IMG-LOGO
Shalat

Ini Lafal Wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA Setiap Hari

Rabu 15 Mei 2019 12:35 WIB
Share:
Ini Lafal Wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA Setiap Hari
(Foto: @via iqraa.com)
Berikut ini adalah lafal wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA. Lafal ini berisi pujian dan doa penting kepada Allah. Lafal wirid ini biasa dibaca setelah sembahyang lima waktu dan even-even keagamaan lainnya. Lafal wirid ini lazim dibaca di kalangan masyarakat Jakarta dan sekitarnya.

Berikut ini lafal wirid Syekh Abu Bakar bin Salim RA:

اللَّهُمَّ لَكَ الحَمْدُ شُكْرًا، وَلَكَ المَنُّ فَضْلًا، (وَأَنْتَ رَبُّنَا حَقًّا)، وَنَحْنُ عَبِيْدُكَ رِقًّا، وَأَنْتَ لَمْ تَزَلْ لِذَلِكَ أَهْلًا

Allāhumma lakal hamdu syukrā, wa lakal mannu fadhlā, (wa anta rabbunā haqqā, pada sebagian riwayat), wa nahnu ‘abīduka riqqā, wa anta lam tazal lidzālika ahlā.

Artinya, “Tuhan kami, segala puji hanya bagi-Mu sebagai syukur, hanya milik-Mu segala pemberian sebagai kelebihan, (Kau Tuhan kami sebenarnya, pada sebagian riwayat), kami adalah hamba-Mu sebagai sahaya, dan Kau selalu pantas untuk semua itu.”

اللَّهُمَّ يَا مُيَسِّرَ كُلِّ عَسِيْرٍ، وَيَا جَابِرَ كُلِّ كَسِيْرٍ، وَيَا صَاحِبَ كُلِّ فَرِيْدٍ، وَيَا مُغْنِيَ كُلِّ فَقِيْرٍ، وَيَا مُقْوِيَ كُلِّ ضَعِيْفٍ، وَيَا مَأْمَنَ كُلِّ مَخِيْفٍ، يَسِّرْ عَلَيْنَا كُلَّ عَسِيْرٍ، فَتَيْسِيْرُ العَسِيْرِ عَلَيْكَ يَسِيْرٌ، اللَّهُمَّ يَا مَنْ لَا يَحْتَاجُ إِلَى البَيَانِ وَالتَّفْسِيْرِ، حَاجَاتُنَا إِلَيْكَ كَثِيْرٌ، وَأَنْتَ عَالِمٌ بِهَا وَبَصِيْرٌ.

Allāhumma yā muyassira kulli ‘asīr, wa yā jābira kulli kasīr, wa yā shāhiba kulli farīd, wa yā mughniya kulli faqīr, wa yā muqwiya kulli dha‘īf, wa yā ma’mana kulli makhīf, yassir ‘alaynā kulla ‘asīr, fa taysīrul ‘asīr ‘alayka yasīr, allāhumma yā man lā yahtāju ilal bayāni wat tafsīr, hājātunā ilayka katsīr, wa anta ‘ālimun bihā wa bashīr.

Artinya, “Tuhan kami, wahai Zat yang memudahkan mereka yang kesulitan, wahai Zat yang menggenapkan mereka yang patah hati, wahai Zat yang menemani mereka yang dalam kesendirian, wahai Zat yang mencukupi mereka yang fakir, wahai Zat yang menguatkan mereka yang daif, wahai Zat tempat aman dari segala ketakutan, mudahkanlah segala kendala yang menyulitkan kami. Sedangkan ‘upaya’ pembalikan yang sulit menjadi mudah bagi-Mu adalah sesuatu yang mudah. Tuhan kami, wahai Zat yang tidak memerlukan penjelasan dan tafsir, hajat kami kepada-Mu begitu banyak. Sedangkan Kau maha tahu dan maha lihat atas itu.”

