IMG-LOGO
Trending Now:
Hikmah

Kisah Husein, Cucu Nabi yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram

Rabu 11 September 2019 5:47 WIB
Kisah Husein, Cucu Nabi yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram
Sayyidina Husein bin Ali bin Abi Thalib. (Ilustrasi: NU Online)
Lelaki itu berusia sekitar 58 tahun. Pada hari kesepuluh bulan Muharram, di tahun 61 H, selepas menunaikan shalat subuh, dia bergegas keluar tenda dan menaiki kuda kesayangannya. Pria itu menatap pasukan yang tengah mengepungnya. Mulailah dia berpidato yang begitu indah dan menyentuh hati:

قال:
أما بعد، فانسبوني فانظروا من أنا، ثم ارجعوا إلى أنفسكم وعاتبوها، فانظروا، هل يحل لكم قتلي وانتهاك حرمتي؟ ألست ابن بنت نبيكم ص وابن وصيه وابن عمه، وأول المؤمنين بالله والمصدق لرسوله بما جاء به من عند ربه! او ليس حمزة سيد الشهداء عم أبي! أوليس جعفر الشهيد الطيار
ذو الجناحين عمى! [او لم يبلغكم قول مستفيض فيكم: إن رسول الله ص قال لي ولأخي: هذان سيدا شباب أهل الجنة!] فإن صدقتموني بما أقول- وهو الحق- فو الله ما تعمدت كذبا مذ علمت أن الله يمقت عليه أهله، ويضر به من اختلقه، وإن كذبتموني فإن فيكم من إن سألتموه عن ذلك أخبركم، سلوا جابر بن عبد الله الأنصاري، أو أبا سعيد الخدري، أو سهل بن سعد الساعدي، أو زيد بن أرقم، أو أنس بن مالك، يخبروكم أنهم سمعوا هذه المقاله من رسول الله ص لي ولأخي.
أفما في هذا حاجز لكم عن سفك دمي!

“Lihat nasabku. Pandangilah siapa aku ini. Lantas lihatlah siapa diri kalian. Perhatikan apakah halal bagi kalian untuk membunuhku dan menciderai kehormatanku.

“Bukankah aku ini putra dari anak perempuan Nabimu? Bukankah aku ini anak dari washi dan keponakan Nabimu, yang pertama kali beriman kepada ajaran Nabimu?

“Bukankah Hamzah, pemuka para syuhada, adalah Pamanku? Bukankah Ja’far, yang akan terbang dengan dua sayap di surga, itu Pamanku?

“Tidakkah kalian mendengar kalimat yang viral di antara kalian bahwa Rasulullah berkata tentang saudaraku dan aku: “keduanya adalah pemuka dari pemuda ahli surga”?

“Jika kalian percaya dengan apa yang aku sampaikan, dan sungguh itu benar karena aku tak pernah berdusta. Tapi jika kalian tidak mempercayaiku, maka tanyalah Jabir bin Abdullah al-Anshari, Abu Sa’id al-Khudri, Sahl bin Sa’d, Zaid bin Arqam dan Anas bin Malik, yang akan memberitahu kalian bahwa mereka pun mendengar apa yang Nabi sampaikan mengenai kedudukan saudaraku dan aku.

“Tidakkah ini cukup menghalangi kalian untuk menumpahkan darahku?”

Kata-kata yang begitu eloknya itu direkam oleh Tarikh at-Thabari (5/425) dan Al-Bidayah wan Nihayah (8/193).

Namun mereka yang telah terkunci hatinya tidak akan tersadar. Pasukan yang mengepung atas perintah Ubaidullah bin Ziyad itu memaksa pria yang bernama Husein bin Ali itu untuk mengakui kekuasaan Khalifah Yazid bin Mu’awiyah.

Tidakkah ini menjadi pelajaran bagi kita semua bahwa pertarungan di masa Khilafah dulu itu sampai mengorbankan nyawa seorang Cucu Nabi SAW. Apa masih mau bilang khilafah itu satu-satunya solusi umat?

Simak pula bagaimana Ibn Katsir dalam al-Bidayah wan Nihayah bercerita bagaimana Sayidina Husein terbunuh di Karbala pada 10 Muharram (asyura).

