IMG-LOGO
Hikmah

Cara Kiai Umar Puasa Syawal sembari Jamu Tamu Lebaran

Kamis 6 Juni 2019 15:15 WIB
Share:
Cara Kiai Umar Puasa Syawal sembari Jamu Tamu Lebaran

Di antara maziyyah, keistimewaan Kiai Umar bin Abdul Manan, Mangkuyudan, Solo adalah kepiawaiannya membawa diri sehingga dapat menjaga perasaan orang lain dengan cara-cara yang indah. Dari keluarga, tamu, santri, tetangga, orang miskin, kaya, pejabat, rakyat, muslim atau nonmuslim semua dihormati Kiai Umar dengan baik.

Dalam Ad Durrul Mukhtar, sebuah buku karya KH Ahmad Baedlowie Syamsuri yang mengisahkan manaqib (kisah hidup) Kiai Umar, diceritakan bahwa Kiai Umar adalah orang yang rutin menjalankan puasa sunnah Syawal selama 6 hari dengan dimulai setiap tanggal 2 Syawal. Padahal, di sisi lain, hari-hari seperti itu Kiai Umar juga sedang open house, tamu dari berbagai daerah sedang banyak berdatangan dengan keperluan silaturahim, sowan Lebaran.

Namun, bagaimana sikap para tamu ketika mereka mengetahui bahwa tuan rumah yang didatangi dalam keadaan puasa? Hampir bisa dipastikan mereka tak akan leluasa menyantap sajian yang sudah berada di depan mata. Siapa pun tamunya, bukankah ini merupakan sedikit rintangan?

Namun Kiai Umar tidak kekurangan cara supaya para tamu dapat menikmati hidangan tanpa mereka sadar bahwa kiai sedang berpuasa. Kiai Umar selalu menyiapkan setengah gelas air minum yang disajikan di hadapannya.

Sewaktu kiai mempersilakan para tamu untuk menikmati sajian ataupun minuman “monggo-monggo, silakan!”, Kiai Umar juga sembari mengangkat gelas yang telah disiapkan dengan menyentuhkan bibir gelas yang ia pegang naik ke atas hingga menempel pada bibir kiai. Dengan begitu, tak ada tamu yang merasa bahwa kiai adalah orang yang berpuasa. Mereka juga tak ada yang sadar bahwa air setengah gelas yang di hadapan kiai hanyalah air fantasi saja. Yang mengetahui ini hanyalah keluarga atau orang-orang terdekatnya saja.

Beginilah di antara potret orang yang mengikuti sunnah-sunnah Nabi dengan cara elegan dan berhati-hati. Tidak hanya berhenti pada boleh atau tidak boleh menurut kacamata syari’at, tapi adab dan tata adat masyarakat juga selalu mereka pegang dengan kuat.

Di sini, minimal dapat ambil pelajaran. Pertama, bahwa Kiai Umar adalah pengamal puasa sunah 6 hari di bulan Syawal di mana pahalanya sama dengan puasa setahun penuh. Kedua, Kiai Umar adalah orang yang hormat kepada tamu dengan penghormatan yang istimewa. Hal ini sesuai dengan hadis Nabi Muhammad, yang artinya “Barangsiapa iman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya”. (Ahmad Mundzir)

::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 6 Juli 2016, pukul 15.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Share:
Kamis 6 Juni 2019 17:0 WIB
Belajar dari Nabi Yusuf: Memaafkan Tanpa Mendendam
Belajar dari Nabi Yusuf: Memaafkan Tanpa Mendendam
Bisakah Anda bayangkan bila satu ketika Anda disakiti oleh seseorang atau bahkan oleh saudara sendiri dengan perilaku yang begitu menyakitkan dan bahkan hampir menghilangkan nyawa Anda, mampukah Anda memaafkan kesalahannya? Atas kezaliman yang sedemikian rupa dapatkah Anda memaafkan kesalahannya tanpa menyisakan rasa dendam sedikitpun dalam hati Anda, dan bahkan setelah itu Anda tetap bersahabat dan bersaudara secara baik dengannya?

