IMG-LOGO
Syariah

Pendapat Ulama soal Memajang Gambar atau Lukisan di Rumah

Kamis 10 Oktober 2019 16:0 WIB
Share:
Pendapat Ulama soal Memajang Gambar atau Lukisan di Rumah
(Ilustrasi: NU Online/Abdullah Alawi)
Menyimpan lukisan atau gambar-gambar sebagai penghias rumah sudah merupakan hal yang lumrah dilakukan masyarakat. Gambar dan lukisan yang disimpan cenderung variatif, mulai dari gambar tokoh, hewan, pemandangan alam, dan aneka gambar serta lukisan lain sesuai selera pemilik atau desain interior rumah.
 
Lantas sebenarnya bagaimana syariat menyikapi realitas demikian? Bolehkah bagi seorang Muslim untuk menyimpan berbagai gambar dan lukisan dalam rumahnya?
 
Dalam berbagai hadits memang dijelaskan tentang larangan menyimpan gambar atau lukisan di dalam rumah. Misalnya seperti dalam hadits berikut:
 
إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لاَ تَدْخُلُ بَيْتًا فِيهِ صُورَةٌ 
 
“Sesungguhnya Malaikat tidak masuk pada rumah yang terdapat gambar di dalamnya” (HR. Baihaqi).
 
Berdasarkan hadits di atas, dapat dipahami seolah-olah menyimpan gambar di dalam rumah merupakan sebuah larangan syariat yang tidak dapat ditoleransi. Namun, rupanya terdapat hadits lain yang mengindikasikan ditoleransinya menyimpan gambar di dalam rumah, seperti hadits berikut ini:
 
عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ اللهِ ، أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى أَبِي طَلْحَةَ الأَنْصَارِيِّ يَعُودُهُ فَوَجَدَ عِنْدَهُ سَهْلَ بْنَ حُنَيْفٍ فَأَمَرَ أَبُو طَلْحَةَ إِنْسَانًا يَنْزِعُ نَمَطًا تَحْتَهُ ، فَقَالَ لَهُ سَهْلٌ : لِمَ تَنْزِعُهُ ؟ قَالَ : لأَنَّ فِيهِ تَصَاوِيرَ ، وَقَدْ قَالَ فِيهَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَدْ عَلِمْتَ ، قَالَ : أَلَمْ يَقُلْ إِلاَّ مَا كَانَ رَقْمًا فِي ثَوْبٍ ، قَالَ : بَلَى ، وَلَكِنَّهُ أَطْيَبُ لِنَفْسِي
 
Diriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdullah bahwa ia berkunjung pada Abu Thalhah al-Anshari untuk menjenguknya. Di sana terdapat Sahl bin Hunaif, lalu Abu Thalhah memerintahkan seseorang untuk melepaskan tikar yang ada di bawahnya, melihat hal tersebut, Sahl bertanya: “Kenapa engkau melepasnya?” 
 
“Sebab pada tikar itu terdapat gambar, dan Rasulullah telah mengatakan tentang larangan menyimpan gambar, seperti halnya yang engkau tahu” jawab Abu Thalhah.
 
“Bukankah Rasulullah mengatakan: ‘Kecuali gambar yang ada di pakaian?’” sanggah Sahl
 
“Iya memang, tapi melepaskan (tikar) lebih menenteramkan hatiku” ungkap Abu Thalhah” (HR. An-Nasa’i).
 
Dari dua hadits di atas, para ulama berbeda pendapat dalam menentukan kategori lukisan atau gambar yang dilarang oleh syara’ untuk membuat ataupun menyimpannya. Namun para ulama sepakat atas keharaman suatu gambar ketika memenuhi lima kategori berikut:
 
فعلم أن المجمع على تحريمه من تصوير الأكوان ما اجتمع فيه خمسة قيود عند أولي العرفان أولها ؛ كون الصورة للإنسان أو للحيوان ثانيها ؛ كونها كاملة لم يعمل فيها ما يمنع الحياة من النقصان كقطع رأس أو نصف أو بطن أو صدر أو خرق بطن أو تفريق أجزاء لجسمان ثالثها ؛ كونها في محل يعظم لا في محل يسام بالوطء والامتهان رابعها ؛ وجود ظل لها في العيان خامسها ؛ أن لا تكون لصغار البنان من النسوان
 