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَخَافُ مِنْكَ، وَأَخَافُ مِمَّنْ يَخَافُ مِنْكَ، وَأَخَافُ مِمَّنْ لَا يَخَافُ مِنْكَ. اللَّهُمَّ بِحَقِّ مَنْ يَخَافُ مِنْكَ، نَجِّنِيْ مِمَّنْ لَا يَخَافُ مِنْكَ بِحُرْمَةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، احْرُسْنِيْ بِعَيْنِكَ الَّتِيْ لَا تَنَامُ، وَاكْنُفْنِيْ بِكَنَفِكَ الَّذِيْ لَا يُرَامُ، وَارْحَمْنِيْ بِقُدْرَتِكَ عَلَيَّ، فَلَا تُهْلِكْنِيْ وَأَنْتَ رَجَائِيْ بِرَحْمَتِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

Allāhumma innī akhāfu minka, wa akhāfu mimman yakhāfu minka, wa akhafu mimman lā yakhāfu minka. Allāhumma bi haqqi man yakhāfu minka, najjinī mimman lā yakhāfu minka bi hurmati Muhammadin shallallāhu 'alayhi wa sallam, uhrusnī bi ‘aynikal latī lā tanām, waknufnī b kanafikal ladzī lā yurām, warhamnī bi qudratika ‘alayya, fa lā tuhliknī, wa anta rajā’ī bi rahmatika, yā arhamar rāhimīn.

Artinya, “Tuhanku, aku takut kepada-Mu, aku takut kepada mereka yang juga takut kepada-Mu, dan aku takut kepada mereka yang tidak takut kepada-Mu. Tuhanku, berkat pangkat mereka yang takut kepada-Mu, aku mohon selamatkanlah aku dari mereka yang tidak takut kepada-Mu, dengan kehormatan Nabi Muhammad SAW. Jagalah diriku dengan ‘mata’-Mu yang tidak pernah terpejam. Lindungilah diriku dengan perlindungan-Mu yang tiada henti. Berikanlah rahmat-Mu untukku. Dengan kuasa-Mu atasku, janganlah kau binasakan diriku. Sedangkan Kau adalah harapanku, dengan rahmat-Mu waha Zat yang maha pengasih.”

وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَآلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ البَشِيْرِ النَّذِيْرِ السِّرَاجِ المُنِيْرِ، وَالحَمْدُ لِلهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.  

Wa shallallāhu ‘alā sayyidinā Muhammadin wa ālihī wa shahbihī wa sallamal basyīrin nadzīr, as-sirājil munīr, walhamdu lillāhi rabbil ‘ālamīn.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW yang membawa kabar gembira dan peringatan serta lentera penerang, keluarga, dan sahabatnya. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Lafal wirid ini dikutip dari Kitab Ini Wiridku di Waktu Malam atau Siang Hari pada halaman 24-26, karya KH Abdullah Syafi’i, Bali Matraman, Tebet, Jakarta Selatan. Karya ini selesai ditulis pada Jumat, 4 Sya’ban 1375 H atau 16 Maret 1956 M.

Adapun teks terjemahannya kami sadur dari terjemahan dari Kitab Ini Wiridku di Waktu Malam atau Siang Hari. Hanya saja kami mengubah beberapa teks terjemahannya dengan sedikit penyesuaian. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Tags:
Share:
Senin 13 Mei 2019 15:35 WIB
Ini Lafal Shalawat Nur Fathimah
Ini Lafal Shalawat Nur Fathimah
Berikut ini adalah lafal shalawat yang kerap dibaca jamaah shalat Subuh sebagai pengiring jabat tangan sebelum mereka membubarkan diri. Shalawat Nur Fathimah ini berisi lafal shalawat, pujian kepada Allah, dan permohonan agar wafat dalam keadaan sebagai Muslim atau Muslimah.

Berikut ini lafal Shalawat Nur Fathimah:

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

Shallallāhu ‘alā Muhammad.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.”

صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Shallallāhu ‘alayhi wa sallam.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.”

صَلَّى اللهُ عَلَى مُحَمَّدٍ

Shallallāhu ‘alā Muhammad.

Artinya, “Semoga Allah melimpahkan shalawat-Nya kepada Nabi Muhammad SAW.”

يَا ذَا الجَلَالِ وَالإِكْرَاِم

Yā dzal jalāli wal ikrām.

Artinya, “Wahai Zat yang maha besar dan maha mulia.”

أَمِتْنَا عَلَى دِيْنِ الإِسْلَامِ

Amitnā ‘alā dīnil Islām.

Artinya, “Wafatkanlah kami atas agama Islam.”

صَلُّوْا عَلَى نُوْرِ فَاطِمَةَ

Shallū ‘alā nūri Fāthimah.

Artinya, “Bershalawatlah kamu untuk Nur Fathimah.”

يَا رَسُوْلَ اللهِ، المُصْطَفَى

Yā Rasūlallāh, Al-Musthafā.

