IMG-LOGO
Shalawat/Wirid

Sejarah dan Asal Muasal Shalawat Nabi

Senin 27 Mei 2019 15:0 WIB
Share:
Sejarah dan Asal Muasal Shalawat Nabi
(Foto: @via twitter.com)
Membaca shalawat adalah salah satu amalan dan penghargaan kita kepada Rasulullah SAW. Sebagai umat Rasul SAW tentu kita tak asing lagi dengan amalan membaca shalawat, bahkan di masa sekarang membaca shalawat tidak hanya amalan yang bernilai pahala, tapi juga sudah mulai menjadi budaya dan perlombaan.
 
Bagaimana sejarah dan asal muasal shalawat. Mengapa shalawat bisa menjadi seterkenal dan membudaya seperti sekarang?
 
Membahas sejarah shalawat tentu tidak bisa terlepas dari Surat Al-Ahzab ayat 56:
 
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
 
Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
 
Sebab turunnya ayat ini bisa dibilang menjadi sejarah shalawat kepada Rasul SAW. Sebab, At-Thabari menyebutkan bahwa setelah ayat ini turun, ada seorang sahabat yang bertanya terkait bunyi shalawat kepada Rasulullah SAW. Kemudian Rasul SAW menyebutkan shalawat Ibrahimiyah, sebagaimana yang biasa kita baca pada tasyahud akhir saat shalat.
 
Ayat tersebut oleh At-Thabari memerintahkan orang-orang yang beriman untuk mendoakan Rasul SAW dan keselamatannya, (Lihat Ibnu Jarir At-Thabari, Jāmiʽul Bayān fi Ta’wīlil Qur’ān, [Beirut, Muassasatur Risālah: 2000], juz XX, halaman 320).
 
Terkait kapan shalawat itu diwajibkan kepada Rasul SAW, merujuk pada turunnya ayat tersebut kepada Rasul SAW, perintah shalawat tersebut diturunkan pada bulan Syaban pada tahun kedua Hijriyah.
 
Oleh Abu Dzar Al-Harawī, inilah yang disebut bulan Syaban sebagai bulan shalawat, (Lihat Muḥammad ibn ʽAbdur Rahmān As-Sakhawi, Al-Qaulul Bādiʽ fis Ṣhalāh ʽalal Ḥabībis Syāfiʽ, [Madinah, Muassasatur Rayyān: 2002 M], halaman 92).
 
Secara lebih lanjut As-Suyuṭī menjelaskan bahwa shalawat sebenarnya sudah ada sejak masa Nabi Musa AS dan kaumnya, Bani Isra’il. Saat itu Bani Isra’il bertanya kepada Nabi Musa AS, terkait apakah Allah SWT bershalawat kepada makhluk-Nya. Mendengar pertanyaan dari kaumnya tersebut, Nabi Musa AS kemudian berdoa dan meminta jawaban kepada Allah SWT. Allah SWT pun menjawab pertanyaan Nabi Musa AS. Allah SWT berfirman kepada Nabi Musa AS.
 
يَا ُموسَى إِنْ سَأَلُوْكَ هَلْ يُصَلِّي رَبُّكَ؟ فَقُلْ : نَعَمْ . أَنَا أُصَلِّي وَمَلَائِكَتِي عَلَى أَنْبِيَائِي وَرُسُلِي
 
Artinya, “Wahai Musa AS, sungguh kaum Bani Israil bertanya kepadamu, apakah Tuhanmu bershalawat kepada makhluk-Nya? Jawablah, ‘Iya. Aku dan juga para malaikatku bershalawat kepada para nabi dan rasul-Ku,’” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).
 
Kemudian turunlah Surat Al-Ahzab di atas. As-Suyūṭī menambahkan bahwa setelah turun ayat tersebut, kaum Bani Israil tersebut kemudian bahagia dan memujinya.
 
Dari hal ini bisa diambil kesimpulan bahwa anjuran bershalawat turun untuk menghargai dan memuji utusan Rasul SAW atas tanggungannya berdakwah kepada para kaumnya.
 
Shalawat itu awalnya sebagai kabar baik kepada kaum Bani Israil, namun Allah SWT juga memberikan keutamaan kepada para nabi melalui shalawat kepadanya terlebih dahulu karena semuanya disampaikan melalaui perantaranya.
 
Ini juga bisa termasuk sebagai penghargaan kepada Nabi dan Rasul tersebut. Dalam hal ini Ubay ibn Ka’ab menyebutkan bahwa tidak ada hal baik yang diturunkan kepada seorang Rasul kecuali Rasul tersebut menjadi bagian dari hal baik tersebut. Turunlah Surat At-Taubah ayat 112.
 
