Kitab Tafsir Al-Munir menjelaskan makna kalimat هُوَ اَنْشَاَكُمْ مِّنَ الْاَرْضِ (Dia yang menciptakan kamu dari tanah). Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memulai penciptaan manusia dari tanah. Tanah ini menjadi asal mula penciptaan Adam, bapak manusia.

 

Allah SWT kemudian menciptakan keturunan Adam, yaitu manusia, dari tanah liat. Proses penciptaan manusia dari tanah liat ini melalui beberapa tahapan. Pertama, Allah menciptakan air mani. Air mani ini kemudian berubah menjadi segumpal darah beku. Darah beku ini kemudian berkembang menjadi segumpal daging. Daging ini kemudian dibungkus dengan kerangka tulang dan daging.

 

Asal mula air mani adalah dari darah. Darah ini berasal dari makanan yang dikonsumsi manusia. Makanan ini bisa berupa tumbuhan yang tumbuh di bumi atau daging hewan yang dimakan manusia. Daging hewan ini pun pada dasarnya berasal dari tumbuhan yang dimakan hewan tersebut.

 

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penciptaan manusia memiliki hubungan erat dengan bumi. Tanah menjadi bahan dasar penciptaan Adam, sedangkan tumbuhan dan hewan di bumi menjadi sumber makanan yang menghasilkan darah dan air mani, yang kemudian menjadi bahan dasar penciptaan manusia lainnya.

 

Penjelasan Syekh Wahbah Zuhaili ini menunjukkan bahwa manusia memiliki hubungan yang erat dengan alam semesta. Manusia diciptakan dari unsur-unsur alam dan bergantung pada alam untuk kelangsungan hidupnya. Oleh karena itu, manusia harus menjaga dan melestarikan alam semesta dengan sebaik-baiknya.

 

Lanjutan ayat 61 ini adalah  وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا , yang menjelaskan bahwa Allah SWT telah menjadikan manusia sebagai pemakmur di bumi. Syekh Wahbah Zuhaili dalam tafsirnya Al-Munir menjelaskan makna pemakmur tersebut. Menurutnya, manusia diciptakan untuk memakmurkan bumi, dengan memanfaatkan bumi untuk berbagai kegiatan seperti bercocok tanam, industri, membangun  infrastruktur, dan bahkan mengambil sumber daya tambang.

 

Kemampuan manusia untuk memakmurkan bumi dan sifat bumi yang dapat  dimakmurkan menjadi bukti adanya Sang Pencipta Yang Maha Bijaksana. Allah SWT  telah menciptakan bumi dengan segala potensinya untuk dimanfaatkan manusia. Di sisi lain, manusia dibekali akal untuk dapat mengelola dan memanfaatkan  potensi bumi tersebut.

 

Lebih lanjut,  Allah SWT juga memberikan petunjuk kepada manusia. Petunjuk  tersebut bisa berupa wahyu, akal sehat, atau ilmu pengetahuan. Dengan petunjuk  tersebut, manusia dapat menjalankan fungsinya sebagai pemakmur bumi dengan  lebih baik dan benar.

 

Tak kalah penting, selain akal dan petunjuk, Allah SWT juga memberikan manusia kekuatan  untuk bertindak dan bekerja. Kekuatan ini berupa fisik dan mental yang  memungkinkan manusia untuk melaksanakan berbagai kegiatan yang  dibutuhkan untuk memakmurkan bumi.

 

Dengan akal, petunjuk, dan kekuatan yang diberikan Allah SWT, manusia  memiliki  semua yang dibutuhkan untuk menjadi pemakmur bumi. Ini merupakan penghargaan dan kepercayaan yang diberikan Allah SWT kepada manusia.  Sudah  sepatutnya manusia menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya. (Syekh Wahbah Zuhaili, Tafsir Al-Munir, [Beirut: Darul Fikr, 1991) Jilid XII, halaman 99). 

 

Dengan demikian, ayat ini merupakan seruan Allah kepada manusia untuk membangun dan memakmurkan bumi. Manusia diciptakan Allah SWT dengan kemampuan dan akal untuk mengolah serta merawat bumi beserta isinya. Amanah ini mencakup berbagai kegiatan, seperti bercocok tanam untuk menghasilkan makanan, membangun infrastruktur untuk menunjang kehidupan, dan menjaga kelestarian lingkungan agar tetap asri dan lestari.

 

Ustadz Zainuddin Lubis, Pegiat kajian Islam, Tinggal di Ciputat.