IMG-LOGO
Haji, Umrah, dan Kurban

Dahulukan Haji Pribadi atau Membiayai Haji Orang Tua?

Sabtu 20 Juli 2019 15:0 WIB
Share:
Dahulukan Haji Pribadi atau Membiayai Haji Orang Tua?
Ilustrasi (aboutislam.net)
Berkunjung ke Tanah Suci merupakan impian semua orang. Di haramain (dua tanah haram/mulia, Makkah dan Madinah) banyak tempat-tempat bersejarah yang penuh dengan keberkahan. Impian mengunjunginya tidak hanya merupakan cita-cita pribadi, tetapi juga menyertakan orang-orang yang dicintai, semisal kedua orang tua. 

Merupakan harapan kebanyakan orang bisa membiayai haji orang tuanya. Dilema muncul ketika dana yang dimiliki hanya cukup untuk menghajikan dirinya. Satu sisi sang anak yang belum pernah haji masih terkena beban menjalankan rukun Islam yang kelima tersebut. Namun di sisi yang lain, ia juga punya tekad kuat membahagiakan orang tuanya. Dalam kondisi demikian, manakah yang lebih utama didahulukan? Mendahulukan haji pribadi atau membiayai haji orang tua?

Dalam khazanah fiqih mazhab Syafi’i, orang yang memiliki kemampuan fisik dan finansial, berkewajiban melaksanakan haji, tapi ia tidak diharuskan berhaji secepatnya, boleh ia tunda di tahun-tahun mendatang dengan syarat adanya tekad kuat untuk melaksanakannya dan tidak ada dugaan kegagalan disebabkan suatu hal misalkan lumpuh atau kebangkrutan. Oleh karenanya, dalam konteks ini sah-sah saja bagi sang anak untuk memilih antara mendahulukan hajinya sendiri atau menghajikan orang tuanya, sebab tidak ada kewajiban baginya untuk menyegerakan haji pribadi.

Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menegaskan:

وَهُمَا عَلَى التَّرَاخِي بِشَرْطِ الْعَزْمِ عَلَى الْفِعْلِ بَعْدُ وَأَنْ لَا يَتَضَيَّقَا بِنَذْرٍ أَوْ خَوْفِ عَضْبٍ أَوْ تَلَفِ مَالٍ بِقَرِينَةٍ وَلَوْ ضَعِيفَةً كَمَا يُفْهِمُهُ قَوْلُهُمْ لَا يَجُوزُ تَأْخِيرُ الْمُوَسَّعِ إلَّا إنْ غَلَبَ عَلَى الظَّنِّ تَمَكُّنُهُ مِنْهُ أَوْ بِكَوْنِهِمَا قَضَاءً عَمَّا أَفْسَدَهُ 

“Haji dan umrah (kewajibannya) bisa ditunda, dengan syarat tekad yang kuat mengerjakannya dan tidak menjadi sempit dengan nadzar, kekhawatiran lumpuh atau rusaknya harta dengan sebuah tanda-tanda meski lemah, sebagaimana yang dipahami dari ucapan para ulama: ‘tidak boleh mengakhirkan kewajiban yang dilapangkan kecuali menduga kuat bisa melakukannya’. Atau (kewajiban haji dan umrah menjadi sempit) dengan status qadha dikarenakan ia merusaknya,”  (Syekh Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj Hamisy Hasyiyah al-Syarwani, Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, juz 4, hal. 4-5).

Namun bila melihat pertimbangan keutamaan, yang lebih baik dilakukan adalah mendahulukan hajinya sendiri, sebab mendahulukan orang lain dalam urusan ibadah adalah makruh. Dalam sebuah kaidah fiqih dinyatakan:

الْإِيثَارُ فِي الْقُرْبِ مَكْرُوهٌ وَفِي غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ

“Mendahulukan orang lain dalam ibadah adalah makruh, dan di dalam urusan lain disunnahkan.”

Berkaitan dengan kaidah tersebut, Syekh Izzuddin bin Abdissalam sebagaimana dikutip al-Imam al-Suyuthi mengatakan:

قَالَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ لَا إيثَارَ فِي الْقُرُبَاتِ، فَلَا إيثَارِ بِمَاءِ الطَّهَارَةِ، وَلَا بِسَتْرِ الْعَوْرَةِ وَلَا بِالصَّفِّ الْأَوَّلِ ; لِأَنَّ الْغَرَضَ بِالْعِبَادَاتِ: التَّعْظِيمُ، وَالْإِجْلَالُ. فَمَنْ آثَرَ بِهِ، فَقَدْ تَرَكَ إجْلَالَ الْإِلَهِ وَتَعْظِيمِهِ

“Berkata Syekh Izzuddin; tidak baik mendahulukan orang lain di dalam ibadah-ibadah, maka tidak baik mendahulukan dalam urusan air bersuci, menutup aurat, dan shaf awal. Sebab tujuan ibadah-ibadah adalah mengagungkan Allah. Barangsiapa mendahulukan orang lain di dalam urusan tersebut, maka sungguh ia telah meninggalkan pengagungan kepada Tuhan,” (al-Imam al-Suyuthi, al-Asybah wa al-Nazhair, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, hal. 180).