التَّائِبُونَ الْعَابِدُونَ الْحَامِدُونَ السَّائِحُونَ الرَّاكِعُونَ السَّاجِدُونَ الْآمِرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَالنَّاهُونَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحَافِظُونَ لِحُدُودِ اللَّهِ ۗ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
 
Artinya, “Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadat, yang memuji, yang melawat, yang rukuk, yang sujud, yang menyuruh berbuat makruf dan mencegah berbuat munkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Gembirakanlah orang-orang mukmin itu,” (Lihat Jalaludin As-Suyuthi, Ad-Durārul Mantsūr, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz VIII, halaman 197).
 
Oleh karena itu pada masa Rasulullah SAW, shalawat ini juga bisa menjadi sebuah penghargaan kepada Rasul SAW. Itulah mengapa ketika nama Rasul SAW disebut, Rasul SAW menganjurkan kita untuk membaca shalawat kepadanya, bahkan dengan memberikan janji keutamaan-keutamaan yang banyak.
 
Hal ini diperkuat oleh pendapat Al-Ghazali dan beberapa ulama lain yang dikutip oleh As-Sakhawi yang menyebutkan bahwasanya shalawat kepada Nabi SAW tidak terbatas sebagai doa, tapi juga sebagai pujian dan sebagai ibadah. Wallahu a‘lam.
 
 
Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, Pegiat Kajian Tafsir dan Hadits.
Share:
Ahad 19 Mei 2019 20:30 WIB
Dzikir dengan Mengulang 'Allah, Allah, Allah' dalam Islam
Dzikir dengan Mengulang 'Allah, Allah, Allah' dalam Islam
Ilustrasi (via coub.com)
Ada banyak sekali ragam bacaan dzikir yang dipraktikkan kaum muslimin, ada yang pendek dan ada pula yang panjang. Beberapa bacaan dzikir yang populer adalah semisal takbir (Allâhu akbar), tahmid (al-hamdu lillâh), tahlil (lâ ilâha illAllah), hauqalah (lâ haula walâ quwwata illâ billâh) dan sebagainya yang semua ulama sepakat akan kebaikannya. 

Namun, ada satu lafal dzikir yang dipermasalahkan oleh sebagian pihak, yakni ketika berdzikir dengan hanya mengulang nama Allah saja sehingga menjadi: "Allah, Allah, Allah, Allah...." Dzikir dengan satu kata “Allah” saja semacam ini kerap dijumpai dalam lelaku ilmu tasawuf. Mengomentari dzikir semacam ini, Syekh Ibnu Taymiyah berkata:

والذكر بالاسم المفرد مظهرا ومضمرا بدعة في الشرع وخطأ في القول واللغة فإن الاسم المجرد ليس هو كلاما لا إيمانا ولا كفرا

"Dzikir dengan isim mufrad (satu kata), baik berupa kata asli (Allah) ataupun kata ganti (Huwa) adalah bid’ah dalam syariat, salah secara etika berbicara dan keliru secara bahasa. Karena satu kata, bukan kalam (kalimat sempurna), bukanlah iman dan bukan pula kekafiran.” (Ibnu Taymiyah, Majmu’ Al-Fatawa, X, 396).

Demikianlah pandangan Syekh Ibnu Taymiyah yang memang terkenal dengan pendapat-pendapatnya yang keras. Pandangan seperti ini diikuti oleh para pengikutnya dari kalangan pendaku Salafi kontemporer seperti Syekh Bin Baz dan Syekh Ibnu Utsaimin dalam fatwanya masing-masing (Majmu' Fatawa Ibn Baz dan Majmu' Fatawa wa Rasa'il al-Utsaimin). Benarkah dzikir semacam ini haram seperti fatwa-fatwa tersebut? Berikut penjelasannya:

Baca juga:
Penentuan Jumlah Bilangan Suatu Wirid
Penentuan Khasiat Suatu Wirid dalam Pandangan Islam
Ibnu Taimiyah dan Imam Nawawi Mengarang Wirid Sendiri
Dzikir secara harfiah berarti menghafal, mengingat atau menyebut. Menurut ar-Raghib, kata dzikir sama dengan menghafal (al-hifdh) tetapi makna menghafal lebih pada aspek menyimpan memori, sedangkan dzikir (adz-dzikr) lebih pada aspek menyatakan memori tersebut. Kadang, kata dzikir juga bermakna mengingat dalam hati. (ar-Raghib al-Asfahani, al-Mufradat Fi Gharib al-Qur’an, 328).  Dari pengertian ini sebenarnya mengulang kata “Allah, Allah, Allah” masuk dalam kategori makna dzikir sebab ia adalah perwujudan dari mengingat dan menyampaikan isi hati.

