Dalam dunia karier atau profesional, dikenal istilah polyworking dan side hustle. Pertama, polyworking, merujuk pada kondisi orang memiliki dua atau lebih perkerjaan. Sedangkan istilah side hustle, lebih mengacu pada kondisi seorang yang memiliki satu profesi pokok, tapi masih memiliki pekerjaan sampingan. Kondisi itu sengaja ia pilih demi bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi global yang melambat dan tidak menentu.
Secara sederhana, dua istilah di muka bisa kita artikan sebagai kondisi seseorang yang memiliki dua atau lebih pekerjaan. Namun, yang pertama menjadikan semua pekerjaannya sebagai profesi pokok. Sementara yang kedua, hanya satu pekerjaan yang dijadikan profesi pokok, perkerjaan lainnya hanya sampingan.
Fenomena polyworking dan side hustle ini sedang menjadi tren di Amerika Serikat dan Kanada, khususnya bagi Generasi Z, dan data-datanya pun terbilang tinggi, sebagaimana disebutkan dalam artikel berjudul “Mengapa Fenomena Polyworking dan Side Hustle Makin Eksis di Kalangan Gen Z?” yang diterbitkan oleh Kompas.id pada 12 November 2025 lalu.
Di Indonesia sendiri, nampaknya fenomena ini mulai terjadi, walaupun belum ada data pasti yang dipublikasikan oleh lembaga survei. Namun, jika kita lihat para pekerja di lingkungan sekitar, rasanya sudah banyak yang memilih atau bahkan telah lama memiliki pekerjaan ganda, entah itu termasuk polyworking atau side hustle.
Bisa kita lihat maraknya pekerja ojek online, misalnya. Dari seluruh pekerja ojol, 18% lebih ternyata hanya dijadikan sebagai pekerjaan sampingan (side hustle). Artinya, mereka masih memiliki profesi pokok atau memiliki pekerjaan ganda, dua atau lebih. Misal lainnya adalah profesi guru, lebih dari 55 % para guru mengaku memiliki pekerjaan sampingan.
Lantas, bagaimana Islam melihat fenomena ini, sebagaimana yang telah dikemukakan? Secara khusus, artikel ini akan meninjau, baik dari sisi seorang hamba yang harus eksis meniti kehidupan di dunia dengan segala kewajibannya atau ketika dikaitkan dengan kewajiban ukhrawi sebagai hamba Tuhan.
Keutamaan Bekerja Keras dalam Islam
Dalam Islam, tidak masalah seorang memiliki pekerjaan berapa pun. Justru, Islam sangat menganjurkan pemeluknya untuk bergiat dalam mencari rezeki halal supaya tetap eksis menjalani kehidupan dan supaya terhindar dari kefakiran yang membuat kehidupannya menjadi beban keluarga, masyarakat, atau bahkan negara. Dalam konteks kefakiran, ada tiga efek negatif yang akan menimpa seorang yang tenggelam ke dalamnya:
ويروى أن لقمان قال لابنه : يا بني ؛ استعن بالكسب الحلال ، فإنه ما افتقر أحد إلا أصابته ثلاث خصال : رقة في دينه ، وضعف في عقله، ووهاء في مروءته ، وأعظم من هذا : استخفاف الناس به
Artinya: “Diriwatakan bahwa Lukmanul Hakim bernasihat kepada putranya: 'Cukupkan dirimu dengan (memiliki) bekerjaan halal. Sebab, tidak ada seorang pun yang tertimpa kefakiran kecuali ia akan mengalami tiga hal (negatif): yakni (1) kelemahan agamanya, (2) lemahnya akal, dan (3) hilangnya harga dirinya. Dan yang paling agung dari tiga hal tersebut adalah direndahkan oleh masyarakat'.” (Syekh Jamaluddin Al-Hubaisyi, Al-Barakah fi Fadlis Sa'yi wal Harakah, [Jeddah, Darul Minhaj: 2016], halaman 70).
Di samping bertujuan terhindar dari kefakiran, seseorang yang berpeluh-peluh karena mencari rezeki halal memang memiliki keistimewaan sendiri, yakni disenagi oleh Allah swt. Rasulullah saw bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُؤْمِنَ الْمُحْتَرِفَ وَفِي رِوَايَةِ ابْنِ عَبْدَانَ: الشَّابَّ الْمُحْتَرِفَ
Artinya: “Rasulullah saw bersabda: ‘Sungguh Allah swt senang kepada Mukmin pekerja (memiliki profesi). Dalam riwat Ibnu Abdan, memakai redaksi ‘pemuda pekerja’.” (HR Imam Al-Baihaqi).
Semakna dengan hadits ini, uraian yang disampaikan Al-Hafizh Al-Munawi:
إن الله يحب أن يرى عبده تعبا في طلب الحلال
Artinya: "Sungguh Allah swt senang melihat hamba-Nya yang berpayah-payah dalam mencari (rezeki) halal." (Faidhul Qadir, [Mesir, Maktabah At-Tijariyyah Al-Kubra: 1356 H], jilid IV, halaman 370).
Redaksi di atas menegaskan bahwa memiliki pekerjaan ganda, baik polyworking atau side hustle, bukan sebuah problem dalam tubuh Islam. Malah cenderung dianggap suatu tindakan produktif yang positif .