فإن انتفى قيد من هذه الخمسة . . كانت مما فيه اختلاف العلماء الأعيان . فتركها حينئذ أورع وأحوط للأديان 
 
“Maka dapat dipahami bahwa gambar yang disepakati keharamannya adalah gambar yang terkumpul di dalamnya lima hal. Pertama, gambar berupa manusia atau hewan. Kedua, gambar dalam bentuk yang sempurna, tidak terdapat sesuatu yang mencegah hidupnya gambar tersebut, seperti kepala yang terbelah, separuh badan, perut, dada, terbelahnya perut, terpisahnya bagian tubuh. Ketiga, gambar berada di tempat yang dimuliakan, bukan berada di tempat yang biasa diinjak dan direndahkan. Keempat, terdapat bayangan dari gambar tersebut dalam pandangan mata. Kelima, gambar bukan untuk anak-anak kecil dari golongan wanita. Jika salah satu dari lima hal di atas tidak terpenuhi, maka gambar demikian merupakan gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama. Meninggalkan (menyimpan gambar demikian) merupakan perbuatan yang lebih wira’i dan merupakan langkah hati-hati dalam beragama” (Sayyid Alawi al-Maliki al-Hasani, Majmu’ fatawa wa ar-Rasa’il, hal. 213)
 
Jika melihat dari referensi di atas, maka gambar atau lukisan yang biasa terdapat di rumah-rumah tergolong sebagai suatu gambar yang masih diperdebatkan di antara ulama tentang boleh-tidaknya menyimpan gambar tersebut, sebab umumnya lukisan dan gambar yang dipajang di rumah-rumah tidak memiliki bayangan, sebab hanya dalam bentuk yang datar. 
 
Klasifikasi perbedaan pendapat mengenai gambar ini dihimpun secara runtut dalam kitab Rawai’ al-Bayan dengan mengutip pandangan Imam an-Nawawi dan Ibnu Hajar al-‘Asqalani:
 
وقال الإمام النووى: إن جواز اتخاذ الصور إنما هو إذا كانت لا ظل لها وهى مع ذلك مما يوطأ ويداس أو يمتهن بالاستعمال كالوسائد وقال العلامة ابن حجر فى شرحه للبخارى حاصل ما فى اتخاذ الصور أنها إن كانت ذات أجسام حرم بالإجماع وإن كانت رقما فى ثوب فأربعة أقوال: الأول: يجوز مطلقا عملا بحديث إلا رقما فى الثوب الثانى: المنع مطلقا عملا بالعموم الثالث: إن كانت الصورة باقية بالهيئة قائمة الشكل حرم وإن كانت مقطوعة الرأس أو تفرقت الأجزاء جاز قال: وهذا هو الأصح الرابع: إن كانت مما يمتهن جاز وإلا لم يجز واستثنى من ذلك لعب البنات
 
“Imam Nawawi menjelaskan bahwa boleh menggunakan gambar hanya ketika tidak memiliki bayangan, selain itu gambar tersebut juga biasa diinjak atau direndahkan penggunaannya, seperti bantal.” 
 
Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani saat mensyarahi kitab Imam Bukhari mengatakan, “Kesimpulan dalam penggunaan gambar bahwa sesungguhnya jika gambar memiliki bentuk tubuh (jism) maka haram secara ijma’. Jika gambar hanya sebatas raqm (gambar) dalam baju, maka terdapat empat pendapat. Pertama, boleh secara mutlak, berdasarkan redaksi hadits illa raqman fits tsaubi (kecuali gambar dalam baju). Kedua, haram secara mutlak, berdasarkan keumuman redaksi hadits. Ketiga, jika gambarnya dapat menetap dengan keadaan yang dapat berdiri sendiri, maka hukumnya haram. Namun jika gambarnya terpotong kepalanya atau terpisah bagian tubuhnya maka boleh. Pendapat ketiga ini merupakan pendapat yang ashah (paling kuat). Keempat, jika gambarnya merupakan gambar yang dianggap remeh maka diperbolehkan, jika tidak dianggap remeh (diagungkan misalnya) maka tidak diperbolehkan. Dikecualikan dari permasalahan di atas adalah mainan anak kecil” (Syekh Muhammad Ali as-Shabuni, Rawai’ al-Bayan fi Tafsir Ayat al-Ahkam, juz 2, hal. 415). 
 