Artinya, “Wahai Rasulullah, Al-Musthafa.”

اللهُ يَا رَبَّنَا، اللهُ يَا رَبَّنَا، اسْتَجِبْ دُعَاءَنَا

Allāhu yā rabbanā, Allāhu yā rabbanā, istajib du‘ā’anā.

Artinya, “Ya Allah, Tuhan kami. Ya Allah, Tuhan kami, penuhilah doa kami.”

يَا رَبَّنَا، اللهُ يَا رَبَّنَا، تَقَبَّلْ دُعَاءَنَا

Yā rabbanā, Allāhu yā rabbanā, taqabbal du‘ā’anā.

Artinya, “Ya Tuhan kami. Ya Allah, Tuhan kami, terimalah doa kami.”

اللهُ رَبُّ العَالَمِيْنَ

Allāhu rabbul ‘ālamīn.

Artinya, “Allah Tuhan sekalian alam.”

أَوْلِيَاء أَجْمَعِيْنَ

Auliyā ajma‘īn.

Artinya, “(Dan) sekalian para wali Allah.”

Lafal shalawat ini biasa dibaca ketika jamaah shalat Subuh berjabat tangan setelah wirid dan doa. Lafal shalawat ini merupakan pengiring jabat tangan jamaah shalat Subuh. Lafal shalawat ini juga kerap dibaca sebagai pengiring jamaah shalat Tarawih sebagai pengiring jabat tangan sebelum membubarkan diri setelah mereka merampungkan wirid, doa, dan zikir shalat witir.

Lafal ini diamalkan secara lisan dan turun-temurun di masjid-masjid di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, khususnya di Masjid Dakwatul Islamiyyah, Pondok Pinang, Kebayoran Lama. Masyarakat tidak pernah memberikan nama pada shalawat ini. Tetapi penulis memberikan nama shalawat ini dengan sebutan "Shalawat Nur Fathimah" untuk memudahkan pemberian judul artikel. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 5 Mei 2019 18:50 WIB
Ini Lafal Niat Shalat Tarawih Berjamaah
Ini Lafal Niat Shalat Tarawih Berjamaah
(Foto: @reuters)
Shalat Tarawih adalah shalat sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Oleh karena itu kami menyiapkan lafal niat shalat Tarawih secara berjamaah berikut ini.

Berikut ini adalah lafal niat yang dibaca oleh imam shalat Tarawih.

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an imāman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai imam karena Allah SWT.”

Adapun berikut ini adalah lafal niat yang dibaca oleh makmum shalat Tarawih.

اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ أَدَاءً مَأْمُوْمًا لِلهِ تَعَالَى

Ushalli sunnatat Tarāwīhi rak‘atayni mustaqbilal qiblati adā’an ma’mūman lillāhi ta‘ālā.

Artinya, “Aku menyengaja sembahyang sunnah Tarawih dua rakaat dengan menghadap kiblat, tunai sebagai makmum karena Allah SWT.”

Lafal niat shalat ini dikutip dari pelbagai sumber, yaitu Kitab Irsyadul Anam karya Sayyid Utsman bin Yahya (1822 M-1913 M) dan Perukunan Melayu dengan penyesuaian sejumlah redaksional.

Adapun berikut ini adalah pandangan mazhab Syafi’i perihal pelaksanaan shalat Tarawih. Pandangan mazhab Syafi’i ini dikutip dari Kitab Nihayatuz Zein karya Syekh M Nawawi Banten.

من النفل المؤقت الذي تسن فيه الجماعة صلاة (التراويح) …ولا يصح أن يصلي أربعا منها بسلام بل لا بد أن يكون كل ركعتين منها بسلام لأنها وردت كذلك

Artinya, “Salah satu shalat sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah adalah shalat (Tarawih)… Shalat Tarawih tidak sah dilakukan empat rakaat dengan satu salam, tetapi harus dua rakaat dengan satu salam sebagaimana riwayat hadits menyatakan demikian,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2002 M/1422 H], halaman 112).

