IMG-LOGO
Sirah Nabawiyah

Tragedi Ar-Raji dan Bir Ma’unah, Awal Mula Nabi Muhammad Amalkan ‘Qunut Petaka’

Jumat 17 Mei 2019 18:0 WIB
Share:
Tragedi Ar-Raji dan Bir Ma’unah, Awal Mula Nabi Muhammad Amalkan ‘Qunut Petaka’
Qunut nazilah atau ‘qunut petaka’ diamalkan ketika umat Islam menghadapi atau mengalami persoalan yang berat, entah itu soal keamanan, bencana alam, tragedi kemanusiaan, dan lain sebagainya. Meski doanya berbeda, namun praktik qunut nazilah kurang lebih sama dengan qunut Shalat Subuh. Ia dibaca sebelum sujud atau setelah i'tidal di rakaat terakhir setiap shalat wajib lima waktu.

Kesunahan qunut nazilah tidak berlaku pada shalat lainnya, selain shalat lima waktu tersebut. Ia disunnahkan untuk dibaca dan diamalkan sejauh bencana masih menimpa umat Islam. Jika bencana ‘sudah tidak ada’, maka tidak disunnahkan lagi. Demikian dikatakan Sayyid Bakri dalam kitab I‘anatut Thalibin. 

Adalah Nabi Muhammad saw orang yang pertama kali mengamalkan qunut nazilah. Pemicu beliau membaca qunut nazilah adalah tragedi ar-Raji dan Bir Ma’unah. Dalam dua tragedi itu, utusan umat Islam yang ditugaskan Nabi Muhammad untuk mengajarkan Islam kepada Suku ‘Adhal/’Udhul dan al-Qarahs, serta penduduk Nejd dibantai. 

Merujuk buku The Great Episodes of Muhammad saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017), pada bulan Shafar tahun ke-4 Hijriyah, utusan Suku ‘Adhal/’Udhul dan al-Qarah datang menghadap Nabi Muhammad. Mereka meminta Nabi Muhammad agar mengirim beberapa sahabatnya untuk mengajarkan Islam di wilayah mereka. Nabi Muhammad lalu mengutus 10 sahabatnya –riwayat lain menyebut enam orang- yang terdiri dari Ashim bin Tsabit (sebagai ketua delegasi), Abdullah bin Thariq, Khubaib bin Adi, Khalid bin al-Bakir, Marstad bin Abi Marstad, dan Zaid bin Datsanah. 

Ketika utusan Nabi Muhammad sampai di desa ar-Raji, Bani Lahyan –yang sebelumnya diminta Suku ‘Adhal/’Udhul dan al-Qarah- mengepung utusan Nabi Muhammad. Pasukan Bani Lahyan yang terdiri dari 100 pemanah berjanji tidak akan membunuh jika mereka bersedia menyerah. Ashim bin Tsabit dan beberapa orang lainnya menolak menyerah. Mereka langsung dieksekusi mati di tempat. Sementara Zaid bin Datsinah, Abdullah bin Thariq, dan Khubaib bin Adi bersedia menyerah. Mereka kemudian dijual di pasar budak di Makkah. Pada akhirnya, mereka juga dibunuh tuan-tuan yang membelinya sebagai pembalasan atas meninggalnya tokoh-tokoh musyrik Makkah dalam Perang Badar. 

Beberapa hari berselang, seorang dari kepala suku Bani Amir, Abu Bara’ Amir bin Malik Mula’ib al-Asinnah, mendatangi Nabi Muhammad. Dia meminta agar Nabi Muhammad mengirimkan beberapa sahabatnya untuk mengajarkan Islam di wilayahnya di Najd. Semula Nabi Muhammad khawatir utusannya akan bernasib sama dengan tragedi ar-Raji. Abu Bara’ meyakinkan Nabi dan siap memberikan jaminan perlindungan (jiwar). Nabi Muhammad akhirnya mengutus 70 orang yang dikenal dengan nama ‘al-Qurra’. 

Singkat cerita, utusan yang dipimpin Al-Mundzir bin Amir itu dihabisi Amir bin Thufail ketika sampai di wilayah Bir Ma’unah. Hanya ada satu orang yang lolos dari peristiwa pengkhianatan Bani Sulaim tersebut, yaitu Amr bin Umayyah al-Dhamri –riwayat lain menyebutkan Muhammad bin Uqab. Sahabat yang selamat tersebut kemudian balik ke Madinah dan memberi tahu Nabi Muhammad tentang tragedi tersebut. 