Ulama yang berpandangan tentang bolehnya menyimpan gambar atau lukisan di dalam rumah, salah satunya adalah ulama kenamaan mesir, Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi. Beliau menjelaskan tentang permasalahan ini dalam himpunan fatwanya:
 
س: ما القول فيمن يزينون الحائط برسوم بعض الحيوانات؟ هل هذه ينطبق عليها ما ينطبق على التماثيل البارزة المجسدة من تحريم؟
 
(ج): يقول فضيلة الشيخ الشعراوى: لا شيء في ذلك، ولكن ما حرم هو ما يفعله البعض لتقديس وتعظيم هذه الحيوانات، أما أن ترسم لكي يستعمل في الزينة فلا مانع من ذلك
 
“Pertanyaan: ‘Bagaimana pendapat anda tentang orang yang menghiasi tembok dengan gambar/lukisan sebagian hewan? Apakah berlaku pada permasalahan ini suatu hukum yang berlaku pada patung yang berbentuk jasad yakni hukum haram?’”
 
“Syekh as-Sya’rawi menjawab: ‘Hal di atas tidak perlu dipermasalahkan, hal yang diharamkan adalah perbuatan yang dilakukan sebagian orang berupa mengultuskan dan mengagungkan gambar hewan tersebut. Sedangkan melukis hewan dengan tujuan untuk digunakan menghias (tembok) maka tidak ada larangan untuk melakukannya” (Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi, Mausu’ah Fatawa as-Sya’rawi, hal. 591)
 
Maka dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keharaman menyimpan gambar yang disepakati oleh para ulama hanya berlaku pada gambar atau lukisan makhluk hidup yang memiliki bentuk (jism) atau memiliki bayangan dan diagungkan oleh pemiliknya, seperti patung misalnya. Sedangkan selain gambar dengan kriteria tersebut, ulama berbeda pendapat dalam menghukuminya, sebagian ulama menghalalkan dan sebagian ulama yang lain mengharamkannya. Berbeda halnya ketika gambar atau lukisan bukan bergambar makhluk hidup, tapi berupa pemandangan alam, lukisan abstrak dan berbagai lukisan tak hidup lainnya, maka para ulama memperbolehkan lukisan tersebut.
 
Sehingga sebenarnya bagi kita diperbolehkan untuk memilih salah satu di antara berbagai pendapat ulama dalam menyikapi gambar atau lukisan makhluk hidup yang biasa difungsikan untuk menghias rumah, selama pilihan kita atas pendapat tersebut tidak atas jalan meremehkan urusan agama (tasahul fid din) dan tetap mempertimbangkan penilaian masyarakat setempat. Yang pokok diperhatikan adalah tak boleh ada pengultusan berlebihan atas gambar. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember
 
Share:

Baca Juga

Senin 30 September 2019 22:50 WIB
Hukum Makanan dan Minuman yang Kejatuhan Keringat
Hukum Makanan dan Minuman yang Kejatuhan Keringat
(Ilustrasi: quicpic.pw)
Tidak setiap orang mampu membeli makanan di tempat yang sangat menjaga higienitas tinggi dengan harga mahal. Ada pula, karena memang selera, banyak orang yang lebih memilih mencari warung-warung di pinggir jalan. Kualitas depot, stan, atau warung tentu beragam. Ada yang bersih, ada pula yang kurang memperhatikan kebersihan.
 