Salah satu perintah berdzikir yang ada dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلًا

"Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati." (QS. Al-Muzzammil: 8)

Ayat tersebut memerintahkan untuk menyebut nama Tuhan Nabi Muhammad, yang tak lain adalah Allah. Syekh Ali Jum’ah, salah satu mufti kontemporer dari Mesir, dalam salah satu video ceramahnya menerangkan bahwa ayat ini sama sekali tidak menyuruh untuk menyucikan Allah dengan ucapan tasbih, mengagungkan Allah dengan ucapan takbir, mentauhidkan Allah dengan ucapan tahlil dan sebagainya tetapi hanya memerintahkan untuk menyebut nama Tuhan, yakni Allah saja. Ayat ini adalah dalil yang sangat jelas bahwa menyebut nama Allah berulang kali adalah kebaikan, sama sekali bukan hal tercela. Penulis melihat semua kritik terhadap dzikir dengan satu kata seperti ini tak berpijak pada dasar argumentasi yang kokoh dan menjadi batal di depan ayat ini.

Bila kita melihat hadits Nabi, penyebutan dzikir dengan satu kata bukanlah hal yang tidak ada sama sekali sehingga bisa dianggap bid’ah. Dalam riwayat sahih Imam Muslim disebutkan:

عَنْ أَنَسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى لَا يُقَالَ فِي الْأَرْضِ: اللهُ، اللهُ 

“Dari Anas, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: Kiamat tak akan terjadi hingga di muka bumi tak disebut: Allah, Allah.” (HR. Muslim)

Hadits tersebut menambah bukti bahwa dzikir dengan menyebut “Allah, Allah” tidaklah terlarang, bahkan sebaliknya merupakan kebajikan yang membuat kiamat takkan terjadi bila ia masih terucap di muka bumi. Karena itulah, wajar sekali bila para ulama tasawuf terkemuka mengajarkan dzikir semacam ini, salah satunya adalah Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang menjelaskan cara-cara berdzikir untuk selalu mengingat Allah, sebagaimana berikut:

فإن أصل طريق الدين القوت الحلال وعند ذلك يلقنه ذكراً من الأذكار حتى يشغل به لسانه وقلبه فيجلس ويقول مثلا الله الله أو سبحان الله سبحان الله أو ما يراه الشيخ من الكلمات 

“Maka sesungguhnya dasar dari jalan tasawuf adalah makanan yang halal. Maka ketika itu terpenuhi, hendaknya seorang guru mendiktekan pada muridnya salah satu macam dzikir hingga lisan dan hatinya sibuk dengan itu. Ia duduk dan misalnya berkata: “Allah, Allah” atau “Subhanallah subhanallah” atau redaksi lain yang diajarkan oleh gurunya.” (al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, III, 77).

Adapun soal anggapan bahwa mengulang kata “Allah” saja adalah salah menurut bahasa sebab tak berupa kalimat sempurna seperti “Mahasuci Allah” atau “Allah Mahabesar”, maka anggapan ini tidak bisa menjadi dalil untuk mengharamkan dzikir semacam ini sebab meskipun tak lumrah sebab hanya satu kata, ia tetaplah berfungsi selayaknya redaksi dzikir yang panjang sebagai pengingat kepada Allah. Imam ar-Ramli, salah satu ulama yang diakui sebagai mujtahid di kalangan mazhab Syafi’iyah, dalam kitab fatwanya pernah ditanya perihal hal ini dan beliau memberikan jawaban sebagai berikut:

ـ (سُئِلَ) عَنْ قَوْلِ الْقَائِلِ فِي مَجْلِسِ الذِّكْرِ اللَّهُ اللَّهُ فِي حَالِ صَحْوِهِ مِنْ اسْتِغْرَاقٍ هَلْ يُسَمَّى ذِكْرًا أَوْ لَا، وَإِذَا قُلْتُمْ بِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى ذِكْرًا هَلْ يُثَابُ عَلَيْهِ أَمْ لَا؟ (فَأَجَابَ) بِأَنَّهُ لَا يُسَمَّى ذِكْرًا عُرْفًا لِعَدَمِ إفَادَتِهِ لَكِنَّهُ يُثَابُ لِقَصْدِ الذِّكْرِ كَمَا أَنَّ ذَا الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ آثِمٌ بِنُطْقِهِ بِحَرْفٍ وَاحِدٍ مِنْ الْقُرْآنِ بِقَصْدِ الْقِرَاءَةِ؛ لِأَنَّهُ نَوَى مَعْصِيَةً وَشَرَعَ فِيهَا، وَإِنْ لَمْ يُسَمَّ قَارِئًا