Pasukan memukul kepala Husein dengan pedang hingga berdarah. Husein membalut luka di kepalanya dengan merobek kain jubahnya. Dan dengan cepat balutan kain terlihat penuh dengan darah Husein. Ada yang kemudian melepaskan panah dan mengenai leher Husein. Namun beliau masih hidup sambil memegangi lehernya menuju ke arah sungai karena kehausan. Shamir bin Dzil Jawsan memerintahkan pasukannya menyerbu Husein. Mereka menyerang dari segala penjuru. Mereka tak memberinya kesempatan untuk minum.

Ibn Katsir menulis: “Yang membunuh Husein dengan tombak adalah Sinan bin Anas bin Amr Nakhai, dan kemudian dia menggorok leher Husein dan menyerahkan kepala Husein kepada Khawali bin Yazid.” (Al-Bidayah, 8/204).

Anas melaporkan bahwa ketika kepala Husein yang dipenggal itu dibawa ke Ubaidullah bin Ziyad, yang kemudian memainkan ujung tongkatnya menyentuh mulut dan hidung Husein, Anas berkata: “Demi Allah! sungguh aku pernah melihat Rasulullah mencium tempat engkau memainkan tongkatmu ke wajah Husein ini.”

Ibn Katsir mencatat 72 orang pengikut Husein yang terbunuh hari itu. Imam Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa mencata 4 ribu pasukan yang mengepung Husein, dibawah kendali Umar bin Sa’d bin Abi Waqash.

Pada hari terbunuhnya Husein, Imam Suyuthi mengatakan dunia seakan berhenti selama tujuh hari. Mentari merapat laksana kain yang menguning. Terjadi gerhana matahari di hari itu. Langit terlihat memerah selama 6 bulan.

Imam Suyuthi juga mengutip dari Imam Tirmidzi yang meriwayatkan kisah dari Salma yang menemui Ummu Salamah, istri Nabi Muhammad, yang saat itu masih hidup (Ummu Salamah wafat pada tahun 64 H, sementara Husein terbunuh tahun 61 H).

Salma bertanya: “Mengapa engkau menangis?”

Ummu Salamah menjawab: “Semalam saya bermimpi melihat Rasulullah yang kepala dan jenggot beliau terlihat berdebu. Saya tanya ‘mengapa engkau wahai Rasul?’

Rasulullah menjawab: “saya baru saja menyaksikan pembunuhan Husein.’”

Begitulah dahsyatnya pertarungan kekuasaan di masa khilafah dulu. Mereka tidak segan membunuh cucu Nabi demi kursi khalifah. Apa mereka sangka Rasulullah tidak akan tahu peristiwa ini? Lantas apakah mereka yang telah membunuh Sayidina Husein kelak masih berharap mendapat syafaat datuknya Rasulullah di padang mahsyar?

Dalam kisah yang memilukan ini sungguh ada pelajaran untuk kita semua. Al-Fatihah...

Tabik,

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand, Dosen Senior Monash Law School Australia
Share:

Baca Juga

Kamis 5 September 2019 18:30 WIB
Kisah Orang Meninggal yang Kembali Dihidupkan
Kisah Orang Meninggal yang Kembali Dihidupkan
Kisah Allah menghidupkan orang mati tertuang dalam hadits shahih. (Ilustrasi: NU Online)
Dikisahkan, pada zaman dahulu ada sekelompok orang dari kaum Bani Israil yang ingin sekali mengetahui perihal kematian dan rasanya sakaratul maut. Karenanya, mereka memohon agar Alah menghidupkan kembali satu mayat yang ada di kompleks pemakaman mereka. Allah pun mengabulkannya. Mayat di salah satu kuburan dihidupkan kemudian bercerita kepada mereka tentang panasnya kematian yang belum juga hilang rasanya hingga hari itu. Padahal, kematian yang dialaminya sudah berlangsung seratus tahun. 
 
Berikut adalah hadits shahih yang menyampaikan kisah tersebut.
 
خَرَجَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ حَتَّى أَتَوْا مَقْبَرَةً مِنْ مَقَابِرِهِمْ فَقَالُوا: لَوْ صَلَّيْنَا وَدَعَوْنَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُخْرِجُ لَنَا رَجُلًا مِمَّنْ قَدْ مَاتَ، فَنُسَائِلَهُ عَنِ الْمَوْتِ فَفَعَلُوا، فَبَيْنَاهُمْ كَذَلِكَ إِذْ طَلَعَ رَجُلٌ رَأْسَهُ مِنْ قَبْرٍ مِنْ تِلْكَ الْمَقَابِرِ حُلَاسِيُّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ فَقَالَ: يَا هَؤُلَاءِ مَا أَرَدْتُمْ إِلَيَّ لَقَدْ مُتُّ مِنْ مِائَةِ عَامٍ، فَمَا سَكَتَ عَنِّي حَرَارَةُ الْمَوْتِ إِلَّا الْآنَ، فَادْعُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يَرُدَّنِيَ لِمَا كُنْتُ
 
“Suatu ketika ada sekelompok orang dari Bani Israil yang datang ke sebuah kuburan. Mereka berkata, ‘Andai kita shalat dan berdoa kepada Allah agar mengeluarkan seorang yang sudah meninggal kepada kita, kemudian kita bertanya kepadanya tentang kematian.” Akhirnya, mereka shalat dan berdoa. Dalam pada itu, tiba-tiba ada satu mayat mengeluarkan kepalanya dari dalam kubur. Tampak di antara kedua matanya ada bekas sujud. Ia lalu bertanya, ‘Wahai orang-orang, apa yang kalian inginkan? Aku meninggal seratus tahun yang lalu. Namun, panasnya kematian belum hilang hingga sekarang. Maka berdoalah kalian agar mengembalikanku kepada keadaanku semula’.” 
 
Dari hadits di atas, kita tahu bahwa Allah pernah menghidupkan mayat atas permohonan sejumlah orang dari kalangan Bani Israil. Mereka meminta hal itu karena ingin bertanya kepada si mayat perihal kematian dan sakaratul maut. 
 
Allah pun mengeluarkan kepala si mayat dari kuburnya. Bahkan, seperti yang digambarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mayat tersebut tak ada bedanya dengan orang hidup di hadapan mereka. Dan di antara kedua matanya terlihat bekas sujud. Uniknya lagi, ia bisa berbincang dan mengingkari apa yang mereka lakukan terhadap dirinya. Ia mengaku telah meninggal seratus tahun yang lalu. Dan hingga Allah menghidupkan kembali dirinya, panasnya kematian masih dirasakannya. Kemudian, sang mayat meminta mereka berdoa kepada Allah agar dirinya dikembalikan seperti semula. 
 
Sesungguhnya apa yang disampaikan sang mayat itu menunjukkan betapa beratnya yang dirasakan seorang hamba pada saat kematian, termasuk oleh orang saleh sekalipun. Sebab, berdasarkan informasi hadits, mayat yang dihidupkan itu termasuk orang yang rajin beribadah. Buktinya, ada bekas sujud di antara kedua matanya.
 
Kisah serupa juga pernah terjadi pada zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Beliau diminta memperlihatkan bagaimana Allah menghidupkan orang yang sudah meninggal. Maka Allah pun memerintahnya untuk memotong-motong empat ekor burung yang telah disembelih. Keempatnya lalu dipisahkan di puncak-puncak gunung. Setelah itu, semuanya dipanggil. Uniknya, bagian dari burung-burung tersebut kembali berkumpul dan membentuk lagi tubuhnya. Ruh-ruhnya juga kembali datang, hingga burung-burung itu terbang lagi seraya bertasbih kepada Tuhannya.
 
Pada zaman Nabi Isa, orang-orang Bani Israil juga pernah menyaksikan bagaimana Allah menghidupkan kembali orang yang sudah meninggal. Mereka adalah orang-orang yang keluar dari kampung mereka dengan ribuan jumlahnya karena takut kematian. 
 
