Imam Al-Ghazali: Hakikat Cinta, Macamnya dan yang Berhak dicinta
ٍٍSejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalâm sampai kelak hari kiamat datang, pembahasan tentang cinta tidak akan selesai. Setiap generasi mempunyai bahasan menarik dan pelik tentangnya.
Kumpulan artikel kategori Tasawuf/Akhlak
ٍٍSejak zaman Nabi Adam ‘alaihissalâm sampai kelak hari kiamat datang, pembahasan tentang cinta tidak akan selesai. Setiap generasi mempunyai bahasan menarik dan pelik tentangnya.
Usaha menjadi salah satu hal yang harus dilakukan umat manusia untuk meraih apa yang diinginkan. Hanya saja, ada juga yang penting dari sekadar usaha, yaitu berdoa.
Betapapun semua akan merasa kehilangan tatkala para ulama memenuhi panggilan-Nya,bukan hanya kalangan manusia yang merasakan duka mendalam. Selain manusia, ikan dan burung-burung pun ikut berduka cita akan kepergian mereka. Hal ini berdasarkan nuqilan dari Imam Ghazali dalam kitabnya.
Silaturrahim menuntut adanya komunikasi jalinan hubungan bahkan network. Menyambungnya, antara lain dengan memberi hadiah atau paling tidak berkunjung dan menyapa dengan baik secara langsung atau melalui alat komunikasi.
Penyebab panjangnya angan-angan dan lupa akan kematian adalah dua hal, yakni kebodohan dan cinta dunia.
Para pejabat publik akan mendapatkan derajat tinggi dan ganjaran besar di sisi Allah bila menunaikan tugasnya dengan penuh tanggung jawab, loyalitas yang tinggi, dan dedikasi terhadap profesi sesuai wewenang yang diberikan kepada mereka.
Pada zaman dahulu, Islam pernah menjadi jaya karena menjunjung tinggi ilmu pengetahuan. Ketika itu lahirlah ilmuwan-ilmuwan Islam dari segala bidang, misalnya dalam bidang hukum kita mengenal Imam Syafi’i, Imam Hanafi, Imam Hambali dan Imam Malik.
Enam golongan tersebut adalah abid (ahli ibadah), alim (ulama), muta’allim (pelajar/santri), wali (pejabat), muhtarif (pekerja ragam profesi), dan muwahhid mustaghriq bil wahidis shamad an ghayrihi (orang yang tenggelam dalam keesaan Allah sampai tidak ingat selain-Nya).
Pasalnya, meninggalkan harta dan berpenampilan “buruk” itu mudah dan ringan bagi mereka yang ingin dipuji sebagai seorang zahid.
Imam Al-Ghazali setidaknya membedakan orang yang lalai bersyukur (kufur nikmat) menjadi dua. Pertama, orang yang hatinya awas (al-qulubul bashirah). Kedua, orang yang batinnya buta-tumpul dan keras-membeku (al-qulubul balidah al-jamidah).
Sebagian besar ulama memahami hadits ini secara zahir. Dengan demikian, malaikat tidak akan masuk ke dalam rumah yang penghuninya memelihara anjing sebagaimana pengertian tekstual, harfiah, atau skriptural dari hadits tersebut.
Al-Haddad memberikan rambu-rambu penting berupa adab yang dapat mendekatkan amar makruf dan nahi mungkar dengan tujuannya