Dari penjelasan di atas pula kita dapat mengambil poin utama bahwa yang terpenting dalam semangat berkerja yang bernilai positif adalah semangat mencari rezeki halal. Diksi “halal” dalam dunia pekerjaan menjadi poin penting dalam kandungan hadits, uraian Syekh al-Munawi, dan nasihat Lukmanul Hakim di muka. Diksi “halal” diabaikan, nilai positif pun hilang. Status disenangi-Nya pun pudar, malah berganti status dimurkai-Nya jika semangat mencari rezeki halal berganti semangat mencari rezeki haram.
Bekerja Keras Baik, tapi Jangan Abaikan Kewajiban
Selain kehalalan pekerjaan, ada lagi yang perlu menjadi perhatian bagi pelaku polyworking atau side hustle, yaitu ambisius yang dapat mengabaikan kewajiban kepada Tuhan. Benar kita hidup di dunia harus eksis menjalaninya dengan semangat bekerja, tapi jangan lupa kita masih berstatus makhluk Tuhan. Masih memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai hamba-Nya. Dalam konteks ini, uraian berikut menarik untuk direnungkan.
(أصلحوا دنياكم) أي أصلحوا معاش دنياكم بعهد ما في أيديكم بتنميته بحلال المكاسب لمعونته على دينكم ومكارم أخلاق الإسلام التي فيها عمارة آخرتكم والخطاب للمقتصدين الذين لم يبلغوا ذروة التوكل ومعهم علقة الأسباب ليبوؤا بملابستها والاستعانة بها على الآخرة
واعملوا) صالحا (لآخرتكم) بجد واجتهاد وإخلاص مع قصر أمل (كأنكم تموتون غدا) كنى به عن قرب الزمن جدا. والمراد اجعلوا الموت نصب أعينكم واعملوا على ذلك لما أمرهم بإصلاح المعاش خشي من تعلقهم به والتقصير في الأعمال الأخروية فأردفه بما يبين أن عليهم مع ذلك بذل الجهد في العمل الأخروي وأنه لا رخصة في تركه ألبتة
Artinya: "Perbaguslah urusan dunia kalian, yakni penghidupan dunia kalian. Caranya dengan mengelola harta yang dimiliki, dikembangkan dengan (membuat) usaha-usaha halal. Tujuannya untuk membantu agama kalian dan (menegakkan) kemuliaan akhlak Islam yang menjadi pemakmur akhirat kalian semua.
"Seruan ini ditunjukkan kepada mereka yang masih berada di maqam muqtashid, yakni mereka yang belum mencapai puncak tawakal dan masih bergantung pada sebab-sebab. Tujuannya supaya mereka tetap melaksanakan sebab-sebab tersebut sekaligus dibuat alat bantu dalam urusan akhirat.
"Dan beramallah kebaikan karena tujuan akhirat kalian dengan bersungguh-sungguh, ikhlas, dan tidak panjang angan. Dilakukan seolah-olah kalian akan wafat besok—kalimat ini merupakan metafora dari sangat dekatnya waktu.
"Maksud dari uraian di atas adalah harus memberi ruang (ingat) pada kematian dalam pandangan (nurani) kalian. Beramallah karena tujuan kematian. Khawatir, karena sudah diperintah untuk memperbaiki (giat dalam) pekerjaan dunia, akan ketergantungan pada dunia sehingga sembrono dengan amal-amal akhirat. Oleh sebab itu, setelah perintah giat bekerja, lalu disusul perintah bersungguh-sungguh beramal akhirat, karena dalam hal meninggalkan amal akhirat ini sama sekali tidak ada kata toleransi." (Al-Munawi, I/532).
Tegas dan lugas esensi dari uraian ini adalah peringatan bagi para pelaku polyworking atau side hustle untuk tidak mengabaikan kewajiban sebagai makhluk Tuhan di tengah kesibukannya di dunia profesionalnya. Walaupun polyworking atau side hustle diperbolehkan bahkan dianjurkan, tapi dalam semangat bekerja usahakan juga tetap berorientasi pada kemaslahatan ukhrawi.
Jadi Profesional Islami
Ada keterangan menarik dan layak untuk dijadikan pedoman hidup, terutama bagi Gen Z yang sedang atau berniat untuk fokus di dunia profesional. Berikut redaksinya:
والناس على ثلاثة أقسام: رجل شغله معاشه عن معاده ، فهو من الهالكين ، ورجل شغله معاده عن معاشه ؛ فهو من الفائزين ، ورجل شغله معاشه لمعاده ، فهو من المقتصدين
Artinya: “Ada tiga tipe manusia, yakni (1) laki-laki (termasuk wanita) yang kesibukan dunianya membuat lupa urusan akhiratnya. Dia termasuk orang-orang yang (akan) hancur; (2) laki-laki yang kesibukan akhiratnya membuat lupa urusan dunianya. Dia termasuk orang-orang beruntung (yang kedua ini hanya berlaku untuk mereka yang sudah mencapai maqamnya); dan (3) laki-laki yang kesibukan dunianya diniatkan untuk urusan akhiratnya. Dia termasuk ekonom (versi Islam)." (Al-Hubaisyi, halaman 11).
Walhasil, jadilah profesional Islami yang tidak hanya bersemangat bekerja mencari rezeki halal, tapi juga menjadikan semangatnya tetap berorientasi pada kemaslahatan akhirat sehingga dalam menjalankannya tidak sampai meninggalkan kewajiban sebagai seorang hamba-Nya. Wallahu a'lam.
Ustadz Syifaul Qulub Amin, Alumnus PP Nurul Cholil Bangkalan dan Pegiat Literasi Keislaman