“Imam ar-Ramli ditanya tentang ucapan seseorang di majelis dzikir ‘Allah, Allah’ di saat ia tersadar dari keheningan dzikirnya, apakah itu disebut dzikir atau tidak? Dan bila tidak, apakah berpahala atau tidak?” Ar-Ramli menjawab: “Secara kebiasaan yang berlaku, hal itu tidak disebut dzikir sebab bukan merupakan kalimat sempurna, tetapi pelakunya mendapat pahala sebab berniat dzikir, seperti halnya seseorang yang punya hadats besar berdosa ketika melafalkan satu huruf Al-Qur’an dengan niat membaca al-Qur’an, meskipun [secara kebiasaan] tidak disebut sebagai telah membaca Al-Qur’an,” (ar-Ramli, Fatawa ar-Ramli, IV, 358).

Penjelasan Imam ar-Ramli di atas bisa menjadi jawaban bagi yang mempermasalahkan ketidaklengkapan susunan kalimat bila dzikir hanya terdiri dari satu kata saja. Anggaplah ia memang tidak disebut sebagai dzikir karena alasan tersebut, tetapi bukan berarti ia haram atau bid’ah, melainkan tetap berpahala sesuai dengan niat pengucapnya. Apalagi hal ini sesuai dengan keterangan dalam ayat dan hadits di atas. Jadi, fatwa yang mengharamkan dzikir semacam ini adalah tidak tepat. Wallahu a’lam.


Ustadz Abdul Wahab Ahmad, Wakil Katib PCNU Jember dan Peneliti Bidang Aqidah di Aswaja NU Center Jawa Timur.

Ahad 19 Mei 2019 4:30 WIB
Ini Wirid yang Dibaca Sebelum Shalat Subuh
Ini Wirid yang Dibaca Sebelum Shalat Subuh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terbiasa melafalkan berbagai macam wirid-wirid dan doa-doa, baik itu sebelum shalat ataupun sesudah shalat fardhu. Bacaan dzikir dan doa yang pernah dilafalkan beliau, merupakan tuntunan bagi umatnya agar dapat dilakukan. Setiap doa dan dzikir yang langsung bersumber dari Rasulullah, biasa disebut dengan doa ma’tsur atau dzikir ma’tsur

Berikut bacaan yang dilafalkan oleh Rasulullah sebelum melaksanakan shalat subuh dan setelah melaksanakan shalat qabliyah subuh, yang dijelaskan oleh Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani dalam kitabnya, Nihayah az-Zain halaman 110:

وروى ابن عباس رضي الله عنهما أنه صلى الله عليه وسلم لما صلى ركعتي الفجر قال قبل صلاة الفرض 

“Sahabat Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika selesai melaksanakan shalat (sunnah) dua rakaat fajar, beliau berdoa sebelum melaksanakan shalat fardhu (shalat subuh):

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قَلْبِي وَتَجْمَعُ بِهَا شَمْلِي وَتَلُمُّ بِهَا شَعَثِي وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِي وَتُصْلِحُ بِهَا دِينِي وَتَحْفَظُ بِهَا غَائِبِي وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدَيْ وَتُزَكِّي بِهَا عَمَلِي وَتُبَيِّضُ بِهَا وَجْهِي وَتُلْهِمُنِي بِهَا رُشْدِي وَتَعْصِمُنِي بِهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ اللَّهُمَّ أَعْطِنِي إِيمَانًا صَادِقًا وَيَقِينًا لَيْسَ بَعْدَهُ كُفْرٌ وَرَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَامَتِكَ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْفَوْزَ عِنْدَ اللِّقَاءِ وَمَنَازِلَ الشُّهَدَاءِ وَعَيْشَ السُّعَدَاءِ وَالنَّصْرَ عَلَى الأَعْدَاءِ وَمُرَافَقَةَ الأَنْبِيَاءِ

“Ya Allah. Aku meminta pada-Mu kerahmatan di sisi-Mu yang dapat menunjukkan hatiku, mengumpulkan yang terserak dariku, memperbaiki apa yang kusut padaku mengembalikan padaku kesenanganku, memperbaiki agamaku, menjaga batinku (dari sifat-sifat buruk), mengangkat lahiriahku (dengan amal baik), mensucikan amalku, memutihkan wajahku, mengilhamkan petunjuk padaku, dan menjagaku dari segala kejelekan.

“Ya Allah berikanlah padaku iman yang sungguh-sungguh dan keyakinan yang tidak diikuti oleh kekafiran dan Rahmat yang dengannya Aku memperoleh kemuliaan-Mu di dunia dan di akhirat. Ya Allah Aku memohon pada-Mu sebuah keberuntungan ketika perjumpaan (dengan-Mu), derajat para syuhada’, kehidupan orang-orang yang bahagia, pertolongan atas musuh dan berdampingan dengan para nabi (di surga).