Pilihan untuk mendahulukan haji pribadi juga dilakukan atas dasar menjaga perbedaan pendapat ulama yang menyatakan kewajiban haji adalah segera, tidak boleh ditunda, bahkan ini adalah pendapat tiga imam madzahib al-arba’ah selain Imam Syafi’i. Syekh Ibnu Quddamah menegaskan:

مَسْأَلَةٌ قَالَ: فَمَنْ فَرَّطَ فِيهِ حَتَّى تُوُفِّيَ، أُخْرِجَ عَنْهُ مِنْ جَمِيعِ مَالِهِ حَجَّةٌ وَعُمْرَةٌ

“Berkata sang pengarang; barangsiapa teledor di dalam haji sampai wafat, maka dikeluarkan dari seluruh hartanya untuk melaksanakan haji dan umrah atas nama dia.”

 وَجُمْلَةُ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ وَجَبَ عَلَيْهِ الْحَجُّ، وَأَمْكَنَهُ فِعْلُهُ، وَجَبَ عَلَيْهِ عَلَى الْفَوْرِ، وَلَمْ يَجُزْ لَهُ تَأْخِيرُهُ. وَبِهَذَا قَالَ أَبُو حَنِيفَة، وَمَالِكٌ. وَقَالَ الشَّافِعِيُّ: يَجِبُ الْحَجُّ وُجُوبًا مُوَسَّعًا، وَلَهُ تَأْخِيرُهُ

“Detail persoalan tersebut adalah bahwa seseorang yang berkewajiban haji dan mungkin baginya untuk melaksanakan, maka wajib baginya melakukan segera, tidak boleh mengakhirkannya. Ini juga pendapat Abu Hanifah dan Malik. Berkata Imam al-Syafi’i; wajin haji baginya dengan kewajiban yang dilapangkan, dan boleh mengakhirkannya,” (Syekh Ibnu Quddamah, al-Mughni, juz 3, hal. 232).

Dalam sebuah kaidah fiqih disebutkan:

اَلْخُرُوْجُ مِنَ الْخِلَافِ مُسْتَحَبٌّ

“Keluar dari perbedaan ulama adalah disunnahkan”.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Mendahulukan haji pribadi dalam konteks ini bukan berarti su’ul adab kepada orang tua. Kewajiban berangkat haji pribadi dan berbakti kepada orang tua bukanlah sebuah hal yang patut dipertentangkan, karena seorang anak tetap bisa berbakti kepada orang tuanya dengan mendoakannya saat ia berada di tempat-tempat mustajab seperti Multazam, orang tua yang berada di tanah air pasti senang dengan hal itu. Bila punya kemampuan finansial berlebih, mengajak orang tua secara bersama-sama menunaikan ibadah haji tentu lebih utama. Wallahu a'lam.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Tags:
Share:
Kamis 18 Juli 2019 15:0 WIB
Saat Berhadats di Pertengahan Tawaf
Saat Berhadats di Pertengahan Tawaf
Tawaf merupakan salah satu ritual yang identik dengan pelaksanaan haji dan umrah. Perintah tawaf ditegaskan langsung dalam firman Allah subhanahu wata’ala:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

“Dan betawaflah mereka di baitullah yang kuno,” (QS. Al-Hajj: 29).

Ada lima jenis tawaf yang dikenal dalam bab manasik. Tawaf ifadlah, tawaf qudum, tawaf wada’, tawaf sunnah, dan tawaf umrah. Tawaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran dimulai dari hajar aswad hingga mengelilingi seluruh bagian Ka’bah.

Tawaf harus dilakukan dalam keadaan suci. Problem muncul saat di pertengahan tawaf, jamaah haji mengalami hadats, semisal kentut atau bersentuhan kulit dengan lawan jenis bukan mahram. Pertanyaannya kemudian, setelah kembali dari bersuci, apakah jamaah haji wajib memulai putaran tawaf dari awal? Atau cukup melanjutkan putaran tawaf yang didapat?