Tidak dipungkiri bahwa sering kali atas kesalahan yang sesungguhnya tak seberapa kita susah untuk memaafkannya dengan penuh ketulusan dan bahkan juga susah untuk bisa kembali bersahabat sebagaimana sebelumnya. Atau setidaknya, ketika kita berkenan memaafkan kesalahan tersebut kita tidak benar-benar memaafkannya dengan hati yang tulus. Masih ada rasa tidak suka dan bahkan dendam yang tersisa di dalam hati kita. Mengingat, mengungkit dan membincangkan kesalahnnya masih tetap dilakukan meski sudah memaafkannya. Padahal semestinya memaafkan adalah menghapus kesalahan itu tanpa pernah lagi mengingat dan mengungkitnya.

Memaafkan yang dalam bahasa Arab disebut ‘afwun dan pelakunya disebut al-‘âfî berasal dari kata ‘afâ – ya‘fû semakna dengan kata mahâ – yamhû – mahwûn yang berarti menghapus (Atabik Ali dan Ahmad Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab–Indonesia [Yogyakarta: Yayasan Ali Maksum, 1997], hal. 1302).

Orang yang memberi maaf tidak sekadar mengucapkan kata maaf belaka, namun juga disertai rasa keridhaan, keikhlasan, dan tidak mendendam. Ia menghapus kesalahan dari dalam hatinya. Bukanlah pemaaf bila satu saat masih mengungkit-ungkit kesalahan orang lain dan bahkan menyebarluaskannya ke banyak orang. Bukanlah pemaaf bila dalam hatinya masih tersimpan kebencian pada orang yang berbuat salah kepadanya.

Berat! Iya. Tapi bukan bererti tidak mungkin untuk bisa dilakukan.

Al-Qur’an, melalui kisah Nabi Yusuf, telah menggambarkan dan mengajarkan bagaimana semestinya seseorang memberikan maaf kepada orang yang menyalahinya dan kemudian kembali bersahabat sebagaimana mestinya.

Sebagaimana telah dipahami bersama bahwa Nabi Yusuf ‘alaihis salâm adalah korban kezaliman luar biasa yang dilakukan oleh saudara-saudara kandungnya sendiri karena merasa tidak diperlakukan sama baiknya oleh orang tua. Mereka dengan sengaja bermaksud menyingkirkan Yusuf dengan memasukkannya ke dalam sumur. Sebelumnya bahkan mereka menyiksa Yusuf terlebih dahulu dan tak menghiraukan permintaan tolongnya.

Perjalanan kehidupan berikutnya dilalui oleh Yusuf dengan berbagai cobaan yang tak ringan. Ia sempat menjadi budak yang diperjualbelikan di pasar budak hingga dipenjara atas sebuah tuduhan satu tindakan tak bermoral yang tak pernah ia lakukan.

Pada gilirannya Nabi Yusuf menjadi seorang pejabat penting di Mesir. Ia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar di negerinya. Ia menentukan banyak kebijakan publik bagi bangsanya. Dan pada saat posisinya yang begitu kuat ini Allah menunjukkan kemuliaan dan kebesaran hati Nabi Yusuf. 

Saudara-saudara Nabi Yusuf yang dulu telah membuangnya beberapa kali datang ke Mesir untuk satu keperluan kebutuhan hidup. Mereka diterima langsung oleh Nabi Yusuf namun tak mengenalinya karena menyangka Yusuf telah meninggal di dasar sumur itu. Pada akhirnya mereka mengenali bahwa pejabat negara yang selama ini mereka datangi dan membantu memenuhi kebutuhan hidup mereka adalah orang yang dahulu pernah mereka singkirkan secara aniaya. Kini mereka telah mengetahui dan mengakui bahwa Allah lebih memberikan kemuliaan kepada Yusuf dari pada kepada mereka. Yusuf telah menjadi orang penting, terpandang dan mulia. Dan kini di hadapan Nabi Yusuf mereka mengakui kesalahan dan dosa-dosanya.

