Sekarang, manusia hidup di tengah banyak kemudahan yang sering kali berubah menjadi ujian yang amat berat. Teknologi, harta, dan berbagai kenikmatan dunia hadir dengan pesona yang memikat. Tidak sedikit dari kita yang terlarut dalam hiruk-pikuk kehidupan modern hingga lupa akan nilai-nilai esensi terciptanya umat manusia dan bahkan semesta.
Yakni, kita sebagai manusia diciptakan bukan sekadar untuk menikmati dunia, tetapi untuk memikul amanah sebagai hamba Tuhan dan khalifah di bumi-Nya. Setiap perbuatan, sekecil apa pun, akan menjadi bagian dari penilaian Allah terhadap kesungguhan hidup.
Di tengah berbagai ujian, keteguhan iman menjadi kebutuhan pokok yang tidak bisa kita kesampingkan. Dari sinilah pesan Nabi saw dalam hadits tentang amanah, godaan dunia dan perlunya keteguhan iman menjadi sangat relevan sebagai bahan renungan di masa ini, yang mengingatkan untuk tetap sadar akan tujuan penciptaan kita di dunia.
Hal ini Nabi saw sampaikan dalam haditsnya, diriwayatkan oleh Imam Muslim bersumber dari Abu Sa’id al-Khudri:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللّٰهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيْهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا، وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
Artinya: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau. Dan sungguh, Allah menjadikan kalian sebagai pengelola (khalifah) di dalamnya untuk melihat bagaimana kalian beramal. Maka berhati-hatilah terhadap godaan dunia, dan berhati-hatilah terhadap godaan perempuan, karena fitnah pertama yang menimpa Bani Israil adalah pada urusan perempuan.” (HR Muslim)
Hadits tentang kelezatan dunia dan amanah manusia ini adalah salah satu peringatan Nabi yang paling relevan untuk kehidupan kita saat ini. Lalu bagaimanakah penjelasan para ulama mengenai hadits ini? Apa maksud dari Nabi Muhammad saw dalam pernyataannya tersebut?
Godaan Pesona Dunia yang Manis lagi Hijau
Nabi saw menyatakan bahwa dunia itu manis lagi hijau. Hal ini memberi gambaran kepada kita, kalau kehidupan dunia ini memiliki daya tarik yang kuat, baik dari sisi kenikmatan maupun keindahan. Kita sebagai manusia akan mudah terpesona oleh berbagai kesenangan, keberhasilan, dan pemandangan yang membuat hati terpaut.
Karena itu, Al-Qurthubi dalam menjelaskan hadits nabi tersebut, menguraikan sifat manis dan keindahan yang dimiliki oleh dunia ini bagaikan buah segar yang menggoda, terasa lezat ketika dicicipi dan memukau ketika dipandang.
(إن الدنيا حلوة خضرة) أي: مستطابة في ذوقها معجبة في منظرها، كالثمر المُستحلَى المعجب المرأى
Artinya: “(Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau), yakni terasa lezat ketika dinikmati dan indah ketika dipandang, seperti buah manis yang menyenangkan untuk dilihat.” (Al-Mufhim Lima Asykala min Talkhis Kitab Muslim, [Beirut, Dar Ibnu Katsir: 1996] jilid VII, halaman 312).
Keindahan dunia yang digambarkan seperti buah manis itu tidak hanya memikat pandangan, tetapi juga membuat manusia sulit merasa cukup. Pesonanya terus mengajak hati untuk mengejar lebih banyak kenikmatan lain.
Dalam penjelasan berbeda, Az-Zaidani menegaskan bahwa daya tarik dunia memang kuat dan sering membuat manusia lalai,
إن الدنيا حلوة خضرة يعني: طيبة مزينة في عيونكم وقلوبكم، لا يشبع الناس من الدنيا
Artinya: “Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau, yakni tampak baik dan berpesona dalam pandangan mata dan hati kalian, dan manusia tidak akan pernah merasa puas terhadap (apapun) yang ada di dunia.” (Al-Mafatih fi Sharhil Mashabih, [Beirut, Darunnawadir: 2012], jilid IV, halaman 11)
Hakikat Amanah Manusia dalam Kehidupan Dunia
Selanjutnya, dalam hadits tersebut, Nabi Muhammad saw, seakan menegaskan kalau hakikat tanggung jawab (amanah) manusia dalam kehidupan dunia ialah, bahwa setiap apa yang dimiliki, baik berupa harta, waktu, kesempatan, bahkan kekuasaan, pada dasarnya bukan milik manusia sepenuhnya. Semuanya hanyalah titipan yang harus dikelola dengan bijak dan dipertanggungjawabkan.
Manusia diberi peran sebagai pengelola, bukan pemilik mutlak, sehingga setiap tindakan, pilihan, dan penggunaan nikmat dunia akan kembali dihisab. Dengan demikian, kita diperintah untuk berhati-hati dalam bertindak.