Lafal niat shalat Tarawih dibaca sebelum takbiratul ihram. Semoga lafal niat shalat Tarawih membantu kekhusyukan kita dalam menata niat shalat Tarawih di dalam hati. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Sabtu 4 Mei 2019 12:0 WIB
Shalat-shalat Wajib Selain Shalat Fardhu Lima Waktu
Shalat-shalat Wajib Selain Shalat Fardhu Lima Waktu
Syariat Islam mengharuskan bagi para pemeluknya untuk melaksanakan berbagai kewajiban. Salah satu kewajiban itu adalah shalat. Melaksanakan shalat bagi umat Islam adalah hal yang wajib dilakukan dengan ketentuan lima kali dalam sehari. Kewajiban ini secara eksplisit dijelaskan dalam Al-Qur’an: 

فَسُبْحَانَ الله حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ وَلَهُ الحمد فِي السماوات والأرض وَعَشِيّاً وَحِينَ تُظْهِرُونَ 

Artinya: “Maka bertasbihlah kepada Allah pada petang hari dan pagi hari (waktu subuh) dan segala puji bagi-Nya baik di langit, di bumi, pada malam hari dan pada waktu zuhur (tengah hari)” (QS Ar-Rum: 17-18)

Namun demikian, apakah shalat yang diwajibkan bagi umat Islam (dalam arti fardhu ‘ain) hanya terbatas pada shalat lima waktu saja?

Dalam hal ini para ulama berbeda pandangan. Mayoritas ulama yakni Aimmah ats-Tsalatsah yang meliputi Imam Syafi’i, Imam Malik, dan Imam Ahmad berpandangan bahwa shalat wajib hanya terbatas pada shalat lima waktu saja. Sedangkan menurut mazhab Hanafi, selain shalat lima waktu terdapat shalat lain yang juga wajib dilakukan, yakni shalat Witir dan shalat ‘Id.  Dengan demikian, menurut mazhab Hanafi ini, shalat yang wajib dilakukan dalam satu hari satu malam ada enam shalat (dengan menambahkan shalat Witir). Sedangkan shalat ‘Id hanya dilakukan dua kali dalam satu tahun, yakni shalat Idul fitri dan shalat Idul Adha.

Perbedaan pandangan di atas seperti yang dijelaskan dalam kitab al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah:

تنقسم الصلوات التي لها وقت معين إلى ثلاثة أقسام عند الحنفية: القسم الأول: صلوات مفروضة، وهي الصلوات الخمس. القسم الثاني: صلوات واجبة، وهي الوتر والعيدان. القسم الثالث: صلوات مسنونة، كالسنن القبلية والبعدية للصلوات الخمس. والجمهور لا يفرقون بين الفرض والواجب، والوتر عندهم سنة، وكذلك العيدان عند المالكية والشافعية، وهي فرض كفاية عند الحنابلة

“Shalat yang memiliki waktu khusus terbagi menjadi tiga bagian menurut mazhab Hanafiyah. Pertama, shalat fardhu yakni shalat lima waktu. Kedua, shalat wajib yakni shalat witir dan dua shalat  ‘Id (Idul Fitri dan Idul Adha). Ketiga, shalat sunnah seperti sunnah qabliyah dan ba’diyah bagi shalat lima waktu. Mayoritas ulama tidak membedakan antara fardhu dan wajib. Dan shalat Witir menurut mayoritas ulama adalah sunnah, begitu juga dua shalat ‘Id menurut mazhab Malikiyah dan Syafi’iyah. Sedangkan menurut mazhab Hanabilah hukumnya adalah fardhu kifayah,” (Kementrian Wakaf dan Urusan Keagamaan, al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, juz 7, h. 170).

Mazhab Hanafi sendiri memang membedakan antara istilah fardhu dan wajib. Fardhu menurut mereka adalah hal yang harus dilakukan, akan mendapatkan dosa dan disiksa di neraka jika ditinggalkan dan dihukumi kafir bagi orang yang mengingkari kefardhuannya. Sedangkan wajib menurut mazhab Hanafi adalah hal yang harus dilakukan, akan mendapatkan dosa dan dihalangi dari syafaat Nabi Muhammad ﷺ jika ditinggalkan dan tidak dihukumi kafir bagi orang yang mengingkari kefardhuannya. Hal ini disebabkan dalil yang menjadi pijakan hukum wajib masih terdapat keserupaan (syubhat) sehingga tingkatan wajib berada di bawah hukum fardhu. Penjelasan tentang hal ini seperti yang tercantum dalam referensi berikut:

الحنفية قالوا: تنقسم السنة إلى قسمين: الأول: سنة مؤكدة . وهي بمعنى الواجب عندهم . لأنهم يقولون : إن الواجب أقل من الفرض . وهو ما ثبت بدليل فيه سبهة ويسمى فرضا عمليا . بمعنى أنه يعامل معاملة الفرائض في العمل . فيأثم بتركه . ويجب فيه الترتيب والقضاء ولكن لا يجب اعتقاد أنه فرض وذلك كالوتر فإنه عندهم فرض عملا لا اعتقادا فيأثم تاركه ولا يكفر منكر فرضيته بخلاف الصلوات الخمس فإنها فرض عملا واعتقادا فيأثم تاركها ويكفر منكرها على أن تارك الواجب عند الحنفية لا يأثم إثم تارك الفرض فلا يعاقب بالنار على التحقيق بل يحرم من شفاعة الرسول عليه الصلاة و السلام

“Mazhab Hanafi berpandangan bahwa sunnah terbagi menjadi dua yakni sunnah muakkad. Sunnah ini semakna dengan kata wajib menurut mazhab Hanafi. Karena mazhab Hanafi ini mengatakan bahwa wajib itu berada di bawah fardhu. Sedangkan wajib adalah sesuatu yang tetap dengan dalil yang masih terdapat keserupaan.  Wajib ini disebut juga dengan fardhu ‘amali, dengan arti bahwa hukum wajib ini diamalkan seperti halnya mengamalkan fardhu, maka seseorang akan terkena dosa jika tidak mengamalkan hal yang wajib, dan dalam mengamalkannya harus secara tartib dan terkena kewajiban mengqadha (bila tidak dilakukan), hanya saja tidak wajib meyakini bahwa hukum wajib ini adalah fardhu.”

Misalnya seperti shalat Witir, menurut mazhab Hanafi shalat ini hukum melaksanakannya adalah fardhu ‘amali bukan i’tiqadi. Maka orang yang meninggalkan shalat Witir terkena dosa, namun orang yang mengingkari kefardhuan shalat ini tidak dihukumi kafir. Berbeda halnya dalam menghukumi shalat lima waktu, shalat tersebut dihukumi fardhu amali dani’tiqadi, sehingga orang yang meninggalkan shalat lima waktu terkena dosa dan orang yang mengingkari fardhunya shalat lima waktu dihukumi kafir. Ketentuan di atas berdasarkan prinsip bahwa meninggalkan hal wajib tidak terkena dosa seperti halnya dosanya meninggalkan perkara fardhu. Maka orang yang meninggalkan wajib tidak disiksa di nereka, hanya saja mereka dihalangi untuk mendapatkan syafaat Rasulullah ﷺ,” (Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh  ala al-Madzahib al-Arba’ah, juz 1, h. 58).

Meskipun shalat Witir dan shalat ‘Id masih diperselisihkan tentang kefardhuannya, namun baiknya dua shalat ini tidak ditinggalkan, sebab dalam fiqih dikenal sebuah kaidah “al-khuruj min al-khilaf mustahabbun” (keluar dari silang pendapat antara ulama adalah hal yang dianjurkan). Sehingga melaksanakan dua shalat yang masih diperselisihkan di atas, selain dihukumi sunnah berdasarkan hukum shalat itu sendiri, juga dihukumi sunnah dengan berdasarkan mengamalkan terhadap kaidah tersebut.
Selain dua shalat di atas, terdapat pula shalat yang juga dihukumi wajib dengan berdasarkan pada faktor-faktor lain, seperti shalat sunnah yang dinazari (terikat janji atau nazar). Misalnya, seseorang bernazar akan shalat tahajud selama seminggu berturut-turut jika lulus ujian. Shalat tahajud yang semula sunnah pun berubah status hukumnya menjadi wajib. Dalam shalat sunnah yang terikat nazar, kewajiban melaksanakannya bukan berdasarkan shalat sunnah itu sendiri (min haitsu as-shalat), tapi lebih karena nazar yang diucapkan oleh seseorang.

Shalat lain yang juga wajib dilaksanakan di luar ketentuan baku lima waktu adalah shalat qadha dari salah satu (atau lebih) shalat fardhu lima waktu yang pernah ditinggalkan. Qadha dalam shalat adalah melaksanakan shalat sesudah habisnya waktu, atau sesudah waktu yang tidak mencukupi untuk menyelesaikan satu rakaat atau lebih. Wajib bagi seseorang melaksanakan qadha shalat fardhu, baik karena tindak indisipliner yang tak disengaja (misalnya: lupa, tertidur) maupun disengaja (meski pelaku tetap berdosa karena kesengajaannya). Wallahu a’lam.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember