NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Doa

Doa saat Tertimpa Musibah agar Meraih Ketenangan Jiwa, Lengkap dengan Cara Membacanya

NU Online·
Doa saat Tertimpa Musibah agar Meraih Ketenangan Jiwa, Lengkap dengan Cara Membacanya
Ilustrasi berdoa. (Foto: NU Online/Freepik)
Bagikan:

Beberapa minggu terakhir, Indonesia kembali diuji dengan berbagai musibah banjir di sejumlah wilayah: Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Banten, Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, hingga sebagian daerah Jawa Timur. Ribuan warga terdampak harus mengungsi, kehilangan tempat tinggal, kehilangan harta benda, bahkan kehilangan orang terkasih.

Di tengah suasana kepanikan dan rasa duka yang berat, tidak ada yang dapat sepenuhnya menenangkan hati kecuali kembali kepada Allah sebagai Sang Pemilik segala takdir. Karena itu, doa bukan sekadar rangkaian kata, tetapi jalan untuk mengembalikan jiwa pada sumber ketenangan sejati.

Dalam tradisi keilmuan Islam, para ulama selalu mengajarkan bahwa setiap musibah memiliki pintu solusi spiritual. Musibah bukan sekadar peristiwa fisik, namun gelombang ujian batin yang harus dilewati dengan kesabaran, tawakal, serta kembalinya hati kepada Allah. Doa menjadi jembatan agar kita tidak patah karena keadaan, namun tetap tegak di hadapan takdir-Nya.

Doa Saat Tertimpa Musibah

Hadits paling masyhur yang dijadikan pegangan doa ketika musibah datang diriwayatkan dari Ummu Salamah. Doa ini dicatat Imam an-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, serta dijelaskan panjang oleh para ulama, termasuk Syekh Ibn ‘Allân dalam Dalîlul Fâliḥîn li Ṭuruqi Riyâḍiṣ Shâliḥîn.

Rasulullah Saw bersabda:

 مَا مِنْ عَبْدٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ: إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا، إِلَّا أَجَرَهُ اللَّهُ فِي مُصِيبَتِهِ، وَأَخْلَفَ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

Artinya: “Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu ia mengucapkan: ‘Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ūn, Allâhumma’jurnî fî muṣîbatî wa akhluf lî khayran minhâ’ kecuali Allah pasti akan memberinya pahala atas musibah yang menimpanya, dan Allah pasti akan menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik darinya.” (Syarḥ Riyâḍuṣ-Ṣâliḥîn, Ibn ‘Allân asy-Syâfi‘i, [Beirut: Dâr al-Ma‘rifah, 2010], Juz 3, hlm. 92)

Berikut ini adalah lafaz doanya:

إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ، اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي، وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ūn, Allâhumma’jurnî fî muṣîbatî, wa akhluf lî khayran minhâ.

Artinya: “Kami milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibahku ini, dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya.“

Hadits ini disampaikan Rasulullah Saw kepada Ummu Salamah ketika ia berduka karena wafatnya suaminya, Abu Salamah. Tapi ketika Ummu Salamah mengamalkan doa tersebut, Allah menggantikan suaminya dengan seseorang yang jauh lebih mulia, yakni Rasulullah sendiri. Pesan spiritualnya jelas: siapa yang rida pada takdir dan tetap berharap kebaikan dari Allah, maka Allah tidak akan mengecewakannya.

Bukan berarti orang yang berdoa akan selalu diganti dengan sesuatu yang lebih besar secara materi. Yang dimaksud “yang lebih baik” bisa berupa keimanan yang menguat, pintu keberkahan yang terbuka, pengganti dalam bentuk keluarga, rezeki, ketenangan, atau hikmah yang pada waktunya akan tampak.