Bahkan, kekuasaan Allah subhanahu wata’ala untuk menghidupkan kembali hamba yang telah meninggal ini juga dikisahkan dalam Al-Qur’an, Atau apakah (kamu tidak memperhatikan) orang yang melalui suatu negeri yang (temboknya) telah roboh menutupi atapnya. Dia berkata, “Bagaimana Allah menghidupkan kembali negeri ini setelah hancur?" Maka Allah mematikan orang itu seratus tahun, kemudian menghidupkannya kembali. Allah bertanya, “Berapakah lamanya kamu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari.” Allah berfirman, “Sebenarnya kamu telah tinggal di sini seratus tahun lamanya; lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum lagi berubah; dan lihatlah kepada keledai kamu (yang telah menjadi tulang belulang); Kami akan menjadikan kamu tanda kekuasaan Kami bagi manusia; dan lihatlah kepada tulang belulang keledai itu, kemudian Kami menyusunnya kembali, kemudian Kami membalutnya dengan daging.” Maka tatkala telah nyata kepadanya (bagaimana Allah menghidupkan yang telah mati) diapun berkata, “Saya yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu,” (QS al-Baqarah [2]: 259.
 
Dari kisah di atas, dapat dipetik beberapa pelajaran penting bagi kita: 
 
Pertama, Allah Mahakuasa menghidupkan orang yang sudah meninggal. Contohnya seperti yang diceritakan dalam beberapa kisah di atas. Salah satunya mayat yang berbicara tentang kematian kepada orang-orang Bani Israil. Begitu pun mudah dan kuasanya Allah membangkitkan seluruh makhluk pada hari Kiamat untuk dikumpulkan di padang mahsyar dan dihisab seluruh amal perbuatannya. 
 
Kedua, betapa berat dan panasnya kematian yang dialami seorang hamba. Seorang hamba mukmin dan ahli sujud saja merasakan betapa berat dan panasnya kematian tersebut. Padahal, ia meninggal sudah seratus tahun yang lain. Bagaimana yang dirasakan oleh seorang hamba yang kufur dan zalim? 
 
Ketiga, terbuktilah bahwa karamah orang-orang saleh itu ada. Salah satunya Allah menghidupkan orang yang sudah meninggal dan berbicara kematian kepada mereka. 
 
Keempat, Allah senantiasa mengabulkan doanya orang-orang saleh walaupun bentuknya bertentangan dengan adat dan kebiasaan manusia. 
 
Kelima, seorang yang ingin memohon perkara besar dianjurkan menunaikan shalat dua rakaat terlebih dahulu, sebagaimana orang-orang yang dikisahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam
 
Keenam, kita diperbolehkan menyampaikan informasi atau kisah yang berhubungan dengan orang-orang Bani Israil selama itu bersumber dari Al-Qur’an dan hadits sahih. Namun bila tidak, seperti bersumber dari kitab, buku, atau cerita rakyat, sebaiknya diperiksa kembali. Jika kandungannya bertentangan dengan apa yang sudah menjadi hak Allah dan rasul-Nya, maka tidak boleh disampaikan, kecuali jika tujuannya untuk menunjukkan penyimpangan di dalamnya sambil dijelaskan kemaslahatannya. (Lihat: Dr. Sulaiman al-Asyqar, Shahîh al-Qashash al-Nabawî, [Oman: Daru al-Nafa’is], 1997, cet. pertama, hal. 183).
 
Hadits di atas diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, (lihat: Sunan-nya, jilid 2, hal. 126); Imam Ahmad (lihat: al-Zuhd, hal. 16-17); Imam Ibnu Abi Syaibah (lihat: al-Mushannaf, jilid 9, hal. 62); Imam al-Bazar (lihat: Musnad-nya, jilid 1, hal. 108 dan 192); Imam ‘Abdu ibn Humaid (lihat: al-Muntakhab min al-Musnad, jilid 1, hal. 152); Imam Ibnu Abi Dawud (lihat: al-Ba‘ts, jilid 5, hal. 30). Walllahu a’lam. 
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni Pondok Pesantren Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
Kamis 5 September 2019 10:30 WIB
Cara Kiai Umar Menjaga Hati Orang Lain agar Tak Terluka (2)
Cara Kiai Umar Menjaga Hati Orang Lain agar Tak Terluka (2)
Kiai Umar Abdul Manan merupakan teladan utuh tentang cara menghargai tamu-tamunya
Sebagai makhluk sosial, setiap manusia ditakdirkan Allah subhanahu wa ta’ala tidak bisa hidup sendirian. Mereka saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup baik. Semuanya memerlukan interaksi sosial yang baik antara satu sama lain. Dengan demikian, ada dua hubungan yang perlu diperhatikan yaitu hubungan vertikal (hablun minallah) dan horizontal (hablun minannas). 
 