Sebagai seorang pejabat yang memiliki kekuasaan dan sangat berpengaruh pada saat itu semestinya Nabi Yusuf memiliki kesempatan dan kemampuan untuk membalas dan memberikan hukuman yang berat bagi saudara-saudaranya. Saat itu bisa saja Nabi Yusuf membalas dendam atas apa yang dilakukan oleh mereka kepadanya. Namun itu semuanya tak dilakukan olehnya. Pada saat seperti itu kemuliaan akhlaknya justru menuntunnya untuk berbesar dan berlapang hati mengucapkan satu kalimat:

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ

Artinya: “Tak ada celaan bagi kalian di hari ini, semoga Allah mengampuni kalian.” (QS. Yusuf: 92)

Ada dua hal yang disampaikan Nabi Yusuf dengan kalimat tersebut. Pertama, dengan kalimat “tak ada celaan bagi kalian di hari ini” Nabi Yusuf ingin menegaskan bahwa ia memberikan maaf kepada saudara-saudaranya tanpa ada rasa dendam di dalam hatinya. Ia benar-benar telah memaafkan mereka dengan menghapus semua kesalahan dari ingatan dan hatinya. Ia tak ingin mencela, mencemooh dan bahkan mengecam orang-orang yang telah menyengsarakannya, bahkan hampir saja menghilangkan nyawanya.

Imam al-Husain bin Mas’ud al-Baghawi dalam tafsirnya Ma’âlimut Tanzîl (2016:500) menuliskan penafsiran kalimat itu dengan “tak ada kecaman bagi kalian pada hari ini dan aku tidak akan menyebut-nyebut dosa kalian setelah hari ini.” Sementara Az-Zujaj sebagaimana dikutip Al-Qurtubi dalam Al-Jâmi li Ahkâmil Qur’ân (2010, V:232) menafsirkan “tak ada perusakan terhadap kehormatan dan persaudaraan di antara aku dan kalian”.

Kedua, Nabi Yusuf tidak saja memaafkan para saudaranya dan membebaskan mereka dari celaan dan kecaman di kehidupan dunia ini, dengan kalimat “semoga Allah mengampuni kalian” Nabi Yusuf juga menginginkan mereka diampuni oleh Allah atas dosa-dosanya sehingga kelak di akhirat pun mereka terbebas dari siksaan.

Tidak sekadar itu, pada ayat berikutnya Nabi Yusuf juga meminta para saudaranya untuk kembali lagi datang ke mesir dengan membawa serta semua anggota keluarga besar mereka; istri dan anak-anak mereka.

Inilah pemberian maaf yang sesungguhnya yang diajarkan Al-Qur’an melalui kisah Nabi Yusuf. Memaafkan tidak hanya sekadar mengucapkan kata maaf belaka namun jauh di dalam hatinya masih menyimpan dendam. Memberi maaf mesti dibarengi dengan sikap tidak akan mencemooh, menista, mencela, mengecam dan bahkan sekadar mengingat dan membicarakan kesalahan pelakunya.

Ini pula yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ketika beliau dengan kaum muslimin menaklukan Kota Makkah. Ketika beliau memegang kedua tiang pintu ka’bah beliau menyeru dan bertanya kepada kaum Quraisy, “Menurut kalian, apa yang akan aku lakukan pada kalian, wahai kaum Quraisy?”

Mereka menjawab, “Engkau akan lakukan kebaikan kepada kami. Engkau saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia. Dan engkau telah mampu melakukan itu.”

Rasulullah menimpali, “Pada hari ini akan aku katakan apa yang dikatakan oleh saudaraku Yusuf, lâ tatsrîba ‘alaikumul yauma, di hari ini tak ada kecaman bagi kalian.”

Mendengar apa yang disampaikan oleh Rasulullah itu sahabat Umar bin Khattab merasa sangat malu sekali hingga mengucur keringatnya. Ini dikarenakan sebelumnya ia sangat ingin sekali membalas apa-apa yang telah dilakukan oleh kaum kafir Quraisy kepada kaum muslimin, namun ternyata Rasulullah menyatakan sikap yang begitu mulia; memaafkan tanpa ada dendam. Wallâhu a’lam


Yazid Muttaqin, santri alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Surakarta, kini aktif di kepengurusan NU Cabang Kota Tegal.


Kamis 6 Juni 2019 9:0 WIB
Sufyan ats-Tsauri, Puasa Syawal, dan Suara Ghaib di Kuburan
Sufyan ats-Tsauri, Puasa Syawal, dan Suara Ghaib di Kuburan
Ilustrasi (via islom.uz)

Sufyan ats-Tsuri yang bermukim di Makkah selama tiga tahun suatu hari menyaksikan seorang pria penduduk setempat mengunjungi Masjidil Haram. Pria ini melaksanakan thawaf, sembahyang dua rakaat, lantas mengucapkan salam kepada ulama kelahiran Kufah itu, sebelum akhirnya pulang ke rumahnya.

Pristiwa yang ternyata rutin terjadi saban siang membuat Sufyan menaruh rasa kagum dan simpati kepadanya. Sufyan pun berulang kali mendatanginya hingga suatu saat pria ahli ibadah tersebut jatuh sakit dan seperti hendak menemui ajal.

Ia pun memanggil Sufyan ats-Tsauri dan berwasiat, “Apabila aku mati, mandikanlah aku dengan tanganmu sendiri, shalatkan, lalu kuburkan. Dan jangan kau tinggalkan aku sendirian di kuburan malam itu. Bacakan talqîn (tuntunlah) aku tentang tauhid dalam menjawab pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir.”

Sufyan yang bernama lengkap Sufyan bin Sa'id bin Masruq bin Habib bin Rafi' bin Abdillah dikenal tak hanya sebagai ulama yang berpengetahuan sangat luas, tapi juga pribadi yang wara’, zuhud, dan teguh dalam memegang janji. Dan Sufyan mengiyakan semua pesan yang disampaikan sahabat karibnya tersebut.

Ketika pria ahli ibadah itu wafat, Sufyan mulai melaksanakan wasiat satu per satu, termasuk rela bermalam di sebelah kuburan sang sahabat. Dalam kesunyian itulah, ia memperoleh pengalaman spiritual yang tak disangka-sangka.

Menurut penuturan Sufyan ats-Tsauri sendiri sebagaimana direkam kitab an-Nawâdir karya Ahmad Syihabuddin al-Qalyubi, kala itu antara tidur dan terjaga, Sufyan tiba-tiba mendengar suara asing dari atas, “Wahai Sufyan, pria ini tak membutuhkan penjagaanmu, talqînmu, juga hiburanmu. Kamilah yang akan menghibur dan menuntunnya.”

“Dengan apa?”

“Dengan puasa Ramadhan yang disambung puasa enam hari pada bulan Syawal,” jelas suara itu.

Sufyan bangun, membuka mata dan tak ia dapati siapa pun di sekelilingnya. Ia berwudhu lalu menunaikan shalat. Saat tidur kembali, suara itu hadir lagi. Begitu seterusnya sampai berulang tiga kali. Sufyan pun mantap bahwa apa yang ia alami berasal dari Allah, bukan dari setan.

Ia lantas meninggalkan kuburan pria ahli ibadah tersebut dengan tenang dan berdoa, “Allâhumma waffiqnî li shiyâmi dzâlik bi mannika wa karamika, âmîn (Ya Allah, berikanlah aku taufiq untuk menjalankan puasa itu atas anugerah dan kemuliaan-Mu. Amin).” (Mahbib)

::::

Catatan: Naskah ini terbit pertama kali di NU Online pada 29 Juni 2016, pukul 08.00. Redaksi mengunggahnya ulang dengan sedikit penyuntingan.