Nabi Muhammad sangat sedih dengan dua tragedi yang merenggut nyawa sahabatnya tersebut. Terlebih, kejadiannya hampir bersamaan, yakni sama-sama bulan Shafar 4 Hijriyah. Sebagaimana keterangan dalam buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), Nabi Muhammad kemudian berdoa agar Allah memberikan balasan kepada para pengkhianat tersebut selama sebulan penuh setiap Shalat Shubuh. Doa Nabi itulah yang kemudian disebut dengan qunut nazilah atau ‘qunut petaka’ dan terus diamalkan hingga kini, terutama ketika umat Islam sedang menghadapi suatu persoalan yang berat.

Perlu diketahui bahwa pengkhianatan itu bukan dilakukan oleh Abu Bara’ –orang yang mengusulkan agar Nabi mengirim utusan untuk mengajarkan Islam kepada kaumnya, namun oleh anak saudaranya Abu Bara’, Amir bin Thufail. Setelah tragedi itu, Abu Bara’ memerintahkan anaknya, Rabiah, untuk membunuh Amir bin Thufail. Karena bagaimanapun, sebelumnya dia sudah berjanji akan memberikan jaminan perlindungan (jiwar) kepada utusan Nabi, namun akhirnya gagal. Itu dilakukan ‘untuk membayar kegagalan’ itu. 

Amir bin Thufail hanya terluka setelah ditikam dengan tombak oleh Rabiah. Amir kemudian menuju Madinah untuk membunuh Nabi Muhammad. Mengetahui hal itu, Nabi Muhammad berdoa agar Amir bin Thufail dibalas atas perbuatannya. Di tengah perjalanan, Amir singgah di rumah seorang perempuan yang terkena penyakit. Amir tertular dan meninggal di tengah padang pasir. (A Muchlishon Rochmat)
Share:
Kamis 16 Mei 2019 18:0 WIB
Candaan Nabi Muhammad kepada Zahir
Candaan Nabi Muhammad kepada Zahir
Nabi Muhammad saw bukanlah orang melulu serius. Layaknya manusia pada umumnya, beliau juga tidak jarang bercanda dan bersenda gurau dengan para sahabatnya dalam momen-momen tertentu. Namun demikian, kelakar Nabi Muhammad didasarkan kepada hal benar, tidak mengada-ada, dan tidak pernah keluar dari koridor yang hak. 

Gurauan yang dibuat Nabi Muhammad bisa merekatkan hubungannya dengan sahabatnya, bukan malah merenggangkan. Terkadang, ada pesan khusus yang ingin disampaikan Nabi Muhammad di balik candaan yang dilontarkannya kepada seorang sahabatnya. Salah satunya adalah kisah beliau mencandai Zahir, sebagaimana diceritakan buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib as-Sirjani, 2011).

Zahir adalah sahabat Nabi dari pedalaman Arab. Ia memiliki rupa yang buruk dan daya pikir yang agak lemah. Kendati demikian, Nabi Muhammad mencintai Zahir. Begitupun juga Zahir. Zahir menghabiskan hari-harinya di gurun pasir karena dia memang tinggal di sana.

Suatu ketika, Zahir sedang ada di pasar untuk menjual barang-barangnya. Nabi Muhammad yang ketika itu ada di pasar melihat Zahir. Seketika itu, Nabi Muhammad menangkap Zahir dari belakang tanpa terlihat olehnya. Zahir berteriak-teriak siapa gerangan yang mendekapnya itu. Setelah menoleh ke belakang, Zahir tahu bahwa yang menangkapnya adalah Nabi Muhammad.

Zahir tidak lagi ‘memberontakkan’ tubuhnya. Malah dia menggunakan kesempatan itu untuk mengeratkan pelukan Nabi Muhammad. Beliau terus mendekap tubuh Zahir dan menawarkan kepada orang-orang di pasar untuk membeli Zahir. 

“Wahai manusia, siapa yang mau membeli budak ini (Zahir)?” kata Nabi Muhammad kepada para orang yang ada di pasar. Mendengar perkataan Nabi Muhammad seperti itu, Zahir menjawab kalau dirinya tidak akan laku dijual. Tidak akan ada yang mau membeli dirinya. 

“Namun, di sisi Allah engkau ini mahal,” timpal Nabi Muhammad. 

Melalui kisah di atas, Nabi Muhammad menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, seperti firman Allah dalam QS al-Hujurat ayat 13. Rupa, warna kulit, suku, kecerdasan, dan bangsa bukanlah menjadi ukuran kemuliaan seseorang di sisi Allah.