Kiai Umar bin Abdul Mannan, pengasuh Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah merupakan tokoh agama yang cukup terkenal. Hubungannya dengan Allah sudah jelas. Menurut Kiai Mubasyir Mundzir asal Kediri, Kiai Umar termasuk wali autad. Kiai Umar rajin berjamaah, hafal Al-Qur’an melalui sanad Kiai Munawir, Krapyak, Yogyakarta; dan ia juga menjadi pengajar Al-Qur’an.
 
Kiai Umar memang dikenal banyak orang. Namun, beliau mempunyai keterbatasan dalam menghafalkan semua orang yang pernah berkenalan dengannya. Hal ini tentu manusiawi dan sangat wajar. Nyaris mustahil seseorang menghafal nama satu per satu orang yang bertatap muka dengannya, apalagi dalam jumlah yang banyak.
Suatu ketika ada orang yang wajahnya sudah tidak asing lagi di mata Kiai Umar sowan  kepada Kiai Umar. Kiai Umar hafal betul wajah orang itu. Sayangnya, ia tidak kunjung menemukan rekaman memori tentang siapa nama dan di mana alamat rumahnya. Yang menarik, Kiai Umar tidak lantas menemui kemudian menanyakan ulang siapa namanya dengan dibumbui kalimat “mohon maaf, saya lupa.” Walaupun sebagian tamu akan memaklumi kelupaan Kiai karena saking banyaknya tamu yang ia hadapi dan selalu bergilir silih berganti. Tapi, siapa yang bisa memastikan setiap orang memaklumi kondisi tersebut? 
 
Mengatasi tamunya supaya tidak tersinggung, sesaat sebelum menemui tamunya, Kiai Umar memanggil khadimnya (santri yang bertugas melayani kiai). “Kang, itu ada tamu, tampaknya aku kenal betul dengan wajahnya, namun aku kok lupa siapa namanya dan di mana rumahnya. Coba kamu temui dia. Ajaklah ngobrol. Tanyakan nama dan alamatnya. Nanti saya akan mendengarkan percakapan dari balik pintu.” Demikian perintah Kiai Umar kepada santri ndalem yang biasa melayaninya. 
 
Setelah sedikit berbincang, Kiai Umar seolah tiba-tiba keluar dari dalam rumah sembari menyapa nama dan alamatnya sekaligus dengan wajah ramah, senyuman tersungging lebar, misalnya “Asslamualaikum…. Wah, Pak Zaid. Dari Pekalongan jam berapa tadi?”

Dengan basa-basi yang seolah remeh-temeh dan tidak penting ini, tamunya menjadi bangga. Mereka pasti akan merasa dekat dan dihafal nama alamatnya oleh tokoh besar yang terkenal. Walhasil, dengan trik ini, para tamu tidak ada yang merasa tersinggung ihwal mempertanyakan nama dan alamat yang berulang. Wallahu a’lam
 
 
(Ahmad Mundzir) 
 
 
Kisah di atas diceritakan KH. Muhammad Shofi Al-Mubarok Baedlowie. Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan kepada NU Online. 
 
Rabu 4 September 2019 18:0 WIB
Cara Kiai Umar Menjaga Hati Orang Lain agar Tak Terluka (1)
Cara Kiai Umar Menjaga Hati Orang Lain agar Tak Terluka (1)
Di antara keistimewaan Kiai Umar Abdul Manan adalah kepekaannya terhadap perasaan orang lain.
Kiai Umar bin Abdul Mannan, Pengasuh Pesantren Al-Muayyad, Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah merupakan salah satu wali masyhur yang menapaki jalan kebaikan dengan nilai-nilai yang searah dengan kebaikan dalam pandangan masyarakat luas.
 
Memang ada sebagian wali lain yang memilih jalan kewalian dengan cara menampilkan diri sebagai orang yang dicemooh oleh masyarakat luas dan tidak populer di mata masyarakat. Tujuannya agar tidak ada rasa sombong, merasa lebih tinggi dari orang lain, atau pula dengan alasan untuk menutupi kewaliannya di hadapan khalayak. 
 
Namun, Kiai Umar Abdul Mannan tidak menapaki jejak kewalian seperti demikian. Ia berjalan dengan kebaikan-kebaikan yang kebaikan tersebut sejalan dengan pandangan masyarakat umum. Salah satu contoh kebaikan Kiai Umar adalah bagaimana caranya ia berusaha tidak menjadikan orang lain tergores hatinya walaupun sedikit.
 
Baca juga:
 
Ny. Hj. Maemunah Baedlowie, salah satu putri Kiai Umar pernah bercerita. Dahulu, di pesantren asuhan Kiai Umar, ada salah satu santri yang ingin tidur, tapi tidak kebagian bantal. Tidak kekurangan akal, santri ini pun berusaha membangunkan santri lain yang sudah tidur lebih dulu dengan tujuan apabila ia bangun, bantal bisa gantian digunakan orang lain. Mubarok adalah santri yang menjadi target kala itu. Ia dibangunkan dengan cara dibohongi memakai kalimat, “Eh, kamu ditimbali (dipanggil) Mbah Umar.”
 
Baru setengah sadar, merasa dipanggil gurunya, Mubarok segera bangun meninggalkan tempat tidur. Ia tidak lagi menghiraukan bantal yang habis ia gunakan. Ia bergegas memakai pakaian pantas lalu menuju ke tempat Kiai Umar berada, padahal Kiai Umar waktu itu sedang serius mengajar santri-santri lain di salah satu majelis. 
 
Dengan percaya diri tinggi, karena merasa dipanggil kiai, Mubarok masuk majelis mendekati sang kiai. “Nyuwun pangapunten, wonten dawuh menopo, Yai? (Mohon maaf, ada perintah apa, Kiai?).” 
 
Kiai Umar langsung menangkap bahwa ada yang tidak beres. Pasalnya ia tidak merasa habis memanggil Mubarok untuk menghadap. Namun, Kiai Umar tidak lantas mengatakan “Ada apa ya? aku tidak memanggil kamu.” Meskipun hal tersebut sah dan jujur, tapi bagaimana malunya Mubarok di depan para santri lain yang hadir apabila Kiai Umar mengatakan sejujurnya. Tentu ia akan menanggung malu.
 
Kesigapan Kiai Umar mengelola hati orang lain di sini patut diteladani. Sambil melepas jam tangan yang dipakai, Kiai Umar langsung menjawab “Oh ya, begini, jam tangan saya ini tolong disesuaikan dengan jam yang ada di masjid, ya! Kalau sudah cocok, nanti bawa ke sini lagi!” Demikian perintah Kiai Umar. 
 
Mubarok pun langsung melaksanakan perintah Kiai tanpa ada perasaan curiga sama sekali. Dengan demikian, Mubarok, walaupun ia santrinya sendiri, Kiai Umar tetap menjaga supaya tidak menanggung malu di hadapan orang banyak. 
 
Di kemudian hari, Mubarok yang pernah dikerjain temannya ini, menjadi kiai, pengasuh Pesantren Roudhotut Tholibin, Jetis, Susukan, Semarang, Jawa Tengah. 
 
Sikap Kiai Umar dalam menjaga perasaan orang lain, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad ﷺ:
 
المُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ المُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
 
Artinya: “Orang Islam adalah orang yang bisa menjadikan Muslim lain selamat dari perilaku lisan dan tangannya” (HR Bukhari: 10).
 
 
(Ahmad Mundzir) 
 
 
Kisah di atas diceritakan KH. Muhammad Shofi Al-Mubarok Baedlowie. Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan kepada NU Online.