 اللهم إِنِّيْ أَنْزِلْ حَاجَتِيْ وَإِنْ ضَعُفَ رَأْيِيْ وَقَلَّتْ حِيْلَتِيْ وَقَصُرَ أَهْلِيْ وَافْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِيَ الْأُمُوْرِ وَيَا شَافِيَ الصُّدُوْرِ كَمَا تُجِيْرَ بَيْنَ الْبُحُوْرِ أَنْ تُجِيْرَنِيْ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ وَمِنْ دَعْوَةِ الثُّبُوْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقبُوْرِ 
اللَّهُمَّ مَا قَصُرَ عَنْهُ رَأْيِي وَضَعُفَ مِنْهُ أمَلِي وَلَمْ تَبْلُغْهُ نيتي وأُمْنِيَّتِي مِنْ خَيْرٍ وَعَدْتَهُ أَحَدًا مِنْ عِبَادِكَ أَوْ خَيْرًا أَنْتَ مُعْطِيهِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَإِنِّي أَرْغَبُ إِلَيْكَ فِيهِ وَأَسْأَلُكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
 اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِينَ مَهْتَدِينَ غَيْرَ ضَالِّينَ وَلا مُضِلِّينَ حَرْبًا لأَعْدَائِكَ وَسِلْمًا لأَوْلِيَائِكَ نُحِبُّ بِحُبِّكَ من أطاعك مِنْ خَلْقِكَ 

“Ya Allah, sesungguhnya Aku menyerahkan hajatku (kepada-Mu), meskipun lemah pendapatku, sedikit tipu dayaku, pendek kemampuanku, dan perlunya aku akan rahmat-Mu, maka Aku mohon wahai Sang pemutus segala perkara, penyembuh segala dada (hati), sebagaimana Engkau menjauhkan di antara lautan, agar Engkau juga menjauhkanku dari azab neraka Sa’ir, juga dari seruan kecelakaan dan fitnah kubur.

“Ya Allah apapun yang pikiranku pendek darinya, angan-anganku lemah darinya, serta niat dan cita-citaku tak sampai padanya daripada segala kebaikan yang telah Engkau janjikan kepada salah seorang dari hamba-Mu, atau kebaikan yang Engkau berikan kepada salah seorang dari makhluk-Mu, maka sesungguhnya Aku sangat mendambakannya juga kepadamu, dan Aku memohon kepada-Mu kebaikan tersebut, wahai Tuhan penguasa seluruh alam semesta.

Ya Allah jadikanlah kami orang-orang yang membawa petunjuk dan selalu ditunjuk, bukan orang yang sesat dan bukan pula menyesatkan. Kami memerangi musuh-musuh-Mu dan kami berdamai dengan para kekasih-Mu, kami mencintai orang yang taat padamu di antara makhlukmu dengan kecintaan kami pada-Mu.

اللَّهُمَّ هَذَا الدُّعَاءُ وَعَلَيْكَ الإِجَابَةُ وَهَذَا الْجَهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلانُ وإنا لله وإنا إليه راجعون وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ ذَيْ الْحَبْلِ الشَّدِيدِ وَالأَمْرِ الرَّشِيدِ أَسْأَلُكَ الأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيدِ وَالْجَنَّةَ يَوْمَ الْخُلُودِ مَعَ الْمُقَرَّبِينَ الشُّهُودِ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ الْمُوفِينَ بِالْعُهُودِ إِنَّكَ رَحِيمٌ وَدُودٌ وَأنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ سُبْحَانَ الَّذِيْ لَبِسَ الْعِزَّ وَقَالَ بِهِ سُبْحَانَ مَنْ تَعَطَّفَ بِالْمَجْدِ وَتَكَرَّمَ بِهِ سُبْحَانَ الَّذِي لاَ يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلا لَهُ سُبْحَانَ ذِيْ الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ سُبْحَانَ ذِيْ الْعِزَّةِ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ الَّذِي أَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ بِعِلْمِهِ

“Ya Allah, ini adalah doa dan bagi-Mu penerimaan, dan ini adalah kadar usaha kami dan kepada-Mu lah berserah diri. Dan sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kami hanya akan kembali kepada-Nya, dan tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan (pertolongan) Allah yang Maha-luhur lagi Maha-agung. Dia yang memiliki tali (Agama) yang kuat, dan perkara yang penuh petunjuk. Kami memohon pada-Mu keamanan pada hari datangnya ancaman, dan surga pada hari kekekalan bersama dengan orang-orang yang di dekatkan lagi menyaksikan (Allah), yang ahli ruku’ dan sujud, dan menepati janji, sesungguhnya Engkau Maha-penyayang lagi mencintai, dan Engkau Maha-memperbuat apa yang Engkau kehendaki.

