IMG-LOGO
Trending Now:
Ubudiyah

Mengabaikan Hasil Istikharah

Kamis 19 Maret 2015 13:0 WIB
Share:
Mengabaikan Hasil Istikharah

Ini seperti orang yang sedang sakit, berkonsultasi kepada dokter tentang penyakitnya, kemudian setelah diberi petunjuk dan arahan dari dokter malah mengabaikannya. Terhadap orang ini patut dipertanyakan mengapa ia mengabaikan nasihat dokernya?<>

 

Secara bahasa makna istikharah adalah meminta pilihan (thalabul khiyarah). Jadi shalat istikharah adalah shalat yang tujuannya meminta pilihan dari Allah swt karena adanya dua atau tiga hal yang harus dipilih salah satu. Sedangkan manusia tidak mampu memilih sesuatu yang paling tepat.  

Meminta pilihan kepada Allah swt adalah tindakan yang paling tepat. Hal ini bisa dianalogikan bahwa manusia dalam kehidupan sehari-hari sering meminta pendapat orang lain yang dianggap memiliki wawasan lebih luas dan lebih pandai dalam menghadapi masalah-masalah yang pelik. Biasanya, semakin pandai seseorang semakin baik pula pertimbangan yang diberikan. Apalagi jika orang itu jujur, objektif dan ikhlas, sehingga apa yang disarankan benar-benar mencerminkan solusi alternatif terbaik.

Sementara itu Allah swt yang bersifat kamal dan bersih dari segaa kekurangan merupakan pihak paling tepat untuk dimintai petunjuk. Hal ini tidak berarti musyawarah dan diskusi sesama manusia tidak perlu. Akan tetapi hendaknya dilakukan sebagai bahan pertimbangan belaka.

Oleh karena itu, hendaknya seseorang menggabungkan ikhtiyar lahir dan bathin. Artinya berusaha semaksimal mungkin sesuai potensi dan kemampuan sekaligus juga memohon bimbingan dari Allah swt. diantaranya dengan jalan istikharah.

Dengan demikian sangat aneh jika seseorang melakukan istikharah kemudian tidak  melaksanakan hasilnya dalam tindakan nyata. Ini seperti orang yang sedang sakit, berkonsultasi dengandokter tentang penyakitnya, kemudian setelah diberi petunjuk dan arahan dari dokter malah mengabaikannya. Terhadap orang ini patut dipertanyakan mengapa ia mengabaikan nasihat dokernya?

Dalam hal ini ada tiga kemungkinan. Pertama, ia kurang mempercayai kebenaran nasehat dokter. Kedua, ia lebih mempercayai pikiran sendiri. Ketiga, lebih mengutamakan dorongan hawa nafsunya. Demikian tamsil ini dapat diterapkan pula pada kasus seseorang yang mengabaikan hasil istikharahnya.

Imam ibn Jama’ah dalam kitab Futuhat Rabbaniyyah syarah Al-Adzkar an-Nawawiyah memberikan beberapa tip 1) agar sebelum beristikharah seseorang hendaknya bersikap senetral mungkin terhadap al-ternatif-alternatif yang ada. 2) memantapkan hati dengan kepasrahan total kepada kehendak Allah. Sehingga mereka yang mengabaikan hasil istikharah dalam hal ini dianggap sebagai seseorang yang kurang pasrah kepada Allah.

Sikap seperti ini sangat bertentangan dengan sikap taslim (pasrah) dan tawakkal kepada Allah swt. apalagi jika pengabaian itu didasari alasan akal dan kehendak nafsu. Mengingat nasfu selalu akan menuju kepada kekejian (ammaratun bissu’). Begitu pula jika pengabaian itu hanya karena pertimbangan akal. Sungguh tidak layak karena tidak semua barang bisa ditimbang dengan akal. Dan akal biasanya lebih berpedoman pada kenyataan dhohir.

Dengan demikian tindakan mengabaikan hasil istikharah yang telah diyakini benar-benar dari Allah tanpa ada keraguan adalah tindakan tidak tepat dan tidak terpuji bagi seorang mukmin. Jika hal itu dilakukan berulang kali akan membahayakan bangunan keimanan seseorang.

Jika masih tersisa keraguan dari hasil istikharah, apakah itu pilihan Allah, sebaiknya istikharah diulangi lagi hingga dua atau tiga kali.

(ulil/disarikan dari KH.MA. Sahal Mahfudz. Dialog Problematika Umat)

Share:
Senin 16 Maret 2015 18:29 WIB
Faedah Qul Hu Bagi Orang Sakit Jelang Wafat
Faedah Qul Hu Bagi Orang Sakit Jelang Wafat

Setiap orang sakit wajib berupaya mencari kesembuhan. Meskipun sudah tahu usianya tidak akan lama di dunia, yang bersangkutan tetap perlu berikhtiar. Karena sebaik-baik hamba ialah mereka yang tetap memiliki harapan hidup.
<>
Sebaiknya pihak keluarga dalam hal ini tidak perlu menunjukkan kepanikan di hadapan mereka yang sudah dekat dengan kematian. Kecuali itu, para tetangga dan kolega tidak perlu lagi menjenguk orang sakit seperti ini. Karena, mereka lebih membutuhkan suasana tenang.

Adapun mereka yang usianya semakin dekat dengan kematian, ada baiknya bersikap tenang. Dalam keadaan tenang itu, mereka bisa membaca amalan-amalan yang bermanfaat di saat terakhirnya.

Sayid Alwi bin Ahmad Assegaf dalam karyanya Majmu’atu Sab’ati Kutub Mufidah mengatakan.

من قرأ قل هو الله أحد في مرض موته مئة مرة لم يفتن في قبره وأمن من ضغطة القبر وجاوز الصراط على أكف الملائكة اهـ من فتح المعين

Artinya, siapa saja yang membaca surah Qul Hu 100 kali di waktu sakit menjelang kematiannya, tidak akan mengalami fitnah kubur; aman dari himpitan kubur; dan melewati jembatan Shiroth di atas telapak tangan malaikat. Dikutip dari Fathul Mu’in.

Semoga amalan ini teringat agar sempat diamalkan di akhir-akhir masa hidup kita. Tentunya dengan harapan sepenuhnya kita gantungkan kepada Allah SWT. Wallahu A‘lam. (Alhafiz K)

Selasa 24 Februari 2015 19:10 WIB
Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Kiamat
Bocoran dari Allah agar Selamat di Hari Kiamat
null

Pagi dan sore merupakan waktu di mana warga bumi sibuk. Pagi ialah waktu matahari mengintip. Lazimnya orang-orang mengawali aktivitas. Sementara sore kawanan burung bergegas pulang. Dan orang-orang membawa pulang keletihannya seharian.

Namun demikian, dua waktu ini bisa diisi dengan wiridan singkat yang diharapkan memberikan manfaat besar. Tentu pahala penting, tetapi siapa berani menyalahkan Allah bila Dia hendak memberikan anugerah-Nya kepada hamba yang dikehendaki.

Bujairimi dalam Hasyiyah alal Iqna’ menceritakan pengalaman Imam Hanafi RA yang melihat Allah SWT dalam mimpi. Ketika sudah 99 kali bermimpi melihat Allah, Imam Hanafi RA berencana menanyakan sebuah amal yang menyelamatkan seorang hamba dari siksa dahsyat hari kiamat. Allah kemudian menjawab pertanyaan sang Imam RA di mimpinya yang ke-100.

فقال سبحان وتعالى: من قال بالغداة والعشي "سبحان الأبدي الأبد، سبحان الواحد الأحد، سبحان الفرد الصمد، سبحان من رفع السماء بغير عمد، سبحان من بسط الأرض على ماء جمد، سبحان من خلق الخلق وأحصاهم عدد، سبحان من قسم الرزق ولم ينس أحد، سبحان الذي لم يتخذ صاحبة ولا ولد، سبحان الذي لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوا أحد" نجا من عذابي. ذكره صاحب معجم الأحباب.

Allah berfirman, “Siapa saja yang membaca di pagi dan sore ‘Subhanal abadiyyil abad, subhanal wahidil ahad, subhanal fardis shomad, subhana man rofa’as sama’a bi ghoiri ‘amad, subhana man basathol ardho ‘ala ma’in jamad, subhana man khalaqol khalqo wa ahshohum ‘adad, subhana man qosamar rizqo wa lam yansa ahad, subhanal ladzi lam yattakhidz shohibatan wa la walad, subhanal ladzi lam yalid wa lam yulad wa lam yaqul lahu kufuwan ahad’, maka akan selamat dari siksa-Ku.” Demikian disebutkan oleh penulis Mu’jamul Ahbab.

Sepadat apapun, kita sebaiknya tidak membiarkan pagi dan sore meluncur tanpa mengucapkan pujian tasbih ini. Untuk menambah manis pagi dan sore, perlu juga menebarkan senyum kepada sesama makhluk. Wallahu a’lam. (Alhafiz K)

Senin 9 Februari 2015 6:0 WIB
Amalan Menjelang Tidur
Amalan Menjelang Tidur

Ketika hari telah larut malam dan kantuk mulai menyerang seorang pasti ingin segera menyerahkan diri kepada kasur dan ranjang. Akan tetapi bagi seorang muslim penyerahan itu harus disertai dengan rasa pasrah yang mendalam. Pasrah kepada Allah swt dengan berdo’a dan berdzikir telebih dahulu. Sebagaimana diajarkan Rasululah saw kepada Sayyidah Aisyah ra.<>

Dalam sebuah haditsnya Rasulullah saw pernah berkata kepada Aisyah “Janganlah engkau tidur sebelum mengerjakan empat hal. Pertama menghatamkan al-Qur’an. Kedua menjadikan para Nabi sebagai pemberi syafaat bagimu. Ketiga meminta ridha dari semua kaum muslimin. Keempat melaksanakan haji dan Umrah”. Kemudian Aisyah menjawab “bagaimana aku bisa melakukan keempat hal tersebut?” seraya tersenyum Rasulullah saw berkata “Apabila engkau membaca surat al-Ikhlas tiga kali, maka seakan-akan engkau telah menghatamkan al-Qur’an. Dan apabila engkau bershalat kepadaku dan kepada semua Nabi-Nabi maka engkau sama dengan menjadikan kami sebagai pemberi syafaatmu. Dan apabila engkau beristighfar untuk kaum muslimin, maka engkau telah menjadikan mereka ridha kepadamu. Dan terakhir apabila engkau membaca tasbih seolah engkau telah melaksanakan haji dan umrah.

Demikianlah petunjuk dari Rasulullah saw kepada Aisyah. Bacaan selengkapnya adalah sebagai berikut:

قل هو الله أحد ... (3)
(Qul huwallau ahad ... hingga selesai di baca sebanyak 3x)
 

اللهم صل على سيدنا محمد وعلى جميع الأنبياء والمرسلين (3)
(Allahumma shalli ala sayyidina Muhammadin wa ala jami’il anbiya’ wal mursalin, 3x)
 

اللهم اغفرلى ولولدي ولجميع المسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات (1)
(Allahummaghfirli wa liwalidayya wa li jami’il muslimin wal muslimat wal mu’minin wal mu’minat, 1x)
 

سبحان الله والحمد لله ولا اله الا الله والله اكبر ولا حول ولا قوة الا بالله العلي العظيم (7)
(Subhanallah wal hamdulillah wa la ilaha illallah wallahu akbar, wa la haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adhim, 7x) 

Itulah amalan yang diajarkan Rasulullah menjelang tidur. Sebagaimana yang diajarkan beliau kepada Sayyidah Aisyah. Dan hendaknya diikuti oleh segenap orang muslim. (ulil)