Kasus warung kurang higienis di antaranya ditemukan pada perilaku penjual kurang hati-hati: saat masak atau melayani pelanggan, air keringatnya menetes ke makanan; atau bersin sembarangan tanpa menutup mulut padahal di depannya ada makanan. Normalnya, situasi ini akan mengganggu selera orang. Namun, bagaimana pandangan fiqih tentang hal tersebut? Apakah makanan-minuman yang terkena tetesan keringat atau ingus masih layak makan? 
 
Penting untuk diketahui, menurut fiqih, keringat, air liur, dan ingus tak termasuk barang najis. Sehingga apabila ada makanan yang terkena tetesan air keringat atau terkena air liur, hukumnya tetap masih suci dan halal dimakan walaupun bersumber dari keringat orang haid sekali pun.
 
وَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا فَرْقَ فِي الْعَرَقِ وَاللُّعَابِ وَالْمُخَاطِ وَالدَّمْعِ بَيْنَ الْجُنُبِ وَالْحَائِضِ وَالطَّاهِرِ وَالْمُسْلِمِ وَالْكَافِرِ وَالْبَغْلِ وَالْحِمَارِ والفرس والفار وَجَمِيعِ السِّبَاعِ وَالْحَشَرَاتِ بَلْ هِيَ طَاهِرَةٌ مِنْ جَمِيعِهَا وَمِنْ كُلِّ حَيَوَانٍ طَاهِرٍ وَهُوَ مَا سِوَى الْكَلْبِ وَالْخِنْزِيرِ وَفَرْعِ أَحَدِهِمَا 
 
Artinya: “Ketahuilah sesungguhnya tidak ada perbedaan antara keringat, air liur, ingus, dan air mata; antara milik orang yang junub, haid, orang suci, muslim maupun kafir, bighal, himar, kuda, tikus dan semua hewan buas, termasuk keluarga serangga. Bahkan semua itu hukumnya adalah suci. Dan setiap dari hewan yang suci yaitu selain anjing dan babi serta cabang anak atau persilangan atau cabang dari keduanya” (Imam Nawawi, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, [Darul Fikr], juz 2, h. 559).
 
Sayyidah Aisyah, istri Nabi, dalam sebuah hadits menceritakan bahwa ketika Abdullah bin Zubair lahir, Rasulullah mengunyah kurma, lalu memasukkannya di mulut anak kecil itu, sehingga yang masuk pertama kali ke perut si anak adalah ludah Rasulullah.
 
أَوَّلُ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الإِسْلاَمِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الزُّبَيْرِ أَتَوْا بِهِ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَأَخَذَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَمْرَةً فَلاَكَهَا، ثُمَّ أَدْخَلَهَا فِي فِيهِ، فَأَوَّلُ مَا دَخَلَ بَطْنَهُ رِيقُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
 
Artinya: “Anak yang pertama kali dilahirkan dalam Islam adalah Abdullah bin Zubair. Mereka membawa Abdullah bin Zubair ke hadapan Nabi Muhammad ﷺ. Kemudian Nabi mengambil kurma kemudian mengunyahnya. Setelah itu Nabi memasukkan kurma tersebut ke dalam mulut Abdullah bin Zubair. Dengan begitu, benda yang pertama kali masuk ke perutnya Abdullah bin Zubair adalah air ludah Rasul ﷺ” (HR Bukhari).
 
Dalam sebuah hadits yang panjang, diceritakan bahwa Ummu Sulaim juga mengambil keringatnya Rasulullah ﷺ kemudian pada ujung hadits, Rasul bertanya kepada Ummu Sulaim:
 
مَا تَصْنَعِينَ؟ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ نَرْجُو بَرَكَتَهُ لِصِبْيَانِنَا، قَالَ: أَصَبْتِ
 
Artinya: “Apa yang kamu perbuat, wahai Ummu Sulaim?’, Ummu Sulaim menjawab ‘Ya Rasulallah, kami mengharapkan keberkahannya untuk anak-anak kami.’ Rasul menjawab ‘Kamu benar’,” (HR Muslim).
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa keringat, air liur, dan air mata bukan merupakan benda najis. Sehingga apabila mengenai makanan atau minuman, hukum makanan itu tetap suci dan halal dikonsumsi. Wallahu a’lam
 
