IMG-LOGO
Bahtsul Masail

Arisan Kurban Apakah Termasuk Kurban Nadzar?

Rabu 24 September 2014 9:1 WIB
Share:
Arisan Kurban Apakah Termasuk Kurban Nadzar?
Ilustrasi (AJ+)

Assalamualaikum. Di lingkungan kami ada arisan bulanan untuk kurban yang setiap tahunnya dibelikan seekor sapi untuk tujuh orang. Pertanyaan saya: Apakah kurban dengan sistem arisan yang seperti ini termasuk kurban nadzar yang mana kita tidak boleh memakan dagingnya? (Nurgianto, Lampung Barat).

 

Jawaban

Wa’alaikumsalam wa rahamatullah wa barakatuh. Saudara penanya yang terhormat Menyembelih hewan kurban merupakan salah satu anjuran yang sangat ditekankan oleh ajaran Islam terhadap pemeluknya yang berkecukupan serta ada kelebihan rizki pada saat yang ditentukan, yakni bulan Dzulhijjah mulai tanggal 10 sampai dengan tanggal 13.

 

Bahkan imam Malik berpendapat bahwa menyembelih hewan kurban bagi mereka yang berkecukupan hukumnya adalah wajib. Pendapat ini mengacu pada salah satu firman Allah:

 

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

 

Artinya: maka shalatlah untuk Tuhanmu dan sembelihlah hewan kurban. (Al-Kautsar ayat 2).

 

Saudara Nurgianto yang dimuliakan Allah. Anjuran untuk berkurban yang oleh madzhab Syafii dihukumi sunnat ini sekarang mulai mendapatkan sambutan serta apresiasi yang cukup menyenangkan di tengah kehidupan masyarakat mengingat subtansi kurban adalah semangat berbagi demi perbaikan gizi di kalangan kaum muslimin. Oleh karena itu tidak sedikit diantara mereka yang menghimpun dana dengan cara mengadakan arisan demi melaksanakan ibadah yang mulia ini.

 

Dalam forum halaqah yang diselenggarakan oleh sebuah pesantren di Rembang pada tahun 1997, permasalahan ini pernah dibahas dengan keputusan bahwa kurban yang dilaksanakan oleh seseorang karena arisan tidak otomatis dihukumi sebagai nadzar. Dengan demikian kurban tidak menjadi kurban wajib. Salah satu rujukan yang digunakan adalah Hasyiyah Sulaiman Jamal Ju V Hal. 251 karya Sulaiman bin Umar bin Manshur al-‘Azili al-Azhari:

 

فرع-الى ان قال- وقضية ما فى الروض انها لا تصير أضحية بنفس الشراء ولا بنيته فلابد من لفظ يدل على الالتزام بعد الشراء

 

Artinya; kesimpulan yang ada dalam kitab ar-Raudh menjelaskan bahwasannya hewan (yang dibeli) tidak otomatis menjadi hewan sembelihan (kurban) berdasarkan transaksi dan niat semata. Dengan demikian, hewan dapat diketahui statusnya (sebagai hewan kurban atau yang lain) dengan ungkapan pemiliknya setelah jual beli dilakukan.

 

Saudara penanya yang kami hormati, dari rujukan ini, dapat kita pahami bahwa hewan dapat berstatus sebagai hewan kurban nadzar manakala si pemilik memang mengungkapkan niatnya secara jelas, dan bukan karena menanggapi sebuah pertanyaan dari orang lain.

 

Mudah-mudahan jawaban ini dapat bermanfaat bagi kita semua. Amin. (Maftukhan)

 

Share:
Senin 22 September 2014 15:10 WIB
Jilbab Punuk Unta?
Jilbab Punuk Unta?
Ilustrasi/seekerguidance.org

Assalamualaikum wr.wb. Saya ingin menanyakan apa maksud potongan hadits ".....kepala seperti punuk unta yang berlenggak lenggok tidak akan pernah mencium bau surga?" Kebetulan rambut saya kan panjang jadi saya ikat sehingga kelihatan menonjol di bagian belakang jilbab, tapi gak sampai menjulang ke atas kepala dan terkadang saya juga memakai daleman cemol, biar kelihatan rapi kalau memakai jilbab. Mohon penjelasannya terima kasih. (Nanin/Surakarta)

 

Jawaban

Wa'alaikumus salam warahmatulahi wabarakatuh. Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Teks arab hadits yang disebutkan oleh penanya lengkapnya adalah sebagai berikut:

 

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا-رواه مسلم

 

“Ada dua golongan ahli neraka yang aku belum pernah melihatnya. Pertama. golongan yang membawa cambuk yang seperti ekor sapi di mana dengan cambuk tersebut mereka mencambuki orang-orang. Kedua, golongan perempuan yang berpakaian tetapi telanjang, yang cenderung (tidak taat kepada Allah) dan mengajarkan orang lain untuk meniru perbuatan mereka. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring, dan mereka tidak akan masuk surga dan tidak mencium baunya. Padahal sungguh bau surga akan tercium dari jarak perjalan seperti ini seperti ini (jarak yang jauh). (H.R. Muslim)

 

Di dalam hadits ini dijelaskan dua golongan ahli neraka. Dan dalam kesempatan ini kami akan menjelaskan mengenai golongan kedua saja untuk menyesuaikan dengan pertanyaan di atas sehingga pembahasannya menjadi fokus.

 

Golongan kedua yang tidak akan masuk surga, yang digambarkan dalam hadits tersebut adalah para wanita yang berpakaian tetapi pakaiannya tidak menutupi auratnya, cendrung tidak taat menjalankan perintah dan larangan Allah swt, dan mengajarakan orang lain untuk meniru mereka. Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring.

 

Kalimat “kepala-kepala mereka seperti punuk unta yang miring” acapkali dipahami untuk menyamakan wanita-wanita yang memakai jilbab tetapi kelihatan menonjol di belakang jilbab. Pertanyaannya apakah benar penyamaan itu benar? Untuk menjawabnya maka kami akan menjelaskan apa sebenarnya arti dari kata asnimah al-bukht­.

 

Kata asnimah adalah bentuk plural atau jamak dari kata sanam. Dalam kamus Lisan al-‘Arab karya Ibnu Manzhur dikatakan sanam al-ba’ir wa an-naqah artinya adalah punggung unta yang paling tinggi atau menonjol. Atau kita terjemahkan dengan punuk unta.

 

سَنَامُ الْبَعِيرِ وَالنَّاقَةِ أَعْلَى ظَهْرِهَا وَالْجَمْعُ أَسْنِمَةٌ

 

Sanam al-ba’ir wa an-naqah (punuk unta) adalah punggung unta yang paling tinggi, dan bentuk plural atau jamak dari kata sanam adalah asnimah. (Ibnu Manzhur, Lisan al-‘Arab, Bairut-Dar ash-Shadir, cet ke-1, tt, juz, 12, h. 306)

 

Sedang kata al-bukht maknanya adalah salah satu jenis unta yang besar punuknya. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam kitab tafsir-nya yaitu al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an.

 

وَالْبُخْتُ ضَرْبٌ مِنَ الْإِبِلِ عِظَامُ الْأَجْسَامِ، عِظَامُ الْأَسْنِمَةِ

 

Al-bukht adalah salah satu jenis unta yang besar badannya yaitu besar punuknya”. (Al-Qurthubi, al-Jami’ li Ahkam al-Qur`an, Riyadl-Daru ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M, juz, 12, h. 311)

 

Berangkat dari penjelasan ini maka sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: “Kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang miring” diartikan dengan “kepala-kepala mereka seperti punuk-punuk unta yang besar punuknya dan miring.”

  

Lantas bagaimana maksud bentuk kepala yang seperti punuk unta yang punuknya besar dan miring? Sebagaimana pertanyaan di atas. Para ulama berbeda pendapat dalam hal ini.

 

Menurut an-Nawawi, tafsir atau penjelasan yang masyhur adalah mereka para wanita-wanita itu membesarkan kepalanya dengan kerudung (khimar), serban (‘imamah), dan selainnya yaitu dari sesuatu yang digulung di atas kepala sehingga menyerupai punuk-punuk unta.

 

Sedang menurut al-Marizi, mereka wanita-wanita itu suka memandang laki-laki, tidak menjaga pandangan dan tidak menundukkan kepala-kepala mereka.

 

Selanjutnya menurut al-Qadli ‘Iyadl adalah mereka memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, maka menjadi seperti punuk unta. Hal ini sebagaimana dikemukan an-Nawawi dalam Syarh Muslim.

 

وَأَمَّا رُؤُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ فَمَعْنَاهُ يُعَظِّمْنَ رُؤُوسَهُنَّ بِالْخُمُرِ وَالْعَمَائِمِ وَغَيْرِهَا مِمَّا يُلَفُّ عَلَى الرَّأْسِ حَتَّى تُشْبِهَ أَسْنِمَةَ الْإِبِلِ الْبُخْتِ هَذَا هُوَ الْمَشْهُورُ فِي تَفْسِيرِهِ قَالَ الْمَازِرِيُّ وَيَجُوزُ أَنْ يَكُونَ مَعْنَاهُ يَطْمَحْنَ إِلَى الرِّجَالِ وَلَا يَغْضُضْنَ عَنْهُمْ وَلَا يُنَكِّسْنَ رُؤُوسَهُنَّ وَاخْتَارَ الْقَاضِي أَنَّ الْمَائِلَاتِ تُمَشِّطْنَ الْمِشْطَةَ الْمَيْلَاءِ قَالَ وَهِيَ ضَفْرُ الْغَدَائِرِ وَشَدُّهَا إِلَى فَوْقُ وَجَمْعُهَا فِي وَسَطِ الرَّأْسِ فَتَصِيرُ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ قَالَ وَهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الْمُرَادَ بِالتَّشْبِيهِ بِأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ إِنَّمَا هُوَ لِارْتِفَاعِ الْغَدَائِرِ فَوْقَ رُؤُوسِهِنَّ وَجَمْعِ عَقَائِصِهَا هُنَاكَ وَتَكَثُّرِهَا بِمَا يُضَفِّرْنَهُ حَتَّى تَمِيلَ إِلَى نَاحِيَةٍ مِنْ جَوَانِبِ الرَّأْسِ كَمَا يَمِيلُ السَّنَامُ

 

“Adapun “kepala-kepala mereka seperti punuk untu” maka pengertiannya adalah mereka membesarkan kepala-kepala dengan khimar (kerudung) tutup kepala wanita (al-khumur) dan kain sorban (al-‘ama`im) atau yang lainnya dari sesuatu yang digelung (dikonde) di atas kepala sehingga menyerupai punuk unta. Ini adalah tafsir yang masyhur. Menurut al-Maziri kalimat tersebut boleh diartikan dengan mereka memandang laki-laki tidak menahan pandangan atau memejamkan matanya dari melihat laki-laki dan tidak menundukkan kepalanya. Menurut al-Qadli ‘Iyadl bawha “wanita-wanita yang cenderaung (al-mailat)” maksudnya adalah mereka menyisir rambut mereka dengan model sisiran rambut para pelacur. Yaitu memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, maka menjadi seperti punuk unta. Menurut al-Qadli ‘Iyadl, hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksudkan menyerupai punuk unta itu karena tingginya jalinan rambut di atas kepala, terkumpulnya jalinan rambut di situ, dan menjadi kelihatan banyak (lebat) dengan sesuatu yang mereka pilin sehingga miring ke salah satu sisi dari beberapa sisi kepala sebagaimana miringnya punuk”. (Muhyiddin an-Nawawi, al-Minhaj Syarhu Shahihi Muslim, Bairut-Daru Ihya` at-Turats al-‘Arabiy, cet ke-2, 1392 H, juz, 17, h. 191)         

 

Kalau kita cermati pendapat an-Nawawi yang mengacu kepada pendapat mayoritas ulama dan pendapat Qadli ‘Iyadl maka kita akan menemukan titik kesamaan. Yaitu sama-sama membuat rambut kepala terlihat banyak atau lebat dari yang semestinya dan menaikkannya di atas kepala, bukan di belakang kepala, sehingga menyerupai punuk unta.

 

Yang membedakan keduanya hanya pada soal teknisnya saja. Kalau yang pertama menambahkan pada rambutnya dengan semisal serban, kerudung, atau yang lainnya yang digelungkan di atas kepala. Sedang yang kedua, dengan rambutnya sendiri, dengan cara  memilin jalinan rambut dan mengikatnya sampai ke atas lalu mengumpulkan di tengah kepala, sehingga menjadi menonjol seperti punuk unta dan miring ke salah satu sisi kepalanya.

 

Dengan demikian jika penjelasan di atas ditarik dalam konteks pertanyaan Saudari Nanin mengenai rambut yang panjang kemudian diikat dan terlihat menonjol di bagian belakang jilbab tetapi tidak menonjol di atas kepala, maka tidak masuk seperti punuk unta. Begitu juga dengan pemakaian daleman cemol. Sebab, tidak menjulang di atas kepala. Namun hal ini sepanjang tidak sampai menampakkan perhiasan kewanitaannya (idhhar az-zinah) dan menimbulkan fitnah.

 

Demikian penjelasan singkat ini, semoga bisa menambah wawasan kita semua. Dan saran kami jangan menggunakan pakaian termasuk juga jilbab yang terlalu mencolok yang dimaksudka untuk menarik perhatian dan pandangan lawan jenis. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

 

 

Ahad 21 September 2014 11:1 WIB
Melontar Jumrah pada Tiga Hari Tasyriq Sebelum Terbit Fajar
Melontar Jumrah pada Tiga Hari Tasyriq Sebelum Terbit Fajar

Pada saat puncak pelaksanaan haji, tanggal 9 – 13 Dzulhijjah, jama'ah haji dari seluruh penjuru dunia berkumpul pada satu waktu dan satu tempat yang sama (Arafah, Muzdalifah, dan Mina). Jumlahnya berkisar 3 – 4 juta orang. Hal ini dapat membawa konsekuensi tersendiri, yakni berupa kesehatan dan keselamatan diri para jama’ah.<>

Terkait padatnya jamaah haji tersebut, pada saat melontar Jumrah pada 3 (tiga) hari tasyriq terdapat beberapa kelompok jamaah haji dari Indonesia yang melaksanakan lontar jumrah tersebut lebih awal, yaitu sebelum terbit fajar. Padahal, sesuai dengan hadits Nabi SAW, waktu lontar adalah setelah tergelincirnya mata hari (ba’da zawal). Pertanyaanya, bagaimanakah hukum melontar jumrah pada tiga hari tasyriq sebelum terbit?

Jawaban

Menurut jumhur ulama, hukum melontar jumrah baik Aqabah pada tanggal 10 Dzulhijjah (hari Nahr) maupun jumrah pada 3 hari tsyriq adalah wajib. Bagi yang tidak melontar jamrah Aqabah wajib membayar dam (Said bin abdul Qadir Basyinfar, al-Mughni fi Fiqh al-Haj wa al-‘Umrah, hal. 271; Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala Mazhahib al-Arba’ah, Juz. I, hal. 665).

Adapun waktu fadhilah (utama) jumrah Aqabah setelah terbit matahari dan melontar jumrah 3 hari tasyriq setelah tergilincir matahari (bakda zawal). Sebagaimana yang dilakukan Nabi Saw. berdasarkan riwayat berikut ini;

عَنْ جَابِرٍ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْمِى اَلْجَمْرَةَ ضُحًى يَوْمَ النَّحْرِ وَحْدَهُ وَرَمَى بَعْدَ ذَلِكَ بَعْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ -رواه مسلم 

Artinya: Jabir berkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melontar satu jumrah saja (jumrah aqabah) pada waktu dhuha hari Nahar. Dan sesudah itu hari-hari berikutnya (tanggal 11 s.d. 13 Dzulhijjah) beliau melempar (3 jumrah) setelah tergelincir matahari (H.R. Muslim)

Namun para fuqaha berbeda pendapat mengenai waktu yang dianggap cukup (sah) untuk melontar jamrah Aqabah: Imam Mujahid, al-Tsauri dan al-Nakha'i, menyatakan tidak dibenarkan melontar jumrah Aqabah sebelum terbit matahari. Sedangkan, menurut Imam Abu Hanifah, Malik, Ishak dan Ibnu Mundzir diperbolehkan melontar jumrah Aqabah setelah terbit fajar. Adapun menurut Imam Syafi'i dan Ahmad bahwa awal waktu diperbolehkan melontar jamrah ialah setelah lewat tengah malam pada malam hari Nahr (Said bin Abdul Qadir Basyinfar, al-Mughni fi Fiqh al-Haj wa al-‘Umrah, hal. 271-273), dan menurut Imam Syafi'i dan Ahmad akhir waktu melontar jumrah Aqabah adalah saat terbenam matahari pada akhir hari Tasyriq, tanggal 13 Dzulhijjah (Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala Mazhahib al-Arba’ah, Juz. 1, hal. 665).

Terkait waktu yang dianggap cukup (sah) untuk melontar jumrah pada hari-hari tasyriq, juga terdapat perbedaan pendapat di antara para fuqaha. Menurut Jumhur Ulama, tidak sah melontar jumrah pada hari-hari Tasyriq, kecuali setelah tergelincir matahari (bakdaz zawal). Namun Imam Abu Hanifah berpendapat bahwa melontar jumrah pada hari Nahr diperbolehkan sebelum tergelincir matahari (qablaz zawal) (Ibnu Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, Juz. 5, hal. 328).

Senada dengan Abu Hanifah, Atha’ dan Thawus (dua tokoh ulama fuqaha) dari golongan Tabi'in ini juga menyatakan, boleh melontar jamrah pada hari tasyriq sebelum zawal:

قال عطاء وطاوس: يجوز الرمي مطلقا أيام التشريق قبل الزوال

Artinya: Imam Atho’ dan Thowus berpendapat bahwa secara mutlak boleh melontar jumrah pada hari-hari tasyriq sebelum tergelincir matahari (Said bin abdul Qadir Basyinfar, al-Mughni fi Fiqh al-Haj wa al-‘Umrah, hal. 286).

Di dalam kitab  Fath al-Bari  juga dikemukakan:

وَفِيْهِ دَلِيْلٌ عَلَى أَنَّ السُّنَّةَ أَنْ يَرْمِيَ اْلجِمَارَ فِيْ غَيْرِ يَوْمَ اْلأَضْحَى بَعْدَ الزَّوَالِ وَبِهِ قَالَ اْلجُمْهُوْرُ. وَخَالَفَ فِيْهِ عَطَاءٌ وَطَاوُوْسٌ فَقَالاَ يَجُوْزُ قَبْلَ الزَّوَالِ مُطْلَقًا. وَرَخَّصَ الْحَنَفِيَّةُ فِى الرَّمْيِ فِي يَوْمِ النَّفَرِ قَبْلَ الزَّوَالِ. وَقَالَ إِسْحَاقُ إِنْ رَمَى قَبْلَ الزَّوَالِ أَعَادَ إِلاَّ فِى الْيَوْم الثَّالِثِ فَيُجْزِؤُهُ

Artinya: Hadits itu menjadi dalil, menurut sunah melempar jumrah selain hari Adlha adalah setelah zawal, ini adalah pendapat jumhur ulama. Berbeda dengan pendapat Atho’ dan Thawus yang mengemukakan, boleh melempar jumrah sebelum zawal secara mutlak. Al-Hanafiyah memberikan rukhshah (keringanan), boleh melempar jumrah pada hari nafar sebelum zawal. Ishaq berpendapat, jika seseorang melempar jumrah sebelum zawal (pada hari nafar), maka ia harus mengulanginya, kecuali pada hari ketiga tasyri, maka melempar sebelum zawal cukup baginya (Ibnu Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari, Baerut: Dar al-Fikr, 1420 H/2000 M,  Jilid IV, hal. 409-410).

Menurut Atho dan Thowus, dibolehkannya qablaz zawal karena: Pertama, Nabi tidak melontar pada hari-hari tasyriq sebelum zawal dan tidak pula melarang, akan tetapi beliau melakukannya setelah zawal, artinya perbuatan Nabi itu menunjukkan afdhal bukan keharusan. Kedua, kalau pada tanggal 10 Dzulhijjah jamaah haji melontar hanya pada satu tempat dibolehkan pada waktu dhuha, maka apabila pada hari-hari Tasyriq dimana pelontaran itu dilakukan pada tiga tempat, tentunya tidak harus dipersempit waktunya bahkan sepantasnya diperluas. Oleh karena itu maka pada hari-hari Tasyriq (11, 12 dan 13 Dzulhijjah) boleh melontar sebelum zawal.

Namun menurut Imam Rafi’i, pendapat tersebut lemah sehingga pelaksanaannya harus bakdal fajri (setelah fajar) dan tidak boleh sebelum fajar (qablal fajr). Di dalam Tuhfah al-Muhtaj dikemukakan:

وَجَزَمَ الرَّافِعِيُّ بِجَوَازِهِ قَبْلَ الزَّوَالِ كَاْلإِمَامِ ضَعِيْفٌ وَإِنْ اعْتَمَدَهُ اْلإسْنَوِيُّ وَزَعَمَ أَنَّهُ الْمَعْرُوْفُ مَذْهَبًا وَعَلَيْهِ فَيَنْبَغِي جَوَازُهُ مِنَ الْفَجْرِ

Artinya: Al-Rafi’i menetapkan, boleh melempar jumrah (pada hari Tasyriq) sebelum zawal (zhuhur) seperti pendapat al-Imam. Ini pendapat yang lemah, walaupun menjadi pegangan al-Isnawi yang menyatakan bahwa pendapat tersebut adalah pendapat yang ma’ruf (dikenal) dalam mazhab (al-Syafi’iyah). Karenanya (qaul dla’if), seyogyanya diperbolehkan melempar jumrah itu sejak terbit fajar (Ibnu Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj bi Syarh al-Minhaj pada hamisy Hasyiah al-Syirwani, Mesir: al-Tijariah al-Kubra, Juz IV, hal. 138).

Di dalam kitab I’anah al-Tholibin juga dikemukakan bahwa praktik melontar hendaknya setelah fajar:

وَالْمُعْتَمَدُ جَوَازُهُ فِيْهَا أَيْضًا وَجَوَازُهُ قَبْلَ الزَّوَالِ بَلْ جَزَمَ  الرَّفِعِيُّ وَتَبِعَهُ اْلإِسْنَوِيُّ وَقَالَ إِنَّهُ الْمَعْرُوْفُ بِجَوَازِ رَمْيِ كُلِّ يَوْمٍ قَبْلَ الزَّوَالِ وَعَلَيْهِ فَيَدْخُلُ بِالْفَجْرِ

Artinya: Menurut pendapat yang kuat, boleh melempar jumrah pada hari tasyriq itu sebelum zawal. Bahkan, al-Rafi’i juga berpendapat sama yang diikuti oleh al-Isnawi. Al-Isnawi mengemukakan, cara itulah yang dikenal, yakni boleh melempar jumrah setiap hari sebelum zawal. Praktiknya, seyogyanya diperbolehkan melempar jumrah itu sejak terbit fajar (Muhammad al-Bakri Syatho al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Mesir: al-Tijariah al-Kubra, t. th.), Juz II, h. 307)

Dari penjelasan di atas, jelas bahwa melotar jumrah pada tiga hari tasyriq sebelum terbit fajar untuk hari besoknya tidak sah karena waktu tersebut adalah di luar batas-batas waktu yang ditentukan. Oleh sebab itu, jika pera jemaah haji tidak bisa melontar pada waktu afdloliyah, (bakdaz zawal) sebaiknya melontar setelah terbit fajar (bakdal fajri).

Demikian jawaban yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat dan para jemaah haji mendapatkan haji mabrur. (Sarmidi Husna).  

Sabtu 20 September 2014 15:18 WIB
Sahkah Tahajud Sebelum Tidur?
Sahkah Tahajud Sebelum Tidur?

Assalamualaikum warohmatullaahi wabarokaatuh. Saya ingin bertanya, apakah boleh begadang karena penyakit insomnia? dan apa hukumnya shalat tahajjud tanpa tidur terebih dahulu? Terimakasih, wassalamualaikum warohmatullahi wabarokaatuh. (Muhammad Izzat)<>

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Saudara Muhammad Izzat yang dimuliakan Allah SWT, pertama-tama yang perlu dipahami bahwa tidak tidur karena insomnia tidak bisa diberi label hukum apa-apa karena hal itu adalah penyakit. Yang bisa dijatuhi hukum adalah perbuatan yang dilakukan dengan sadar dalam keadaan insomnia itu sendiri. Adapun begadang atau dalam bahasa pesantrennya biasa disebut melek tanpa adanya gangguan kejiwaan(insomnia) itu boleh dan baik asalkan diisi dengan hal-hal yang positif.

Bahkan, dalam tradisi pesantren, melek ini menjadi semacam laku semi wajib bagi santri untuk mendapatkan cita-cita luhur seperti ingin mendapatkan ilmu yang banyak dan barakah. Tiap malam para santri yang memiliki keinginan kuat begadang dan melakukan ibadah-ibadah seperti belajar (murojaah), shalat malam, membaca dzikir khusus dan lain sebagainya.

Permasalahannya kemudian, terkait ibadah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari ketika begadang, apakah shalat tahajjud termasuk di dalamnya? Perlu diketahui bahwa Tahajjud adalah shalat sunnah yang dilakukan di malam hari setelah bangun tidur walaupun tidurnya hanya sebentar. Jadi, jika kita tidak tidur sama sekali di waktu malam maka shalat sunnah yang dilakukan tidak dinamakan shalat tahajjud. Begitu menurut pendapat yang mu’tamad.  Imam Romli dalam karyanya Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj menyebutkan :

ويسن (التهجد) بالإجماع لقوله تعالى {ومن الليل فتهجد به نافلة لك} [الإسراء: 79] ولمواظبته - صلى الله عليه وسلم - وهو التنفل ليلا بعد نوم

Artinya : Shalat Tahajjud disunnahkan dengan kesepakatan ulama berdasarkan firman Allah Taala (dan pada sebagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu(QS. Al-Isra ; 79)) dan juga berdasarkan ketekunan nabi Muhammad SAW dalam melaksanakannya. Shalat Tahajjud adalah shalat sunnah di malam hari setelah tidur.(Syihabuddin Al-Ramli, Nihayatul Muhtaj Ila Syarhil Minhaj, Beirut-Dar al fikr, 1404 H., hal. 131 juz 2.)    

Dengan nada yang sama Syekh Sulaiman Ibn Muhamad ibn Umar Al-Bujairomi  menyebutkan :

وتهجد- أي: تنفل بليل بعد نوم

قوله: بعد نوم- ولو يسيرا، ولو كان النوم قبل فعل العشاء، لكن لا بد أن يكون التهجد بعد فعل العشاء، حتى يسمى بذلك وهذا هو المعتمد

Artinya : Dan sunnah melaksanakan shalat tahajjud, yaitu shalat sunnah setelah tidur.

Penjelasan dari frasa (setelah tidur) : walaupun tidur sebentar dan tidurnya dilakukan sebelum shalat Isya, tapi shalat tahajjud tetap dilakukan setelah shalat Isya. Oleh sebab itulah shalat ini disebut shalat Tahajjud(tahajjud : tidur di waktu malam) dan inilah pendapat yang Mutamad/kuat.(Sulaiman Ibn Muhamad ibn Umar Al-Bujairomi, Hasyiyatul Bujairomi ala Syarhil Minhaj, Mathba’ah Al-Halabi, 1369 H., hal. 286 Juz 1)

Saudara Muhammad Izzat yang kami hormati, dari penjelasan di atas sudah jelas bahwa shalat tahajjud harus dilakukan setelah tidur. Oleh karena itu, jika ingin melaksanakan shalat tahajjud tidurlah terlebih dahulu walau hanya sebentar. Tapi, jika memang tidak bisa tidur masih ada shalat sunnah lain yang bisa dikerjakan seperti shalat tasbih, shalat hajat, shalat witir dan lain sebagainya. Intinya, isilah malam-malam itu dengan ibadah kepada Allah SWT.

Demikian jawaban dari kami, mudah-mudahan jawaban ini memberikan pencerahan bagi kita semua. Semoga semua amal ibadah kita, baik yang wajib ataupun yang sunnah, diterima oleh Allah SWT. Aaaamiiin….

والله الموفق إلى أقوم الطريق

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ihya’ Ulumuddin