“Maha-suci Dzat yang Maha-mengenakan kemuliaan dan berfirman dengan kemuliaan itu. Maha-suci Dzat yang bersikap lembut dengan keperkasaan-Nya dan berbuat dermawan dengan keperkasaan itu. Maha-suci Dzat yang mana tidak layak pensucian kecuali untuk-Nya. Mahasuci Dzat pemilik karunia dan nikmat-nikmat. Maha-suci Dzat pemilik kemuliaan dan kedermawanan. Maha-suci Dzat yang menghitung segala sesuatu dengan ilmu-Nya.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي نُورًا فِي قَلْبِي وَنُورًا فِي قَبْرِي وَنُورًا فِي سَمْعِي وَنُوْرًا مِنْ بَيْنِ يَدِيْ وَنُوْرًا مِنْ خَلْفِيْ وَنُوْرًا عَنْ يَمِيْنِيْ وَنُوْرًا عَنْ شِمَالِيْ وَنُوْرًا مِنْ فَوْقِيْ وَنُوْرًا مِنْ تَحْتِيْ اَللّهُمَّ زِدْنِيْ نُوْرًا وَأَعْطِنِيْ نُوْرًا 
 
“Ya Allah jadikanlah padaku bagiku cahaya di hatiku, cahaya di kuburku, cahaya di pendengaranku, cahaya di depanku, cahaya di belakangku, cahaya di arah kananku, cahaya di arah kiriku, cahaya di atasku, cahaya di bawahku. Ya Allah tambahkanlah untukku cahaya dan berikanlah padaku cahaya” (Syekh Muhammad an-Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, hal. 100).

Syekh Muhammad an-Nawawi kemudian melanjutkan penjelasannya tentang wirid lain yang dianjurkan untuk dibaca di antara shalat sunnnah dan shalat fardhu subuh. Berikut adalah wirid yang beliau sebut memiliki keutamaan agung (fadhlun ‘adhîm) itu:

 سُبْحَانَ مَنْ تَعَزَّزَّ بِالْعَظَمَةِ سُبْحَانَ مَنْ تَرَدَّى بِالْكِبْرِيَاءِ سُبْحَانَ مَنْ تَفَرَّدَ بِالْوَحْدَانِيَّةِ سُبْحَانَ مَنِ احْتَجَبَ بِالنُّوْرِ سُبْحَانَ مَنْ قَهَّرَ الْعِبَادَ بِالْمَوْتِ سُبْحَانَ مَنْ لَا يُفَوُّتُهُ فَوْتٌ سُبْحَانَ الْأَوَّلِ اَلْمُبْدِىءُ سُبْحَانَ الْآخِرِ اَلْمُفْنِيْ سُبْحَانَ مَنْ تُسَمِّىْ قَبْلَ أَنْ يُسَمًّى سُبْحَانَ مَنْ عَلَّمَ آدَمَ الْأَسْمَاءَ سُبْحَانَ مَنْ كَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ سُبْحَانَ مَنْ لَا يَعْلَمُ قَدْرَهُ غَيْرُهُ

“Maha-suci Dzat yang menjadi mulia dengan keagungan. Maha-suci Dzat yang mampu membinasakan dengan penuh kebesaran. Maha-suci Dzat yang menyendiri dengan sifat wahdaniyah. Maha-suci Dzat yang terhalangi oleh cahaya. Maha-suci Dzat yang menundukkan hambanya dengan kematian. Maha-suci Dzat yang tidak akan sirna. Maha-suci Dzat yang Maha-awal dan menjadi permulaan. Maha-suci Dzat yang Maha-akhir dan mensirnakan (segala hal). Maha-suci Dzat yang menamai (diri-Nya) sebelum diberi nama. Maha-suci Dzat yang mengajarkan Nabi Adam berbagai macam nama-nama . Maha-suci Dzat yang ‘Ars-Nya berada di atas air. Maha-suci Dzat yang tidak mengetahu terhadap derajat-Nya selain diri-Nya.”

Lalu melafalkan bacaan berikut sebanyak tiga kali:

 سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ سُبْحَانَ اللهِ الْعَظِيْمِ 

“Maha-suci Allah dengan memuji-Nya, Maha-suci Allah yang Maha-agung”

Dan diakhiri dengan bacaan berikut:

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

“Maha-suci Tuhanmu, Tuhan yang Maha-perkasa dari sifat yang mereka katakan, dan semoga keselamatan menyertai para rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh Alam” (Syekh Muhammad an-Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain, hal. 101).

Semoga kita dapat mengamalkan bacaan di atas dengan istiqamah dan doa-doa serta dzikir yang kita lantunkan dapat menjadi amal yang diterima oleh Allah subhanahu wata’ala. Amiin yaa rabbal ‘alamin.


Ustadz M. Ali Zainal Abidin, pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah Kaliwining Rambipuji Jember 
Kamis 16 Mei 2019 13:30 WIB
10 Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Membaca Shalawat
10 Perbedaan Pendapat Ulama tentang Hukum Membaca Shalawat
Bagi seorang Muslim, membaca shalawat adalah sebuah amalan yang tak asing lagi. Hal ini sering kita lakukan terutama ketika nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam disebut. Namun, para ulama sendiri ternyata tidak satu suara terkait hukum membaca shalawat. Para ulama berbeda pendapat terkait hukum membaca shalawat, apakah wajib, sunnah, ataupun mubah.

Ibn Ḥajar al-Asqalani (w. 852 H) menyebutkan bahwa para ulama tidak satu kata dalam memberikan hukum membaca shalawat. Ibn Ḥajar membagi perdebatan hukum shalawat ini menjadi sepuluh kelompok (lihat: Ibn Ḥajar al-Asqalânî, Fatḥ al-Bârî Syarḥ Shaḥiḥ al-Bukharî, (Beirut: Dâr al-Fikr, T.T), j. 11, h. 152.)

Kelompok pertama menyatakan bahwa hukum membaca shalawat adalah sunnah. Salah satu ulama yang mendukung pendapat ini adalah Ibn Jarir at-Thabari. At-Thabari menyebutkan bahwa pendapat ini sudah menjadi kesepakatan para ulama. 

Kedua, pendapat yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib tanpa ada batasan apa pun. Salah satu pendukung pendapat ini adalah Ibn al-Qishar. 

Ketiga, pendapat Abu Bakr al-Razi, salah satu ulama Hanafiyah, dan Ibn Ḥazm yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib, sebagaimana wajibnya kalimat tauhid, yang harus diucapkan pada waktu melakukan shalat wajib dan shalat sunnah. Pendapat ini juga didukung oleh al-Qurthubi dan Ibn ʽAthiyyah. 

Keempat, pendapat Imam al-Syafiʽi dan para pengikutnya, yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib, namun hanya pada waktu duduk di akhir shalat (duduk tahiyyat akhir), antara ucapan tasyahud dan salam. 

Kelima, pendapat al-Syaʽbi dan Ishaq ibn Rahawaih, yang menyebutkan bahwa hukum shalawat adalah wajib pada saat tasyahud shalat. 

Keenam, pendapat Abu Jaʽfar al-Baqir yang menyatakan bahwa hukum shalawat adalah wajib pada saat shalat tanpa batasan. Sehingga dalam pendapat ini shalawat bisa dibaca kapanpun, asalkan dalam keadaan shalat. 

Ketujuh, pendapat Abu Bakr bin Bukair, ulama Malikiyyah, yang menyebutkan bahwa diwajibkan memperbanyak shalawat tanpa batasan jumlah. 

Kedelapan, pendapat Imam al-Thahawi, Ibn ʽAraby, al-Zamakhsyari dan beberapa ulama lain, yang menyebutkan bahwa diharuskan membaca shalawat saat nama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam disebutkan, ini sebagai bentuk kehati-hatian. Jadi saat ada yang menyebut nama Rasulullah kita diharuskan untuk membaca shalawat. 

Kesembilan, pendapat al-Zamakhsyari, yang menyebutkan bahwa wajib membaca shalawat satu kali di setiap majelis, walaupun dalam majelis itu, kita sering menyebut nama Rasulullah berulang-ulang. 

Kesepuluh, membaca shalawat diwajibkan dalam setiap doa yang kita panjatkan, hal ini juga disebutkan oleh al-Zamakhsyarî.

Perbedaan pendapat ini dipengaruhi oleh hadits-hadits yang dijadikan sebagai rujukan. Al-Ityûbi (l. 1366 H) misalnya, menyebutkan bahwa ia lebih menguatkan pendapat yang kedelapan (wajib saat disebutkan nama Rasulullah) karena didukung oleh sebuah hadits riwayat Abu Hurairah. 

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwa Rasulullah bercakap-cakap dengan seorang laki-laki yang merupakan perwujudan dari Jibril. Saat itu Jibril berkata kepada Rasulullah bahwa jika ada orang yang mendengar nama Rasulullah disebut, tapi ia tidak bershalawat kepada Rasul, maka ketika ia meninggal dunia, ia masuk neraka. Hadits ini bisa ditemukan dalam kitab Sahih Ibn Hibban. (Lihat: Muhammad ibn Ḥibbân, Shaḥîḥ Ibn Hibbân, [Beirut: Muassasah al-Risâlah, 1993], j. 2, h. 140.) 

Al-Ityubi berpendapat bahwa ancaman neraka yang diberikan oleh Jibril dan diaminkan oleh Rasul menunjukkan bahwa hal itu akan diberikan kepada orang yang meninggalkan kewajiban. Artinya, membaca shalawat, dalam hadits tersebut, wajib ketika nama Rasulullah disebutkan. (Muhammad ibn ʽAlî ibn Adam al-Ityûbî, Dakhîrah al-Uqbâ fi Syarḥ al-Mujtabâ, (T.K: Dâr Alî Barûm, 2003), j. 15, h. 149.)

Imam al-Syafi’i yang memiliki pendapat berbeda, yaitu memilih pendapat yang keempat dalam pembagian Ibn Ḥajar, juga mendasarkan argumentasinya pada sebuah hadits lain riwayat Abu Mas’ud al-Badri,

أَقْبَلَ رَجُلٌ حَتَّى جَلَسَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَنَحْنُ عِنْدَهُ ، فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، أَمَّا السَّلاَمُ فَقَدْ عَرَفْنَاهُ ، فَكَيْفَ نُصَلِّي عَلَيْكَ إِذَا نَحْنُ صَلَّيْنَا فِي صَلاَتِنَا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْكَ ؟ قَالَ : فَصَمَتَ حَتَّى أَحْبَبْنَا أَنَّ الرَّجُلَ لَمْ يَسْأَلْهُ ، ثُمَّ قَالَ : إِذَا أَنْتُمْ صَلَّيْتُمْ عَلَيَّ فَقُولُوا : اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الأُمِّيِّ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Artinya, “Seorang laki-laki menghadap Rasul Saw hingga ia duduk di depan Rasulullah Saat itu kami (para sahabat) berada di sampingnya. Kemudian laki-laki itu bertanya, “Wahai Rasulullah Adapun salam kepadamu kami sudah tahu. Lalu bagaimana dengan shalawat kepadamu saat kami melakukan shalat?” Rasul kemudian diam, hingga kami menyukai sesungguhnya laki-laki itu tidak bertanya (lagi) kepada Rasulullah Rasul kemudian menjawab, “Ketika kalian membaca shalawat kepadaku, maka ucapkanlah: “Ya allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya karena engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya karena engkau memberi shalawat kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang. (Lihat: Abu Bakr al-Bayhaqi, Sunan al-Bayhâqî, [Heyderbad: Majelis Dairah al-Maʽârif, 1344 H], j. 2, h. 378.) Selain al-Bayhaqi, beberapa ulama juga meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya, seperti: Ibn Khuzaimah, Ibn Hibban, al-Daruqutni, dan Imam Ahmad.

Sighat amar dalam hadits di atas, dijadikan sebagai dalil kewajiban mengucapkan shalawat pada saat shalat. Mengingat konteks pertanyaan yang disampaikan seorang laki-laki dalam hadits di atas adalah shalawat dalam keadaan shalat, bahkan Imam al-Syafii, sebagaimana disebutkan Ibn ʽAbd al-Bar, bahwa tanpa mengucapkan shalawat di tasyahud akkhir, maka diwajibkan untuk mengulangi shalat. (Lihat: Ḥamzah Muhammad Qâsim, Manâr al-Qârî Syarḥ Muḥtaṣar Shaḥiḥ al-Bukharî, [Damaskus: Dâr al-Bayân, 1990], j. 5, h. 67.)

Hadits ini, oleh al-Qurthûbî dijadikan sebagai penjelas (tafsir) atas firman Allah subhanahu wata'ala surat al-Ahzab: 56: 

إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِىِّ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسْلِيمًا

Artinya, “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS al-Ahzab: 56).

Al-Qurthubî menyebutkan, karena anjuran shalawat dalam ayat ini hanya disebutkan secara umum, maka hadits di atas menjadi penafsirnya. (Lihat: Al-Qurthubî, al-Jâmi’ li-Aḥkâm al-Qur’ân, [Kairo: Dar Kutub al-Miṣriyyah, 1964], j. 14, h. 234.)

Terlepas dari berbagai perbedaan pandangan 10 kelompok di atas, sudah selayaknya kita sebagai umat Nabi Muhammad Saw. selalu membaca dengan istiqamah shalawat kepadanya. Bukan karena hukumnya, baik wajib atau sekedar sunnah, tapi lebih kepada penghormatan kita kepada Nabi Agung Muhammad Saw. yang mulia akhlaknya serta pemberi syafaat kita kelak di hari kiamat. Wallahu a’lam


Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi, pegiat kajian tafsir dan hadits, alumnus Pesantren Luhur Darus Sunnah