 
Ustadz Ahmad Mundzir, pengajar di Pesantren Raudhatul Quran an-Nasimiyyah, Semarang 
 
Rabu 25 September 2019 18:15 WIB
Bernazar dalam Hati, Apakah Sah?
Bernazar dalam Hati, Apakah Sah?
Nazar wajib dilakukan bila terkait dengan perbuatan ibadah sunnah, bukan maksiat.
Pada pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa nazar merupakan salah satu penguat sebuah perkataan yang diucapkan oleh seseorang. Hal yang asalnya bersifat anjuran, akan menjadi wajib dilakukan ketika dinazari. Terkait persoalan nazar ini, Rasulullah menegaskan bahwa nazar hanya berlaku pada perbuatan yang mengandung ketaatan, dan tidak berlaku pada hal-hal yang mengandung kemaksiatan. Dalam salah satu haditsnya beliau bersabda:
 
مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلَا يَعْصِهِ
 
“Barangsiapa yang bernazar untuk taat pada Allah maka taatlah. Dan barangsiapa yang bernazar untuk durhaka (melakukan maksiat) pada Allah maka jangan durhaka pada-Nya” (HR Bukhari).
 
Sehingga ketika seseorang bernazar akan melakukan maksiat, maka hal yang harus dilakukan olehnya adalah tidak melakukan apa yang ia nazarkan dan menebus perkataannya dengan denda sumpah (kafarah yamin). Tebusan tersebut ditunaikan dengan salah satu dari tiga pilihan berikut: (1) memerdekakan budak, (2) memberi makan sepuluh orang miskin dengan ketentuan setiap orang miskin diberi satu mud makanan pokok (0,6 kilogram atau ¾ liter beras), atau (3) memberikan pakaian pada sepuluh orang miskin. Jika tidak mampu melakukan satu pun dari ketiga hal di atas, maka wajib untuk berpuasa selama tiga hari.
 
Baca juga:
 
Nazar sendiri hanya dapat sah ketika perbuatan yang dinazari (manzur bih) diucapkan secara langsung lewat sebuah perkataan. Mengenai hal ini, dalam kitab al-Muhadzab dijelaskan:
 
ولا يصح النذر إلا بالقول
 
“Nazar tidak sah kecuali dengan sebuah ucapan” (Abu Ishaq as-Syairazi, al-Muhadzab, juz 1, hal. 443).
 
Berdasarkan ketentuan tersebut, dapat dipastikan bahwa bernazar dalam hati atau sebatas niat saja tanpa dibarengi dengan sebuah perkataan tidak dianggap sah secara syariat. Hal ini seperti yang dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab:
 
قال أصحابنا يصح النذر بالقول من غير نية كما يصح الوقف والعتق باللفظ بلا نية. وهل يصح بالنية من غير قول - فيه الخلاف الذي ذكره المصنف (الصحيح) باتفاق الاصحاب انه لا يصح الا بالقول ولا تنفع النية وحدها
 
“Para ashab (murid-murid Imam Syafi’i) berkata, ‘Nazar tetap sah meskipun tidak disertai dengan niat, seperti halnya sahnya wakaf dan memerdekakan budak dengan mengucapkan lafaz dengan tanpa adanya niat’. Lalu apakah nazar sah dengan niat tanpa adanya ucapan? Dalam permasalahan ini terdapat perbedaan pendapat di antara ulama yang telah dijelaskan oleh pengarang kitab. Menurut pendapat yang sahih (qaul shahih) dengan disepakati para ashab bahwa nazar tidak sah kecuali dengan ucapan, dan niat dalam hati saja tidak bermanfaat (tidak cukup) untuk digunakan nazar” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 8, hal. 451).
 