Rabu 5 Juni 2019 14:0 WIB
Ketika Nabi Musa Bertanya ‘Di Mana Aku Mencari-Mu, Allah?’
Ketika Nabi Musa Bertanya ‘Di Mana Aku Mencari-Mu, Allah?’
Dalam kitab al-Zuhd, Imam Ahmad bin Hanbal mencatat riwayat tentang Nabi Musa yang bertanya kepada Allah. Berikut riwayatnya:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ، حَدَّثَنِي أبِي، حَدَّثَنَا سَيَّارٌ، حَدَّثَنَا جَعْفَرٌ، عَنْ عِمْرَانَ الْقَصِيرِ قَالَ: قَالَ مُوسَى بْنُ عِمْرَانَ: أَيْ رَبِّ، أَيْنَ أَبْغِيكَ؟ قَالَ: ابْغِنِي عِنْدَ الْمُنْكَسِرَةِ قُلُوبُهُمْ؛ إِنِّي أَدْنُو مِنْهُمْ كُلَّ يَوْمٍ بَاعًا، وَلَوْلَا ذَلِكَ لَانْهَدَمُوا

Abdullah bercerita, ayahku bercerita kepadaku, Sayyar bercerita, Ja’far bercerita, dari ‘Imran al-Qashiri, ia berkata:

Musa bin ‘Imran berkata: “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?”

Allah menjawab: “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu bâ’ (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demkian, mereka pasti roboh (binasa).” (Imam Ahmad bin Hanbal, al-Zuhd, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1992, h. 95)

****

Kita adalah manusia yang bisa mencita-citakan kebahagiaan; bisa merencanakan kehidupan, dan bisa memprediksi tindakan. Namun, kita seringkali terlalu tenggelam. Lupa akan sekitar dan sesama. Cara pandang kita menjadi searah. Penglihatan kita menjadi sejurus. Jika berhasil, kita lupa menyelipkan pandang untuk sesama. Jika gagal, kita enggan menyalahkan diri sendiri, dan mencari kambing hitam. Siapa lagi kalau bukan orang lain, bahkan dalam tingkatan paling kritis, tidak sedikit yang menyalahkan Tuhan.

Syekh Hamzah Yusuf Hanson pernah berkata: “Everyone’s a believer when things are going fine. The real faith is when one becomes patient with tribulations—Semua orang adalah mukmin ketika semuanya berjalan baik. Iman sejati adalah, ketika seseorang mampu bersabar dengan musibah (yang menimpanya).” 

Akan tetapi, manusia memiliki kadar bersabar yang berbeda-beda. Tidak semua orang bisa seperti Nabi Ayyub yang tidak pernah mengeluh meskipun menderita penyakit yang luar biasa buruk. Karena itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang lain untuk membantu. Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, faktor eksternal tidak kalah pentingnya dengan faktor internal. Karena keduanya saling melengkapi dan berkesinambungan sepanjang zaman. Jika salah satunya hilang, bisa jadi dunia akan kehilangan fungsinya.

Faktor internal yang dimaksud adalah bersabar, bahwa manusia dituntut untuk mendidik dirinya sendiri saat menghadapi musibah. Namun, tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama dalam memahami kesabaran, hingga berpengaruh pada pengamalannya. Karena pemahaman tentang “sabar” berkaitan erat dengan banyak hal, salah satunya ilmu pengetahuan, atau pendidikan yang didapatnya sejak dini. Karena itu, Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk saling membantu, terutama membantu orang-orang yang sedang kesusahan. Inilah yang dimaksud faktor eksternal.

Dalam riwayat di atas, Nabi Musa ‘alaihissalam bertanya: “Wahai Tuhan, di mana aku mencari-Mu?” Allah menjawab: “Carilah Aku di sisi orang-orang yang hancur hatinya. Sesungguhnya Aku dekat dengan mereka setiap hari (sejarak) satu bâ’ (sekitar dua lengan). Jikalau tidak demkian, mereka pasti binasa.” Artinya, Islam mendorong umatnya untuk melihat ke sekitarnya, dan memperhatikan orang-orang yang membutuhkan. Tidak hanya itu, Islam menyuruh pemeluknya untuk mencari orang-orang yang membutuhkan dan membantu mereka, hingga Allah menegaskan bahwa diri-Nya sangat dekat dengan orang-orang yang hancur hatinya (kesusahan).