Tawaf memiliki kesamaan dengan shalat dari sisi pelaksanaannya yang mensyaratkan keadaan suci (dari hadats dan najis) dan menutup aurat. Ketentuan ini berlandaskan pada beberapa hadits Nabi, di antaranya:

أنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِعَائِشَةَ لَمَّا حَاضَتْ وَهِيَ مُحْرِمَةٌ اصْنَعِي مَا يَصْنَعُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لَا تَطُوفِي بِالْبَيْتِ حَتَّى تَغْتَسِلِي

“Bahwa Nabi berkata kepada Aisyah saat ia haidl dan tengah berihram; lakukanlah apa yang dilakukan orang berhaji, hanya engkau tidak diperkenankan tawaf di baitullah hingga engkau mandi,” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

 الطَّوَافُ بِالْبَيْتِ صَلَاةٌ إِلَّا أَنَّ اللهَ تَعَالَى أَحَلَّ لَكُمْ فِيهِ الْكَلاَمَ فَمَنْ تَكَلَّمَ فَلَا يَتَكَلَّمْ إِلَّا بِخَيْرٍ رَوَاهُ الْحَاكِمُ وَقَالَ صَحِيْحُ الْإِسْنَادِ

“Tawaf di baitullah seperti shalat, hanya Allah di dalamnya menghalalkan bagi kalian berbicara. Barangsiapa berbicara, maka janganlah berbicara kecuali kebaikan,” (HR. al-Hakim, beliau berkata hadits ini sahih sanadnya).

Bila di pertengahan tawaf jamaah haji berhadats, maka tawaf harus dihentikan untuk sementara. Jamaah haji berkewajiban untuk berwudhu terlebih dahulu. Setelah kembali dari bersuci, cukup melanjutkan putaran tawaf yang telah dilakukan. Semisal sudah mendapat empat kali putaran, maka cukup menambah tiga kali putaran lagi tanpa perlu mengulang tawaf dari awal. Hal ini baik pemisah waktu antara bersuci dan pelaksanaan tawaf lama atau sebentar.

Ketentuan ini juga berlaku dalam kasus terkena najis atau terbukanya aurat di pertengahan tawaf, setelah auratnya kembali tertutup atau najisnya dihilangkan, cukup melanjutkan bilangan tawaf yang didapat.

Kasus ini berbeda dengan shalat, di mana saat berhadats di pertengahan shalat, wajib mengulangi shalatnya dari awal setelah kembali suci. Ulama fiqih menjelaskan terdapat perbedaan yang mendasar antara shalat dan tawaf, bahwa shalat memiliki lebih banyak aktivitas yang dilarang, seperti gerakan-gerakan yang berat atau berbicara. Berbeda dengan tawaf yang lebih ringan ketentuannya, di mana hal-hal tersebut diperbolehkan saat melakukan tawaf.

Syekh Zakariyya al-Anshari menegaskan:

 ـ (فَلَوْ أَحْدَثَ أَوْ تَنَجَّسَ) بَدَنُهُ أَوْ ثَوْبُهُ أَوْ مَطَافُهُ بِنَجَسٍ غَيْرِ مَعْفُوٍّ عَنْهُ (أَوْ عَرِيَ) مَعَ الْقُدْرَةِ عَلَى السَّتْرِ فِي أَثْنَاءِ الطَّوَافِ (تَطَهَّرَ وَسَتَرَ) عَوْرَتَهُ وَبَنَى عَلَى طَوَافِهِ وَلَوْ تَعَمَّدَ ذَلِكَ بِخِلَافِ الصَّلَاةِ إذْ يُحْتَمَلُ فِيهِ مَا لَا يُحْتَمَلُ فِيهَا كَكَثِيرِ الْفِعْلِ وَالْكَلَامِ سَوَاءٌ أَطَالَ الْفَصْلُ أَمْ قَصُرَ لِعَدَمِ اشْتِرَاطِ الْمُوَالَاةِ فِيهِ كَالْوُضُوءِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا عِبَادَةٌ يَجُوزُ أَنْ يَتَخَلَّلَهَا مَا لَيْسَ مِنْهَا بِخِلَافِ الصَّلَاةِ 

“Bila berhadats atau terkena najis, baik badan, pakaian atau tempat tawafnya dengan najis yang tidak dimaafkan, atau telanjang besertaan mampu menutup aurat di pertengahan tawaf, maka bersucilah dan tutuplah auratnya. Dan meneruskan (bilangan) tawafnya, meski dilakukan secara sengaja. Berbeda dengan shalat, sebab dimaafkan di dalam tawaf sesuatu yang tidak dimaafkan di dalam shalat seperti gerakan yang banyak dan berbicara, baik pemisahnya lama atau pendek, sebab tidak disyaratkan berkesinambungan di dalam tawaf seperti wudhu, sebab masing-masing dari keduanya merupakan ibadah yang diperbolehkan diselingi dengan aktivitas yang tidak berhubungan dengannya, berbeda dengan shalat,” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 3, hal. 180).

