IMG-LOGO
Trending Now:
Doa

Doa agar Segera Bisa Lupakan Mantan

Jumat 30 Agustus 2019 10:00 WIB
Doa agar Segera Bisa Lupakan Mantan
Ikhtiar doa penting dilakukan untuk kondisi hati yang memang sukar dikontrol. (Ilustrasi: wordpress.com)
Walau seseorang sudah menikah, terkadang hatinya masih belum bisa beranjak dari mantan yang pernah dicintai atau mencintai dirinya. Anak-anak muda sekarang menyebutnya “belum bisa move on.” 
 
Begitu pun pasangan suami-istri yang sudah cukup lama menikah. Mereka bukan fokus mencintai pasangan tetapi malah mencintai perempuan atau pria lain. 
 
Memang cinta adalah urusan hati. Sehingga seseorang terkadang kesulitan untuk mengendalikannya. Namun, perlu diingat bahwa cinta bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia terlahir dari perhatian dan kasih-sayang, baik dari orang yang mencinta maupun dari orang yang dicinta. 
 
Ada pula yang mengatakan, cinta bukan benda mati, melainkan sesuatu yang harus diperjuangkan. Sehingga bila seorang suami atau istri sudah mulai tak cinta kepada pasangannya, mereka harus berjuang bagaimana caranya agar mampu menumbuhkan dan menyuburkan kembali cinta itu di antara mereka. 
 
Lantas bagaimana seorang yang terlanjur diuji dengan rasa cinta kepada orang yang bukan pasangannya? Adakah tuntunan Rasulullah ﷺ untuk memperbaiki hatinya? Sebab, bila dibiarkan, ia justru akan memutus tali perkawinan dan merusak bangunan rumah tangga yang sudah ia bina. 
 
Berbicara masalah hati, Rasulullah ﷺ pernah memberikan gambaran, “Sesungguhnya hati bani Adam yang berada di antara dua jari Dzat Yang Maha-Rahman itu bagaikan satu hati saja. Dia selalu mengubah-ubahnya sesuai dengan kehendak-Nya,” (HR al-Tirmidzi). 
 
Karena itu, ketika seseorang merasa kesulitan untuk mengendalikan hatinya, maka pasrahkanlah kepada Dzat yang maha-membolak-balikkannya, yakni Allah subhanahu wata'ala
 
Masih soal hati, dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menyatakan, “Hati itu ibarat satu lembar bulu di atas tanah yang kosong. Ia terombang-ambing oleh angin, sehingga mudah terbolak-balik.” (HR. Ahmad).
 
Karena sifatnya yang mudah berubah-ubah, hati kemudian disebut dengan kalbu atau qalbu sesuai dengan asal kata Arabnya. Karenanya, melalui doa berikut Rasulullah ﷺ selalu memohon kepada Allah agar senantiasa diberi keteguhan hati di atas agama-Nya. 
 
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
 
(Yâ muqallibal qulûb tsabbit qalbî ‘alâ dînika). 
 
Artinya: “Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu” (HR al-Nasai’). 
 
Setelah berdoa itu, Rasulullah ﷺ kemudian menyambungnya dengan doa dari Al-Qur’an: 
 
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ 
 
(Rabbanâ lâ tuzigh qulûbanâ ba‘da idz hadaitanâ wahablanâ min ladunka rahmatan innaka anta-l-wahhâb)

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha-Pemberi (karunia),” (Ali ‘Imran [3]: 8). 
 
Dalam riwayat lain, Rasulullah ﷺ berdoa: 
 
اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا إِلَى طَاعَتِكَ
 
(Allâhumma, musharrifal qulûb sharrif qulûbanâ ilâ thâ‘atika
 
Artinya: “Ya Allah, Dzat yang mengurus seluruh hati, arahkanlah hati kami terhadap ketaatan kepada-Mu” (HR. Muslim). 
 
Maka bagi Anda yang ingin diteguhkan hatinya oleh Allah akibat godaan rasa cinta kepada orang yang tak sepantasnya dicinta, ada baiknya sering membaca doa di atas. 
 
Rasulullah ﷺ memang tidak mengkhususkan doa tersebut untuk tujuan itu, tapi untuk semua hal yang berkenaan dengan hati yang kita sudah tak mampu mengendalikannya, maka perbanyaklah membacanya. Mudah-mudahan Allah menolong hamba yang senantiasa memohon pertolongan kepada-Nya, termasuk mengendalikan perasaan hati. Tetap yakinlah kepada Allah, Dzat yang maha-membolak-balikan hati, sambil terus berdoa kepada-Nya. Sampaikan permohonan walau mungkin tak menggunakan doa ini, sebab Dia Maha-Mendengar dan Maha-Mengetahui setiap yang terbesit dalam hati. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.
Share:

Baca Juga