IMG-LOGO
Trending Now:
Sirah Nabawiyah

Tsuwaibah, Budak Abu Lahab yang Pernah Menyusui Nabi Muhammad

Senin 29 April 2019 19:0 WIB
Share:
Tsuwaibah, Budak Abu Lahab yang Pernah Menyusui Nabi Muhammad
Tsuwaibah merupakan salah seorang budak perempuan Abu Lahab bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad saw. Tsuwaibah memiliki peran yang ‘cukup strategis’ ketika Nabi Muhammad saw. baru saja dilahirkan. Dia lah orang yang pertama kali memberikan kabar tentang kelahiran Nabi Muhammad saw. kepada Abdul Muthalib –dimana kakek Nabi itu tengah thawaf di Ka’bah pada saat itu. Dia juga yang mengabari Abu Lahab mengenai kelahiran Nabi Muhammad saw. Abu Lahab kemudian memerdekakan Tsuwaibah karena gembira keponakannya baru saja lahir.

Tidak hanya itu, mengutip buku Sirah Nabawiyah (Syaikh Syafiyurrahman Al-Mubarakfury, 2012) Tsuwaibah adalah wanita pertama –setelah Sayyidah Aminah- yang menyusui Nabi Muhammad saw. Sebelumnya, Tsuwaibah juga pernah menyusui Hamzah bin Abdul Muthallib –paman Nabi- dan Abu Salamah bin Abdul Asad Al-Makhzumi. 

Memang, masyarakat Arab memiliki tradisi untuk menyusukan anak-anaknya kepada wanita lain, terutama kepada mereka yang tinggal di desa. Tujuannya adalah untuk menjauhkan anak dari penyakit yang ada di kota. Juga agar anak memiliki fisik dan jiwa yang kuat, serta fasih dalam berbahasa. 

Disebutkan buku Muhammad Rahmat bagi Wanita (Samiyah Menisi, 2016), Tsuwaibah menyusui Nabi Muhammad saw. selama beberapa hari setelah kelahirannya –menurut satu riwayat selama seminggu. Baru setelah itu, Nabi Muhammad saw. disusui Halimah as-Sa’diyah dan tinggal di desa Bani Sa’ad selama beberapa tahun. 

Karena jasanya itu, Nabi Muhammad saw. tidak pernah melupakan Tsuwaibah. Nabi Muhammad saw. terus mencari dan menjalin hubungan baik dengan Tsuwaibah selama di Makkah. Begitupun Sayyidah Khadijah yang begitu menghormati Tsuwaibah. Bahkan, sebagaimana keterangan dalam buku Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018), Nabi Muhammad saw. mengirimkan segala kebutuhan Tsuwaibah, mulai dari makanan hingga pakaian, hingga ia wafat tahun ke-7 H.

Tsuwaibah hanya memiliki satu anak, yaitu Masruh. Pada saat Tsuwaibah meninggal, Nabi Muhammad saw. sedang berada di Khaibar. Setelah mendapatkan kabar wafatnya Tsuwaibah, Nabi Muhammad saw. menanyakan keadaan Masruh. “Apa saja yang dikerjakan anaknya, Masruh,” kata Nabi Muhammad saw. Namun ternyata, Masruh telah meninggal lebih dahulu. Sehingga ketika meninggal, Tsuwaibah tidak memiliki keluarga. 

Demikian cara Nabi Muhammad saw. menghormati dan membalas orang yang berjasa dalam hidupnya. Beliau begitu menghormati, berlaku lemah lembuh, menjalin hubungan baik, dan bahkan memenuhi kebutuhannya selama hidupnya. Itu dilakukan Nabi Muhammad saw. karena Tsuwaibah pernah menyusuinya sewaktu kecil. (Muchlishon)
Share:
Sabtu 27 April 2019 6:0 WIB
Mimpi Rasulullah sebelum Perang Uhud Berkecamuk
Mimpi Rasulullah sebelum Perang Uhud Berkecamuk
Kafir Quraisy Makkah tidak terima dengan kekalahan yang dideritanya dalam perang Badar melawan pasukan umat Islam. Sesaat setelah kejadian itu, Abu Sufyan, salah satu pemuka kafir Quraisy Makkah, memprovokasi dan mendesak orang-orang Quraisy untuk melancarkan balas dendam terhadap umat Islam. 