(وإن الله مستخلفكم فيها) أي: جاعلكم خلفاء في الدنيا، معناه أن أموالكم ليست في الحقيقة لكم، وإنما هي لله جعلكم في التصرف فيها بمنزلة الوكلاء، أو جاعلكم خلفاء فيمن كان قبلكم، وأعطى ما كان في أيديهم إياكم (فناظر كيف تعملون) أي: تعتبرون بحالهم، وتتفكرون في مآلهم، وتتصرفون في دنياكم، وتراعون في دنياكم لعقباكم، وحاصل أنه يتعلق له العلم التنجيزي على طبق العلم الأزلي التقديري
Artinya: “(Dan sungguh, Allah menjadikan kalian sebagai pengelola (khalifah) di dalamnya) yakni, menjadikan kalian para khalifah di dunia. Maknanya adalah bahwa harta-harta kalian pada hakikatnya bukan milik kalian, melainkan milik Allah, dan Dia menjadikan kalian dalam mengelolanya seperti para wakil (yang diberi mandat). Atau, maksudnya Allah menjadikan kalian para khalifah setelah orang-orang yang hidup sebelum kalian, dan apa yang dahulu berada di tangan mereka diberikan-Nya kepada kalian. (Maka Dia melihat bagaimana kalian beramal) yaitu agar kalian mengambil pelajaran dari keadaan orang-orang sebelum kalian, memikirkan akhir perjalanan mereka, mengatur urusan dunia kalian, dan memperhatikan dunia kalian dengan mempertimbangkan kehidupan akhirat kalian. Kesimpulannya adalah bahwa amal perbuatan kalian berada dalam lingkup ilmu Allah yang pasti terjadi sesuai dengan ilmu-Nya yang azali dan telah ditetapkan." (Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari, Mirqatul Mafatih Syarh Misyaqatil Mashabih, [Beirut, Darul Fikr: 2002], jilid VIII, halaman 3216).
Keteguhan Iman terhadap Godaan Dunia dan Godaan Wanita
Keteguhan iman terhadap godaan dunia, sebagaimana yang disinggung oleh Nabi saw dalam hadits, berarti kita harus memiliki kemampuan untuk menempatkan dunia pada porsinya, menikmati apa yang ada secukupnya tanpa membiarkan harta, jabatan, atau kenyamanan hidup terlalu menguasai hati.
(فَاتَّقُوا الدُّنْيَا)أي: احذروا زيادتها على قدر الحاجة المعينة للدين النافعة في الأخرى، وقال القاري: "فاتقوا الدنيا"؛ أي: احذروا من الاغترار بما فيها من الجاه والمال، فإنها في وشك الزوال، واقنعوا فيها بما يُعينكم على حسن المآل، فإن حلالها حساب، وحرامها عذاب
Artinya: “(Maka berhati-hatilah kalian terhadap dunia), yakni waspadalah agar dunia tidak melebihi batas kebutuhan yang benar-benar membantu urusan agama dan bermanfaat untuk akhirat. Al-Qari berkata, ‘Berhati-hatilah terhadap dunia’, yaitu jangan sampai kalian terpedaya oleh kehormatan dan harta yang ada di dalamnya, karena semuanya berada di ambang kefanaan. Merasa cukuplah dengan apa yang dapat menolong kalian menuju akhir yang baik, sebab yang halal darinya akan ada perhitungannya, sedangkan yang haram darinya adalah azab.” (Muhammad bin ‘Ali Al-Ithyafi, Al-Bahrul Muhith, [Riyadh, Dar Ibn Jauzi: 2015], jilid XLII, halaman 496)
Menjaga keteguhan iman dari godaan wanita berarti menjaga diri dari segala bentuk hubungan, interaksi, atau perasaan yang dapat menjauhkan seseorang dari batasan agama. Dalam penjelasan Nabi Saw tersebut, maka jelas bahwa Islam tidak melarang cinta dan kasih sayang, tetapi mengingatkan agar semua itu berada dalam koridor yang terhormat dan terjaga.
(واتقوا النساء) أي كيدهن والاغترار بهن، وقال القاري: واتقوا النساء أي احذروا أن تميلوا إلى المنهيات بسببهن وتقعوا في فتنة الدين لأجل الافتتان بهن، وقال الطيبي رحمه الله: احذروا أن تميلوا إلى النساء بالحرام
Artinya: “(Dan berhati-hatilah terhadap wanita), yakni terhadap tipu daya mereka dan dari terperdaya oleh pesona mereka. Al-Qari berkata, ‘Berhati-hatilah terhadap perempuan, yaitu jangan sampai kalian condong kepada hal-hal yang dilarang sebab mereka, hingga terjatuh dalam fitnah agama akibat terpesona oleh mereka.’ At-Tibi berkata, ‘Waspadalah agar kalian tidak condong kepada perempuan melalui cara yang haram).” (Al-Ithyafi, XLII/496).
Terakhir, secara umum hadits ini menegaskan kepada kita, bahwa dunia memiliki daya tarik kuat yang dapat melalaikan manusia dari tujuan hidup yang sebenarnya. Keindahan, kenikmatan, dan kemudahan yang ditawarkannya sering membuat hati terpaut dan sulit merasa cukup.
Di antara godaan terbesar itu adalah kecintaan berlebihan pada harta dan pesona wanita yang dapat menyeret seseorang kepada hal-hal yang dilarang. Islam mengingatkan agar manusia tetap waspada, tidak terpedaya oleh kelezatan sementara, dan menjaga kemurnian hati dalam menghadapi ujian dunia. Wallahu a’lam.
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman
