IMG-LOGO
Doa

Belajar dari Cara Nabi Yunus Berdoa

Jumat 28 Juni 2019 10:0 WIB
Share:
Belajar dari Cara Nabi Yunus Berdoa

Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam kitab al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu mengatakan salah satu adab berdoa adalah mengesakan Allah. Kemudian ia mencontohkan doa Nabi Yunus ‘alaihissalam dalam Al-Qur’an. Ia menulis:

ومن آدابه أن تبدأ بتوحيده، كما فعل ذو النون: فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ 

ناداه بالتوحيد، ثم نزهه عن النقائص والظلم بالتسبيح, ثم باء علي نفسه بالظلم, اعترافا واستحقاقا، قال الله سبحانه: فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ

“Sebagian dari adab doa adalah kau memulainya dengan mengesakan Allah seperti yang dilakukan Dzu Nun (QS. Al-Anbiya: 87): 'Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: bahwa tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.'

“Dzu Nun (Yunus) menyeru Allah dengan tauhid (pengesaan), kemudian menyucikan-Nya dari segala kekurangan dan kezaliman dengan tasbih, lalu mengakui dirinya sendiri penuh kezaliman, dengan kesungguhan pengakuan dan perasaan pantas dihukum (istihqâq). Allah subhanahu wata'ala, berfirman (QS. Al-Anbiya’: 88): 'Maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan'.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2002, h. 21)

Dalam Surat Al-Anbiya ayat 87, Nabi Yunus menggunakan kalimat, “an lâ ilâha illa anta” (bahwa tidak ada tuhan kecuali Engkau) yang merupakan bentuk tauhid (pengesaan) kepada Allah dari sesembahan lainnya. Dilanjutkan dengan kalimat, “subhânaka” (Maha Suci Engkau) sebagai bentuk penyucian Allah dari segala sesuatu. Lalu kalimat, “innî kuntu minadh dhâlimîn” (sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zalim) sebagai bentuk penghambaan kepada Allah.

Hal ini menunjukkan bahwa di saat berdoa seyogianya kita mentauhidkan Allah terlebih dahulu, lalu menyucikan-Nya dari segala sesuatu dan menzalimkan diri kita sendiri sebagai hamba yang penuh dosa, baru kemudian meminta tanpa henti. Karena itu, setelah Nabi Yunus ‘alaihissalam terus meminta, Allah menjawab (QS. Al-Anbiya’: 88): “fastajabnâ lahu wa najjaynâhu minal ghamm” (maka Kami perkenankan/kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan). Untuk mengetahui lebih jauh, kita harus memahami terlebih dahulu runtutan kisah Nabi Yunus dalam surat Al-Anbiya’. Berikut runtutannya:

Dalam ayat yang dikutip Imam Abu Bakr al-Thurthusyi dalam penjelasannya, di depan ayat tersebut terdapat kalimat (QS. Al-Anbiya’: 87):

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ

“Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya).”

Dalam Tafsîr al-Jalalain, maksud kata “mughâdliban” (dalam keadaan marah) adalah untuk kaumnya (li qaumihi). Kemarahan ini disebabkan oleh perlakuan buruk kaumnya kepadanya hingga ia memilih pergi meninggalkan mereka, padahal Allah belum mengizinkannya (wa lam yu’dzan lahu fî dzalik). Karena itu, Allah memutuskan untuk mempersempitnya dengan menahannya di dalam perut ikan paus (naqdli mâ qadlaynâhu min habsihi fi bathnil khût aw nudlayyiq ‘alaihi bi dzalik). (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalalain al-Muyassar, Beirut: Maktabah Lubnan Nasyirun, 2003, h. 329)

Setelah berada di perut ikan paus, Nabi Yunus merasakan susahnya tinggal dalam kegelapan, yang dalam Tafsîr al-Jalalain diterangkan dalam tiga bentuk, yaitu, “dhulmatul lail wa dhulmatul bahr wa dhulmat bathnil khût” (kegelapan malam, kegelapan lautan, dan kegelapan perut ikan paus). Kemudian ia menyeru (berdoa) kepada Allah, “Bahwa tiada tuhan kecuali Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk golongan orang-orang yang zalim.” Kata “al-dhâlimîn” (orang-orang yang zalim) ditafsirkan sebagai, “fî dzahâbî min bain qaumî bilâ idznin” (karena kepergianku dari kaumku tanpa izin). (Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin al-Suyuthi, Tafsîr al-Jalalain al-Muyassar, 2003, h. 329) Dan Allah pun mengabulkan doa Nabi Yunus ‘alaihissalam dengan mengatakan: maka Kami kabulkan doanya dan Kami selamatkan ia dari kedukaan.”

Hikmah riwayat di atas adalah, bahwa berdoa bisa dilakukan dalam keadaan apa saja, dan dilakukan oleh siapa saja, meskipun oleh orang yang sering berbuat salah selama doa yang dipanjatkannya hanya kepada Allah. Dan yang tidak kalah penting, doa itu dilakukan berulang-ulang atau terus-menerus. Imam Abu Bakr al-Thurthusyi menyebutnya, “al-ilhâh fîd du’â” (mendesak terus/pantang menyerah dalam doa). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda (HR. Imam Abu Nu’aim):

والذي نفسي بيده إن العبد ليدعو الله وهو عليه غضبان، فيعرض عنه، ثم يدعوه فيعرض عنه، ثم يدعوه فيقول الله لملائكته: أبي عبدي يدعو غيري، وقد استجبت له

“Demi Dzat yang menguasai jiwaku, sesungguhnya ada seorang hamba yang berdoa kepada Allah, tapi Allah sedang murka kepadanya, maka Allah tidak mengindahkan doanya. Kemudian ia berdoa kepada Allah (lagi), Allah tidak mengindahkan doanya (kembali). Kemudian ia berdoa kepada Allah (lagi), lalu Allah berkata kepada para malaikat-Nya: “Hamba-Ku ini tidak mau berdoa kepada selain-Ku, maka Aku sungguh mengabulkan doanya.” (Imam Abu Bakr al-Thurthusyi, al-Du’â al-Ma’tsûrât wa Âdâbuhu wa Mâ Yajibu ‘alâ al-Dâ’î Ittibâ’uhu wa Ijtinâbuhu, 2002, h. 21)

Doa yang dilakukan terus-menerus memiliki kemungkinan pengabulan lebih tinggi dari doa yang sekedarnya saja, bahkan jika doa itu dilakukan oleh orang yang sedang Allah murkai. Namun, kita perlu pahami bahwa “murka” Allah bukanlah wilayah yang bisa diakses manusia. Artinya, kita tidak mungkin tahu siapa yang sedang Allah murkai. Kita tidak bisa mengatakan, “Allah murka kepada si A, si B, dan setersunya.” Itu hak mutlak Allah yang tidak bisa kita masuki. Daripada salah dalam prasangka buruk (su’udhan), lebih baik salah dalam prasangka baik (husnudhan).

Hadits di atas juga menunjukkan bahwa doa kepada Allah termasuk pernyataan keimanan seseorang hingga Allah mengatakan: “Hamba-Ku ini tidak mau berdoa kepada selain-Ku, maka Aku sungguh mengabulkan doanya."

Oleh sebab itu, kita jangan sampai lupa mengesakan Allah, menyucikan-Nya, dan menzalimkan diri kita sendiri ketika memohon sesuatu kepada-Nya (berdoa). Kita juga jangan sampai lupa untuk terus-menerus berdoa kepada-Nya, memohon tanpa henti, karena semakin sering kita berdoa, semakin besar peluang doa kita terkabul. Wallahu a’lam bish shawwab


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen

Tags:
Share:
Selasa 25 Juni 2019 5:0 WIB
Doa Mudah Hafal dan Paham Pelajaran
Doa Mudah Hafal dan Paham Pelajaran
(Foto: @ibtimes.co.uk)
Kita sering kali dituntut untuk menghafal dan memahami sebuah pelajaran. Kita tentu harus berusaha maksimal dalam menjawab tuntutan tersebut. Di tengah menjalankan upaya maksimal itu, kita juga dapat membaca doa berikut ini sebagai bentuk permohonan kepada Allah SWT agar diberikan kemudahan.

Berikut ini adalah doa yang dikutip dari Kitab Perukunan Melayu Besar. Isi kitab ini diambil setengahnya dari karya Syekh Muhammad Arsyad Banjar.

فَفَهَّمْنَا سُلَيْمَانَ وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا وَسَخَّرْنَا مَعَ دَاوُدَ الجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَ وَكُنَّا فَاعِلِيْنَ

يَا حَيُّ، يَا قَيُّوْمُ، يَا رَبَّ مُوْسَى وَهَارُوْنَ وَرَبَّ إِبْرَاهِيْمَ، وَيَا رَبَّ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ أَجْمَعِيْنَ

اللَّهُمَّ ارْزُقْنِيَ الفَهْمَ وَالعِلْمَ وَالحِكْمَةَ وَالعَقْلَ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Fafahhamnā Sulaimāna, wa kullan ātaynā hukman wa ‘ilman, wa sakhkharnā ma‘a Dāwūdal jibāla yusabbihna wat thayra, wa kunnā fā‘ilīn.

Yā hayyu, yā qayyūmu, yā rabba Mūsā wa Hārūn, wa rabba Ibrāhīm, way ā rabba Muhammadin shallallāhu ‘alayhi wa sallama ‘alayhim ajma‘īn.

Allāhummarzqniyal fahma, wal ‘ilma, wal hikmata, wal ‘aqla, bi rahmatika, yā arhamar rāhimīn.

Artinya, “Kami memberikan pemahaman kepada Sulaiman. Setiap dari mereka Kami berikan kebijaksanaan dan ilmu. Kami tundukkan gunung dan burung kepada Dawud. Mereka bertasbih. Kami lah yang melakukan itu semua.

Wahai zat yang hidup, wahai zat yang tegak, wahai Tuhan Musa, Harun, Tuhan Ibrahim, wahai Tuhan Muhammad SAW.

Ya Allah, karuniakan aku pemahaman, ilmu, kebijaksanaan, dan akal dengan rahmat-Mu wahai zat yang maha pengasih,” (Lihat Perukunan Melayu Besar, [Jakarta, Alaydrus: tanpa catatan tahun], halaman 99).

Lafal ini diberi judul dengan Doa Mohon Dimudahkan Faham Hafal dalam Pelajaran. Lafal ini diharapkan dapat membantu dan memudahkan para pelajar, santri, dan mahasiswa dalam menjalankan aktivitas harian. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Senin 24 Juni 2019 6:0 WIB
Doa setelah Hujan Reda
Doa setelah Hujan Reda
(Foto: @boston.com)
Kita telah mempelajari doa ketika hujan baru turun. Kita juga telah mempelajari lafal doa saat hujan sedang berlangsung. Sedangkan berikut ini adalah lafal doa yang dapat dibaca setelah hujan reda.

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ

Muthirnā bi fadhlillāhi wa rahmatih.

Artinya, “Kita dihujani dengan anugerah dan rahmat Allah.”

Doa ini tersebut dalam Kitab Nihayatuz Zain karya Syekh Nawawi Banten:

ويندب أن يقول عقب المطر مطرنا بفضل الله ورحمته

Artinya, “(Seseorang) dianjurkan membaca doa ini setelah hujan reda, ‘Kita dihujani dengan anugerah dan rahmat Allah,’” (Lihat Syekh Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Maarif: tanpa catatan tahun], halaman 114).

Doa ini mengandung pengakuan rasa syukur atas air hujan sebagai karunia dan rahmat dari Allah SWT. Dengan doa ini, kita memohon semoga Allah SWT memberikan keberkahan bagi manusia dan alam semesta setelah hujan reda. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Ahad 23 Juni 2019 10:30 WIB
Doa Kelancaran Perjalanan di Jembatan Sirath
Doa Kelancaran Perjalanan di Jembatan Sirath
Yang menentukan kelancaran dan keselamatan perjalanan seseorang di atas jembatan sirath adalah amal dan rahmat Allah SWT. Sebagian ulama mengajarkan doa harian yang dapat memuluskan perjalanan seseorang di jembatan sirath dengan selamat.

“Barang siapa membaca doa ini tiap-tiap sehabis sembahyang fardhu, niscaya akan dimudahkan perjalanannya di atas shirath mustaqim,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa catatan tahun], halaman76).

Berikut ini adalah doa harian untuk kelancaran perjalanan di atas sirath:

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِلَهًا وَاحِدًا وَرَبًّا شَاهِدًا لَا مَعْبُوْدَ سِوَاهُ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُوْنَ

Asyhadu an lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lahū ilāhan wāhidan, wa rabban syāhidan, lā ma‘būda siwāhu, wa nahnu lahū muslimūn.

Artinya, “Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah yang esa. Tiada sekutu bagi-Nya sebagai Tuhan yang esa dan Tuhan yang menyaksikan. Tiada zat yang (patut) disembah selain-Nya. Kami tunduk kepada-Nya,” (Lihat Perukunan Melayu, [Jakarta, Alaydrus: tanpa catatan tahun], halaman76).

Doa ini diharapkan menambal catatan amal ibadah kita kelak di akhirat. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)