Apa yang dilakukan Nabi Muhammad kepada Zahir merupakan cara beliau bersikap atau memperlakukan sahabatnya. Beliau meninggikan penghargaan kepada mereka. Sehingga sahabatnya menjadi senang dan beliau juga gembira dengan kegembiraan sahabatnya. (Muchlishon)
Rabu 15 Mei 2019 21:0 WIB
Rabiah bin Ka’ab, ‘Menolak Kawin’ Demi Melayani Nabi Muhammad
Rabiah bin Ka’ab, ‘Menolak Kawin’ Demi Melayani Nabi Muhammad
Ilustrasi menikah (pinterest)
Nabi Muhammad saw sangat menghormati para pelayannya, memahami perasaan mereka, mengakui hak-hak mereka, dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang. Bahkan, suatu ketika Nabi Muhammad menegaskan bahwa pelayan (budak pada saat itu) adalah saudara bagi majikan. Maka sudah seharusnya seorang majikan bersikap kepada para pelayannya sebagaimana dia bersikap kepada dirinya sendiri; memberi makan sesuai yang dia makan, memberi pakaian layaknya yang dia pakai, dan lainnya.

Karena diperlakukan seperti itu, maka para pelayanan Nabi Muhammad juga sangat cinta dan sayang kepada beliau. Mereka dengan senang hati memberikan pelayanan terbaiknya untuk Nabi Muhammad. Mereka tidak menuntut atau meminta yang aneh-anehk kepada Nabi Muhammad. Permintaan mereka hanya satu, yakni bisa terus bersama Nabi Muhammad di dunia ini dan di akhirat kelak. 

Rabiah bin Ka’ab al-Aslami adalah salah seorang pelayan Nabi Muhammad. Tugasnya adalah mempersiapkan keperluan wudhu dan hajat Nabi  Muhammad. Dia melayani Nabi Muhammad sepanjang hari. Meski demikian, dia selalu siap siaga jika tiba-tiba Nabi Muhammad memanggilnya pada malam hari untuk melakukan ini dan itu. 

Melihat dedikasi Rabiah bin Ka’ab al-Aslami yang begitu tinggi, Nabi Muhammad mencoba untuk membalas budi. Beliau meminta Rabiah untuk mengutarakan permintaannya. Dan Nabi Muhammad akan mengabulkannya. 

Rabiah adalah sahabat yang miskin dan tidak memiliki rumah. Dia tinggal di emperan Masjid Nabawi bersama dengan Ahlus Shuffah lainnya. Meski demikian, dia tidak meminta harta benda, kekayaan, atau hal-hal yang bersifat duniawi ketika Nabi Muhammad memintanya untuk mengajukan suatu permintaan. Dia hanya ingin bisa terus bersama Nabi Muhammad, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.  

Kata Nabi Muhammad, jika ingin bersamanya di surga nanti maka Rabiah harus banyak bersujud kepada Allah. Sejak saat itu, Rabiah beribadah dengan sungguh-sungguh. Sehingga harapannya untuk terus bersama Nabi Muhammad hingga di akhirat kelak bisa tercapai.   

Rabiah juga sahabat yang belum berkeluarga. Rupanya keadaan ini membuat Nabi Muhammad prihatin dan kasihan. Beliau kemudian mendorong Rabiah bin Ka’ab untuk kawin agar memiliki teman hidup dan bercengkerama. Namun, Rabiah tidak bersedia. Dia berdalih, jika menikah maka tugasnya melayani Nabi Muhammad akan terganggu. 

“Aku tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu tugasku melayanimu, Nabi,” kata Rabiah, dikutip buku Bilik-bilik Cinta Muhammad saw (Nizar Abazhah, 2018). 

Nabi Muhammad tidak menyerah. Setelah beberapa waktu, Nabi Muhammad kembali menanyakan hal yang sama kepada Rabiah. Mengapa Rabiah tidak kunjung menikah? Kali ini Rabiah menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki segenggam harta pun yang bisa diberikan kepada seorang wanita. Keadaannya yang seperti itu membuatnya pesimis ada seorang wanita yang mau dinikahinya.

Singkat cerita, Nabi Muhammad mengutus Rabiah untuk pergi ke suatu kaum dan menikahi seorang wanita dari kaum tersebut. Tidak ketinggalan, beliau memberikan sebutir emas untuk mahar dan seekor kibas untuk pesta pernikahan Rabiah. Rabiah akhirnya pergi ke kaum tersebut dan menikah dengan wanita pilihan Nabi Muhammad itu. (Muchlishon)
Selasa 14 Mei 2019 21:0 WIB
Khubaib bin Adi, Muslim Pertama yang Mentradisikan Shalat sebelum Dieksekusi
Khubaib bin Adi, Muslim Pertama yang Mentradisikan Shalat sebelum Dieksekusi
Ilustrasi shalat (pinterest)
Pada tahun ke-4 Hijriyah utusan Suku ‘Adhal/’Udhul dan al-Qarah datang menghadap Nabi Muhammad. Mereka meminta Nabi Muhammad mengirim beberapa sahabatnya untuk mengajarkan Islam di wilayah mereka. Singkat cerita, Nabi Muhammad mengutus 10 sahabatnya –riwayat lain menyebut enam orang- dengan Ashim bin Tsabit sebagai pemimpin delegasi ke kampung Suku ‘Adhal/’Udhul dan al-Qarah.