Dalam waktu yang singkat –sekitar setahun, sebagaimana keterangan dalam buku Sirah Nabawiyah (Shafiyyu al-Rahman al-Mubarakfuri, 2012), Abu Sufyan berhasil mengumpulkan pasukan dan amunisi tempur yang banyak dan melimpah; sekitar 1000 unta, 1500 dinar, 3000 pasukan kafir Quraisy terlatih serta 200 pasukan kavaleri.

Pada bulan Syawal tahun ke-3 H atau 625 M, pasukan kafir Quraisy berangkat ke arah Madinah. Mereka berjalan kaki dari Makkah hingga sampai di Lembah Sabkhah, wilayah yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Madinah. Semula umat Islam tidak tahu kalau pasukan kafir Quraisy akan membalas dendam dan jaraknya sudah begitu dekat. 

Paman Rasulullah yang masih ada di Makkah, Abbas bin Abdul Muthalib, mengirimkan surat tentang rencana balas dendam kafir Quraisy tersebut. Rasulullah meminta Ubay bin Ka’ab untuk membacakannya. Rasulullah kemudian mengirimkan beberapa orang untuk mengecek keberadaan pasukan kafir Quraisy. Ternyata apa yang disampaikan Abbas benar, pasukan kafir Quraisy hendak melancarkan balas dendam dan saat ini sedang membuat kemah di pinggiran Madinah.

Rasulullah segera mengumpulkan para sahabatnya. Mereka berdiskusi tentang bagaimana seharusnya menghadapi pasukan kafir Quraisy yang jumlahnya besar dan amunisi perangnya cukup lengkap. Sebagian sahabat berpendapat, sebaiknya umat Islam tidak menyerang sampai mereka tiba di Madinah. Sebagian yang lain berpandangan, mereka harus dihadapi di luar kota Madinah.

“Rasulullah, kami tidak ingin bertempur di jalan-jalan Madinah. Pada zaman jahiliyah kami selalu menjaga agar hal itu tidak terjadi. Jadi, ada baiknya setelah kedatangan Islam, hal itu tetap dilestarikan,” kata seorang sahabat Nabi. Setelah terjadi diskusi yang panjang, akhirnya diputuskan bahwa pasukan umat Islam akan keluar kota Madinah dan menghadapi mereka di pegunungan Uhud. 

Singkat cerita, dengan strategi yang diterapkan Rasulullah, awalnya pasukan umat Islam berhasil memenangkan peperangan di Uhud itu. Meski jumlah mereka hanya sekitar 700 orang, sementara pasukan kafir Quraisy mencapai 3000 orang. Kejadian berbalik ketika pasukan pemanah yang ada di atas bukit dan bertugas melindungi pasukan umat Islam di medan perang meninggalkan posnya. Setelah melihat pasukan musuh yang dianggap sudah kalah, mereka turun ke bawah untuk mengambil harta rampasan perang (ghanimah).

Akan tetapi prediksi mereka meleset, pasukan musuh ternyata belum benar-benar kalah. Keunggulan jumlah pasukan dimanfaatkan betul oleh pasukan musuh, hingga akhirnya mereka lah yang menjadi pemenangnya di akhir peperangan. Umat Islam menderita kekalahan dan banyak dari mereka yang gugur dalam peperangan di Uhud itu. Diantaranya adalah Abdullah bin Jahsy, Hanzhalah, dan Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah. 

Namun tahukah kamu, sebelum perang Uhud berkecamuk, Rasulullah ternyata bermimpi. Mimpi seorang Nabi bukanlah mimpi biasa. Ada informas atau isyarat dari Allah yang terkandung di dalamnya. Begitupun dengan mimpin Rasulullah sebelum perang Uhud ini. Dikisahkan bahwa sebelum perang Uhud, Rasulullah bermimpi melihat ada seekor sapi yang disembelih dan di ujung pedang beliau sedikit retak. Dalam mimpinya itu, Rasulullah juga menghunus pedang namun pegangan pedangnya lepas. Kemudian Rasulullah menghunus pedangnya lagi, kali ini pegangan pedangnya kembali utuh. 

Lalu apa arti atau makna dari mimpi Rasulullah itu? Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), dalam sebuah riwayat, Rasulullah memberikan tafsiran atas mimpinya itu. Sapi yang disembelih mengisyaratkan bahwa ada sahabat beliau yang gugur. Sementara ujung pedang beliau yang retak dimaknai bahwa ada salah seorang keluarganya yang akan wafat. Benar saja, pada saat perang Uhud, paman Rasulullah, Hamzah, gugur setelah ditombak Wahsyi. Beberapa pasukan umat  Islam -yang notabennya sahabat Rasulullah- juga wafat dalam peperangan itu. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 26 April 2019 18:0 WIB
Abdullah bin Rawahah, Sahabat Nabi yang Tegas Tolak Suap
Abdullah bin Rawahah, Sahabat Nabi yang Tegas Tolak Suap
Iustrasi suap (greekreporter.com).
”Allah melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap,” kata Nabi Muhammad dalam sebuah hadits riwayat Ahmad. 

Abdullah bin Rawahah adalah sahabat Nabi Muhammad saw. dari kalangan Anshar. Abdullah adalah seorang penyair yang cakap. Rangkaian kata-kata dalam syair-syair yang dibuatnya begitu indah dan kuat sehingga Nabi Muhammad saw. sangat menyukai dan menikmatinya. Nabi Muhammad saw. bahkan mendorongnya agar lebih tekun membuat syair. Semenjak masuk  Islam, dia membaktikan kemampuan bersyairnya untuk kejayaan Islam. 

Abdullah bin Rawahah berbaiat kepada Nabi Muhammad saw. pada saat Baiat Aqabah Pertama (Ula). Pada saat itu, Abdullah bersama 12 orang dari Madinah datang ke Makkah secara sembunyi-sembunyi agar tidak diketahui kafir Quraisy. Mereka kemudian menyatakan diri untuk menerima ajaran yang dibawa Nabi Muhammad saw. Mereka inilah yang nantinya menjadi pendakwah Islam pertama di Madinah dan membukakan jalan bagi hijrahnya Nabi Muhammad saw. 

Seiring dengan berjalannya waktu, Islam berkembang pesat di Madinah, terutama setelah Nabi Muhammad saw. hijrah ke sana. Abdullah bin Rawahah menjadi salah satu sahabat kepercayaan Nabi Muhammad saw. Dia ditugaskan untuk melakukan banyak hal. Salah satunya adalah untuk mengecek harta benda masyarakat Khaibar untuk keperluan penarikan jizyah.

Merujuk buku Akhlak Rasul menurut Al-Bukhari dan Muslim (Abdul Mun’im al-Hasyimi, 2018), suatu ketika Nabi Muhammad saw. menugaskan Abdullah bin Rawahah datang ke wilayah Khaibar untuk menaksir jumlah kurma yang dimiliki masyarakat sana. Pengecekan itu dimaksudkan untuk keperluan penetapan jumlah jizyah (pajak bagi penduduk non-Muslim). Memang, Khaibar adalah wilayah dimana penduduk Yahudi tinggal. Sesuai kesepakatan, mereka harus membayar pajak (jizyah) karena tinggal di wilayah kekuasaan Islam. 

Sesuai dengan perintah Nabi Muhammad saw., Abdullah bin Rawahah memeriksa jumlah kurma yang masih menggantung di atas pohon di Khaibar. Namun tidak disangka-sangka, penduduk Khaibar –yang notabennya etnis Yahudi- mengumpulkan perhiasannya dan menemui Abdullah bin Rawahah. Penduduk Khaibar menyerahkan perhiasannya itu kepada Abdullah bin Rawahah dengan harapan utusan Nabi itu mengurangi taksirannya dan memberikan keringanan dalam hal jizyah.

Abdullah bin Rahawah dengan tegas langsung menolak suap yang ditawarkan penduduk Khaibar itu. Dia menegaskan, harta suap adalah harta haram. Oleh karena itu, dia tidak mau mengambilnya barang sedikitpun. 

“Harta sogokan (risyhwah) yang kalian tawarkan kepadaku adalah harta haram. Kami tidak akan memakannya,” tegas Abdullah bin Rawahah. Setelah penolakan itu, masyarakat Khaibar berpendapat kalau sikap tegas Abdillah bin Rawahah itulah yang menyebabkan bumi dan langit masih tegak. 

Begitulah teladan dari Abdullah bin Rawahah, sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. Dia menunjukkan sikap amanah meski dihadapkan pada godaan harta benda yang berlimpah. (A Muchlishon Rochmat)
Jumat 26 April 2019 6:0 WIB
Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah
Materi Ajaran Rasulullah saat Dakwah di Makkah
Mula-mula Rasulullah mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi kepada sanak keluarganya. Sedikit demi sedikit jangkauan dakwahnya diperluas hingga ke kerabat dan tetangganya. Kemudian setelah turun perintah Allah maka Rasulullah mendakwahkan Islam kepada masyarakat Makkah secara luas dan terang-terangan.

Banyak penduduk Makkah yang menentang dan memusuhi dakwah Rasulullah pada masa-masa awal. Ada banyak alasan dan motif yang mendasari mengapa mereka tidak mau menerima Islam. Mulai dari masalah teologi, kedudukan sosial, pengaruh hingga masalah ekonomi. Mereka khawatir jika masuk Islam maka apa yang mereka miliki itu akan lenyap. 

Mereka juga menunjukkan permusuhan yang nyata pada masa-masa awal Islam. Berbagai macam cara mereka tempuh untuk menghentikan dakwah Islam yang dibawa Rasulullah. Mulai dari penyiksaan, ancaman pembunuhan, hingga tawaran harta benda. Semua upaya telah dilakukan kafir Makkah, namun tidak berhasil. Rasulullah tetap saja mendakwahkan Islam di Makkah hingga 13 tahun lamanya, meski nyawanya dan nyawa umatnya menjadi taruhannya.

Lantas, apa saja yang didakwahkan Rasulullah selama 13 tahun di Makkah? Merujuk buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw. dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Rasulullah menekankan pada sisi kepercayaan selama berdakwah di Makkah. Ada dua sisi kepercayaan yang menjadi titik berat Rasulullah.

Pertama, kepercayaan tentang keesaan Allah. Pada saat itu, masyarakat Arab dijangkiti ‘penyakit syirik.’ Mereka tidak lagi menyembah Allah Yang Satu sebagaimana yang diajarkan nabi dan rasul terdahul, akan tetapi mereka menyembah banyak berhala. Jadi mereka menyembah apa yang mereka buat sendiri. Memang ada orang yang menyembah Allah Yang Satu (hanif), namun jumlahnya tidak banyak dan mereka ‘tidak memiliki kekuatan’. Oleh sebab itu, Rasulullah menyerukan kepada masyarakat Makkah untuk kembali ke ajaran tauhid. Menyembah hanya satu Tuhan, Allah.  

Salah satu strategi Rasulullah ketika menyerukan tauhid kepada masyarakat Makkah adalah dengan mengajak mereka untuk memperhatikan alam raya dan keteraturannya. Merujuk pada QS. Al-Anbiya’ ayat 22, Rasulullah menjelaskan kepada mereka bahwa kalau seandainya di dunia dan langit ada tuhan-tuhan selain Allah, maka keduanya tentu hancur berantakan. Sementara untuk mengajak mereka meninggalkan sesembahannya, Rasulullah mengingatkan bahwa berhala yang mereka sembah tidak memiliki kekuatan apapun. 

“Hai manusia, telah dibuatkan perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.” (QS. Al-Hajj: 73)

Kedua, kepercayaan hari akhirat. Selama di Makkah, materi lain yang ditekankan Rasulullah adalah soal hari kiamat, kebangkitan manusia setelah kematian, dan hisab (pertanggungjawaban amal selama hidup di dunia). Di dalam dakwahnya, Rasulullah menyebutkan beberapa ayat Al-Qur’an yang berkenaan dengan kebangkitan setelah kematian dan hari kiamat. Namun kafir Makkah tetap tidak mau percaya. Mereka malah menuntut Nabi Muhammad saw. agar menghidupkan kembali nenek-moyang mereka yang sudah meninggal. Mereka juga menuntut untuk diberi tahu tentang kedatangan hari kiamat. Mereka mengacuhkan bukti-bukti yang dipaparkan di dalam Al-Qur’an.

Diantara orang yang tidak percaya akan hari kebangkitan adalah Ubay bin Khalaf dan al-Ash bin Wail. Mereka berkeyakinan bahwa kebangkitan setelah kematian adalah sesuatu yang tidak logis dan menganggap hal itu khayalan belaka. Bagi mereka, kehidupan hanya ada di dunia ini saja.

Di samping dua hal di atas, ajakan untuk berbudi pekerti luhur dan membantu yang lemah juga menjadi materi yang ditekankan Rasulullah selama berdakwah di Makkah. Itulah materi ajaran yang menjadi inti dari dakwah Rasulullah di Makkah. Penolakan dan penentangan tidak membuat Rasulullah mundur dan berhenti untuk mendakwahkan Islam bagi masyarakat Makkah. (Muchlishon)