Meski nazar dalam hati atau sebatas niat saja tidak dianggap cukup secara syara’, tapi dalam berbagai permasalahan tentang nazar, niat dapat berpengaruh dalam hal mengkhususkan suatu objek nazar yang masih bersifat umum. Misalkan ketika seseorang berkata dalam nazarnya: “Aku bernazar akan pergi ke Makkah” tapi dalam hatinya ia niatkan bahwa yang ia maksud adalah haji. Maka hal yang wajib ia lakukan adalah melaksanakan ibadah haji, sehingga ia belum dianggap menunaikan kewajiban nazarnya jika hanya sebatas umrah saja. Hal demikian seperti yang dijelaskan dalam referensi berikut:
 
(فرع) قال المتولي لو قال لله علي أن أمشي إلى مكة ونوى بقلبه حاجا أو معتمرا انعقد النذر على ما نوى وإن نوى إلى بيت الله الحرام حصل ما نواه كأنه تلفظ به والله أعلم
 
“Cabang permasalahan. Imam Mutawali berkata: ‘Jika seseorang berkata: “Demi Allah aku akan berjalan menuju Makkah” dan ia niat dalam hatinya bahwa yang ia maksud (dalam perkataan tersebut) adalah haji atau yang ia maksud adalah umrah, maka perkataan tersebut sah sebagai nazar sesuai dengan apa yang ia niatkan. Dan jika ia niatkan (perkataan di atas) untuk menuju ke Baitullah maka niatnya mencukupi, seolah-olah ia mengatakannya. Wallahu a’lam” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, juz 8, hal. 451)
 
Pengaruh sebuah niat dalam mengkhususkan (men-takhsis) nazar yang masih umum dicontohkan pula dalam permasalahan menentukan subjek pelaku nazar. Misalkan ketika seseorang berkata “Aku akan bersedekah pada fakir miskin” lalu dalam hatinya ia niat akan memberikan sedekah tersebut dengan tenaganya sendiri, tanpa melalui bantuan orang lain, maka wajib baginya untuk memberikan sedekah tersebut dengan dirinya sendiri. Hal ini seperti yang dijelaskan dalam kitab Asna al-Mathalib:
 
(وإن نذر ستر الكعبة) ، ولو (بالحرير أو تطيبها أو صرف مال فيه جاز فإن نوى المباشرة) لذلك (بنفسه لزمه ، وإلا فله بعثه) إلى القيم ليصرفه في ذلك
 
“Jika seseorang bernazar untuk menutupi Ka’bah, meskipun dengan kain sutra, atau ia bernazar untuk memberi wewangian pada Ka’bah atau bernazar untuk membelanjakan hartanya untuk hal tersebut maka nazar demikian diperbolehkan (sah). Jika ia niat akan melakukan hal tersebut dengan dirinya sendiri, maka wajib baginya untuk melakukannya. Jika ia tidak meniati (akan melakukan sendiri) maka boleh baginya untuk mengutus pada pengurus Ka’bah, supaya membelanjakan untuk hal tersebut” (Syekh Zakaria al-Anshari, Asna al-Mathalib, juz 7, hal. 351)
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nazar hanya sah bila disertai dengan ucapan. Sehingga, nazar dalam hati merupakan nazar yang tidak sah dan tidak wajib untuk melakukannya. Namun, niat punya pengaruh pada wujud nazar yang kadung diucapkan. Ketika nazar diucapkan dengan kalimat yang masih umum tapi hati meniatkannya untuk hal yang spesifik, maka wujud nazar yang wajib ditunaikan adalah perbuatan yang sesuai dengan niat spesifik tersebut. Wallahu a’lam.
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember
 
Ahad 22 September 2019 21:30 WIB
Macam-macam Nazar dan Sanksi bagi Pelanggarnya
Macam-macam Nazar dan Sanksi bagi Pelanggarnya
Bernazar bukanlah sebuah kewajiban. Namun, saat nazar itu kadung terucap maka ada kewajiban yang mesti dilunasi.
Setelah membahas tentang pengertian dan ketentuan-ketentuan dalam nazar, selanjutnya kita akan membahas macam-macam nazar serta sanksi bagi orang yang melanggar atau tidak menepati perbuatan yang dinazarkan olehnya.
 
Nazar secara umum terbagi menjadi dua pembagian.
 
Pertamanazar lajjaj.
Nazar lajjaj adalah nazar yang bertujuan untuk memotivasi seseorang agar melakukan suatu hal, atau mencegah seseorang melakukan suatu hal, atau meyakinkan kebenaran sebuah kabar yang disampaikan oleh seseorang.
 