Dengan demikian, siapapun yang berkehendak menemukan Allah, ia harus membantu orang-orang yang kesusahan. Karena di sanalah rida dan rahmatNya berada. Saking pentingnya, Allah menekankan perintah tersebut dengan kiasan yang paling tinggi, dengan menggunakan Nama-Nya. Dalam sebuah hadits diceritakan (HR. Imam Muslim):

عن أبي هريرة، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي، قَالَ: يَا رَبِّ، كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ؟ فَيَقُولُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ، وَلَوْ عُدْتَهُ لَوَجَدْتَنِي عِنْدَهُ، وَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ كَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ؟ فَيَقُولُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا جَاءَكَ يَسْتَطْعِمُكَ فَلَمْ تُطْعِمْهُ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي، فَيَقُولُ: يَا ابْنَ آدَمَ اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي، فَيَقُولُ: أَيْ رَبِّ كَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعِزَّةِ؟ فَيَقُولُ: أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا اسْتَسْقَاكَ فَلَمْ تَسْقِهِ، وَلَوْ سَقَيْتَهُ لَوَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي

Dari Abu Hurairah: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di hari kiamat: “Hai anak Adam, Aku telah sakit, tapi kau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caraku menjenguk-Mu, sedangkan Kau Tuhan yang Maha Kuasa? Allah menjawab: Apakah kau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sakit tapi kau tidak mau menjenguknya. Sekiranya kau menjenguknya, pasti kau dapati Aku di sisinya.

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tapi kau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caraku memberi makan kepada-Mu, sedang Kau Tuhan yang Maha Kuasa? Allah berfirman: Apakah kau tidak tahu adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tapi kau tidak memberinya makan. Sekiranya kau memberinya makan, pasti kau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tapi kau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caraku memberi-Mu minum, padahal Kau Tuhan yang Maha Kuasa? Allah berfirman: Apakah kau tidak tahu bahwa hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tapi kau tidak mau memberinya minum. Sekiranya kau memberinya minum, pasti kau akan menemui balasannya di sisi-Ku.” (Imam Abu al-Hasan Muslim bin al-Hajjaj al-Naisaburi, Shahîh Muslim, Riyadl: Dar al-Salam li al-Nasyr wa al-Tauzi’, 2000, h. 1126).

Dalam hadits tersebut, Allah mengingatkan orang yang tidak menjenguk-Nya, serta tidak memberiNya makan dan minum. Hamba-hambanya bertanya, bagaimana cara kami menjenguk-Mu, serta memberi-Mu makan dan minum, padahal Kau adalah Tuhan yang Maha Kuasa. Jawaban Allah menunjukkan pentingnya berbagi dengan sesama, dan pentingnya membantu orang yang membutuhkan. Sehingga siapa pun yang melakukan itu, ia seperti menjenguk Allah, dan Allah akan membalasnya dengan pahala yang besar.

Maka dari itu, salah satu cara paling mudah mencari Tuhan adalah dengan cara mencari orang-orang yang kesusahan dan membantunya. Allah sendiri mengatakan Dia sangat dekat dengan mereka. Jika tidak, sudah barang tentu mereka akan terjatuh dan roboh. Karena itu Allah berfirman (QS. Al-Baqarah: 153):

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” 

Allah telah menaruh kesabaran di hati setiap orang, dan memerintahkan mereka menggunakannya (faktor internal), atau menjadikan sabar dan shalat sebagai penolong, karena sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Sebagai penyeimbang, Allah juga memerintahkan manusia untuk menolong orang-orang yang kesusahan (faktor eksternal), agar kesabaran mereka dikuatkan dari luar, dan mereka semakin mengenali diri mereka sendiri, hingga pelahan-lahan mereka memahami, bahwa di setiap hati manusia ada kesabaran. Tergantung bagaimana mereka membangkitkannya. Wallahu a’lam bish shawwab.


Muhammad Afiq Zahara, alumni PP. Darussa’adah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.