Tidak disangka, undangan tersebut merupakan jebakan yang dibuat Suku ‘Adhal/’Udhul dan al-Qarah. Ketika utusan Nabi Muhammad sampai di desa ar-Raji, Bani Lahyan –yang sebelumnya diminta Suku ‘Adhal/’Udhul dan al-Qarah- mengepung utusan Nabi Muhammad. Dikutip buku Membaca Sirah Nabi Muhammad saw dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih (M Quraish Shihab, 2018), ada 100 pasukan pemanah yang ditugaskan untuk menghajar Ashim bin Tsabit dan beberapa sahabat Nabi lainnya.

Pasukan Bani Lahyan berjanji tidak akan membunuh jika mereka bersedia menyerah. Ashim bin Tsabit dan beberapa orang lainnya menolak menyerah. Mereka langsung dieksekusi mati di tempat. Sementara Zaid bin Datsinah, Abdullah bin Thariq, dan Khubaib bin Adi bersedia menyerah. Namun,di tengah perjalanan, Abdullah bin Thariq berhasil melepaskan ikatan. Dia berusaha melawan, namun meninggal setelah dilempari batu oleh pasukan pengepung. Sementara Zaid bin Datsinah dan Khubaib bin Adi dijual sebagai budak di Makkah.

Zaid bin Datsinah dibeli Shafwan bin Umayyah untuk dibunuh sebagai balas dendam atas terbunuhnya ayah Shafwan dalam Perang Badar. Sementara Khubaib bin Adi dibeli keluarga al-Harits bin Amir. Sama seperti Zaid, Khubaib juga dibeli untuk dieksekusi mati sebagai pembalasan tewasnya al-Harits saat Perang Badar. Kendati demikian, Khubaib tidak langsung dieksekusi. Dia baru akan dibunuh jika keluarga al-Harits semuanya sudah sepakat.

Khubaib menjalani hari-harinya sebagai tawanan atau budak di rumah keluarga al-Harits. Ia menunjukkan sikap baik sebagai seorang Muslim. Tidak mencelakakan keluarga al-Harits meski ada kesempatan untuk melakukannya. Dikisahkan, suatu ketika Khubaib meminjam sebilah pisau kepada seorang putri al-Harits untuk mencukur. Pada saat itu, anak dari putri al-Harits sedang merangkak ke arah Khubaib. Sang putri al-Harits khawatir dan takut kalau Khubaib bakal melakukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Namun, kecemasan putri al-Harits itu sirna setelah Khubaib menegaskan tidak akan membunuh anak kecil dari keluarga al-Harits tersebut.

“Aku tidak pernah menjumpai tawanan yang lebih baik dari Khubaib,” kata putri al-Harits tersebut.

Setelah beberapa hari berlalu, keluarga al-Harits sepakat untuk mengeksekusi Khubaib bin Adi. Mereka kemudian membawa Khubaib keluar dari Makkah. Sebagaimana dikutip dari buku The Great Episodes of Muhammad saw (Said Ramadhan al-Buthy, 2017), sebelum dieksekusi Khubaib mengajukan satu permintaan kepada keluarga al-Harits. Dia minta izin agar diperbolehkan mengerjakan shalat dua rakaat sebelum dieksekusi. Mereka mengabulkan permintaan Khubaib tersebut. 

Maka dengan demikian, Khubaib menjadi Muslim pertama yang melakukan shalat sunnah dua rakaat sebelum dieksekusi mati. Tradisi ini masih banyak dilakukan Muslim ketika mereka hendak dieksekusi mati. Khubaib sempat melantunkan syair sebelum dihukum mati. Berikut bait-bait syairnya:

Aku tak peduli selama aku dibunuh sebagai Muslim
Di belahan tubuh manakah aku akan dibunuh di jalan Allah
Itu semua pastilah sesuai kehendak-Nya
Jika Dia menghendaki, Dia akan memberkati pada bagian yang dicabik-cabik.
(A Muchlishon Rochmat)