Namun demikian, dalam persoalan ini sebaiknya jamaah haji memulai putaran tawaf dari awal setelah kembali suci, supaya bisa keluar dari perbedaan ulama yang mewajibkan memulai putaran tawaf. Di antara ulama yang mewajibkan memulai putaran tawaf dari awal saat berhadats di pertengahan tawaf adalah ulama mazhab Maliki. Anjuran ini berdasarkan kaidah fiqih “keluar dari perbedaan pendapat ulama disunnahkan”.

Syekh Zakariyya al-Anshari berkata:

ـ (وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَسْتَأْنِفَ) الطَّوَافَ خُرُوجًا مِنْ خِلَافِ مَنْ أَوْجَبَ الِاسْتِئْنَافَ 

“Disunnahkan memulai tawaf, karena keluar dari perbedaan ulama yang mewajibkan memulai tawaf,” (Syekh Zakariyya al-Anshari, Asna al-Mathalib, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 3, hal. 180).

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan. Semoga bermanfaat.


Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.

Rabu 17 Juli 2019 14:30 WIB
Lafal Salam di Makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidna Umar
Lafal Salam di Makam Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidna Umar
Ketika ziarah di makam Rasulullah, jamaah haji dan peziarah seyogianya tidak melupakan dua sahabat Rasulullah SAW, yaitu Sayidina Abu Bakar As-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khattab yang dimakamkan di samping nya. Mereka dianjurkan untuk menyalami kedua sahabat terbaik Rasulullah.

Berikut ini lafal salam kepada Sayidina Abu Bakar As-Shiddiq RA yang dapat dibaca peziarah.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا أَبَا بَكْرٍ

Assalāmu alaika yā Abā Bakrin

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا خَلِيْفَةَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَفِيَّهِ وَثَانِيَهِ فِي الغَارِ

Assalāmu alaika yā Khalīfata Rasūlillāh wa Shafiyyahū wa tsāniyahū fil ghār.

جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا

Jazākallāhu ‘an ummati Rasūlillāhi shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan.

Sedangkan lafal salam kepada Sayyidina Umar bin Khattab RA adalah sebagai berikut:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا أَمِيْرَ المُؤْمِنِيْنَ٬ عُمَرُ الفَارُوْقُ٬ الَّذِيْ أَعَزَّ اللهُ بِهِ الإِسْلَامَ

Assalāmu alaika yā Amīral Mukminīn, Umarul Fārūq, alladzī a‘azzallāhu bihil Islām.

جَزَاكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ نَبِيِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرًا

Jazākallāhu ‘an ummati Nabiyyihī shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan.

Lafal salam ini dikutip dari Kitab Nihayatuz Zain karya Syekh M Nawawi Banten. Lafal alternatif ini dapat digunakan oleh peziarah untuk berucap salam kepada kedua sahabat mulia Rasulullah SAW.

ثم يتحول إلى جهة يمينه قدر ذراع للسلام على أبي بكر رضي الله عنه لأن رأسه عند منكب رسول الله صلى الله عليه وسلم فيقول السلام عليك يا أبا بكر السلام عليك يا خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم وصفيه وثانيه في الغار جزاك الله عن أمة رسول الله صلى الله عليه وسلم خيرا ثم يتحول إلى جهة يمينه قدر ذراع للسلام على عمر رضي الله عنه لأن رأسه عند منكب أبي بكر رضي الله عنه فيقول السلام عليك يا أمير المؤمنين عمر الفاروق الذي أعز الله به الإسلام جزاك الله عن أمة نبيه صلى الله عليه وسلم خيرا

Artinya, “Kemudian peziarah berpaling ke arah kanan sekira sehasta untuk mengucap salam kepada Sayyidina Abu Bakar RA karena posisi kepala Sayyidina Abu Bakar RA sejajar dengan posisi bahu Rasulullah SAW. Peziarah lalu membaca, ‘Assalāmu alaika yā Abā Bakrin. Assalāmu alaika yā Khalīfata Rasūlillāh wa Shafiyyahū wa tsāniyahū fil ghār. Jazākallāhu ‘an ummati Rasūlillāhi shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan.’ Peziarah kemudian berpindah ke arah kanannya sekira sehasta untuk mengucap salam kepada Sayyidina Umar RA karena posisi kepala Sayyidina Umar RA sejajar dengan posisi bahu Sayyidina Abu Bakar RA. Ia kemudian mengucap, ‘Assalāmu alaika yā Amīral Mukminīn, Umarul Fārūq, alladzī a‘azzallāhu bihil Islām. Jazākallāhu ‘an ummati Nabiyyihī shallallāhu ‘alaihi wa sallama khairan,’” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Ma’arif: tanpa catatan tahun], halaman 219).

Para peziarah makam Rasulullah dan kedua sahabatnya dapat menggunakan lafal salam lain yang memiliki makna serupa dengan makna lafal salam di atas. Semoga lafal ini bermanfaat bagi paziarah. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)
Rabu 17 Juli 2019 8:15 WIB
Lafal Titip Salam untuk Rasulullah
Lafal Titip Salam untuk Rasulullah
(Foto: dream)
Tidak sedikit sahabat dan kerabat yang menitip salamnya kepada jamaah haji atau umrah untuk Rasulullah SAW. Mereka menitipkan amanatnya untuk disampaikan oleh jamaah haji ketika berada di makam Rasulullah SAW, Madinah.

Jamaah haji atau jamaah umrah yang mendapatkan amanat tersebut dapat menggunakan lafal berikut ini:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ مِنْ فُلَانٍ بْنِ فُلَانٍ

As-salāmu ‘alayka yā rasūlallāh min fulān ibni fulān (sebut nama kerabat dan sahabat yang menitipkan salamnya).

Artinya, “Sejahtera atasmu wahai Rasulullah dari si fulan bin fulan (sebut nama kerabat dan sahabat yang menitipkan salamnya).”

Salam tersebut merupakan lafal alternatif yang disarankan oleh Syekh M Nawawi Banten sebagaimana keterangannya dalam Kitab Nihayatuz Zain.

Jamaah haji dan umrah dapat menggunakan lafal lain dengan makna serupa, dan jamaah haji juga dapat menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa daerahnya dalam menyampaikan salam sahabat atau kerabatnya.

ثم إن كان أحد أوصاه بالسلام فليقل السلام عليك يا رسول الله من فلان بن فلان أو نحو هذا

Artinya, “Jika seseorang menitip salam kepada jamaah haji atau umrah, maka ia di makam Rasulullah mengucap, ‘As-salāmu ‘alayka yā rasūlallāh min fulān ibni fulān,’ atau lafal salam dengan makna serupa,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Ma’arif: tanpa catatan tahun], halaman 219).

Lafal ini tentu saja dibaca setelah jamaah haji mengucapkan salamnya sendiri untuk Rasulullah. Lafal ini dibaca dengan konsentrasi ketika jamaah haji duduk sekira tiga hasta dari tembok sambil memandang penuh takzim makam Rasulullah lalu memejamkan mata jika memungkinkan posisi tersebut.

فإنه صلى الله عليه وسلم يسمع ويعلم وقوفك بين يديه

Artinya, “Rasulullah mendengar suaramu dan mengetahui keberadaanmu di dekatnya,” (Lihat Syekh M Nawawi Banten, Nihayatuz Zain, [Bandung, Al-Ma’arif: tanpa catatan tahun], halaman 219).

Adapun salam jamaah haji, jamaah umrah, atau peziarah makam Rasulullah dapat mengucapkan lafal salam berikut ini:

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللهِ

Assalāmu alaika yā Rasūlallāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا نَبِيَّ اللهِ

Assalāmu alaika yā Nabiyyallāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهِ

Assalāmu alaika yā Habīballāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا صَفْوَةَ اللهِ

Assalāmu alaika yā Shafwatallāh.

السَلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدَ المُرْسَلِيْنَ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ

Assalāmu alaika yā Sayyidal mursalīnat thayyibīnat thāhirīn.

السَلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى أَزْوَاجِكَ الطَّاهِرَاتِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ

Assalāmu alaika wa ‘alā azwājikat thāhirāt ummahātil mukminīn.

السَلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى أَصْحَابِكَ أَجْمَعِيْنَ

Assalāmu alaika wa ‘alā ashhābika ajma‘īn.

السَلَامُ عَلَيْكَ وَعَلَى الأَنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَسَائِرِ عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِيْنَ

Assalāmu alaika wa ‘alal anbiyā’I wal mursalīn, wa sā’iri ‘ibādillāhis shālihīn.

السَلَامُ عَلَيْكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Assalāmu alaika ayyuhan nabiyyu wa rahmatullāhi wa barakātuh.

Semua lafal salam ini dikutip dari Kitab Nihayatuz Zain karya Syekh M Nawawi Banten. Wallahu a'lam. (Alhafiz K)