Contoh nazar lajjaj yang berupa motivasi adalah perkataaan seseorang “Jika aku tidak mengkhatamkan membaca buku ini selama tiga hari, maka aku akan bersedekah senilai satu juta rupiah”. Pengucapan nazar demikian dimaksudkan agar ia termotivasi segera mengkhatamkan bacaan bukunya dalam waktu yang cepat, sebab jika hal tersebut tidak ia lakukan maka ia berkewajiban menyedekahkan uangnya senilai satu juta rupiah. Sehingga nazar ini sejatinya dimaksudkan agar seseorang termotivasi atau semakin tertuntut untuk melakukan suatu hal yang bermanfaat baginya.
 
Contoh nazar lajjaj yang berupa pencegahan, seperti ketika seseorang mengatakan “Jika aku berbicara lagi dengan Fulan, maka aku akan bersedekah senilai satu juta rupiah”. Nazar ini dimaksudkan agar dirinya tidak lagi berhubungan dengan Fulan. Sebab jika ia melakukan hal tersebut maka ia terkena beban kewajiban menyedekahkan uang satu juta rupiah. Sehingga nazar ini dimaksudkan agar seseorang tercegah untuk melakukan suatu hal yang tidak ia senangi.
 
Sedangkan contoh nazar lajjaj yang bertujuan untuk meyakinkan orang lain akan kebenaran suatu berita yang disampaikan oleh seseorang, misalnya seseorang setelah mengabarkan suatu berita pada orang lain mengatakan “Jika kabar yang aku sampaikan ini tidak benar, niscaya wajib bagiku untuk bersedekah senilai satu juta rupiah padamu”. Dengan ucapan ini, orang yang diajak bicara diharapkan akan merasa yakin atas kebenaran sebuah kabar yang disampaikan olehnya.
 
Keduanazar tabarrur.
Nazar tabarur adalah menyanggupi akan melakukan suatu ibadah (qurbah) tanpa menggantungkannya pada suatu hal, atau menggantungkannya dengan suatu hal yang diharapkan (marghub fih). Nazar tabarrur ini juga dikenal dengan nama nazar mujazah.
 
Contoh nazar tabarur yang tidak digantungkan pada suatu hal, seperti ucapan “Aku bernazar akan bersedekah senilai satu juta rupiah” maka wajib bagi seseorang yang mengatakan hal tersebut untuk menyedekahkan uangnya senilai satu juta tatkala ia sudah memilikinya. Kewajiban menyedekahkan ini bersifat kewajiban yang lapang (wujub muwassa’), dalam arti seseorang tidak wajib untuk segera menyedekahkan uang tersebut (faur) saat ia telah mampu, tapi bisa dilakukan kapan pun selama ia tidak memiliki keyakinan tidak akan memiliki uang senilai satu juta rupiah lagi. Jika ia yakin tidak akan memiliki uang senilai satu juta rupiah selain pada waktu tersebut maka ia wajib menyedekahkan uangnya sebelum habis digunakan untuk keperluan lain (Syekh Abdul Hamid al-Makki As-Syarwani, Hawasyi As-Syarwani, juz 10, hal. 75).
 
Namun meski begitu, sebaiknya ia segera melaksanakan nazar agar segera pula terbebas dari tanggungan kewajiban. Sebab seringkali ketika pelaksanaan kewajiban ini diakhirkan, seseorang akan teledor hingga lupa tidak melaksanakannya.
 
Sedangkan contoh nazar tabarrur yang digantungkan pada sesuatu yang diharapkan, misalnya seperti ucapan “Jika Allah menyembuhkan penyakitku, aku akan bersedekah senilai satu juta rupiah”. Kesembuhan penyakit merupakan sebuah hal yang diharapkan oleh seseorang, ketika penyakitnya telah sembuh, maka ia berkewajiban untuk menyedekahkan uang senilai satu juta sebagai wujud nazar tabarrur yang telah diucapkan olehnya.
 