Cara Membaca Doa agar Mendapat Ketenangan Jiwa di Tengah Musibah

Satu hal yang sering luput dari perhatian ialah bahwa doa ini tidak hanya cukup dibaca dengan lisan. Imam Ibn ‘Allân dalam Dalîlul Fâliḥîn li Ṭuruqi Riyâḍiṣ Shâliḥîn menegaskan bahwa keutamaan besar dari doa ini hanya akan diperoleh bila seseorang mengucapkannya dengan hati yang benar-benar rida terhadap ketentuan Allah. Beliau menulis:

لَا يَحْصُلُ هَذَا الْفَضْلُ إِلَّا لِمَنْ قَالَهَا صَادِقًا رَاضِيًا قَلْبُهُ، لَا مُعَارِضًا وَلَا جَازِعًا

Artinya: “Keutamaan ini tidak akan diperoleh kecuali oleh orang yang mengucapkannya dengan kejujuran dan hati yang rida; bukan yang mengucapkannya sambil menentang takdir atau dalam keluh kesah.” (Dalîl al-Fâliḥîn li Ṭuruqi Riyâḍuṣ-Shâliḥîn, Muhammad bin ‘Allân, Beirut: Dâr al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997, Juz 6, hlm. 221)

Dengan kata lain, cara membaca doa ini memiliki adab batin yang perlu diterapkan dan terpatri dalam hati terlebih dahulu. Berikut di antaranya,

Pertama, ucapkan “Inna lillah wa inna ilaihi raji'un” dengan kesadaran penuh bahwa ini bukan sekadar dzikir, tetapi pernyataan iman bahwa kita, harta kita, keluarga kita, dan seluruh kehidupan ini adalah titipan Allah.

Kedua, pengakuan bahwa Allah tidak menurunkan musibah tanpa hikmah. Musibah bukan hukuman, tetapi bagian dari ketetapan ilahi yang membawa konsekuensi pahala dan penghapusan dosa.

Ketiga, menyandarkan harapan kepada Allah semata, bukan pada makhluk. Karena kalimat “wa akhluf lî khayran minhâ” (dan gantilah untukku dengan yang lebih baik darinya) adalah bentuk optimisme iman. Sebab, seburuk apa pun keadaan, Allah dapat menggantinya kapan pun dengan yang lebih baik.

Keempat, jangan terburu-buru menafsirkan musibah. Mengingat, sering kali yang kita lihat bahwa Allah menyimpan kebaikan bertahun-tahun sebelum akhirnya tampak, walaupun harus melalui berbagai kondisi yang secara lahir buruk. Karena itu, sikap tergesa-gesa menilai keadaan hanya akan membawa kekecewaan.

Doa ini bukan hanya untuk mereka yang kehilangan orang, tetapi untuk semua bentuk musibah: bencana alam, hilangnya harta benda, penyakit, keterguncangan emosi, kehancuran usaha, kehilangan pekerjaan, kekecewaan mendalam, hingga luka batin.

Jika direnungkan, doa ini seakan berkata bahwa engkau bisa jadi sedang terluka, tetapi Allah tidak sedang meninggalkanmu. Hal yang penting digarisbawahi, ketenangan jiwa lahir ketika kita menerima bahwa hidup ini bukan tentang apa yang hilang dari kita, tetapi tentang apa yang diberikan Allah sebagai gantinya.

Terkadang, hadiah terbesar yang diberikan Allah dari sebuah musibah bukan harta baru, bukan rumah baru, tetapi jiwa baru, jiwa yang lebih tawakal, lebih mendekat dan lebih tenang.

Banjir, badai, longsor, wabah, kematian, kehilangan, semua adalah bagian dari takdir yang ditetapkan Allah. Sebagian orang mungkin pulih dari musibah secara materi, namun tidak pernah pulih secara batin. Sebagian yang lain mungkin terpuruk secara lahir, tetapi jiwanya justru menjadi lebih kuat. Perbedaan keduanya terletak pada cara menghadapi musibah: apakah ada ruang dalam hati untuk Allah di tengah duka, atau tidak.

Doa yang diajarkan Nabi ini bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi pegangan hidup di tengah badai. Jika sebuah doa bisa menyembuhkan kehilangan terbesar Ummu Salamah, ia pun dapat menyembuhkan kita yang sedang diuji hari ini.

Semoga Allah menguatkan saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, memberi ketabahan, mengganti setiap kehilangan dengan kebaikan, dan membuka pintu pertolongan-Nya dari arah yang tidak disangka-sangka. Âmîn.

Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni Ma’had Aly Situbondo, Pengajar di Ponpes Manbaul Ulum dan Nurussalafiyah Kabul, Lombok Tengah.

Tags:doa

Artikel Terkait

Doa saat Tertimpa Musibah agar Meraih Ketenangan Jiwa, Lengkap dengan Cara Membacanya | NU Online