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nazar secara umum terbagi menjadi dua bagian, yakni nazar lajjaj dan nazar tabarrur. Sedangkan jika dibagi secara rinci, maka nazar terbagi menjadi lima. Sebab nazar lajjaj terdiri dari tiga macam. Sedangkan nazar tabarrur terdiri dari dua macam. Segala bentuk nazar yang diucapkan oleh seseorang pasti termasuk salah satu di antara lima bentuk nazar di atas.
 
Nazar yang Dapat dan Tak Dapat Dilanggar
Di antara berbagai macam nazar di atas, bentuk nazar yang dapat dilanggar oleh seseorang hanya berlaku dalam nazar lajjaj saja. Di balik nazar lajjaj terkandung motif atau maksud si pengucap nazar: entah menyemangati diri sendiri, menghindarkan diri, atau mempengaruhi orang lain.
 
Sementara dalam nazar tabarrur tidak tergambarkan bahwa nazar tersebut dapat dilanggar oleh seseorang, sehingga tidak ada jalan lain bagi orang yang mengucapkan nazar tersebut selain harus melakukan perkara yang telah ia sanggupi.
 
Dari ketiga macam nazar yang tercakup dalam nazar lajjaj, semuanya dapat dilanggar--dengan konsekuensi menggantinya dengan membayar denda. Misalnya pada kasus nazar motivasi, dapat dilanggar ketika seseorang tidak memenuhi target pelaksanaan yang ia nazarkan. Dalam nazar pencegahan, dapat dilanggar ketika seseorang melakukan hal yang semula ia nazarkan tak akan dilakukan. Dan dalam nazar meyakinkan sebuah kabar, dapat dilanggar ketika ternyata kabar yang disampaikan adalah sebuah kebohongan. 
 
Ketika melakukan nazar lajjaj, seseorang diberi pilihan antara melaksanakan hal yang ia nazarkan (al-manzur bih, misalnya bersedekah satu juta rupiah) atau membayar denda sumpah (kafarat yamin), yakni memilih di antara melakukan salah satu dari tiga hal: (1) memerdekakan budak, (2) memberi makan sepuluh orang miskin dengan ketentuan setiap orang miskin diberi satu mud makanan pokok (0,6 kilogram atau ¾ liter beras), atau (3) memberikan pakaian pada sepuluh orang miskin. Jika tidak mampu melakukan satu pun dari ketiga hal di atas, maka wajib untuk berpuasa selama tiga hari.
 
Meskipun seseorang ketika melanggar nazar lajjaj diperbolehkan memilih di antara kedua pilihan di atas (melakukan hal yang dinazarkan atau membayar denda sumpah), namun yang paling baik baginya adalah memilih pilihan yang bernilai paling banyak. Jika bernazar akan menyedekahkan uang senilai satu juta rupiah, sedangkan memberi makanan untuk sepuluh orang miskin hanya menghabiskan biaya dua ratus ribu rupiah, maka yang lebih utama baginya adalah melakukan hal yang ia nazarkan. Begitu juga sebaliknya, jika hal yang dinazarkan hanya menyedekahkan seratus ribu rupiah, sedangkan memberi makanan sepuluh orang miskin menghabiskan tiga ratus ribu rupiah, maka yang lebih utama adalah membayar denda sumpah (Muhammad bin Ahmad bin Umar as-Syatiri, Syarah al-Yaqut an-Nafis, hal. 874).
 
Bernazar bukanlah sebuah kewajiban. Namun, saat nazar itu kadung terucap maka ada kewajiban yang mesti dilunasi. Pada kasus nazar tabarrur, kewajiban tersebut adalah realisasi janji sesuai bunyi nazar itu. Tak ada pilihan lain, termasuk membayar kafarat. Melanggarnya punya konsekuensi dosa bagi pengucap nazar, sebagaimana nazar lajjaj ketika tak ditepati tapi sekaligus juga tak diganti dengan membayar kafarat. Wallahu a'lam.
 
 
Ustadz M. Ali Zainal Abidin, Pengajar di Pondok Pesantren Annuriyah, Kaliwining, Rambipuji, Jember